The Bianchis

The Bianchis
Blaze Bianchi : Bahu Samuel



Harvard Medical School


Samuel melongo ketika Joey Bianchi mengatakan bahwa Blaze akan mengambil cuti akademik selama tiga bulan.


"Tapi dok? Kenapa Miss Blaze harus mengambil cuti selama itu? Apa karena kasus penganiayaan kemarin jadi harus cuti sementara waktu?" Jujur Samuel merasa kehilangan dengan gadis cantik yang sudah disayanginya meskipun Blaze mengira dia naksir salah satu junior. Ya benar, juniornya kamu, Bee.


"Ada urusan keluarga, Sam. Jadi kamu bebas deh selama.tiga bulan ini dari suara cempreng Blaze. Lumayan kan Sam?" kekeh Joey santai.


Samuel hanya terdiam. Tiga bulan tanpa Bee? Sepinyaaaa.


***


Hari - hari tanpa Blaze pun membuat Samuel menjadi tidak semangat datang ke rumah sakit ataupun ke kampus. Meskipun dirinya hanya melihat sosok Blaze di kampus, tapi setidaknya membuat hatinya menghangat.


Hari ini bahkan Samuel hampir melakukan kesalahan fatal saat melakukan operasi bersama Joey hingga pria berdarah Italia itu pun memarahi dirinya.


Akibatnya, Joey menghukum Samuel untuk tidak ikut tiga operasi ke depan. Samuel merasa menyesal dirinya ceroboh gara-gara memikirkan Blaze.


Kamu itu kemana sih Bee? Aku hubungi kok tidak bisa. Apa kamu tidak tahu kalau aku khawatir?


Samuel menatap layar ponselnya yang ada wallpaper Blaze saat dirinya menemani gadis itu ke Coney island. Waktu itu gadis itu sedang jengkel dengan dosennya dan akhirnya menarik Samuel untuk menemaninya di pantai. Blaze meminta Samuel untuk memotretnya dan diam-diam wajah gadis itu diletakkan sebagai wallpaper nya.



Blaze Bianchi


Samuel mengehela nafas panjang berulang kali. Entah kenapa kepergian Blaze kali ini membuatnya resah. Apa yang terjadi Bee?


***


3 bulan berlalu ...


Samuel terkejut melihat Blaze datang dengan muka kuyu dan tampak seperti kurang tidur. Pria itu pun langsung menghampiri nonanya dan Blaze hanya menatapnya sendu.


"Kamu kemana Bee? Apa yang terjadi?" Samuel memindai tubuh Blaze yang tampak kurusan. "Kamu makan nggak sih? Apa kamu ke daerah konflik? Kamu kan belum lulus..."


"BEBEK!!! BISA DIAM NGGAK!" bentak Blaze kesal. "Kamu tuh kok lebih cerewet dari mommyku sendiri sih!"


"Aku kan khawatir Bee. Kamu tidak bisa dihubungi, ayahmu juga tidak mau memberi tahukan kamu kemana, hanya bilang urusan keluarga. What's going on Bee?" tanya Samuel dengan penuh khawatir.


Blaze hanya menghela nafas panjang dan menatap pria yang tingginya hampir sama dengannya.



Yang bingung Bee nya kemana


"Sammy, kamu nggak usah tahu aku ngapain. Yang penting aku butuh bahu kamu!" Blaze langsung menarik tangan Samuel menuju ke sebuah ruangan yang dipakai oleh para koas.


Samuel hanya mengikuti maunya Blaze dan keduanya duduk di sebuah kursi panjang.


"Duduk!" perintah Blaze ke Samuel yang dituruti pria itu.


Samuel pun duduk sambil menatap gadis itu dan tak lama Blaze menyusul duduk lalu merebahkan kepalanya di bahu Samuel.


"Kamu nggak ada ops kan hari ini?" tanya Blaze.


"Tidak ada Bee."


