
New York University Sembilan Bulan Lalu...
Seorang gadis cantik berambut coklat datang ke gedung New York University dan langsung menuju gedung fakultas filsafat. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai dan wajah cantiknya hanya dipulas makeup tipis.
Mengenakan kaus coklat dan celana jeans putih serta sneaker, gadis itu tampak seperti seorang mahasiswi ajaran baru padahal dirinya sudah menjadi sarjana filsafat dan sedang mengambil program S2nya sembari menjadi asisten dosen. Gadis itu masuk ke dalam kelas yang akan diampu dosen seniornya, mengacuhkan semua mahasiswa yang datang
Seorang mahasiswa pria memperhatikan gadis itu dan tertarik dengan wajahnya yang tampak serius. Usai memasang projector dan laptop milik Professor nya, gadis itu pun keluar meninggalkan para mahasiswa yang sedang mencari tempat duduk. Pria itu pun mengambil tempat duduk di belakang dengan pandangannya tidak lepas dari kepergian gadis tinggi langsing itu.
"Nadira McCloud!" panggil seorang pria berumur.
"Yes Professor Demetrio" jawab gadis itu.
"Ayo masuk kelas." Professor Demetrio yang berdarah Yunani itu melangkah terlebih dahulu diikuti oleh Nadira McCloud.
Keduanya masuk ke dalam ruang kelas dan melihat banyak mahasiswa sudah siap mendengarkan kuliah filsafat pagi ini.
"Good morning everyone. I'm professor Demetrio and this is my assistant Nadira McCloud. Let's talk about Aristoteles today."
Nadira lalu membantu menyalakan projector dan memasang laptop yang sudah disetting lalu Professor Demetrio memulai kuliahnya. Nadira dengan serius ikut mendengarkan kuliah sembari sesekali melirik ke arah mahasiswa disana.
Mata coklat Nadira bersirobok dengan seorang pria yang tampaknya tidak memperhatikan perkuliahan tapi memperhatikan dirinya. Nadira lalu memeriksa daftar mahasiswa yang masuk kuliah Professor Demetrio melalui iPad nya.
Pedro Pascal? Usia 30 tahun? Nadira melirik ke arah pria itu. Bukannya terlalu tua untuk menjadi mahasiswa S1? Nadira mencoba mencari tahu datanya dan mengerenyitkan dahinya. Pindah-pindah kampus? Pernah di Washington, Colorado dan Houston? Memangnya dia hippies?
Nadira hanya merasa tidak suka dengan orang yang tidak komitmen dan tidak menyelesaikan sesuatu terlebih dahulu. Kok dia macam kutu loncat ya?
Nadira menyapu ruang kelas dengan pandangan datar seolah sesuatu yang wajar. Namun matanya menangkap kedipan mata dari Pedro Pascal. Astaghfirullah! Genit banget! Nadira memasang wajah datar meskipun dalam hatinya gondok karena baru kali ini ada yang kurang ajar di ruang kelas.
"Kamu!" seru Professor Demetrio. "Kalau kamu mencoba menggoda asisten saya, lebih baik anda keluar!"
Pedro terperangah mendengar ucapan tegas dari Professor Demetrio.
"Tapi Professor..." jawab Pedro.
"Keluar sekarang! Asisten saya harusnya anda hormati, bukan anda kedip- kedip begitu! Anda sakit mata? Ke ruang kesehatan sana!"
Pedro hanya tersenyum kecut lalu membereskan semua bawaannya dan keluar ruangan tapi sebelumnya dia tersenyum manis ke Nadira.
"I'm sorry but you're very beautiful."
"OUT!" bentak Professor Demetrio yang membuat semua orang tersenyum melihat Pedro terkejut dan bergegas keluar.
Nadira menutup mulutnya untuk menahan tawa.
"Saya paling tidak suka ada orang yang tidak menghargai dosen atau pun asisten dosen karena jika kamu ingin dihargai dan dihormati, lebih dulu lakukan kepada orang lain dulu." Professor Demetrio melanjutkan acara kuliahnya dan Nadira membantu memberikan penjelasan setelah diberikan kesempatan oleh professornya.
***
"Siapa mahasiswa itu Nadira?" tanya Professor Demetrio.
"Namanya Pedro Pascal. Pindahan dari Washington." Nadira membaca data dari iPadnya.
"Benar-benar deh! Jahil amat sama kamu! Bisa-bisa nanti Arjuna turun tangan dengar cucu nya digoda mahasiswa" kekeh Professor Demetrio yang juga teman baik Arjuna McCloud, opa Nadira.
