
Tokyo Jepang
Rin Ichigo masih sibuk memilih-milih sayur dan daging sedangkan Luke memilih mengambil roti tawar dan beberapa camilan. Pria dingin itu tersenyum tipis melihat troli belanja terisi bahan makanan yang lumayan banyak.
"Kebanyakan kah Yakuza freezer?" Rin menatap Luke yang sedang melihat-lihat isi troli.
"Nggak, ini bisa buat persediaan kamu kan? Apalagi kalau aku mau minta kamu masakin kan tidak perlu belanja lagi."
"Hah? Kamu minta dimasakin sama aku? Memang di rumah kamu tidak ada pelayan yang memasak untukmu?"
Luke mengusap wajah tampannya gemas. "Rin Ichigo, aku itu minta dimasakkan olehmu, bukan oleh pelayan. Kenapa? Keberatan?"
"Dengar Yakuza, kenapa kamu minta seperti itu? Kita macam..." Rin mengehentikan ucapannya.
"Macam apa?" Luke mendekati wajah Rin yang tampak panik dan memerah. "Macam apa Rin Ichigo?" suara Luke terdengar dalam dan seduktif yang membuat Rin deg-degan.
Jangan bikin anak gadis bingung dong...
"Macam..." Rin mengerjap-ngerjap matanya tanda panik. "Macam...orang pacaran..." ucapnya sambil menunduk.
"Apa kamu keberatan jika kita pacaran?"
Rin mendongakkan wajahnya. "A...apa?"
"Kita pacaran saja Rin, daripada kamu dan aku bingung kita ngapain berdua. Apa kamu keberatan pacaran dengan Yakuza, Yankee?"
Bibir Rin menganga. "Tapi... kamu dan aku kan... tidak saling cinta?"
"Makanya kita pacaran gimana? Biar tahu perasaan masing-masing. Setidaknya kalau nggak cocok, ya tinggal putus" jawab Luke enteng.
Rin menatap judes ke pria itu. Dasar pria!
"Lihat nanti saja Yakuza!" Rin mendorong troli sambil menabrak tubuh Luke yang membuat pria itu tertawa.
"Kamu gemesin Yankee!"
Rin mengacuhkan ucapan Luke dan menuju kasir.
***
Azienda Ospedaliera Ordine Mauriziano. ( Rumah Sakit Ordine Mauriziano ) Turin Italia
Tiga orang pria tampan yang baru saja melakukan khitan tampak saling memandang satu sama lain.
"Damn! Rasanya seperti ini ya?" gerutu Antonio tidak nyaman. "Demi Deya, apapun aku lakukan."
"Apakah Deya cantik?" tanya Dante yang masih merasa fly akibat efek obat bius separuh badan yang diberikan.
Dibandingkan dengan sunat pada bayi atau anak-anak, prosedur sunat dewasa bisa memakan waktu lebih lama, yaitu sekitar 30 menit hingga 1 jam. Sebelum prosedur sunat dimulai, dokter akan melakukan pembiusan. Pilihan bius ini bisa melalui obat bius lokal, separuh badan, atau bius umum yang membuat Anda tertidur. ( Sumber Alodokter.com )
"Buatku dia cantik" jawab Antonio yang juga mengalami bius separuh badan. "Dia tuna rungu, Dante."
Dante menoleh. "Stai bene con quello ( kamu tidak apa-apa kondisi begitu )?"
"Nessun problema ( Tidak masalah )."
"Kamu memang kapan bertemu dengannya pertama kali?"
"Awal tahun lalu. Kamu tahu kan setiap awal tahun kita selalu pameran anggur ke New York? Dan aku bertemu dengannya disana bersama dengan ayahnya. Bisa dibilang love at first sight dan pada saat itu aku tidak tahu kalau dia masih 15 tahun! Aku baru tahu setelah sepupunya Nadira McCloud mengatakan padaku termasuk kekurangannya..."
"Bagaimana kamu bisa tidak tahu kalau dia masih remaja?" sungut Dante.
"Deya sangat dewasa, Dante. Dia sangat kalem, anggun dan aku tidak menyangka kami berbeda jauh usianya. Tapi aku tidak perduli, Dante. Aku merasa dia jodoh aku."
Dante tertawa kecil. "Kita para pria Italia itu sangat determinasi tinggi jika berhubungan dengan wanita yang diincarnya..."
