
Apartment Samuel
Samuel bergegas memasukkan baju-bajunya dan mempersiapkan pasport serta visanya. Setelahnya, pria itu mencari tiket ke Jakarta dan ternyata ada jam sebelas malam nanti tinggal business class. Samuel meringis melihat harga tiketnya yang aduhai.
Bukan dia tidak punya uang tapi tabungannya harus berkurang sekitar $3,500. Samuel menghela nafas panjang dan membuka e-banking nya dan tersenyum kecut melihat rekening tabungannya. Untung uang dari dokter Bianchi banyak jadi bisa pulang.
Samuel langsung memesan tiket dan bersiap - siap untuk membereskan apartemennya agar besok pulang, dia sudah nyaman.
***
Blaze melamun di cafetaria sambil mengaduk - aduk sup cream nya. Hatinya galau apalagi mendengar pernyataan cinta Samuel yang tampaknya sangat serius. Tanpa sadar, gadis itu memegang bibirnya yang tadi sempat dikecup asisten Daddynya.
Bebek sialan! Belum kasih penjelasan malah main kabur ke Jakarta! Apa aku ke apartemen si Sammy ya? Kan nggak enak digantung begini layaknya mie kering dijemur!
"Wooii! Melamun!" Luna menepuk bahu Blaze membuat gadis itu terlonjak.
"Astaghfirullah kampret!" latah Blaze.
Luna terbahak. "Elu itu nyebut apa mau ngumpat sih Blaze? Gak jelas lu!"
"Dua-duanya!"
"Kenapa lu? Pengawal lu minggat ke Jakarta jadi elu galau? Yaelah Blaze, makanya kalau sama Samuel itu elu kudunya baik-baik, bukan elu marahin, elu usilin, elu jahatin... Sekarang ditinggal kan elu? Durjana sih lu Blaze! Sammy pun lama-lama nggak betah!" cerocos Luna yang merupakan sahabat Blaze di Harvard.
Luna memiliki perawakan gempal, berdarah Mexico dengan kulit tan eksotis. Meskipun memiliki body yang menurut dia bakpau seksih, tapi Luna termasuk mahasiswa cerdas dan energik. Sama-sama mengambil spesialis penyakit dalam bersama Blaze, keduanya dikenal duo bar-bar tapi cerdas.
Luna tinggal bersama ibu dan tiga kakaknya yang memiliki klub dugem tempat Blaze sering datang. Karena punya tiga kakak lelaki jadi tak heran jika Luna tomboy, satu server dengan Blaze.
"Kok elu ngomongnya gitu sih Lun?" Blaze menatap sahabatnya.
"Soalnya elu itu kalau dikasih tahu suka ga mau dengerin. Sammy juga manusia biasa B, yang punya tingkat kesabaran terbatas. Apalagi dia itu benar nya naksir elu, sayangnya elu itu nggak peka. Isinya malah nakalin Sammy melulu dan sekarang Sammy minggat, bingung kan?"
Blaze semakin manyun. "Masa sih Sammy naksir gue?"
Luna yang sedang menyesap minumannya langsung freeze. "Really Blaze? IQ mu sangat-sangat jongkok kalau sampai tidak merasa Sammy naksir berat elu!"
"Enak saja bilang IQ gue jongkok!"
"Ya iyalah! Look, honey. Samuel itu sudah naksir elu sejak menjadi pengawal elu! Matanya itu tidak bisa dicolong, B. Dia selalu menatap kamu penuh cinta seolah kamu adalah cewek sempurna padahal otaknya payah soal beginian!"
Blaze semakin serius mendengarkan Luna tidak perduli gadis gempal di hadapannya menjelekkan otaknya.
"Orang itu bakalan baru kerasa kalau membutuhkan seseorang pada saat seseorang itu meninggalkan dirinya" ujar Luna.
Blaze pun mengangguk pelan.
"Eh, B... Jangan-jangan nanti sampai sana, si Sammy sudah dijodohkan sama ibunya disuruh menikah disana. Gimana tuh?" Luna menatap prihatin ke Blaze.
"Elu tuh kebanyakan baca novel sama drama Turki, Korea, Thailand dan Telenovela, Lunlun! Mana ada model begitu!" protes Blaze.
"Eh aku lagi demen nonton film India B" gelak Luna. "Lumayan niru tariannya bikin langsing 3 gram."
