
Apartemen Rin Ichigo
Luke tampak berpikir tanpa menyadari Rin sudah masuk lift dan meninggalkan pria yang masih termenung.
"Memangnya aku ngapa... Oh my God! Dia masih mempertanyakan aku cium keningnya?" Luke mengeplak jidatnya. "Bodoh kamu Luke! Ya wajar Rin bingung karena tidak jelas... Lho? Si Yankee kemana?" Luke celingukan mencari gadis itu.
Buru-buru Luke masuk ke dalam lift menuju lantai apartemen Rin. Cewek itu Yaaaa! Menyebalkan kalau marah tidak bilang!
***
New York
Samuel menyelesaikan pembayaran apartemen mewah yang akan diberikan sebagai mas kawin besok pernikahan dirinya dengan Blaze. Dan dirinya tampak puas dengan lokasinya yang menunjukkan pemandangan kota New York.
Samuel meringis melihat rekeningnya yang berkurang banyak karena harus membeli properti di daerah Soho New York. Meskipun dirinya nanti harus bekerja keras lagi untuk mengisi tabungannya, tapi setidaknya dia bisa memberikan mas kawin yang pantas untuk anak gadis Dokter Joey dan Dokter Georgina Bianchi.
"Kira-kira buat perabotannya habis berapa ya? Duh seleranya Bee kan lumayan tinggi..." Samuel membuka MacBook nya dan mulai berselancar mencari perabotan yang memiliki brand dan sesuai selera Blaze.
"Hiks... Masa nanti di tabungan tinggal $1,000? Belum beli cincin kawin... Duh Sammy... Sammy... Kenapa juga jatuh cinta sama cewek anak sultan sih!" Samuel menutup wajahnya bingung harus bagaimana.
Suara dering ponselnya membuat pria berdarah Indonesia itu menoleh dan tampak nama 'Bee' disana. Setelah menghela nafas berulang kali, akhirnya Samuel menerima panggilan Blaze.
"Assalamualaikum Be..."
"BEBEK! Kamu dimana? Wa'alaikum salam!"
"Astaghfirullah, Bee jangan bentak - bentak. Bisa jantungan aku!"
"Kamu dimana?" bentak Blaze tanpa mengindahkan ucapan Samuel sebelumnya.
"Aku di Soho..."
"Ngapain kamu di Soho! Kamu selingkuh ya!"
"Hah? Nggak Bee! Kalau kamu tidak percaya, kesini saja."
"Berikan alamatnya!!"
Samuel tersenyum mendengar suara Blaze yang ada nada cemburu. "Sudah aku kirim ya Bee."
"Tunggu disitu! Jangan kemana-mana!" Blaze langsung mematikan panggilannya.
"Apartemen ku kan cuma sewa. Duuuhhh gimana ini?" Samuel semakin manyun.
***
Apartemen Di Daerah Soho New York
Blaze melongo melihat apartemen mewah yang diaku Samuel dibelinya untuk mas kawin mereka besok. Gadis itu memindai semua sudut apartemen dan menatap Samuel yang tampak gugup.
"Kamu kenapa?" tanya Blaze.
"Aku... aku takut kamu nggak suka..."
"Astaghfirullah! Ini bagus sekali! Kamu pasti habis banyak ya?"
Samuel menggaruk kepalanya tanda dia gugup.
"Uang kamu habis ya?"
"Masih ada kok Bee cuma aku belum bisa membeli perabotan... Selera kamu kan harus didahulukan... Adduuuhhh!"
Blaze memukul bahu Samuel dengan keras. "Kenapa kamu nggak bilang! Sudah! Kita cari perabotan!" Gadis itu lalu mengambil MacBook Samuel lalu mulai berselancar dan mencari perabotan yang cocok untuk mereka berdua.
"Tapi Bee..."
"Bebek, dengar ya! Kita akan menikah dan kamu sudah habiskan banyak tabungan kamu demi memberikan yabg terbaik untuk aku. So, kenapa aku juga tidak memberikan untukmu?"
"Bee, itu habisnya banyak ..."
"Masih banyak yang kamu habiskan buat apartemen sebagus ini! Sudah, kamu suka sofa warna apa?" Blaze menunjukkan model sofa yang tampak comfy.
"Kamu nggak papa, Bee?"
Blaze menatap judes ke Samuel. "Kamu minta aku hajar apa ya bebek!"
"Ng...nggak Bee..."
"Lagian, tabungan aku nganggur dan mengendap! Sudah waktunya keluar dari kuburan bank!"
Samuel hanya bisa melongo mendengar ucapan absurd calon istrinya.
***
Apartemen Rin Ichigo Tokyo Jepang
"Rin! Buka pintunya!" pinta Luke setelah mengebel pintunya bolak-balik tanpa ada gerakan kunci terbuka. "Come on Rin! Apa aku harus bilang ke semua orang kalau kamu itu adalah Yan..."
"Kamu menyebalkan!" sungut Rin sambil manyun. Luke pun masuk ke dalam apartemen itu dan menutup pintunya.
