The Bianchis

The Bianchis
The Bianchis dan The McCloud



Pertandingan Kendo


Sakura berhasil lolos ke babak final setelah mengalahkan lawannya dengan telak dan kini dirinya mempersiapkan diri untuk pertandingan final. Gadis itu pun masuk ke ruang arena pertandingan Kendo dengan percaya diri apalagi semua kakak dan calon iparnya pada datang untuk mendukungnya.


Ketiga kakak Sakura tampak heboh menyemangati sang bunga keluarga Park yang sering dipanggil seenaknya oleh kakaknya sendiri. Sorak ketiganya langsung terdengar ketika Sakura dinyatakan menang angka dan juara pertandingan Kendo. Gadis itu membuka men nya dan berteriak heboh lalu berlari ke tribun tempat semua kakaknya duduk disana.


Tampak Leia dan Luke memeluk bergantian, lalu Shinichi menciumi dahi adiknya dan memeluknya erat. Rin pun tidak ketinggalan memeluk Sakura sedangkan Dante hanya menepuk kepala gadis ABG itu pelan. Setelah itu Sakura pun kembali ke tempat pertandingan untuk menerima piagam dan hadiah.


Sakura tampak tersenyum lebar memamerkan piagam dan hadiahnya ke tempat keluarganya berada. Banyak diantara para peserta dan pengunjung yang datang, melihat bagaimana ketua Yakuza Takara pun hadir untuk mensupport adiknya.


Leia dan Luke tidak perduli dengan tatapan orang-orang karena yang penting adalah menyaksikan adiknya juara Kendo. Setelah berpamitan dengan pelatih dan para rekannya, Sakura pun bergabung dengan keluarganya.


"Hebat ih! Appa pasti bangga si kembang matahari juara Kendo!" ucap Shinichi sambil merangkul adiknya.


"Salut Sakura. Setidaknya tidak bikin malu mbak Leia dan bang Luke sebagai almamater" senyum Leia sambil bergandengan tangan dengan Dante, jalan di belakang dua kakak beradik itu.


"Sakura bagus tekniknya, Luke" ucap Rin yang berjalan bersama Luke di belakang Leia dan Dante.


"Dia terbiasa latihan dengan okāsan soalnya Rin. Biasanya kalau Okāsan bingung cari partner berlatih, kalau nggak sama Shin ya sama Sakura karena kadang jadwal aku suka bentrok."


"Pantas dia sangat percaya diri. Didikan Yakuza rupanya" gumam Rin.


"Kamu juga Yankee. Kamu berani hadapi aku meskipun kamu tahu aku siapa" senyum Luke ke wajah Rin yang memerah.


"Kemana nih kita?" tanya Leia.


"Aku lapar!" rengek Sakura.


"Yuk ke restauran sushi, aku yang traktir!" ujar Luke.


"Yaaaayyy! Bang Lukie oke memang!" seru bungsu keluarga Park itu.


Shinichi akhirnya memilih masuk ke mobil Leia sedangkan Sakura di mobil Luke. Dua mobil mewah itu pun pergi meninggalkan tempat pertandingan Kendo menuju ke sebuah restauran sushi.


***


Sushi Kanesaka Palace Hotel Tokyo


Luke mengajak semua anggota keluarganya makan di sebuah restoran sushi di sebuah hotel mewah di daerah Chiyoda. Keenamnya pun langsung duduk di meja sushi dan sang chef mengenali Luke.


"Ah Luke Bianchi-san. Apa kabar? Apakah anda ada pertemuan bisnis disini?" sapa Chef itu ramah.


"Kabar baik dan aku bukan urusan bisnis disini. Kami hendak merayakan sesuatu" jawab Luke.


"Apa itu Bianchi-san? Apakah saya boleh tahu siapa saja ini?"


"Adik perempuan aku baru saja juara Kendo di sekolahnya. Aku perkenalkan, ini saudara kembar aku Leia dan tunangannya, Dante Mancini. Lalu ini kekasihku Rin Ichigo, ini adik sepupuku Shinichi Park dan adiknya yang baru saja menjadi juara, Sakura Park."


"Omedetou, Sakura-san."


"Domo arigato" balas Sakura manis.


"So, mau sushi apa saja?"


"Semua!" seru Shinichi dan Sakura bersamaan. "Bang Lukie belanja!"


Luke hanya tersenyum smirk. "Alamat aku dibikin bangkrut sama duo kadut!"


Rin tertawa kecil mendengar ucapan Luke.



