The Bianchis

The Bianchis
Blaze Bianchi : Samuel Prasetyo



The Verdesian Penthouse Manhattan New York


Ting!


Suara pintu lift terbuka dan tampak seorang gadis cantik jalan cepat sedikit menghentak dengan sepatu hak tingginya. Gadis bermata biru dan berambut coklat itu tampak kesal meninggalkan seorang pria berwajah Asia yang tergopoh-gopoh mengejarnya.


"Miss Blaze!" panggil pria itu.


Gadis yang dipanggil 'Blaze' itu hanya mengacuhkan panggilan pria itu.


"Assalamualaikum!" teriak gadis itu ke arah kedua orangtuanya yang sedang nonton tv di ruang tengah.


"Wa'alaikum salam" balas kedua orang tuanya. "Lho Samuel kemana?"


"Si bebek kesandung paling!" jawab Blaze asal. "Bee keatas dulu mom, dad!"


"Wait!" ucap daddynya. "Kamu minum berapa gelas?"


"Assalamualaikum Mr Bianchi, Mrs Bianchi" sapa pria Asia tadi yang mengejar Blaze.


"Wa'alaikum salam. Samuel, Blaze minum?" tanya wanita yang dipanggil Mrs Bianchi.


"Err iya. Tadi habis dua gelas bir hitam..." lapor pria yang dipanggil Samuel.


Blaze menatap tajam ke arah Samuel yang tidak berani menatap wajahnya. "Sammy Bebek!" teriak nya kesal.


"Kamu itu! Sudah ketahuan kemarin! Ini diulang lagi!" bentak Joey Bianchi ayah Blaze.


"Tamara ulang tahun Dad dan masa aku tidak datang? Dia sahabat aku, Dad!" rengek Blaze. "Lagian bisnis Opa kan bir hitam, masa cucunya nggak boleh cicipi?"


"Tidak ada pergi ke pesta aneh-aneh! Apa jadinya kalau Samuel tidak mengawal kamu?" bentak Joey kesal menghadapi putrinya yang bandelnya minta ampun.


"Paling minta Oom Gin dan Vodka jemput!" jawab Blaze cuek. Dua pengawal Joey dulu di Tokyo ditarik ke New York sejak Georgina hamil untuk mengawal saat Joey tidak di tempat.


"Beeee!" pendelik Joey. Georgina memilih tidak ikut campur karena bakalan tambah ramai.


"Ih kenapa sih pada reseh! Bee nggak butuh pengawal macam bebek gitu! Ngintilan!" Blaze menatap judes ke arah Samuel yang masih berdiri menatap dirinya.


"Samuel itu memang Daddy minta mengawal kamu! Dia yang paling tahan banting hadapin kamu! Paham kamu?" Joey menatap tajam ke putrinya.


"Malesi!" Blaze pun berjalan menuju kamarnya yang di lantai dua. Samuel pun mengikuti gadis itu karena tas Hermès nya masih dipegang dirinya.


"Maaf Mr Bianchi, Mrs Bianchi. Tas nya Miss Blaze saya kasih dulu." Samuel mengangguk sopan ke arah dua orang yang sedang mode galak.


"Sam, yang sabar ya. Maklum Blaze anak tunggal yang dimanja sama Daddynya" lirik Georgina ke suaminya yang melotot tidak terima.


"Kasih sana tas nya. Nanti setelahnya kamu kemari, saya ingin tahu apa ulah si Tawon itu!" Joey mengedikkan dagunya menyuruh Samuel naik tangga menuju kamar Blaze.


"Tawon?" kekeh Georgina.


"Bee kan tawon. Kalau sudah ngeroweng kan njelehi" sahut Joey.


***


"Miss Blaze. Ini tas nya masih saya bawa." Samuel mengetuk pintu kamar Blaze yang bewarna ungu.


Blaze pun membuka pintu kamarnya dan memasang wajah jutek. "Kamu tuh bisa nggak sih nggak terlalu jujur dan banyak omong sama Daddy?"


"Maaf miss Blaze tapi saya kan diperintahkan oleh Dokter Bianchi mengawasi anda. Kalau ada apa-apa sama anda, saya yang kepotokan."


"Halah! Alasan! Bilang saja biar kamu dapat nilai bagus kan? Mentang-mentang Daddy konsulen kamu di bedah! Sudah sana! Laporan gih sama Dokter Jeoffree Bianchi yang terhormat!"


BRAK!