"Look Yankee, apa kamu jadi kacau setelah aku mencium keningmu?"
"Menurut mu Yakuza Freezer?"
"Apa kamu belum pernah dicium sebelumnya?"
Wajah Rin memerah. Meskipun dia dulu sering berantem brutal, tapi soal menjaga diri, dia jagonya. Baru Luke yang dengan lancangnya mencium keningnya.
"Serius?" Luke melongo melihat wajah Rin. "Aku kira karena kamu Yankee ..."
"Menjadi Yankee bukan berarti aku tidak bisa menjaga diri aku, Luke!" bentak Rin kesal. "Apa aku harus bilang ke semua orang kalau aku masih perawan?"
Luke lalu memeluk Rin. "Terima kasih karena kamu memang perempuan baik-baik meskipun galak dan judes."
"Kamu ngapain peluk aku Luke?"
"Apa kamu takut kalau Okāsan tidak setuju kita berhubungan?"
Rin mengerenyitkan alisnya. "Aku yang tanya duluan Luke, kenapa kamu ikutan nanya?"
Luke tertawa kecil. "Aku sudah suka kamu entah sejak kapan, mungkin saat aku di Turin tapi aku masih harus menaklukkan Okāsan. Kamu tahu sendiri kan, Daddyku sendiri dulu untuk mendapatkan Okāsan harus tanding Kendo dengan Opa."
Rin menatap Luke. "Apakah Bianchi-san menang?"
"Dua kali. Tapi kata Okāsan opa curang, main ketok kepala Daddy saat lengah dan selesai bertanding. Sampai benjol katanya."
Rin. tersenyum membayangkan Opa Takeshi mode Julid. "Eh tunggu. Kamu suka sama aku?"
Luke mengangguk. "So, kamu tidak usah takut Okāsan tidak menyetujui hubungan kita, Rin. Okāsan hanya ingin tahu semampu apa kamu bisa menghadapi aku yang kata trio kampret kulkas 12 pintu!"
"Aku kemakan omonganku sendiri..." gumam Rin.
"Memang kamu harus sabar denganku yang tidak pernah dekat dengan wanita selama ini, hanya Yuri dan Rika saja."
"Dokter Rika aku kenal, dokter Yuri belum terlalu mengenal."
"Rika adalah teman sekolah ku, Yuri adalah teman SMA ku bersama dengan Hidetoshi dan hanya dia satu-satunya siswi yang bisa dekat denganku."
"Kata Leia, kamu hanya memikirkan keluarga, pekerjaan dan ikan piranha mu..."
"Apakah kamu ingin melihat peliharaan aku?"
Rin menggelengkan kepalanya. "Peliharaan kamu nggak lucu!"
"Tapi berguna untuk membuang mayat..."
Rin melongo. "Luke! Kalau itu sebuah joke, sangat-sangat tidak lucu!"
"Lho itu kenyataannya! Apa kamu tidak percaya?"
Rin memajukan bibirnya. "No, aku tidak percaya."
Luke mengeratkan pelukannya. "Rin, aku tahu kita sering berbeda pandangan dan pendapat, tapi aku minta bersabarlah denganku karena aku adalah orang yang sedikit complicated tapi jika aku sudah menyukai seseorang, aku akan berusaha membahagiakan pasanganku. Rin, Leia pasti sudah bercerita kalau tidak mudah menjadi pasangan seorang ketua Yakuza karena banyak musuh yang mengincar aku dan aku tidak ingin pasanganku seorang wanita lemah dan tidak bisa apa-apa."
"Kenapa?"
"Karena semua wanita di keluarga aku, semuanya kuat dan memiliki prinsip meskipun sering membuat gemas karena absurd. Rin, kamu kuat, kamu punya prinsip, kamu baik, kamu bisa masak dimana aku mungkin tipe pria kuno dimana aku senang jika melihat seorang wanita bisa memasak meskipun simpel tapi mau masuk dapur, dan kamu memiliki kriteria yang aku cari."
"Tapi Luke, kamu tahu kan aku hanya anak yatim piatu yang kedua orangtuanya bunuh diri karena hutang..."
"Aku tahu. Dan aku tahu juga kamu berusaha untuk tidak seperti kedua orangtuamu. Aku sangat salut akan hal itu." Luke memegang wajah Rin. "So, jika selama ini kamu bingung apa dan kenapa, karena aku menyukaimu dan mungkin sudah jatuh cinta padamu. Aku bukan pria romantis macam daddyku yang kental darah Italianya tapi aku memiliki cara tersendiri."
Rin menatap Luke dengan tatapan lembut. "Setidaknya kamu bisa menjelaskan kenapa jadi tidak membuatku bingung."
"Maaf jika aku membuat kamu galau."
"Terimakasih sudah mau jujur padaku dan terimakasih atas perasaanmu padaku."
"Bagaimana dengan kamu sendiri Yankee?"
"Aku rasa aku juga mulai menyukai mu, Yakuza."
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️