The Bianchis

The Bianchis
The Bianchis : Rombongan Mau Nikah



Tokyo Jepang


Luke dan Luca Bianchi tiba di Bandara Narita menggunakan pesawat pribadi milik keluarga Al Jordan Bianchi. Tampak Emi dan Hidetoshi menjemput keduanya dengan wajah penuh kelegaan karena mereka pulang dengan selamat.


Luca langsung mencium bibir istrinya penuh perasaan sedangkan Luke dan Hidetoshi memilih meninggalkan pasangan yang sering tidak melihat tempat itu.


"Akhirnya kamu pulang juga, Yakuza!" sungut Hidetoshi. "Banyak pekerjaan yang harus kamu selesaikan, baik AJ-BIANCHI maupun Yakuza kakek mu."


"Bukannya ada Opa Shiki?"


"Seriously?! Aku tidak tahu kalian ada perjanjian den Haag atau gimana, tapi kalian melimpahkan banyak pekerjaan padaku! Padaku!" Hidetoshi menatap judes.


"Tenang, bonus lima kali lipat on the way ke rekeningmu" sahut Luke cuek sambil mengambil ponselnya dan mengirimkan uang ke rekening Hidetoshi. Asisten sekaligus sahabat Luke itu mengambil ponselnya ketika mendengar suara notifikasi dan wajahnya tersenyum lebar.


"Sip lah kalau begini" cengir Hidetoshi.


"Dasar matre!"


"Hei, otak dan tenaga aku harusnya diperhitungkan dong, Luke."


Luke hanya melengos.


***


"Bagaimana Leia? Sudah resmi bertunangan dengan si Inferno?" tanya Emi sambil berjalan bersama dengan Luca.


"Well, anak itu sangat gigih, Em."


"Mirip kamu kan?" kekeh Emi. "Kamu bisa melihat sendiri bagaimana dartingnya otousan ketika tahu anak gadisnya ada yang naksir dan langsung main minta."


"At least dia sudah ikut aturan keluarga kita, Em dan mereka akan menikah bulan depan disini setelah si Inferno sembuh dari sunat."


Emi melongo. "Serius? Bulan depan? Ya ampun Lucaaaa, dua bulan lagi Georgina mau mantu juga. Blaze dan Samuel berencana menikah dua bulan lagi setelah Samuel di wisuda."


"Hah? Kok si dokter mafia itu nggak bilang?"


"Lha baru tadi malam Georgina ngobrol sama aku."


Suara notifikasi ponsel Emi berbunyi dan wajahnya tampak bingung.


"Duh, gimana ini?"


"Kenapa Em?" tanya Luca.


"Leia dan Dante mau nikah February, Blaze dan Samuel April, Nadira dan Pedro Juni."


Luca melongo.


***


Turin Italia, Azienda Ospedaliera Ordine Mauriziano. ( Rumah Sakit Ordine Mauriziano )


Leia tampak bingung melihat ketiga pria tampan disana sama-sama memilih untuk berkhitan bersamaan. Gadis berwajah dingin seperti sang okāsan memang hendak menemani tunangan nya, Dante Mancini yang hendak melakukan khitan tapi dirinya terkejut melihat sepupunya Antonio beserta Alexis asistennya, juga akan melakukan hal yang sama.


"Kalian berdua apa-apaan sih?" omel Leia ketika melihat dua pria itu berada di ruangan yang sama dengan Dante.


"Khitan lah! Setidaknya Lele, aku ada temannya" jawab Antonio cuek.


"Jangan bilang kalian sengaja berkhitan karena mau mengejar restu Oom Pandu dan Oom Rama ya?" Leia memicingkan matanya dengan wajah judes.


"Setidaknya kita sudah yang sakit dulu Leia baru fokus dengan aturan keluarga kamu" sahut Antonio.


"Memangnya kamu incar siapa Tonio?" tanya Dante.


"Adik sepupuku yang masih di bawah umur!" sungut Leia sebal.


"Hah? Umur berapa?" Dante melotot ke arah Antonio yang memalingkan wajahnya ke arah jendela.


"Savrinadeya itu baru 16 tahun!"


"Astagaaa! Kamu seumuran aku kan Tonio? Selisih 15 tahun?" Dante menggelengkan kepalanya. "Apa tidak ada wanita lain?"


"Tidak ada!" balas Antonio judes.


"Kalau Alexis?" Dante menatap Leia. "Jangan bilang dia tertarik dengan Raveena."


Wajah Alexis tampak memerah.


