The Bianchis

The Bianchis
Dugaan Dokter Daisuke



Instalasi Jenazah Tokyo University Hospital


Dan sekali lagi Joey harus mengautopsi jenazah dengan kondisi mengenaskan dan dalam waktu satu jam, bersama dengan dokter Daisuke menyimpulkan jika jenazah wanita itu adalah korban dari Kawaguchi.


Usai melakukan autopsi, jenazah tersebut akan dibawa ke rumah sakit forensik kepolisian untuk mencari data korban. Joey melirik jam dinding di ruang jenazah... dan lagi-lagi aku melewatkan ibadahku.


Dokter Daisuke tampak lelah fisik dan mental karena harus mengautopsi korban yang mengingatkan dengan mantan kekasihnya.


"Dok, kalau dihitung-hitung, si Waka-waka itu berarti usianya se dokter ya. Tapi hebat masih bisa melakukan mutilasi yang cukup sulit..."


Dokter Daisuke tampak terkejut. "Joey, apa kamu bilang?"


"Usianya se dokter..."


"Bianchi! Astagaaa! Aku saja sudah kesulitan untuk memotong jenazah jika tidak memakai alat canggih berlistrik dan meskipun memakai gergaji listrik standard pertukangan, hasilnya tidak se smooth dengan alat potong di rumah sakit."


Joey tampak berpikir. "Menurut dokter, si Waka-waka punya kaki tangan?"


"Kemungkinan besar begitu Bianchi."


Duh, makin menjelimetkan sajoooo! Gue heran Opa Ghani dan Opa Raymond betah amat ya jadi detektif di NYPD, padahal gue baru segini saja udah rada vertigo tapi penasaran bin penisirin.


***


Luca mengantarkan Emi pulang ke kediaman Takara usai makan malam jam tujuh. Kali ini Luca memilih memakai mobil Range Rover milik daddynya, bukan naik motor seperti biasanya.


"Tadi ngobrol apa saja sama Oma, mom dan Tante Jo?" tanya Luca sambil melirik gadis di sebelahnya. Tadi Marissa memaksa Emi untuk mandi di mansion Al Jordan agar nanti pulang tinggal istirahat. Baju Emi pun memakai baju baru yang memang ada di mansion.


"Macam-macam. Oh mommy mu ingin mengajak aku ke Solo usai ujian skripsi."


Luca menoleh. "Ke Solo? Ke Solo?"


"Iya, tapi hanya aku, mommymu, Tante Jo dan Oma Miki. Girls day out katanya. Lalu kalian para kaum pria tidak boleh ikut."


"Haaaaahhh? Mommy bilang begitu?" Luca mendelik. Enak saja bawa calon istri tanpa dirinya!


"Iya. Katanya mau kasih lihat nasi liwet dari tempat aslinya dan ke apa tadi namanya... wedhangan."


"Serius mommy tidak mengajak aku? Tidak mengajak Dad, Oom Mario dan Opa Joshua? Kalau si dokter gak jelas itu tidak usah ditanya karena dia sudah terlambat satu semester."


"Kamu kenapa Luca? Kamu tidak suka aku pergi dengan mommy mu?" tanya Emi.


"Bukan begitu Amore Mio, tapi kamu pergi tanpa diriku... Itu yang membuatku kesal!" sungut Luca sembari memajukan bibirnya.


"Hei, namanya saja girls day out. Kamu jangan marah dong!" kekeh Emi.


"Em, yang masih girl itu kamu, lainnya sudah mantan girl bahkan sudah jadi Oma yang satu ... Aduuuhh!" Luca mengusap bahunya.


"Itu Oma kamu juga ih! Benar-benar cucu tidak punya perasaan!" umpat Emi usai memukul bahu Luca dengan keras.


"Emi..."


"Ya?"


"Kamu mau kan jadi istri aku?" tanya Luca sambil menatap wajah gadis judes itu.


"Oh Astagaaa! Aku tahu pria Italia itu terlalu impulsif soal perasaan amor tapi nggak gini juga Lucaaaaa!" pendelik Emi.


"Iiissshhh tinggal jawab mau atau nggak kok susah banget sih!"


"Aku nggak mau menjadi istri kamu, Luca."


"Kenapa?"


"Karena aku masih ingin bebas, masih ingin bekerja. Aku belum siap berumahtangga."


