The Bianchis

The Bianchis
Persiapan Blaze dan Nadira



Arena Ski Lake Geneva Switzerland


Leia yang sudah selesai dari kamar mandi, melihat Sean duduk bersama dengan Dante suaminya. Tampak bagaimana Sean memohon pada Dante agar memberitahukan dimana Zinnia.


"Hai! Sudah memesan makanan yang aku pinta sayang?" tanya Leia sambil duduk di sebelah suaminya.


"Sudah." Dante langsung merengkuh pinggang ramping Leia.


"Sean, aku hanya bisa membantu dengan mengatakan bahwa Zee baik-baik saja. Aku minta, kamu fokus ke Oom Ayrton dan Opa Karl. Seberapa inginnya aku memberitahumu, aku tidak bisa Sean." Leia menatap Sean sendu.


"Aku...aku ingin bertemu...dengan istriku, Leia."


"Aku tahu Sean. Aku sangat tahu Zee juga ingin bersamamu tapi kamu tahu kan alasannya?" ucap Leia.


Sean mengusap wajahnya dengan kasar. "Brengseeekkk! Kenapa aku tidak percaya pada Zee saat itu!"


"Sean, aku pun akan berpikir yang sama jika dihadapkan dengan situasi seperti mu." Dante menatap Sean serius tapi mendapatkan pelototan Leia. "Sayang, jika kamu merasakan terkejut luar biasa, pada saat itu kamu tidak akan bisa berpikir jernih. Itu hal yang manusiawi dan wajar. Apalagi dalam sekilas impostor itu sangat mirip dengan istrimu."


"Dante..."


"Aku memang belum bertemu dengan Zinnia dan hanya melihat di berbagai berita. Secara sekilas mereka mirip. Hanya kamu yang bisa mengetahui your real wife sama yang bukan." Dante menatap datar ke Sean.


"Apakah kamu bisa membedakan antara Leia dan penirunya jika dalam posisi aku?" Sean membalas tatapan Dante.


"Sebagai seorang suami yang sudah hapal bentuk tubuh istrinya, pasti kita tahu ciri khasnya. Zee punya tahi lalat di sudut bibir kirinya, apakah impostor itu punya? Tapi aku yakin kamu tidak memperhatikan. Sama dengan Leia yang ada bekas luka di kening kirinya tapi tidak terlihat karena tertutup make up. Aku tahu karena setiap sebelum tidur, Leia selalu membersihkan wajahnya" jawab Dante lugas.


"Kamu kok sampai tahu aku ada bekas luka di kening?" Leia menatap Dante tidak percaya.


"Leia sayang, aku hapal semua tanda tubuhmu. Aku selalu memperhatikan setiap malam... Mmmmhhhh!" Leia langsung menutup mulut Dante dengan tangannya.


"Nggak usah vulgar!" hardik Leia dengan wajah memerah.


Sean tersenyum kecut melihat pasangan pengantin baru itu. "Kamu benar Dante, aku tidak memperhatikan tahi lalat di atas bibir Zee."


"Karena kamu sudah terkejut duluan!" kali ini Leia yang membuka suara.


"Kamu benar Leia. Karena aku sudah shock duluan." Sean menundukkan kepalanya.


Pesanan mereka pun datang dan Sean memilih untuk kembali ke kantornya setelah berpamitan. Setidaknya hatinya tenang mendengar istrinya dalam keadaan baik-baik saja.


***


New York


Blaze menatap Samuel dengan tatapan bingung. "Apa maksudmu mau cincin emas putih atau emas kuning?"


Keduanya kini berada di sebuah toko perhiasan terkenal di Manhattan sedang memilih cincin kawin yang hendak disematkan pada saat ijab qobul besok April.


"Aku hanya ingin kita dalam satu misi..."


"Visi, bebek!"


"Ya itu kisi..."


"Visi!" hardik Blaze gemas.


"Iya Visi supaya sama-sama nyaman."


"Kamu sendiri prefer mana?"


"Aku hanya ingin tahu keinginan kamu, Bee. Soalnya cincin tunangan kan cukup kecil dan terlalu imut menurut aku..."