Blaze memegang pelipisnya pening mendengarkan ucapan sahabatnya. Buru-buru dia menghabiskan sup cream nya meskipun rasanya amburadul akibat keseringan diaduk - aduk tapi Blaze mengingat ucapan sang mommy dan Omanya jangan suka membuang makanan karena banyak orang yang susah cari makan.
"Lu mau kemana Blaze?" tanya Luna melihat Blaze berdiri menuju tempat sampah dan membuang cup sup nya.
"Bertapa! Hibernasi!" balas Blaze cuek.
"Eh jangan lupa besok kamu sudah harus ujian tambahan gara-gara cuti tiga bulan lho B!" teriak Luna yang hanya dijawab lambaian tangan Blaze.
***
Blaze mengendarai mobil Mini Cooper miliknya menuju apartemen Samuel yang berada di daerah Brooklyn. Gadis itu memarkirkan mobilnya depan apartemen asisten Daddynya yang dekat dengan Brooklyn bridge.
Gadis itu lalu mengunci mobilnya dan menuju gedung apartemen Samuel lalu masuk lift menuju lantai tiga.
Sesampainya di pintu apartemen Samuel, gadis itu memencet bel nya. Tak lama pintu pun terbuka dan Samuel terkejut melihat Blaze datang dengan wajah judes.
"Bee..." Samuel berdehem. "Ayo masuk."
Blaze pun masuk ke dalam apartemen tipe studio dengan model open space. Bahkan tempat tidur pun terlihat dari ruang tengah dan dapur.
"I..iya. Ini tipe studio. Aku cari yang murah kok Bee. Lagian kan hanya tempat untuk beristirahat setelah sibuk di rumah sakit." Samuel mengikuti gadis itu yang sedang memeriksa apartemennya.
"Bersih. Tertata rapi" gumam Blaze.
"Mau minum apa Bee? Air putih, teh atau juice jeruk?" tawar Samuel sambil menuju kulkasnya.
"Teh saja" jawab Blaze yang melihat ada dua koper besar didekat pintu kamar tidur.
Samuel mengambil dua cangkir lalu membuat teh dan memberikan satu ke Blaze.
"Thanks. Sudah dapat tiket?" tanya Blaze sambil duduk di sofa.
"Sudah. Nanti malam aku berangkat, Bee."
"Jam berapa?"
"Pesawat jam sebelas malam, Singapore Airlines dan aku dapatnya business class" cengir Samuel.
Blaze menatap Samuel. "Enak, kamu nggak capek bisa istirahat tanpa harus berdesakan dengan orang lain di sebelah."
"Iyaa tapi tiketnya lumayan..." Samuel menggaruk kepalanya. "Tapi demi ibu, nggak papa deh!"
Blaze mengangguk. Keduanya pun terdiam bingung mau bicara apa sampai...
"Sammy!
"Bee!"
Keduanya bersamaan menyebut nama.
"Aku dulu Sammy. Apa maksudmu main cium aku hah? Belom ada penjelasan sudah main kabur ke Jakarta!"
Samuel menatap Blaze lembut. "Karena aku mencintaimu, Blaze."
Blaze melongo. "Serius?"
Samuel mengangguk.
"Sejak kapan?"
"Sejak pertama kali diperkenalkan oleh dokter Bianchi."
Blaze semakin terkejut. "Sejak sebelas bulan lalu? Tapi... kenapa?"
"Memangnya orang jatuh cinta harus ditanya kenapa? Yaaa aku suka kamu saja. Kamu itu cantik jelas, bar-bar puooolll, suka berkelahi iyaaa tapi kamu itu punya sisi manusiawi yang orang lain tidak punya. Kamu memilih mengobati para lansia dan anak-anak yang sudah stadium akhir daripada pasien masih stadium awal karena kamu ingin memberikan mereka kebahagiaan dengan cara kamu sendiri."
Blaze menatap Samuel dengan perhatian.
"Kamu itu unik, Bee. Manja tapi bisa mandiri. Menyebalkan tapi juga ngangenin. Apa kamu tidak tahu aku bingung selama tiga bulan ditinggal kamu tanpa ada kejelasan kamu dimana. Aku tuh khawatir Bee... Takut kamu kenapa-kenapa..."
Suara Samuel menghilang ketika Blaze mencium bibirnya bahkan dengan berani gadis itu duduk diatas pangkuan Samuel membuat pria itu memeluk erat putri Joey Bianchi dan memagut bibirnya panas.
Perse*tan dipecat oleh dokter Joey!
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️