The Bianchis

The Bianchis
Blaze Bianchi : Samuel di Jakarta



Apartemen Samuel Brooklyn, New York


Samuel dan Blaze saling beradu bibir, berpagutan, bermain lidah dan tangan mereka berdua sudah berkeliaran kemana-mana membuat nafas keduanya memburu hingga Blaze merasakan sesuatu menusuk celana jeans-nya.


"Eh?" Mata biru Blaze melotot ke arah Samuel yang memerah.


"Maaf... Dia bangun." Samuel menatap Blaze malu.


Blaze melirik ke arah celana jeans Samuel. "Ayo, bobok! Belum waktunya!" ucapnya yang membuat Samuel terbahak.


"Ya ampun, Bee. Kamu kira anak kecil disuruh bobok?" kekeh Samuel berusaha mencairkan suasana yang panas. Pria itu menyentuh bibir Blaze yang sedikit bengkak akibat ulahnya. "Maaf ya..."


"Maaf kenapa?"


"Membuat bibir kamu bengkak..." Blaze mencium bibir Samuel lagi.


"Bengkak tapi enak kan?" cengir gadis itu.


"Kamu belajar dari mana ciuman macam itu?" tanya Samuel.


Blaze turun dari pangkuan pria itu dan duduk di sebelahnya sambil meminum teh nya. "Dari pacar jaman SMA. You know, want to know everything to be adult. Just kissing, Sammy, tidak lebih! Gila apa aku hidup bebas! Bisa dilempar ke Empang aku!"


"Maaf gantian kamu yang aku tinggal Bee..." Samuel menggenggam tangan Blaze.


"Iya, tidak apa-apa. Apalagi urgent." Samuel mencium punggung tangan Blaze.


"Semoga ibu panti sehat kembali Sammy."


Samuel menatap Blaze. "Inginnya aku kamu ikut ke Jakarta tapi tampaknya tidak mungkin ya."


"Tidak bisa Sammy, aku ada ujian besok. Gara-gara aku cuti, aku harus ujian setiap hari! Konsekuensi kabur sih!"


"Memangnya kamu ngapain, Bee? Apa yang membuat kamu bilang melanggar sumpah doktermu?"


Blaze menghela nafas panjang. "Aku menolong saudaraku, menyembunyikannya dari suaminya, membalas semua perbuatan orang-orang jahat itu ke saudaraku."


Mata coklat Samuel mendelik. "Jangan bilang kamu membunuh orang, Bee."


Blaze hanya menyeringai.


***


Samuel dan Blaze makan malam bersama sebelum gadis itu mengantarkan ke bandara JFK.


"Tadinya aku mau memasakkan makanan untukmu Sammy tapi aku rasa kamu tidak punya bahan makanan yang layak" kekeh Blaze yang tadi hanya meringis melihat isi kulkas tinggal beberapa botol air mineral, dua kotak jus jeruk, dua box susu dan satu kantong roti tawar.


"Aku lupa belanja Bee."


"Nanti minuman mu diberikan saja kepada penjaga apartemen atau orang-orang yang membutuhkan daripada nanti jamuran."


Samuel mengangguk dan mereka makan malam dengan memesan sushi di restauran Jepang favorit Blaze.


Setelah makan malam, Blaze membereskan semua bekas makan dan menyimpan di kantong sampah. Dia tidak mau ada sampah ataupun sisa makanan yang bisa jadi jamur apalagi Samuel pergi ke Jakarta selama dua Minggu.


Keduanya kini bersiap untuk ke JFK. Samuel menyeret dua koper besarnya menuju lift sedangkan Blaze membawa kantong sampah untuk dibuang ke pembuangan di apartemen.


***


JFK International Airport


Blaze dan Samuel tiba di bandara JFK 1,5 jam sebelum keberangkatan dan pria itu menatap gadisnya yang tersenyum manis.


"Bee, kalau kedua orangtuamu tahu, gimana?"


"Daddy? Paling menjadi pria bahagia di dunia anaknya punya pawang yang dipercaya. Kalau mom, dia sudah suka kamu sejak pertama bertemu. Jadi kalau kita sekarang jadi pasangan, mereka akan buka champagne" kekeh Blaze.


"Apa kamu jadi buat Bancakan karena ada pria yang mencintai kamu?" goda Samuel sambil memeluk gadisnya.


"Jadi dong! Blaze pantang menarik ucapannya!" ujar Blaze yakin.


"Ya sudah, aku masuk dulu. Kamu nanti kemalaman pulang ke rumah apalagi besok ada ujian kan?"


