The Bianchis

The Bianchis
Leia Bianchi : Saya Akan Cari Tahu Soal Belgia



Turin Italia, Ruang rawat inap Leia di Mauriziano Umberto Hospital


Luca menatap keempat anggota FBI sambil tersenyum smirk. "Rowan Jesper itu saling berkaitan dengan mantan istri Stefanus of Léopold karena Natalia selingkuh dengan Rowan hingga dua kali menggugurkan kandungannya."


Leia dan Luke menahan nafas karena takut Daddy mereka keceplosan soal Natalia.


"Kabarnya Stefanus sudah keluar dari rumah sakit setelah mengalami depresi berat akibat dijatuhkan oleh rakyat Belgia dari tahta putra mahkota" gumam Omar.


"Memang. Karena sebenarnya, yang berhak adalah Sean of Léopold bukan Stefanus. Stefanus itu adalah anak hasik hubungan Andrew dengan Michelle sebelum raja Maximilian menjodohkan dengan putri Felicia dari kerajaan Austria. Andrew akhirnya menikah resmi dengan Felicia secara resmi tapi pernikahan mereka hanya bertahan dua tahun karena Felicia meninggal setelah melahirkan Sean.


Raja Maximilian mendengar menantu kesayangannya meninggal, terkena serangan jantung, untung nyawanya masih selamat. Pada saat Sean berusia sepuluh tahun, Raja Maximilian mangkat san Andrew naik tahta lalu langsung menikahi Michelle serta mengumumkan bahwa Stefanus lah yang menjadi putra mahkota karena dia anak sulung.


Ratu Elisabeth sendiri dikabarkan tidak cocok dengan menantunya ini hingga memutuskan untuk mundur dari kegiatan kerajaan dan pergi ke Perancis bersama dengan Sean untuk menyepi disana hingga meninggal.


Terlepas dari skandal, Sean memang tidak diasuh oleh Michelle melainkan oleh Elisabeth dua orang guru yang ditunjuk olehnya. Jadi kita lihat perbedaan karakter antara Stefanus dan Sean." Luca memaparkan kisah di balik kerajaan Belgia.


Dante menoleh ke arah Leia yang hanya melengos.


"Kamu kan yang membuat Stefanus depresi?" bisik pria itu di sisi telinga Leia.


Leia menatap tajam ke arah Dante. "Bukan aku Dante!" desisnya. Tapi si dokter psycho.


"Apakah ada hubungannya dengan Stefanus?" tanya Billy.


"Entahlah."


***


Taman Rumah Sakit


"Kamu mau sampai berapa lama mengejar Leia?" tanya Luca ke Dante saat keduanya berada di taman rumah sakit.


"Sampai Leia mau dengan saya."


"Leia tidak akan mau padamu, Inferno!"


"Kita lihat saja nanti Signore Bianchi" ucap Dante yakin.


"Sejujurnya, kamu bukan calon menantu idaman, Inferno. Saya lebih suka Omar dibandingkan kamu!"


"Saya akan buktikan bahwa saya pantas menjadi suami dan imam Leia!"


"Really? Saya tidak mau kamu pindah karena Leia. Pindah itu memang karena kamu mendapatkan petunjuk dari yang di atas..."


"Tapi demi Leia, saya berani berkorban bahkan tidak akan mengutak-atik tanah keluarga kalian."


"Memang kalau kamu sudah mendapatkan Leia, mendapatkan restu dari aku, apa kamu akan berhenti nakal?" Luca menatap tajam Dante.


"Signore Bianchi, sejak saya mengenal Leia meskipun harus kena hajar, saya sudah tidak bersama dengan wanita manapun! Hanya Leia yang ada di hati dan otak saya" jawab Dante tegas.


Luca tersenyum smirk. "Jika Leia menolak dirimu, jangan bunuh diri di pohon anggur."


"Seriously, Signore. Justru Leia yang akan jatuh cinta pada saya seperti saya sudah jatuh cinta setengah mati padanya." Dante menatap Luca serius.


***


Ruang Rawat Inap Leia di Mauriziano Umberto Hospital


"Luke, ternyata Stefanus sudah bebas. Padahal harusnya dia masih harus dirawat setahun tapi ini baru enam bulan sudah keluar." Leia memandang Luke yang sedang mencari tahu informasi itu dari Greg, asisten Sean yang menjadi informannya.


"Yang penting Zee sudah di Indramayu dan tidak ada yang tahu selain keluarga." Luke membaca pesan dari Greg yang membenarkan Stefanus sudah keluar dari rumah sakit.


Leia membaca pesan dari ponselnya. "Luke, Zee mau lahiran."