"Tidak ada urusan dengan Daddyku kan?"


"Tidak ada Bee."


"Are you okay?" tanya Samuel.


"Honestly, no. Aku baru saja melanggar sumpah dokterku..."


Samuel terkejut. "Apa yang kamu lakukan Bee?"


"Membuat orang... Ah sudah lah! Sammy, aku tidak mau jatuh cinta."


Samuel memelotot mendengar ucapan Blaze. "Kenapa?"


"Cinta itu menyebalkan. Disaat kamu sudah memberikan segalanya, hati, kepercayaan bahkan tubuhmu tapi pada akhirnya pasangan mu tidak mempercayai dirimu, jadi mempertanyakan apakah benar kamu cinta atau tidak. Bagaimana dengan mudahnya kamu melupakan perasaan itu?" curhat Blaze yang membuat Samuel mendelik.


"Apakah kamu jatuh cinta dengan seseorang lalu kamu hamil dan memutuskan untuk menggugurkan kandungan mu?" tanya Samuel polos yang membuat Blaze menarik kepalanya dari bahu pria itu.


"BEBEK! Kamu kira aku cewek gampangan apa?" Blaze memukul bahu Samuel keras-keras membuat pria itu mengaduh dan mengusap bahunya.


"Lha tadi kamu bilang 'memberikan segalanya, hati, kepercayaan dan tubuhmu' kan buat aku berpikir kemana-mana. Siapa pria itu Bee?" Samuel menatap Blaze dengan tatapan sedih.


Blaze melongo lalu tertawa terbahak-bahak. "Astaghfirullah! Aku yang salah Sammy! Aku menceritakan soal saudaraku, bukan aku!"


"Tapi kamu menghilang selama tiga bulan kan membuat aku berhitung soal kandungan, Bee" alibi Samuel.


Blaze tertawa. "No, Sammy. Aku memang ada urusan dan waktunya tidak bisa diprediksi jadi aku memperhitungkan sekitar itu paling tidak kita membutuhkan menyelesaikan semuanya."


Samuel menghembus nafas lega. "Tapi Bee, kalau ada pria yang mencintai kamu gimana?"


"Apa? Siapa juga yang mau sama aku Sam? Cewek bar-bar yang hobinya berantem, gelut dan debat." Blaze meletakkan kepalanya di bahu Samuel lagi. "Hari gini, mencari pria yang benar-benar tulus mencintai dirimu sebagai subyek bukan sebagai obyek ataupun mesin ATM kamu itu tidak mudah! Mencari pria yang sempurna seperti Daddy atau para Oom aku itu bagaikan mencari jarum dalam jerami."


"Kalau ada?" tanya Samuel yang semakin pusing dengan harum rambut Blaze.


Blaze tertawa kecil. "Kalau ada, aku akan Bancakan dan aku kirimkan ke panti asuhan serta shelter tunawisma."


Aku selalu mencintaimu sebagai subyek Bee.


"Blaze? Kok main sandaran sama Samuel?" Luna, salah satu teman Blaze terkejut saat masuk ke dalam ruang istirahat.


"Aku butuh bahunya sebentar. Lumayan bantal empuk!" kekeh Blaze.


"Ya sudah, aku tidur bentar ya. Capek belum tidur sejak semalam." Luna meregangkan tubuhnya dan menuju tempat tidur.


"Tidurlah, aku juga sepertinya akan menyusul" gumam Blaze.


Setelah Luna naik ke tempat tidur, tak lama Blaze pun tidur di bahu Samuel membuat pria itu bingung. Alamat deh!


Samuel menatap rambut coklat yang bersandar di bahunya. Apa aku harus mengatakan apa adanya? Tapi nanti aku ditolak.


Pria itu hanya bisa menikmati kedekatan dengan nonanya. Aku mencintaimu Bee. Samuel mencium pucuk kepala Blaze.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift cards


Tararengkyu ❤️🙂❤️