Blaze pun manyun. "Aku benci gastroenterology! Membayangkan isi perut ... Eeuuuwww!"


"Kan resiko kamu mengambil spesialis penyakit dalam, harus paham semuanya tapi sebenarnya kamu memilih apa sih Bee?"


"Aku tertarik dengan hematologi - onkologi karena Opa buyutku meninggal karena itu."


"Aku yakin kamu bisa. Kamu cerdas kok!"


"Apaan ? Tadi Luna bilang IQ ku jongkok karena tidak paham perasaan kamu!" sanggah Blaze sambil manyun.


Samuel mengecup bibir manyun itu sekilas. "Wajar kamu nggak peka, kamu kan selalu menganggap aku bebek" gelak pria itu.


"Sudah, masuk sana. Boarding dan lain sebagainya, salam buat ibu panti" ucap Blaze yang merangkul leher Samuel.


***


Bandara Soekarno-Hatta Jakarta Indonesia


Setelah menempuh perjalanan hampir 29 jam, Samuel akhirnya tiba di ibukota negara Republik Indonesia, kota yang sudah ditinggalkan hampir dua tahun. Samuel memang memilih tidak pulang saat lebaran karena ongkos yang lumayan untuk dirinya.


Ketika dokter Joey Bianchi menawarkan pekerjaan sebagai pengawal putrinya dengan bayaran yang lumayan, Samuel tidak menolaknya karena dia bisa mengirimkan uang ke panti asuhan.


Samuel memilih memakai jasa kereta api untuk ke kota dari bandara karena dia bisa menggunakan ojek online dari stasiun Manggarai.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 50 menit dari Bandara Soekarno-Hatta dan tiba di stasiun Manggarai, Samuel lalu memesan ojek online yang dia bersyukur tidak membuang aplikasinya.


Dalam perjalanan menuju rumah yang dibelikan oleh ayah angkatnya, Samuel menatap bagaimana banyak berubah. Dan sekarang jam dua pagi, Samuel tiba di rumahnya.


***


Pagi ini Samuel sarapan nasi uduk, makanan yang sudah lama tidak dia rasakan. Sambil sarapan, Samuel mengirimkan foto ke Blaze menunjukkan sarapannya. .


Tak lama gadis itu menjawab pesannya.


📩 Bee : Nasi uduuukkk! Aku sudah lama tidak makan itu!


📩 Bebek : Makanya ikut ke Jakarta. Gimana ujiannya?


📩 Bee : Pain in the a$$. Kayaknya aku dapat B saja sudah bagus.


Samuel tersenyum. Tiba-tiba ada pesan masuk.


📩 Tiwi Panti : Mas Sam sudah sampai Jakarta? Ibu dirawat di RS Pelni Petamburan ya. Nanti aku tunggu di lobby IGD.


Samuel menjawab pesan adik pantinya dan akan datang satu jam lagi.


***


RS Pelni Petamburan Jakarta Barat


Samuel tiba di rumah sakit Pelni sekitar jam sepuluh pagi dan melihat adiknya Tiwi disana. Gadis berusia 20 tahun itu tersenyum melihat Samuel.


"Mas Sam tambah ganteng dan tambah berisi. Udara New York cocok ya?" goda Tiwi sambil menggandeng tangan Samuel yang entah kenapa dirinya merasa risih. Apa karena bukan Bee ya.


"New York udaranya dingin jadi mas makan terus" ucap Samuel sambil tersenyum.


Keduanya kini tiba di ruang rawat inap ibu panti dan Samuel pun perlahan membuka pintu. Tampak di atas tempat tidur, ibu panti asuhan menatap sendu ke arah jendela.


"Bu Mirna..." panggil Samuel pelan. Wanita paruh itu menoleh dan matanya menatap tidak percaya siapa yang datang.


"Samuel..."


Samuel mencium punggung tangan ibu asuhnya dari bayi. "Bagaimana keadaan ibu?" Samuel mengambil papan pasien dan mulai membacanya.


"Sam..."


"Ya Bu?"


"Kamu usia berapa sekarang?"


"25 jalan 26. Kenapa Bu?"


"Sudah punya pacar?"


Calon istri malahan. "Sudah Bu."


"Orang mana?"


"Keturunan Italia dan Irlandia tapi ada keturunan Indonesia."


"Apa kamu serius?"


Samuel menoleh ke arah Bu Mirna. "Sangat serius. Kenapa Bu?"


"Ibu kok lebih suka kamu dengan wanita Indonesia. Tiwi misalnya, dia pantas bersama kamu, Sam."


Samuel melongo. Whaaaattt?


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️