Samuel adalah anak yatim-piatu asal Indonesia yang memiliki otak cerdas dan seorang pengusaha tertarik dengannya yang kemudian menjadi orang tua asuhnya. Meskipun Samuel tinggal di panti asuhan, berkat pengusaha itu, dia bisa sekolah dengan lancar. Tak jarang dia mendapatkan bea siswa karena prestasinya.


Ketika lulus SMA, Samuel mendaftar masuk kedokteran Universitas Indonesia dan diterima. Sayangnya, pengusaha itu meninggal saat Samuel baru menjalani kuliah satu semester. Pengacara pengusaha itu memberikan warisan kepada Samuel berupa biaya pendidikan hingga lulus serta sejumlah uang untuk biaya hidupnya.


Samuel bertekad tidak memakai uang itu karena sebagai tabungannya. Pria itu memilih tetap menjadi guru les privat untuk anak-anak di sela-sela kesibukannya. Dia juga berjualan online sebagai dropship untuk biaya sehari-hari. Hingga pihak fakultas kedokteran UI menawarkan bea siswa ke Harvard University untuk spesialis bedah. Samuel yang sudah menyelesaikan pendidikan kedokterannya, mencoba ikut dan tanpa dia duga, dirinya diterima.


Setelah menyelesaikan semua administrasi dan visa, Samuel pun berangkat ke Cambridge Harvard. Setahun di Harvard, Samuel bertemu dengan Dokter Bianchi yang menjadi konsulennya untuk tahun terakhir kuliahnya. Dan tiga bulan lalu, dokter Bianchi meminta bantuannya untuk menjadi pengawal pribadi putrinya yang bandel. Blaze ketahuan pergi ke club dan mabuk hingga pulang pagi.


Samuel pun mengiyakan karena bayaran yang dijanjikan cukup untuk biaya dirinya nanti pulang ke Indonesia karena dia ingin bekerja di negaranya sendiri.


Saat Samuel pertama kali bertemu dengan Blaze, pria itu sudah suka dengan gaya slengean mahasiswi kedokteran Harvard Medical School yang bisa dibilang adik kelasnya.


Samuel memang sebelumnya tidak terlalu memperhatikan Blaze meskipun dia sering mendengar cerita putri dokter Bianchi yang terkenal bar-bar namun cerdas. Hanya saja bandelnya tidak ketulungan.


Diam-diam Samuel menyukai putri Joey Bianchi itu karena meskipun Blaze bandel, dia baik hati. Samuel pernah melihat gadis itu mengobrol dengan para kaum lansia dengan berjongkok, mendengarkan cerita mereka bahkan ikutan heboh bersama kaum Oma. Blaze adalah mahasiswi kedokteran yang paling depan kalau ada kunjungan ke panti jompo.


Meskipun sering bermulut pedas tapi kamu itu jiwa sosialnya tinggi.


Samuel pun berjalan menuruni tangga dengan wajah muram. Susahnya mengatakan bagaimana perasaan aku ke gadis bandel itu. Lagipula, aku kan hanya asisten Daddynya. Haaaaahhh, Sam. Kubur dalam-dalam perasaan kamu! Sebentar lagi kamu kan kembali ke Jakarta.


"Kamu kenapa Sam? Blaze menghajar kamu?" tanya Georgina.


"Tidak Mrs Bianchi" senyum Samuel. Pria berusia 25 tahun itu pun duduk di sofa ruang tengah.


"So, apa yang terjadi tadi?" tanya Joey.


"Hanya pesta biasa di club, Mr Bianchi. Saya hanya mengawasi Miss Blaze yang asyik melantai tapi begitu dia hendak minum bir nya yang ketiga, saya seret pulang."


Joey dan Georgina tersenyum. "Darah Italia dan Irlandia memang tidak bisa bohong" kekeh Georgina.


"Saya tahu Miss Blaze kuat minum tapi kan tidak patut. Apalagi banyak paparazi di luar club dan saya hanya menjaga nama baik Miss Blaze berserta anda berdua" ucap Samuel.


"Terima kasih Sam. Kamu berani menyeret Blaze pulang. Ohya kamu nginap disini saja karena besok jam delapan pagi kita ada ops. Kamu bisa telat jika harus pulang ke Brooklyn. Lagipula ini sudah jam sebelas malam, kereta juga sudah tidak ada" ucap Joey. "Kamu bawa baju kan?"


"Bawa Dok. Ada di dekat lift duffle bag saya."


"Sudah, kamu istirahat. Besok kita berangkat bareng." Joey berdiri lalu menepuk bahu asistennya.


Samuel mengangguk.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Blaze dulu ya nanti baru Leia. ( Ku putuskan gantian sana sini )


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️



Samuel Prasetyo



Blaze Bianchi