
Mansion Bianchi Turin Italia
Leia menatap layar iMac milik Antonio dan mulai mencari info tentang Omar Zidane. Agen FBI, kelahiran Brooklyn 30 tahun lalu, spesialis kasus pembunuhan dan Ter*risme. Agama Islam, tinggal sendirian di apartemen dekat kantornya. Ayahnya sudah meninggal akibat kanker prostat sedangkan ibunya tinggal di apartemen peninggalan suaminya dimana sebelumnya bersama dengan keponakannya, alias sepupu Omar sebelum pergi bekerja di kota lain.
"Sebenarnya ada kejadian apa Al? Kenapa FBI ke Turin? Bukannya mereka tidak memiliki yurisdiksi disini?" tanya Leia bingung.
"Ketika anda berada di Tokyo, terjadi kasus pembunuhan disini dan korbannya adalah Rowan Jesper."
"Aktor itu?" Leia lalu mencari tahu berita tentang Rowan. "Lalu apa hubungannya? Memang Rowan ada hubungan dengan keluarga kita?"
"No Signora. Kami tidak pernah berhubungan dengan aktor Hollywood kalau yang di Turin tapi entah yang di Amerika."
Leia mengangguk. "Besok akan aku ajak bertemu si Omar. Aku jadi penasaran."
***
Omar terkejut ketika mendapatkan pesan dari Leia Bianchi bahwa gadis itu ingin bertemu dengannya di café Al Bicerin.
📩 Omar Zidane : ada apa anda ingin bertemu dengan saya, Leia?
📩 Leia Bianchi : Apa yang agen FBI lakukan di Turin?
Omar tersenyum smirk. Damn! Aku meremehkan gadis itu.
📩 Omar Zidane : Kita bertemu besok, Leia. Kita bicara.
📩 Leia Bianchi : Oke. Jam sebelas aku tunggu.
Omar menatap ponselnya dan tersenyum. Aku lupa Leia keturunan keluarga Pratomo dan Akandra. Darah Mafioso, Yakuza dan mafia Korea kental di dirinya.
Pria bertinggi 195 cm itu membuka MacBook nya. Semua orang di FBI tahu sejarah keluarga klan Pratomo meskipun nama belakang mereka berbeda karena pernikahan. Omar juga tahu kalau Opa buyut Leia, Ghani Giandra, pernah di FBI dan merupakan pensiunan Kapten NYPD.
Pantas dia santai saja menanyakan apa yang aku lakukan di Turin. Omar menatap data Leia Bianchi di layar. Gadis ini tangguh dan cerdas.
***
Omar menunggu Leia sambil menyesap kopinya dan dia mengakui, rasa kopi di cafe ini jauh lebih nikmat daripada cafe di dekat kantornya New York.
Tak lama, gadis itu datang dengan diantar oleh dua orang pengawal yang menunggu di meja seberang.
"Omar" sapa Leia yang hari itu memakai jaket, kemeja biru muda, jeans dan sepatu wedges.
"Leia." Omar tersenyum.
Leia melepaskan jaketnya dan duduk berhadapan dengan Omar.
"So, which one is you? FBI agent atau sommelier?" Leia tersenyum manis.
"Both Leia." Omar menopang dagunya menatap wajah cantik di hadapannya. "Sommelier adalah profesi yang aku suka sedangkan agen FBI adalah pekerjaan yang aku suka."
"I see." Leia menghentikan pembicaraannya ketika seorang pelayan datang. Setelah menyebutkan pesanannya, Leia kembali fokus ke Omar. "Apa yang membuat agen FBI kemari? Aku yakin bukan hanya kasus pembunuhan Rowan Jesper."
"Kamu benar Leia. Tidak hanya itu tapi ada yang lebih dari sekedar pembunuhan."
Leia menatap Omar serius.
"Apa kamu yakin aku menceritakan semuanya?" tanya Omar.
"Aku anak Mafioso dan Yakuza. Try me!"
"Rowan Jesper adalah mata-mata yang dikirim oleh perusahaan wine di Perancis untuk mendapatkan formula wine plus menyabotase pesaing mereka."
"Perbuatan yang sangat mulia" ucap Leia sinis.
"Kenapa aku yang dikirim FBI, Leia, karena profesi aku sebagai sommelier bisa masuk kemana saja. Dan aku melacak jejak Rowan sudah hampir enam bulan ini hingga saat aku menyelidiki di Tokyo, aku mendapatkan kabar dia dibunuh. Tentu saja aku harus mengumpulkan semua bukti jejak dia karena bulan sebelumnya dia promosi filmnya di Tokyo. Setelah mendapatkan semuanya, aku baru terbang ke Turin dan bertemu dengan mu."
