
Tokyo Jepang
Luke sedang memeriksa berkas-berkas keuangan Yakuza Takara yang bergerak di bisnis retail, cafe dan berbagai macam lainnya setiap tiga bulan sekali secara rutin. Hidetoshi, sang asisten dengan setianya, menjawab semua pertanyaan Luke jika bossnya itu merasa ada kejanggalan. Luke memang dikenal teliti sama seperti Opanya Takeshi.
Shiki, asisten sang Opa yang macam robot itu pun mengakui kalau cucu bossnya lebih baik dari Takeshi Takara yang dikenal absurd dan penuh kejutan. Takeshi memang menempatkan Shiki Matsumoto sebagai pengawas Luke sejak cucunya mengambil alih kepemimpinan kelompok Yakuza nya apalagi Shiki memegang semuanya selain Takeshi.
"Ini menurun pendapatannya, kenapa?" tanya Luke ke Hidetoshi.
"Toko retail milik kita ini ada pesaingnya dari orang Korea dan China yang berada satu deret, Luke" papar Hidetoshi.
"Hhhmmm. Apa mereka menjual barang yang sama?"
"Setahu kami tidak. Mereka menjual produk mereka sendiri yang dari Korea dan China."
"Menurutku orang Jepang akan tetap mencari barang orang Jepang. Jadi aku yakin, pendapatan toko ini bisa naik lagi. Lagian ini hanya turun 1,5% untuk toko ini saja, yang lain tetap naik kok" komentar Shiki yang membuat Luke dan Hidetoshi menoleh ke pria paruh baya yang dengan santainya membaca laporan di iMac besar ruangan Luke.
Dalam ruang kerja Luke di markas Yakuza Takara memang ada dua iMac disana, satu milik Luke, satunya dipalai antara Hidetoshi ataupun Shiki.
Luke hanya mengangguk mendengar ucapan Shiki yang dikenal tenang dan tidak mudah panik.
"Lanjut Hide. Lainnya" pinta Luke.
***
Rumah Sakit Saisekai Tokyo Jepang
Rin Ichigo melongo melihat Shinichi berada di IGD dengan wajah manyun. Gadis itu pun mendekati adik sepupu kekasihnya yang masih tampak melamun.
"Shichan?"
Shinichi pun mendongak dan tersenyum menatap kekasih Luke Bianchi itu. "Kakak Strawberry."
Rin pun duduk di sebelah Shinichi. "Kamu kenapa?"
"Menemani Sakura. Tadi dia kepeleset di gym habis latihan Kendo. Ini lagi dikasih tindakan sama dokter."
"Memangnya Sakura kepeleset di gym mana? Sekolah atau tempat biasa latihan?"
"Sekolah tadi. Padahal mau ujian akhir." Shinichi pun manyun.
"Sabar Shin. Semoga Sakura tidak apa-apa."
"Mas Shin!" panggil Sakura yang berjalan tertatih.
Shinichi dan Rin pun menghampiri gadis yang memakai gips di kakinya. "Kok di gips?"
"Iya bengkak ini. Biar berkurang. Halo, mbak Rin. Sudah mau pulang kerja?" sapa Sakura sambil tersenyum.
"Iya. Aku sudah selesai kerja. Ini kalian pulang naik apa?" tanya Rin.
"Nunggu dijemput appa. Katanya..." Suara Sakura terhenti melihat Hideo dan Fayza datang menjemput mereka.
"Kamu nggak papa, Sakura?" tanya Hideo sambil memeriksa putrinya.
"Nggak papa. Cuma bengkak kaki."
"Halo Rin. Mau pulang?" sapa Fayza.
"Iya Tante tapi masih menunggu Luke. Katanya mau jem..." Rin tersenyum melihat siapa yang datang ke ruang IGD.
"Halo... Lho? Sakura kenapa? Apa diusilin sama Morotin?" tanya Luke yang mendapatkan pelototan dari semua orang kecuali Rin.
"Gadha hubungannya sama muka rata, bang! Ini murni kesalahan aku sendiri. Ngomong-ngomong soal Morotin, udah keluar Tokyo kuliah di Inggris" jawab Sakura judes.
"Alhamdulillah..." ucap semua orang disana.
"Ini ngomongin apa sih?" tanya Rin bingung dengan nama aneh-aneh yang disematkan Sakura.
"Biar babang Lukie yang jelasin. Kami pulang dulu ya" cengir Shinichi sambil membantu adiknya yang memakai kruk.
"Kami pulang dulu Luke, Rin" pamit Hideo sambil tersenyum tipis.
"Hati-hati!" jawab Luke dan Rin.