Luke menoleh kearah Leia. "Seriously?"


"Iya, ini Gasendra dan Trio Kampret membawa Zee ke Jakarta. Soalnya dari pagi sudah merasa mulas."


"Tunggu! Kenapa trio kampret ada di Indramayu?"


"Apa kamu lupa? Ini kan libur semester jadi mereka memilih menemani Zee disana." Leia terkekeh.


"Hadduuuhhh! Bahaya!" keluh Luke.


"Kenapa?"


"Aku tidak mau keponakan aku ketularan kampretnya mereka bertiga."


Leia terbahak.


***


"Ada apa Signore Bianchi?" tanya Dante penasaran.


"Bukan urusan kamu, Inferno!"


"Apakah soal Zinnia Hadiyanto istri Sean of Léopold?"


Luca mendongak dari layar ponselnya. "Apa maksudmu?"


"Saya tahu anda semua menyembunyikan Zinnia dari suaminya. Dan saya rasa anda menyembunyikan di Indonesia. Kota mana, saya tidak tahu. Benar begitu Signore?" seringai Dante.


Luca hanya membalas dengan memasang wajah datar.


Sialan! Si Inferno cerdas juga! Kok aku seperti déja vu sama papa mertua si Yakuza reseh itu ya?


"Saya rasa pasti ada alasan yang kuat kenapa kalian semua membawa pergi Zinnia dan ada alasan yang kuat kenapa Leia pergi ke Belgia tiga bulan. Jangan bilang Leia berbuat ulah disana karena tidak mungkin FBI dan intelijen lainnya akan mencurigai anda semua."


"Dengar Inferno, apa yang kita lakukan adalah hal yang keluarga lakukan untuk melindungi anggota keluarganya yang dalam bahaya. Kamu akan tahu sendiri alasannya jika kamu menggali dengan benar apa yang terjadi di Belgia."


"Tentu saja saya akan menggalinya lebih dalam Signore dan jika saya mengetahuinya, tenang saja saya tidak akan memberitahukan pada Sean karena saya tidak mau menjadi musuh keluarga Emir Dubai sebab bisa merusak hubungan bisnis yang sudah berjalan dengan baik selama ini" senyum Dante.


***


Malam harinya Luke bertengkar dengan Dante karena masing-masing ingin menjaga Leia. Hingga akhirnya Luca membuat keputusan, Antonio yang menjaga Leia dan semua orang di sana tidak bisa melawan Luca yang sudah membawa pedang Kendo.


Dan Luke tidak mau kepalanya kena getok pedang Kendo itu. Omar hanya tersenyum smirk melihat keributan keluarga mafia itu. Luca sendiri meminta Omar untuk ke mansion Bianchi guna membahas perkembangan yang terjadi. Menurut rencana, Bruce Diazo akan datang ke Turin besok menemui Luca dan Luke.


***


"Antonio..." panggil Leia.


"Yes Leia..." Antonio sedang meminum air mineral.


"Bagaimana kabar Savrinadeya?" goda Leia.


Byuuurrrr!


Antonio menyemburkan air putih yang sedang diminumnya.


"Mie keriting jorok!" teriak Leia.


"Habis kamu tanya aneh-aneh!" hardik Antonio dengan wajah memerah sambil mengelap bibirnya.


"Jadi benar kamu suka Deya?" kerling Leia.


"Lele, tidak baik ikut campur urusan pribadi orang" sungut Antonio.


"Oh come on Antonio. Deya masih kecil! Masih lima belas tahun!"


"Tapi dia cantik dan menggemaskan, Leia."


"Kamu kok seperti Oom-oom pedofil?" gelak Leia.


"Astaga Lele! Aku nggak pedofil! Hanya saja aku benar-benar jatuh cinta sama adik sepupumu itu!"


"Tapi Deya tuna rungu lho Tonio. Apa kamu sudah tahu?"


"Aku sudah tahu Leia. Dan Deya juga tidak mau membuat aku malu dengan kekurangannya padahal aku tidak melihat itu sebagai kekurangan tapi sebagai sesuatu kelebihan."


"Kamu serius ya Mie keriting?"


"Aku bersedia menunggu Leia, dan aku akan menghadap Oom Rama dan Tante Astuti bahwa aku mencintai putrinya serta bersedia menunggu sampai Deya dua puluh tahun" ucap Antonio serius.


"Memangnya Deya mau sama kamu?"


"Aku yakin Deya juga suka padaku."


"Oh astagaaa! Deya kena rayu Oom-oom!" gelak Leia.


"Sialan kamu Lele!"


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote gift and comment


Tararengkyu ❤️🙂❤️