Luca menghela nafas panjang. "Tapi hanya kamu yang ingin aku jadikan istri."


"Tapi aku masih belum mau menikah, Luca. Tolong pahami keinginan aku..." Emi menatap Luca.


Luca hanya mengangguk. "Mungkin kamu benar. Aku yang terlalu impulsif..."


"Terimakasih."


Akan aku buat kamu jatuh cinta padaku sampai mau menjadi istriku.


***


Mansion Al Jordan


Joey pulang dengan wajah lelah dan langsung masuk kamarnya lalu melepaskan semua baju yang melekat di tubuhnya. Baju dan celana itu langsung dia rendam di ember yang sudah diisi air dengan disinfektan yang sekarang selalu tersedia di kamar mandi setelah dia kena hukuman di kamar jenazah.


Joey langsung berendam di dalam bathub yang sudah diberikan bomb soap bau green tea. Dirinya merasa sangat relaks dan nyaris terlelap jika suara cacing di dalam perutnya tidak demo.


***


"Malam omaku sayang" sapa Joey sambil mencium pipi Miki. "Kok belum tidur?"


"Kamu belum makan malam Joey, jadi Oma menunggu dirimu dan Oma penasaran dengan kejadian tadi di rumah sakit."


Joey tersenyum lalu mengambil makanan yang disiapkan Miki. "Terima kasih Oma."


"Sekarang bagaimana kabar dua orang yang ditusuk suami malang itu?" tanya Miki penasaran.



Bang Joey, fokus jadi dokter bedah saja, kagak usah jadi Opa Ghani dan Oma Alexandra digabung.


"Oma kok tahu?" tanya Joey sambil memasukkan nasi dengan salmon grill ke dalam mulutnya.


"Kamu masuk tv, anak Ganteng" kekeh Miki.


"Ooohhh. Lho Oma, yang lain pada kemana?"


"Opamu bersama orangtua kamu dan Oom Tante mu pada ingin jalan-jalan tapi Oma memilih di rumah saja. Luca biasa antar Emi. Mending dengar cerita kamu lah" senyum Miki. "So gimana jadinya?"


"Lho Emi jadi disini seharian? Meninggal dua duanya Oma." Joey menatap sendu ke Omanya yang masih tampak cantik.


"Innalillahi. Kamu yang operasi, J?"


"Aku asisten saja tapi memang senior aku dan aku sudah berusaha untuk menolong pria itu tapi memang lukanya parah. Dan Mako, teman aku pun juga membantu dokter bedah di kamar sebelah, mengatakan tidak bisa menolong nyonya Ayumi."


"Ya Allah, tragis sekali" bisik Miki sedih. "Lalu bagaimana dengan suaminya?"


"Masih ditahan tapi aku setelahnya mendapatkan korban mutilasi lagi."


"Astaghfirullah! Lagi Joey?"


Joey mengangguk. "Joey cukup lelah Oma. Gemas karena kapten Hideaki Yamamoto belum bisa menangkap orang itu!"


"Kamu jangan ikutan, Joey. Mom dan daddymu sudah wanti-wanti lho."


"Assalamualaikum!" suara Luca terdengar dari ruang depan.


"Wa'alaikum salam. Sudah antar Emi?" tanya Miki.


Luca mencium pipi Miki dan menepuk punggung sepupunya. "Sampun Oma."


"Kok mukamu kusut?" tanya Miki penasaran.


"Aku ditolak Emi."


"Haaaaahhh? Bukannya kalian masih ada jadwal kencan dua Minggu lagi?" Joey menatap sepupunya.


"Iya, tapi aku tadi mencoba memancing Emi denhan mengajaknya menikah tapi Emi langsung tidak mau karena belum siap berumahtangga."


"Wajar lah, Luc... Emi baru 21 tahun, masih ingin mengekspresikan diri, bekerja dan menikmati hidup" senyum Miki. "Sabar."


"Oma..."


"Ya Luca?"


"Apa benar kalian para kaum wanita pada mau ke Solo? Tanpa kami para pria?" tanya Luca dengan wajah manyun.


"Iya. Memangnya kenapa?" Miki menatap cucunya dengan tatapan jahil.


"Oma jahat! Aku kan pengen ikut!"


Joey menggelengkan kepalanya. "Kelakuan masih kayak bocah begini kok minta kawin...eh ... nikah?"


"Shut up J!"


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️