The Bianchis

The Bianchis
Kolam Piranha



Kediaman Takara


"Yang benar saja Emi" ucap Takeshi Takara.


"Apanya yang benar saja Otousan?" tanya Emi bingung.


"Keluarga Bianchi punya kolam piranha."


Emi menatap Takeshi. "Kata Luca sih begitu. Tante Marissa juga bilang kalau di halaman belakang mansion Al Jordan ada kolam yang tidak boleh sembarangan orang kesana."


"Serius?" tanya Takeshi.


"Aku baru tahu besok Sabtu, Otousan" jawab Emi tenang.


"Kamu ada acara apa Sabtu besok?"


"Diajak Oma Miki Al Jordan Akandra belajar masak nasi liwet."


"Haaaaahhh? Kamu mau ke rumah Bianchi?"


***


Kasus Haruto akhirnya dilimpahkan ke pengadilan setelah para korban menuntut pertanggungjawaban dari pria nakal itu. Takeshi dan Emi memutuskan untuk tidak ikut campur dengan kasus mantan anak buahnya karena itu adalah urusan pribadi Haruto di luar klan Yakuza Takara.


Hubungan Emi dengan Luca semakin dekat, apalagi dengan Marissa dan tak jarang Emi datang sendiri ke cafe ibu Luca itu sendiri tanpa putranya.


***


Joey sibuk dengan kuliahnya yang tertinggal setelah tidak banyak kasus di ruang instalasi jenazah, akhirnya dokter Daisuke mengijinkan Joey ikut kuliah bersama dengan teman-teman koasnya karena dirinya menganggap Joey pembawa mayat yang diluar kebiasaan.


Meskipun keputusan Dokter Daisuke ditentang oleh pengadilan, namun dokter itu menjamin bahwa Joey tetap melakukan hukumannya pagi-pagi lalu baru mengikuti kuliahnya. Jadi hanya dalam waktu kurang dari dua Minggu, Joey sudah kembali kuliah meskipun harus mengulang koas bagian radiologi bersama adik kelasnya.


***


Sabtu, Mansion Al Jordan


Luca sudah bersiap - siap untuk menjemput Emi yang hari ini akan bertandang ke mansion Al Jordan untuk belajar memasak bersama dengan Miki dan Josephine. Setelah sering bertemu dengan Marissa, Emi pun diundang oleh Miki. Oma cantik itu penasaran dengan gadis yang membuat cucunya tergila - gila.


"Cucu ganteng, mau jemput jam berapa?" tanya Miki sambil menyerahkan teh wasgitel untuk Joshua yang duduk di ruang tengah sambil membaca koran.


"Ini pamitan" senyum Luca sambil mencium pipi Miki, mencium pipi Joshua. "Aku pergi dulu."


"Sudah pamitan sama mommy dan Daddy kamu?" tanya Joshua sambil melihat cucu tampannya berjalan menuju garasi.


"Sampun Opa. Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam" balas Joshua dan Miki.


"Bang, kok makin kesini cucu-cucu kita mulai hilang ya muka asianya" gumam Miki.


"Gara-gara gen Bianchi kuat banget jadinya cucu kita bule deh" kekeh Joshua. "Lihat saja cucunya Duncan, anaknya Kristal, anaknya Nathan... Bule semua."


"Tapi pendidikan tetap jowo ya bang" senyum Miki. "Soalnya root kita dari sana sih benernya."


"Harusnya kita bersyukur Mi-chan, semua generasi keempat dan kelima baik-baik semua jalan hidupnya." Joshua menatap istrinya lembut.


"Terkadang aku rindu mom dan dad lalu saat kita masih muda-muda, melihat bagaimana sepupu aku Rusuhnya tidak lihat tempat."


Joshua tertawa. "Hello, sampai sekarang pun masih kayaknya deh."


"Iya sih, terkadang mereka pada tidak ingat umur!" sungut Miki.


***


Kediaman Takara


Luca menatap Takeshi Takara dengan tenang meskipun Yakuza satu itu memberikan pandangan menusuk.


"Jadi kamu mau membawa Emi, putriku yang precious ke rumah keluarga kamu?"


"Iya Mr Takara. Karena Oma saya mengundang Emi untuk masak bersama. Kami akan makan siang di Mansion Al Jordan."


"Apa benar kamu punya kolam piranha?"


Luca terkejut. "Memang kenapa Mr Takara? Anda mau ikan piranha?"


"Beneran kamu punya?" Takeshi bertanya lagi.


"Beneran kami punya. Makanya saya menawarkan Mr Takara mau?"


"Astagaaa!" kekeh Takeshi.


"Maaf, aku sudah siap." Emi tampak sudah rapi berdiri di ruang tengah.