"Jadi kamu mau mencari cincin yang lebih besar?"


"Yang selaras dengan cincin tunangan kamu, maksud aku" jawab Samuel.


Blaze menghela nafas panjang. Semakin mendekati hari pernikahan malah semakin tidak sinkron mereka berdua.


"Cincin tunangan dari kamu kan emas kuning jadi wajar dong kalau cincin nikah juga emas kuning."


"Kamu yang pilih Bee" pinta Samuel.


Akhirnya setelah setengah jam Blaze dan Samuel memilih, sepasang cincin kawin yang cantik dan anggun sesuai dengan keinginan mereka berdua menjadi pilihan keduanya.


***


New York University


Nadira McCloud sudah menyelesaikan semua administrasi untuk kepindahan dirinya mengajar di University of Maryland. Gadis cantik itu sudah menyelesaikan program masternya dan akan wisuda sebelum menikah dengan Pedro Pascal.


Para profesornya di kampus memberikan banyak wejangan dan trik mengajar di kampus baru yang berbeda sistemnya dari kampusnya yang sekarang.


Usai selesai di kampusnya, Nadira menuju ke restauran pizza favoritnya karena dirinya sudah janjian dengan Pedro Pascal, sang tunangan untuk makan siang disana.


Pedro tersenyum melihat kekasihnya datang. Nadira memang tidak mau dijemput dari kampusnya karena restauran pizza itu lebih dekat dari kantornya Pedro yang lama.


"Halo sayang" sapa Pedro sambil mencium pipi Nadira.


"Halo. Sudah pesan pizza?" tanya Nadira yang melihat pizza favoritnya sudah tersaji di meja.


"Iya. Supaya kita segera makan, sayang."


Nadira tersenyum lalu mengambil satu slice pizza. "Ada apa kamu kembali ke New York, mas?"


Hati Pedro selalu bergetar setiap Nadira memanggilnya 'mas'. Entah kenapa panggilan itu terdengar mesra. "Aku ada kerjaan bersama Omar Zidane."


"Kasus beku?"


"Iya Dira. Aku sudah mendapatkan beberapa petunjuk dan sekarang aku harus membuka kasus itu dengan Omar tapi aku harus makan dulu sayang karena aku lapar."


Nadira cekikikan. "Oh kasihan mas Pedro ku..."


"Dira, apa kamu sudah menyelesaikan semua administrasi kepindahan kamu ke Maryland?"


"Sudah mas. Bahkan aku sudah mendapatkan jawaban dari University of Maryland."


"Apa jawabannya? Kamu tidak apa-apa tidak jadi masuk ke University of Virginia?"


"Tidak apa-apa mas. Di Maryland malah ada jurusan psikologi dan criminology yang sesuai dengan bidang pengajaran aku. Aku diterima disana dengan masa percobaan tiga bulan menjadi dosen disana."


"Alhamdulillah. Oh aku sudah menemukan rumah yang akan kita tempati di Maryland." Pedro mengambil iPad nya dan memperlihatkan kepada Nadira.



"Ini kita sewa?" tanya Nadira.


"No Dira, aku membelinya."


Nadira melongo. "Beli?"


"Iya, beli. Kenapa?"


"Tapi mas, kita kan tidak tahu mau sampai kapan kamu di Quantico."


"Aku tahu dan aku berusaha masuk ke dalam BAU ( Behavioral Analysis Unit ) agar kita tetap tinggal disana. Jujur Dira, aku lebih suka tinggal disana daripada di New York meskipun aku besar disini. Disana jauh lebih tenang dan aku yakin jika kita punya anak, kita lebih mudah mengawasinya. Rumah yang aku beli ini dekat dengan sekolah dan juga hanya setengah jam ke University of Maryland."


Nadira melongo. "Kamu sudah memperhitungkan semuanya ya mas?"


"Tentu saja Nadira sayangku. Aku selalu memperhitungkan setiap langkah apa yang harus aku ambil termasuk masa depan kita."


Nadira tersenyum manis. "Terimakasih mas."


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️