"Benar-benar ya, gadis-gadis keturunan Pratomo itu sangat attractive! Dan aku salah satu yang tergila-gila dengan keturunan Pratomo." Dante memegang tangan Leia.


"Mereka memang sangat menarik" gumam Alexis yang membuat ketiga orang di ruangan itu menoleh.


"Hah?"


"Eh? Maksud saya..." Alexis menatap panik ke arah Antonio dan Leia bahkan gadis itu melepaskan genggaman tangan Dante dan menuju ke arahnya.


"Apa yang sudah kamu lakukan pada Raveena?" tanya Leia dengan aura mengintimidasi.


"Alexiiisss!" desis Leia sambil mencengkram kerah baju asisten sepupunya itu.


"Tidak ada Signora!"


Leia menatap judes ke pria campuran Italia Inggris itu. "Awas kalau kamu macam-macam pada Raveena!"


"Saya tidak berani Signora. Really, dia sama mengerikan dengan anda."


***


Saisekai Hospital Tokyo Jepang


Rin Ichigo mematikan MacBook nya setelah membuat jadwal menu besok seperti biasanya berdasarkan kondisi pasien-pasiennya. Gadis manis itu lalu membereskan semua barang-barangnya dan mulai mematikan lampu lalu keluar sembari mengunci ruangannya.


Gadis itu berjalan menuju keluar rumah sakit dan terkejut ketika melihat Luke sudah bersandar di mobilnya.


"Yakuza freezer?" Rin menatap tidak percaya sosok orang yang selama ini menelponnya dengan caranya sendiri, sekarang berada di tempat parkir rumah sakit tempatnya bekerja.


"Halo Yankee. Ayo, aku antar." Luke membukakan pintu mobilnya dan mau tidak mau Rin pun masuk ke dalam mobil mewah Luke.


Di dalam mobil, Luke menatap Rin yang masih menatap bingung ke pria itu.


"Syukurlah kamu sehat."


"Apa maksudmu Yakuza?"


"Aku takut kamu aku tinggal lama di Turin, kamu tidak menjaga kesehatan kamu."


Bibir Rin menganga. "Seriously Yakuza! Aku bekerja di rumah sakit! Bagaimana bisa aku tidak menjaga kesehatan aku, Luke?"


"Siapa tahu kamu terlalu memikirkan aku?" Luke tersenyum samar.


"Luke Bianchi! Kamu menelpon aku setiap hari selama di Turin! Jadi buat apa aku memikirkan kamu? Beda kalau kamu tidak pernah menelpon aku selama disana!" bentak Rin kesal karena Luke tampak aneh.


"Jadi kalau aku tidak menghubungi kamu, apakah kamu akan kepikiran tentang aku?" Luke menstater mobilnya.


"Aku tidak mau membahas lagi Luke. Kamu kenapa sepulang dari Italia jadi aneh begini? Apa kamu salah makan pasta?"


"Kamu bisa memasak kan?" tanya Luke tiba-tiba.


"Bisa. Kenapa?"


Luke mengarahkan mobilnya ke sebuah toserba yang lengkap lalu memarkirkannya.


"Ayo belanja." Luke turun dari mobilnya lalu membukakan pintu tempat Rin duduk.


"Apa maksudmu 'Ayo belanja'?" Rin menerima uluran tangan Luke untuk membantunya keluar dari mobil.


"Aku ingin merasakan masakanmu. Kenapa? Masalah?" Luke menutup pintu mobil mewahnya dan menguncinya.


"Hah?" Rin tampak tidak menyadari kalau tangannya masih digenggam oleh Luke.


"Aku bosan pasta. Bosan masakan western dan aku ingin masakanmu."


"Kamu minta dimasakkan apa, Yakuza?" tanya Rin sambil menatap Luke yang mengambil troli belanja dengan tangan satunya yang bebas.


"Terserah! Asalkan masakan Jepang dan yang simpel." Luke mendorong troli itu dengan satu tangan.


"Yakuza..."


"Hhhhmmm..."


"Aku tidak bisa belanja jika tanganku kamu genggam begini."


"Kan tangan satunya masih bebas" sahut Luke cuek.


"Iiiihhh, nggak nyaman belanjanya. Aku harus mengambil pakai dua tangan, Yakuza freezer!" sungut Rin yang sebenarnya jantungnya berdegup kencang merasa bahwa perilaku Luke terlalu berlebihan, macam kita pacaran saja.


"Oh. Oke." Luke melepaskan tangan Rin yang mulai memilih - milih sayuran dan daging. "Oh Rin, aku..."


"Tidak bisa makan Miss Piggy. I know Luke."


Luke tersenyum.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️