
Instalasi Jenazah Tokyo University Hospital
Joey dan Dokter Daisuke menatap tajam ke Kapten Hideaki Yamamoto dan Detektif Sanada. Bagi kedua penguasa kamar jenazah, ketidakprofesionalan para petugas kepolisian itulah yang membuat keduanya marah besar.
"Apa maksudmu Hide? Mengirimkan dua jenazah tanpa memberitahukan pada kami? Apa susahnya sih kalian kirim kabar melalui SNS ( Social Network Service )? Toh kalian tahu semua nomor ponsel dan email kami?" hardik Dokter Daisuke. Dia paling tidak suka jika ada orang yang seenaknya sendiri tanpa aturan. Joey adalah perkecualian dan Dokter Daisuke bisa menerima itu karena pria itu profesional dalam bekerja.
"Saya tidak mau tahu Kapten, jika anda masih bermain dengan kami dan membuat kami seperti orang bodoh, jangan salahkan saya jika saya memilih menyelidiki sendiri dengan human resource yang saya punya! Apakah anda lupa saya anak siapa dan dari keturunan siapa?" ucap Joey tajam.
"Kami mau cerita semuanya detail tanpa ada yang ditutupi! Daripada anda semua kami cari aib masing-masing?" sambung Joey.
Kapten Hideaki Yamamoto dan Detektif Sanada menatap dua orang yang bersedekap dengan wajah tidak bersahabat itu. Keduanya tahu jika Joey tidak akan main-main dengan ucapannya dan itu akan masalah besar bagi jajaran kepolisian Jepang.
"Baik. Satoru Kawaguchi itu kabur hampir tiga Minggu lalu dan kami baru mengetahui bahwa dia memiliki dua orang istri dan dua orang anak. Anak pertama itu berusia 27 tahun dan yang bungsu berusia enam tahun. Dan dua jenazah yang kalian dapat adalah istri dan anak dari pernikahannya yang kedua." Kapten Hideaki menatap Joey dan Dokter Daisuke.
"Waka-waka dihukum 27 tahun yang lalu dengan hukuman seumur hidup dan saat itu istri pertamanya sedang hamil anak pertamanya itu. Saat dia dipenjara, sang istri melahirkan putra bernama Shengoku Kawaguchi. Keduanya pindah ke Hokkaido dimana orang tidak mengenali mereka sebagai istri dan anak dari seorang pembunuh karena istri pertama ini mengganti nama Kawaguchi ke namanya yaitu Arai. Jadi Shengoku Arai" lanjut Detektif Sanada.
"Sepuluh tahun lalu, Kawaguchi melakukan korespondensi dengan seorang wanita asal Tokyo. Kami memang memberikan kesempatan para narapidana untuk melakukan korespondensi ke khayalak agar mereka tidak merasa terisolasi. Wanita itu lalu sering berkunjung ke penjara dan entah bagaimana mereka menikah di penjara karena posisi saat itu, istri pertama Kawaguchi sudah meninggal di Hokkaido."
Dokter Daisuke dan Joey saling berpandangan lalu keduanya menatap kapten Hideaki.
"Memang boleh menikah di penjara?" tanya Joey. "Setahu aku, tidak semua penjara di dunia mengijinkan itu dan Jepang salah satunya."
"Aturan itu sudah dirubah, Bianchi, dua puluh tahun lalu."
"Kembali ke topik lalu selanjutnya?" tanya Dokter Daisuke.
"Shengoku Arai tahu siapa bapaknya dan dia mulai rutin mempelajari kebiasaan dan modus operandi Satoru Kawaguchi."
"Let me guess, Shengoku menderita skoliosis mirip dengan ayahnya." Joey menatap kapten Hideaki.
"Kau benar Bianchi. Setelah aku memeriksa CCTV saat mereka bertemu, gestur tubuh mereka sama. Bahkan tinggi dan wajah pun mirip."
"Berarti korban yang kita temukan pertama itu adalah ulah Shengoku dan ketika ayahnya tahu, dia kabur dari penjara lalu mengkonfrontir putranya namun akhirnya si Waka-waka orisinil itu mati di apartemen hingga dibiarkan membusuk dan dia mengejar istri kedua dan adik tirinya. Dan kini semuanya sudah tidak ada yang menghalanginya untuk berbuat sama seperti ayahnya. Damn it! Pria ini jauh lebih berbahaya daripada ayahnya." Joey memegang dagunya.
"Berarti korban kedua itu yang melakukan Shengoku bukan Satoru ..." gumam Dokter Daisuke.