"Menurut mu Rowan dibunuh berkaitan dengan ini atau ada yang lain?"
"Apa motifnya? Uang? Bukankah film-filmnya sukses dimana-mana" gumam Leia. Meskipun bukan fans nya tapi Leia sudah mencari info tentang Rowan.
"Dia itu seorang pecandu Leia dan sudah menjadi rahasia umum di Hollywood kalau dia juga salah seorang pengedar obat di kalangan aktor dan aktris Hollywood."
Leia tampak berpikir. "Banyak yang menjadi tersangka, Omar. Perusahaan wine, bandar narkoba dan orang yang iri dengan kesuksesannya."
Omar menaikkan sebelah alisnya. "Orang yang iri?"
"Hei, aku melakukan pekerjaan rumah dong Omar. Beberapa filmnya sukses di pasaran, tapi dia juga womanizer yang merebut banyak artis Hollywood." Leia membuka iPadnya. "Lihat, ini istri aktor pun direbut oleh Rowan."
Omar menatap iPad Leia yang memberikan banyak data 'kenakalan' Rowan Jesper.
"Aku terlalu meremehkan mu, nona Bianchi" kekeh Omar.
"Look Omar, Keluarga ku tidak ada kaitannya dengan kematian Rowan Jesper karena begitu mayat pria itu ditemukan, sepupu ku Antonio, langsung dimintai keterangan" ucap Leia. "Dan kalau kamu bertanya apakah keluarga Mancini ada kaitannya, aku tidak tahu sebab pemimpin klan Mancini saat peristiwa itu sedang berada di Tokyo."
"Bagaimana kamu tahu Dante Mancini berada di Tokyo?" tanya Omar.
"Karena aku sedang gegeran dengannya di hotel Tokyu" jawab Leia kalem.
***
Dante Mancini melihat gadis yang diincarnya sedang berbincang dengan Omar Zidane membuat darahnya mendidih. Pria itu tampak cemburu bagaimana wajah Leia relaks dan Omar begitu intens mendengarkan gadisnya bercerita.
Dante pun turun dari Bugatti Chiron miliknya lalu menghampiri Omar dan Leia. Vernon dan Juan yang melihat Dante berjalan menghampiri, langsung berusaha menghalang-halangi pemimpin klan Mancini itu.
"Jangan halangi aku untuk bertemu dengan Leia!" hardik Dante kesal.
"Signora Leia tidak mau bertemu dengan anda, Signor Mancini" ucap Juan dingin.
Omar dan Leia melihat Dante dihalangi oleh Juan dan Vernon, membuat gadis itu memberikan kode kepada pengawalnya membiarkan Dante menemuinya.
"Leia." Dante menatap sendu ke gadis yang dirindukannya itu.
"Ada apa Dante?" tanya Leia.
"Apa kamu tahu ini siapa?" Dante menunjuk ke arah Omar.
"Tahu, Agen FBI Omar Zidane" jawab Leia kalem yang membuat Dante tertegun. "Jangan kamu kira aku tidak tahu siapa dia."
"Omar Zidane" Omar mengulurkan tangannya.
"Dante Mancini." Dante menyambut uluran tangan pria yang lebih tinggi darinya.
"Kebetulan anda berada disini Mr Mancini. Saya tidak perlu repot-repot meminta bertemu dengan anda di mansion maupun di kantor anda" senyum Omar.
Dante mengambil tempat duduk di sebelah Leia.
"Kalau kalian, FBI bertanya apakah keluarga Mancini ada kaitannya dengan kasus pembunuhan Rowan Jesper, aku jawab tidak ada kaitannya karena kami tidak mengenal pria itu." Dante menatap Omar serius.
"Bagaimana anda tahu Mr Mancini?"
"Karena saya sudah melakukan pertemuan dengan seluruh anggota keluarga dan tidak ada yang berhubungan dengan pria itu." Dante menjawab dengan yakin dan tegas. "Lagipula saya juga bersama dengan Leia di Tokyo."
Omar melihat ke arah Leia yang hanya memasang wajah datar. Ada apa di antara Leia dan Dante?
Main nimbrung aja lu Te
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa gaeesss
Maaf buat yang nunggu Abi dan Zee, sabar ya
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️