Setelah keluarga Park pergi, Rin menatap Luke. "Oom Hideo bisa senyum juga ya?"
"Haaaaahhh?" seru Luke bingung.
***
Di dalam mobil BMW mewah milik Luke.
"Leia katanya senang hamil karena yang mengidam Dante" kekeh Rin yang membaca grup chat para calon sepupu perempuannya. Oleh Leia, Rin memang dimasukkan karena Luke sudah yakin akan menikah dengan gadis Yankee itu.
"Katanya Dante mengidam rujak padahal kata Leia, Dante tidak tahu namanya rujak hanya melihat gambar di tv jadi kepengen. Rujak itu apa Luke?" tanya Rin yang juga tidak tahu makanan itu.
"Rujaka itu macam salad buah yang dikasih saus dari campuran kacang tanah, gula aren dan cabai. Ada beberapa daerah menambahkan belimbing wuluh ataupun terasi tapi masing-masing memang sesuai selera."
"Kok aku jadi kepingin ya Luke?" gumam Rin membuat Luke mendelik.
"Memangnya kamu hamil? Wong belum aku apa-apain juga... Adduuuhhh!" Luke mengusap bahunya yang dipukul Rin.
"Memangnya orang hamil saja yang pengen rujak?" hardik Rin.
"Rata-rata sih begitu Rin. Beneran mau coba? Yuk ke RR's Meal yang kebetulan Minggu ini temanya masakan Indonesia. Siapa tahu ada. rujak disana." Luke tersenyum ke arah gadisnya yang manyun.
"Memang ada makanan apa lagi?" tanya Rin antusias.
"Entah tapi kita kesana dulu saja."
***
RR's Meal Omotesando Tokyo Jepang
Rin dan Luke masuk ke dalam restauran milik keluarga besar Reeves yang terdapat di area elit Tokyo. Restaurant yang vibe nya perpaduan antara budaya Jepang dan Indonesia itu membuat para pelanggan betah apalagi terdapat satu set wayang kulit keluarga Pandawa yang dipajang disana yang merupakan ciri khas restauran yang dibangun pada awalnya oleh Ryu Reeves.
Rin merasa nyaman berada di restauran yang untuk masuknya saja harus melakukan reservasi tapi karena Luke bagian keluarga, seperti halnya dengan semua cabang RR's Meal seluruh dunia, memiliki tempat khusus untuk anggota keluarga klan Pratomo.
"Wah, Luke. Restaurant keluarga mu memang menyenangkan" puji Rin sambil mengedarkan pandangannya ke interior restauran itu.
"Ada rujak nih, Rin" ucap Luke mengacuhkan pujian gadisnya.
"Eh mana?" tanya Rin. "Mau!"
"Terus apa lagi?"
"Yang enak apa?" Mata Rin menatap Luke dengan berbinar - binar.
"Well, ada sate lilit Bali, ada gudeg solo, ada nasi ayam, ada soto Betawi..."
"Aku mau semua!" ucap Rin semangat.
"Haaahhh? Nanti nggak habis lho..."
"Kan ada kamu, Luke. Jadi kamu nggak usah pesan" cengir Rin membuat Luke mendelik.
"Kamu kok mulai nakal sih?" sungut Luke gemas.
"Kan aku banyak bergaul sama Shinichi dan Sakura" senyum Rin manis.
"Benar-benar deh salah satu anggota trio kampret memang influence nya keterlaluan merasuknya!"
***
Kediaman Keluarga Park
"Haaaattssyyiinnggg!" Shinichi bersin dengan keras saat makan malam bersama dengan keluarganya membuat Hideo dan Fayza terkejut.
"Ichi? Kamu flu nak?" tanya Fayza yang langsung menyentuh kening putranya dengan punggung tangannya.
"Nggak mommy. Hidung Shin tiba-tiba gatal rasanya..." jawab Shinichi sambil mengusap hidungnya dengan tissue.
"Jangan nulari aku lho ya! Aku mau ujian akhir!" Sakura menatap judes ke kakaknya.
"Kagak sakit ini kembang anggrek bulan! Kayaknya ada yang ghibah mas Shin ini!" sungut Shinichi sebal.
"Memang siapa yang ghibahin kamu?" tanya Fayza bingung.
"Lagian, ghibahin kamu itu banyak unfaedah nya Shin" sambung Hideo kalem membuat kedua anaknya melongo.
"Apppaaaa!" seru Shinichi sebal.
"What?" Hideo menatap tanpa ekspresi ke putra sulungnya.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Harusnya tadi malam cuma kena delete jadi harus buat ulang.
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️