The Bianchis

The Bianchis
Nadira McCloud : Ijin Keluarga McCloud



Kediaman Keluarga McCloud


Meja makan yang bisa menampung 10 orang itu pun sekarang bertambah satu lagi yang duduk disana. Rajendra sebagai kepala keluarga duduk di sudut dan sisi kirinya Aruna dan kanan Arjuna.


Mata coklat Rajendra menatap tajam ke arah Pedro yang duduk berhadapan dengan Nadira. Pria berusia 40an itu melihat bagaimana diam-diam Pedro mencuri pandang ke arah putrinya.


"Nggak usah gitu juga lihatnya, mas..." bisik Aruna geli melihat suaminya dalam fase Julid.


"Lagian dia main lihat - lihatan ke Dira..." sungut Rajendra sambil memasukkan potongan kentang.


"Kamu tuh macam Ezra saja" kekeh Arjuna. "Apa kamu nggak ingat bagaimana julidnya anak itu? Tapi begitu Chris kena tembak, eh malah dia yang main hajar pelakunya tanpa mikir boyoknya sakit? Terus masuk sel semalam?"


"Tapi Pa..." Rajendra menatap ayahnya.


"Berikan kesempatan Nadira dan Pedro pacaran. Toh belum tentu pacaran akan menuju halal kan kalau tidak jodoh." Mata coklat terang Arjuna menatap lembut ke putra sulungnya. "Contoh papa dan mama, mana nikah demi kamu, nggak pakai pacaran lama, eh Alhamdulillah awet."


"Mas, biarkan Nadira merasakan berhubungan dengan lawan jenis. Selama ini kan dia lebih banyak berkutat dengan buku dan pekerjaannya sebagai asisten dosen. Dan aku rasa, Pedro bukan tipe pria Casanova." Aruna menggenggam tangan Rajendra, pria yang sudah bersama dengannya sejak usia lima tahun.


Rajendra menghela nafas panjang. "Ma, menurut mama gimana?" tanya Rajendra ke Sekar.


"Dia cukup gentle datang kesini dan menghadapi kalian berdua dan itu nilai plus. Coba kamu tanya Benji, soal hasil screening nya." Sekar menatap putranya.


Rajendra hanya memanyunkan bibirnya. Mending menghadapi supplier bahan makanan atau klien menyebalkan daripada menghadapi putriku bersama pria asing!


"Aku biarkan dulu mereka bagaimana. Kalau jodoh, ya mau gimana. Kalau tidak jodoh, ya sudah!" ucap Rajendra final.


***


"Jadi kakak kamu guru di Kuala Lumpur?" tanya Aruna ke Pedro saat mereka menikmati acara minum teh dan kopi usai makan malam.


"Benar, Mrs Aruna. Kakak saya bernama Pippa dan sekarang sudah menikah dengan Muhammad Hamid, orang Malaysia, seorang dosen Universitas Malaya. Mereka dikaruniai dua anak Hasan dan Hamidah usia tujuh dan empat tahun." Pedro memperlihatkan foto keluarga kakaknya yang membuat mereka surprise adalah, Pippa berhijab.


"Kakak kamu mualaf?" tanya Sekar.


"Iya. Pippa jatuh cinta dengan bang Hamid karena kepintarannya saat sama-sama kuliah di Harvard dan waktu itu orang tua bang Hamid keberatan dengan Pippa tapi bang Hamid tetap memilih Pippa. Setelah menikah Pippa memilih berhijab dan sekarang menjadi menantu kesayangan ibu bang Hamid."


"Alhamdulillah. Tapi kalian berapa lama tidak bertemu?" tanya Sekar.


"Sejak Pippa menikah sepuluh tahun lalu dan memutuskan pindah ke KL, kami jarang bertemu apalagi kedua orang tua saya ditugaskan FBI kemanapun. Paling hanya lewat facetime atau zoom." Pedro menyesap kopinya. "Kami terakhir bertemu tahun lalu saat Pippa dan keluarga datang untuk merayakan lebaran disini."


Nadira menatap Pedro dengan tatapan respek ke pria blasteran Italia dan Perancis itu.


Rajendra dan Arjuna hanya menyimak obrolan istri masing-masing ke Pedro karena mereka memang menyerahkan soal screening ke Sekar dan Aruna.


"Jadi kamu sudah tahu kan keluarga kami bagaimana?" tanya Aruna to the point.


"Iya Mrs Aruna. Saya paham sekali Keluarga anda."