"Nggak papa Prof, sudah biasa." Nadira memberikan senyum manis.
"Nggak bener itu Nadira. Kamu hari ini ada kuliah?" tanya Professor Demetrio.
"Ada prof, dengan Professor Gabriela."
"Ya sudah. Semangat!"
"Thanks prof!" Nadira pun pamit dan menuju ruang kelasnya yang khusus mahasiswa S2.
***
Pedro membuka MacBook nya dan berusaha mencari tahu tentang Nadira McCloud. Wajah tampannya terkejut ketika mengetahui bahwa gadis itu adalah putri Rajendra McCloud dan Aruna Aksara.
Pantas wajahnya cantik seperti itu, ibunya saja keturunan Turki. Pedro mulai menggali silsilah keluarga Nadira dan semakin terkejut bahwa dia masih ada hubungan kekerabatan dengan keluarga Blair, Giandra, Bianchi, O'Grady, Reeves dan Al Jordan.
Astagaaa! Ternyata gadis itu keturunan keluarga Sultan! Tapi kenapa memilih menjadi asisten dosen dan mengambil filsafat? Padahal kan ayahnya chef terkenal. Pedro tersenyum melihat foto-foto Nadira di akun instagramnya yang tidak di private karena isinya kebanyakan hanya kucing Munchkin dan anjing Pomeranian peliharaan nya. Hanya beberapa foto dirinya bersama dengan keluarga dan seorang remaja pria tampan yang diyakini sebagai adiknya, Eagle.
***
Pukul dua siang, Nadira berada di kantin kampus untuk mengisi perut sembari melihat iPadnya. Dirinya merasa khawatir dengan saudara - saudaranya yang berada di Belgia untuk membawa Zinnia, sepupunya keluar dari Belgia.
Kasus fitnah sepupunya oleh iparnya sendiri membuat semua anggota keluarga pun geram hingga Duo L, Blaze dan trio kampret menuju Belgia bersama dengan Gasendra, adik Zinnia.
( Bisa dibaca di The Prince And I ).
Sembari memasukkan Risotto nya, Nadira membaca pesan dari Blaze maupun Leia tentang perkembangan mereka.
"Hai!"
Nadira mematikan iPadnya dan mendongak. Tampak Pedro Pascal berdiri di hadapannya.
"Boleh duduk disini."
Tidak boleh. "Boleh" jawab Nadira tidak sinkron.
"Maafkan atas sikapku yang kurang ajar tadi" senyum Pedro. "Pedro Pascal." Pria itu mengulurkan tangannya.
"Nadira McCloud" balas Nadira.
"Apakah kamu ada hubungannya dengan Rajendra McCloud?"
"Dia Daddyku. Kenapa?" Nadira menatap dingin.
"Tidak. Aku tidak menyangka putri chef terkenal itu sangat cantik" kekeh Pedro.
"Oh astagaaa! Gombalan receh dimulai." Nadira menghabiskan makan siangnya dengan dipandangi Pedro sambil tersenyum.
"Pelan - pelan saja Ms McCloud, aku tidak akan minta kok!"
Nadira menatap sengit ke Pedro. "Kamu Italian? Spanish? Mexican? French?"
"Half French half Italia tapi aku kelahiran Amerika."
"Oh, no wonder." Nadira mendengus pelan.
"Apa? Pria Perancis perayu?" goda Pedro.
"Bad combo antara Perancis dan Italia. Sama-sama perayu ulung" balas Nadira.
Pedro terbahak. "Kenapa putri Rajendra McCloud tidak mau menjadi chef seperti daddynya?"
"Apakah menjadi masalah?"
"Sebenarnya lebih ke penasaran. Kenapa memilih menjadi asisten dosen filsafat dan mengambil program Pascasarjana filsafat juga."
Nadira melengos. "Karena aku suka. Bukan suatu masalah di keluarga aku tidak mengikuti jejak usaha keluarga yang penting kamu menyukai dan menjalaninya dengan serius."
Pedro memajukan tubuhnya. "Tapi kamu akan menjadi dosen tercantik di NYU nantinya."
Nadira tertawa. "Ya ampun, mahasiswa sudah tua seperti mu itu masih merayu gombal? Ingat umur bung!"
"Usiaku memang lebih tua darimu tapi jiwaku sama mudanya denganmu, Nadira."
Nadira menggelengkan kepalanya. "Aku harus pergi, masih ada kuliah jam setengah empat."
Pedro pun berdiri. "Ayo aku antar."
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Launching Nadira Yaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote gift and comment
Tararengkyu ❤️🙂❤️