"Wah, cantiknya jodoh aku" ucap Luca sumringah. "Aduuuhh!"


Takeshi memukul kepala Luca dengan koran. "Siapa yang kasih restu!"


"Yakin, Sir. Anda akan menjadi ayah mertua saya" senyum Luca.


"Saya yang tidak mau punya menantu slengean seperti kamu!"


"Kalian berdua mau tanding Kendo dulu?" tawar Emi yang jengah melihat keduanya ribut.


"Nggak!" jawab mereka serempak.


***


Rumah Sakit Tokyo University


Joey masuk untuk berjaga di rumah sakit bagian radiologi dan beruntung dirinya saat mendapatkan hukuman, pas koas di bagian yang tidak terlalu padat jadwalnya. Seperti biasa, pria keturunan Italia itu datang pagi-pagi dan langsung membersihkan kamar mayat meskipun semalam sebelum pulang dia sudah bersihkan.


Dan kini Joey sedang berada di ruang para dokter muda sambil memasukkan laporan rutin ke kepolisian dan laporan tugas ketika seorang rekannya datang dengan wajah panik. Karena ini hari Sabtu, tidak banyak dokter koas yang masuk karena weekend memakai sistem shift.


"Ada apa Mako?" tanya Joey ke calon dokter itu.


"Joey, pasien ku hilang."


"Haaaaahhh?" Joey menatap bingung. "Apa sudah pulang?"


"Bukan itu, pasienku sedang menunggu di ruang periksa, aku suruh tunggu disana sekitar 5-10 menit karena aku sedang mengambil berkas pasien."


"Sudah kamu cari ke toilet?"


"Sudah Joey! Aku sampai cari ke tangga darurat! Aku juga sudah cari di CCTV tapi kok tidak kelihatan." Mako tampak sudah mau menangis.


"Apakah pasienmu sedang hamil delapan Minggu?" tanya Joey mengingat Mako sedang koas di bagian obgyn.


"Bagaimana kamu tahu?"


Damn! Si Kawaguchi sudah sampai sini!


"Pasienmu datang sendiri atau dengan suaminya?"


"Sendiri. Joey, apa yang terjadi? Kamu jangan membuatku takut!" Mako mencengkeram snelli Joey.


"Aku panggil Kapten Hideaki Yamamoto."


Mata Mako terbelalak. "Jangan bilang... pasienku... "


"Kemungkinan besar bisa terjadi, Mako" ucap Joey sambil menelpon. "Selamat pagi Kapten Hideaki Yamamoto."


***


Mansion Al Jordan


Luca dan Emi tiba di mansion Al Jordan dan disambut oleh Marissa yang tampak sumringah kedatangan gadis judes yang cantik.


"Ayo masuk Emi" ajak Marissa sambil menggandeng gadis yang tingginya sama dengan dirinya.


"Assalamualaikum" sapa Luca seperti biasa.


"Wa'alaikum salam" balas semua orang disana.


"Ayo, Tante kenalkan ke saudara kembar Tante" Marissa membawa Emi ke ruang keluarga yang sudah ada Mario, Josephine, Marco, Joshua dan Miki.


"Hajimemashite" salam Emi sambil membungkuk hormat.


"Oh Emi, tidak usah terlalu formal" kekeh Joshua.


"Panggil saja Opa disini, karena bukan kampus" timpla Luca.


"Wah, ternyata kamu cantik banget dan Luca memang tidak bohong saat bilang kamu cantik" puji Miki yang membuat Emi tersipu.


"Ayo duduk santai saja" ucap Mario.


Semuanya duduk di sofa dan Emi tampak nyaman lama-lama setelah keluarga Luca menerimanya dengan tangan terbuka.


Melihat bagaimana dekatnya hubungan Luca dan keluarganya, membuat Emi tahu lebih jauh pribadi Luca yang sebenarnya. Pria slengean yang hangat dengan orang-orang yang dicintainya.


"Kamu mau lihat kolam piranha?" tawar Luca ke Emi.


"Beneran?" tanya Emi.


"Kami punya di halaman belakang. Ini gara-gara dua menantu tidak ada akhlak piara kok ya aneh-aneh!" omel Miki ke Mario dan Marco yang tersenyum simpul.


"Apa benar semua orang yang membuat masalah dilempar ke kolam piranha?" tanya Emi.


"Siapa yang bilang?" tanya Mario.


Emi menunjuk ke Luca.


"Lucaaaaa!"


"Lho benar kan? Aku pernah lihat Daddy melempar daging besar ke kolam..."


"Itu daging kambing, cumiii! Bukan daging orang!" Marco menatap judes ke putranya.


"Duh, harusnya bilang saja itu orang biar lebih mendramatisir" gerutu Luca manyun.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️