"Bagus. Kami mengijinkan kalian berdua berhubungan tapi sambil jalan, kamu harus melindungi Nadira meski cucu kami bisa membela diri tapi jika kamu bersikeras menjadi kekasihnya, you know what to do." Sekar menatap Pedro serius.


"Saya paham Mrs Sekar. Dan saya akan melindungi dan mencintai Nadira sepenuh hati saya." Pedro membalas tatapan Sekar dengan tatapan tegas.


Sekar dan Aruna saling berpandangan begitu juga dengan Arjuna dan Rajendra. Mereka berempat seperti melihat Chris Bradford tapi dengan fisik berbeda tapi sikap dan perilaku yang sama.


***


Pedro dan Nadira duduk di tangga depan rumah keluarga McCloud sembari menunggu jemputan Kevin, rekan Chris yang sedang lembur di kantor FBI.


"Apa kamu keberatan jika kita pacaran?" tanya Pedro ke Nadira yang menatap ke depan memperhatikan kendaraan lalu lalang di sana.


"Kalaupun aku keberatan, kamu tetap akan mengejar aku kan? Apalagi kamu sudah berani menghadapi Daddy dan Opa. Buat aku, seorang pria yang berani menghadapi dua orang yang merupakan cinta pertama seorang anak dan cucu perempuan itu patut dihargai."


"Jadi kamu cuma hargai aku?" pendelik Pedro.


"Bukan begitu Pedro..." Nadira menatap wajah tampan itu. "Ini terlalu cepat dan terburu-buru sedangkan aku tipe slowly but sure. Aku bukan tipe wanita yang gampang jatuh cinta tapi aku memiliki penghargaan khusus ke kamu..."


Pedro mencium bibir Nadira lembut. "Akan aku buat kamu jatuh cinta padaku sebagaimana aku sudah jatuh cinta dulu padamu..." ucap Pedro yang membuat Nadira melongo.


"Pedro..."


Nadira menatap wajah Pedro yang tampak terluka saat mengingat kejadian menyeramkan itu.


"Terimakasih..." Nadira memegang wajah Pedro dengan tangan kirinya yang langsung diambil oleh pria itu untuk dibawa ke bibirnya. "Sudah melindungi aku..."


"Selalu ma Chérie..." Mata hijau Pedro tampak mesra memandang wajah Nadira. "Kamu tahu, bibit ayah dan ibumu sangat bagus menghasilkan kamu yang cantik seperti ini..."


Nadira terbahak. "Astagaaa! Kamu tuh! Gombalan ala pria Italia dan Perancis sangatlah receh..."


Pedro cemberut. "Serius ini, Dira..."


"Iya deh!" kekeh Nadira.


Suara klakson membuat keduanya menoleh dan tampak mobil Ford milik Kevin sudah tiba di depan rumah Nadira.


"Aku pulang dulu, Dira..." Pedro berdiri sambil membantu gadisnya berdiri.


"Hai Nadira!" teriak Kevin dari dalam mobil.


"Hai Kevin! Terimakasih sudah menjemput Pedro..." balas Nadira.


"Oh it's nothing. Come on bro, aku ingin tidur!" teriak Kevin ke Pedro.


Pedro cemberut. "Cerewet!"


"Biarin!"


Pedro tersenyum ke Nadira. "Bye Nadira."


"Bye Pedro."


Pria itu mencium kening Nadira lalu menuruni tangga dan masuk ke dalam mobil Kevin.


"Bye!"


***


Pagi harinya Nadira sudah bersiap menuju kampus dan sekarang sedang sarapan bersama dengan keluarganya.


"Sean masih mencari Zee" ucap Rajendra.


"Kok Daddy tahu?"


"Sean datang ke tempat Tante Alea dan sama Oom Chris mu dijawab jangan mencari selama Oom Ayrton masih marah" jawab Rajendra.


"Lagian juga bahaya kalau Zee masih di Belgia. Selama Andrew masih tidak bisa bersikap tegas, Ayrton tidak bakalan mengijinkan Sean bertemu dengan Zee" sahut Arjuna yang sedang mengambil cangkir tehnya.


"Kasihan Zee dan Sean. Mereka itu sebenarnya korban" timpal Nadira.


"Harusnya Sean mendengarkan penjelasan Zee, bukan langsung menjudge seperti itu. Seperti tidak mengenal karakter Zee saja!" omel Aruna.


Nadira hanya diam mendengarkan keluarganya membicarakan sepupunya yang menikah dengan pangeran dari Belgia.


Semoga Sean dan Zee menemukan jalan keluar tentang permasalahan mereka.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


"