***


New York


Nadira dan Pedro Pascal sedang menikmati acara makan malam di sebuah restauran Italia dengan pizza favorit keduanya. Malam ini memang keduanya ingin menikmati makan malam dengan menu Italiano.


"Akhirnya bisa pergi juga berdua. Maaf ya Nadira, aku harus bolak balik New York Quantico."


"Pedro..."


"Oui, ma Cherie ( iya sayangku )..."


"Aku sudah memutuskan..."


Wajah Pedro tampak berubah dan terlihat sedikit takut mendengar ucapan Nadira. "Kamu mau putus denganku?"


Giliran Nadira yang terbengong bengong. "Pu... Putus?"


"Iya. Biasanya wanita kalau memanggil nama dengan nada pelan seperti kamu tadi, pasti ingin putus. Benar tidak? Aku bisa mengerti Nadira, kamu tidak mau meninggalkan New York untuk pergi ke Quantico bersamaku atau tinggal di Washington DC atau di Baltimore atau di Maryland atau di Virginia. Aku paham Nadira... Aku...aku tahu semua rencana kamu yang sudah kamu susun disini berantakan... Aku bisa ...." ocehan Pedro menghilang ketika Nadira memegang wajahnya dan mencium bibirnya. Pedro pun membalas ciuman gadisnya itu.


"Would you just shut up!" hardik Nadira usai mencium bibir Pedro. "Dengarkan aku dulu!"


"Hah?" Kali ini Pedro yang tampak linglung. Dirinya terlalu senang karena Nadira lebih dahulu menciumnya setelah sekian lama mereka jarang bertemu karena Pedro mengurus kepindahannya.


"Aku sudah memutuskan untuk ikut bersamamu ke Quantico Virginia. Aku sudah mengurus kepindahan aku mengajar dari NYU ke University of Virginia."


Pedro terkejut mendengar ucapan Nadira. "A...apa kamu yakin sayangku? Benar? Kamu akan ikut...pindah denganku?"


"Iya Pedro, aku akan ikut pindah denganmu setelah kita menikah nanti dan..." Nadira mengeplak bahu kekasihnya dengan keras. "Yang mau putus sama kamu juga siapa!"


Pedro meringis merasakan panas di bahunya setelah mendapatkan keplakan berulang dari tunangannya. "Ya ampun Dira, jangan keras-keras memukul aku."


"Habis kamu menyebalkan!" sungut Nadira sambil memanyunkan bibirnya.


Cup!


Pedro mencium bibir ranum itu dengan gemas. "Kamu tahu, aku tadi sangat ketakutan mendengar nada bicara kamu seperti itu. Aku tidak bisa kehilangan kamu, Dira. Kamu adalah wanita yang mampu membuat aku berantakan dan tidak fokus."


"Lagipula sayangku, kamu adalah pria yang idamkan menjadi suami jadi buat apa aku putusin kamu?" Nadira tertawa geli mendengar bagaimana takutnya Pedro.


"So, bulan depan Leia dan Dante yang menikah terlebih dulu?" Pedro menatap lembut ke Nadira.


"Iya. Bulan depan Leia lalu April Blaze, Juni kita."


"Apakah Zee akan datang? Kalian tidak mengundang Sean kan?"


"No, Pedro. Kami tidak mengundang Sean karena kamu tahu sendiri Oom Ayrton masih mode ngamuk. Dan bakalan lama itu."


"Sayang, kita menikah sederhana saja ya? Aku tahu relasi ayahmu banyak tapi aku lebih suka jika kita menikah secara private. Cukup keluarga dan sahabat dekat saja yang hadir. Bagaimana?"


Nadira tersenyum. "Pikiran kita sama, Mas Pedro..."


"Hah? Mas?" Pedro terkejut mendengar panggilan barunya.


Nadira tampak malu-malu. "Di keluarga aku, masih ada darah Jawanya. Dan biasanya, kami kaum wanita, memanggil pria yang lebih tua itu dengan sebutan mas, Abang, atau kak. Sedangkan disini aku memanggilmu 'mas' sebagai panggilan sayang dan hormat ke kamu. Apa kamu keberatan?"


Pedro menyingkirkan anak rambut Nadira yang menutupi matanya ke belakang telinganya. "Tentu saja tidak. Aku suka panggilan itu karena berbeda dari yang lain. Terdengar mesra di telingaku."


Nadira tersenyum manis.


"Je t'aime Nadira."


"Je t'aime, mas Pedro."


Pedro mencium bibir Nadira lembut.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️