"You're right. Bagaimana sepupuku bisa luluh padamu? Sementara kita semua tahu, kamu bukan kandidat terbaik paman Luca."
"Aku bilang kalau aku akan melakukan apapun untuknya termasuk jika aku harus memberikan nyawaku demi menyelamatkan dirinya, aku rela Antonio. Aku belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya dan Alexis benar. Gadis - gadis keluarga Pratomo itu bukan gadis lemah dan kita semua jatuh cinta pada mereka."
Antonio tersenyum. "Aku rasa dibalik wajah ayu dan kalemnya Savrinadeya, tersembunyi jiwa bar-bar yang disimpan rapi."
"Bukankah mereka seperti itu?" gelak Dante.
"Ya, dan kamu sudah merasakannya bukan Dante?" sindir Antonio licik.
***
Tokyo Jepang, Apartemen Rin Ichigo
Luke membawa kantong belanjaan sembari berjalan di belakang gadis itu. Rin membuka pintu apartemen nya dan Luke melihat bagaimana rapinya apartemen kecil itu.
"Bagus apartemen kamu, Yankee." Luke melihat tidak ada sekat di apartemen tipe studio itu.
"Aku hanya tinggal sendirian Yakuza, jadi aku tidak memerlukan ruang luas. Segini saja sudah cukup." Rin meminta kantong belanjaan dari Luke yang diberikan pria itu.
Luke pun berjalan menuju balkon apartemen dan melihat - lihat di sekelilingnya. Cukup aman. Luke melihat ada CCTV yang terdapat disana dan mulai mencari kabelnya.
"Rin!" panggilnya.
"Apa Luke?" sahut Rin yang sedang menyiapkan bahan masakan.
"Ini CCTV punya siapa?"
"Dari pemilik apartemen. Sudah terpasang lama sebelum aku pindah sini."
Luke mengangguk dan berhasil menemukan kabelnya dan dengan usilnya dirinya memasang penyadap yang dihubungkan ke CCTV.
Buat berjaga-jaga saja. Luke pun melihat kiri kanan dari lantai dua apartemen itu dan memang di setiap unit terpasang CCTV di luar.
"Rin..." Luke masuk ke dalam lagi dan duduk di sofa sambil memperhatikan gadis itu memotong-motong sayur. "Ada cerita apa kenapa setiap unit terpasang CCTV ke arah halaman belakang."
"Dari yang aku dengar dari penghuni lama, dulu suka ada maling jemuran jadi pemilik memasangkan CCTV ke arah halaman belakang yang kamu tahu sendiri dekat dengan taman kota."
"Maling jemuran? Astagaaa! Masih ada?" Luke menatap Rin tidak percaya. "Tapi apa kamu selalu menjemur pakaian dalam diluar..."
Sebuah kentang melayang ke bahu Luke.
"Nggak usah berpikiran aneh-aneh!" bentak Rin kesal dengan wajah memerah.
"Astagaaa! Sakit ini kamu lempar kentang!" omel Luke sambil mengusap bahunya. "Aku cuma membayangkan, ini lantai dua lho Rin. Lantai dua! Ya masa malingnya super nekad dan main panjat macam Spiderman?"
"Bukannya kalau sudah nekad, akan melakukan apa saja?" balas Rin.
Luke hanya mengangguk lalu mengambil buku yang ada di meja. Matanya menatap tidak percaya saat membaca judul buku di hadapannya. Apa Rin sedang mempelajari agamaku? Luke menoleh ke arah gadis cantik yang sedang memasak dengan mengenakan apron.
Kok malah tambah seksih ya? Rin itu cantiknya berbeda tapi kok malah makin menarik dengan dandanan seperti itu?
"Kamu masak apa?" tanya Luke yang merasakan harumnya makanan.
"Beef curry. Semoga cocok sama lidah kamu." Rin melepaskan apronnya. "Sebentar lagi siap."
Luke pun menuju kulkas milik Rin dan mengambil dua botol air mineral dan dua botol coke.
Rin pun meletakkan piring berisikan beef curry buatannya dan Luke tampak senang dengan masakan gadis itu.
"Baunya enak!" puji Luke.
"Ayo makan dulu baru kamu puji rasanya." Rin mengambil dua gelas dan menuangkan coke di dalamnya.
Luke pun memakan beef curry itu dan wajahnya tampak puas. "Oishii, Rin. Kamu memang bisa memasak."
Rin hanya tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya membuat Luke melongo.
Balas nih yeeee
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️