"Karena Waka-waka sudah mati saat itu! " seru Joey dan detektif Sanada bersamaan.
"Hide, apakah kamu sudah menemukan dimana Shengoku?" tanya Dokter Daisuke.
"Kepolisian Jepang sedang memburunya dan memang sengaja kami tidak mengekspos agar dirinya merasa aman."
"Dia akan berada di Hokkaido" ucap Joey.
"Kenapa?" tanya Dokter Daisuke.
"Karena Hokkaido pulau terpisah dari pulau Honshu tempat kita berpijak. Coba dicek apakah ada kasus pembunuhan mutilasi di Hokkaido sebelumnya. Dan aku rasa polisi sana tidak menyelidiki lebih lanjut karena mengira itu perbuatan Waka-waka asli padahal jika ditelusuri, timeline nya berbeda jauh" ucap Joey.
Detektif Sanada dan Kapten Hideaki menatap putra Mario Bianchi itu dengan tatapan horor.
"Bagaimana... kamu tahu Bianchi?" tanya Kapten Hideaki.
"Hei, aku tidak seperti kalian yang diam di tempat. Aku hanya mengkaitkan hasil diskusi kita ini kapten. Masa kalian tidak bisa menghubungkan titik-titik yang sudah kalian jabarkan?" cengir Joey. "Benar kan asumsi aku?"
"Kamu memang sinting Bianchi!" umpat Kapten Hideaki.
"Kau benar Bianchi. Sekitar sepuluh tahun lalu ditemukan mayat wanita yang sudah tinggal kerangka dengan kondisi sudah dimutilasi dan hasil penyelidikan dia pernah hamil. Dan kami tidak tahu siapa wanita itu."
"Suatu hal yang mudah untuk bisa mempercepat pembusukan mayat hingga kami-kami para dokter forensik agak kesulitan memperkirakan waktu kematian jika tahu caranya. Dan aku rasa itu sengaja dilakukan agar semua polisi mengira itu adalah perbuatan Satoru Kawaguchi padahal aku dan Joey yakin itu perbuatan Shengoku."
Joey menatap dokter Daisuke. "Whoah, senpai. Anda juga sudah menjadi detektif sekarang?"
"Aku gemas dengan polisi Brengsek ini membuat kepalaku sakit! Aku lebih nyaman mengautopsi mayat yang wajar daripada yang membuat aku bertambah uban!" sungut Dokter Daisuke kesal.
"Go get him, kapten! Apa kalian tidak capek dan gemas sama psikopat itu?" Joey memajukan tubuhnya. "Apa perlu saya memakai kekuasaan Daddy saya untuk menghajar sendiri si impostor? Kita sedang tidak bermain Among Us bukan?"
***
Kediaman Takara
Luca Bianchi menatap gerbang kokoh di hadapannya dengan senyuman. Akhirnya papa mertua merestui juga. Tadi pagi Emi menghubungi dirinya dan memintanya untuk datang ke rumahnya. Luca pun menyanggupi karena dirinya sudah mempunyai waktu luang hanya menunggu sidang bulan depan.
"Silakan masuk, Bianchi-san." Penjaga rumah itu pun mempersilahkan Luca masuk. Pagi ini Luca sengaja datang dengan Ducatinya dan membawa pedang Kendo miliknya karena Emi memintanya.
Oh papa mertua, masa aku harus bertanding lagi dengan mu? Nanti kalau kalah, ngambek lagi.
Luca hanya tersenyum simpul sambil turun dari motornya dan wajahnya semakin sumringah melihat Emi sudah berdiri di depan rumahnya.
"Halo Amore Mio..." sapa Luca sambil mendekati Emi untuk mencium pipinya. "Aduuuhh!"
"Jangan macam-macam, Bianchi!"
Luca mengusap kepalanya. "Astaghfirullah! Calon papa mertua lucknut!"
"Apa kamu bilang?" hardik Takeshi yang entah darimana sudah siap dengan pedang kendonya yang barusan dipakainya untuk memukul kepala Luca.
"Betsuni! ( gak papa )" balas Luca judes.
"Ganti bajumu! Kita tanding Kendo sekarang!" Takeshi pun melangkah menuju halaman belakang.
"Em, papamu lagi PMS ya?" tanya Luca ke Emi.
"Anggap saja begitu" jawab Emi sambil cekikikan melihat wajah kesal Luca.
"Untung sayang sama anaknya..." sungut Luca yang sejurus kemudian mencuri ciuman di bibir Emi.
"LUCAAAAA!" hardik Emi yang kesal melihat pria itu seperti soang.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️