The Bianchis

The Bianchis
Nadira McCloud : Jumat Istimewa



Columbia Maryland


Pedro membantu Nadira untuk mencuci piring dan peralatan makan serta masak lainnya. Keduanya melakukan itu sambil mengobrol rencana bekerja besok.


"Sayang, kalau nanti malam aku unboxing, takutnya kamu tidak nyaman besok bekerja..." ucap Pedro serius.


"Iyakah?"


"Coba tanya Bee atau Leia atau Zee..."


Wajah Nadira memerah. "Malu ah mas! Masa seperti itu harus tanya ke mereka bertiga? Bikin kepo!"


"Aku kan hanya ingin besok kamu hari pertama kerja, nyaman. Serius Nad, aku tidak apa-apa kita pending hari Jumat. Kan Sabtu libur jadi bisa istirahat."


Nadira menatap wajah suaminya dengan penuh cinta. "Ya ampun mas Pedro ... Aku beneran tidak salah pilih suami."


"Aku bukan pria yang harus mendapatkan hak aku, karena aku ingin kita berdua sama-sama nyaman, Nadira." Pedro mencium kening istrinya. "Kita fokus sama pekerjaan kita besok, apalagi kamu kan masih harus adaptasi. Pasti ada cerita seminggu ini."


"Baik mas. Kita tidur sekarang?" tanya Nadira sambil mematikan lampu dapur dan memeriksa kunci pintu belakang.


"Kamu naik saja dulu, aku mau memeriksa pekerjaan sebentar sambil mengunci semua pintu." Pedro mencium bibir istrinya lembut.


"Aku keatas dulu ya mas" pamit Nadira karena kamar utama mereka memang di lantai dua.


"Iya sayang, aku nanti menyusul."


Pedro melanjutkan pekerjaannya dengan berkoordinasi dengan rekan-rekannya di FBI New York dan Philadelphia selama satu jam. Setelahnya dia memeriksa semua pintu dan jendela yang sudah tertutup dan terkunci secara otomatis di jam sembilan malam.


Memang mereka tinggal di komplek perumahan tapi Pedro tetap waspada apalagi dia adalah seorang agen FBI. Dirasa sudah aman, Pedro pun menaiki tangga dan lampu di Lantai satu sudah padam secara otomatis hanya meninggalkan lampu kecil.


Sesampainya di kamar utama, Pedro tersenyum melihat istri cantiknya sudah terlelap. Pria itu pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan setelahnya dia memeluk Nadira yang reflek membalas pelukan suaminya.


"Good night my beautiful wife..." bisik Pedro sambil mencium kening Nadira.


***


Setiap pagi Nadira menyiapkan bekal untuk suaminya apalagi camilan di jalan karena kantor Pedro pindah hingga lebih jauh membuat pria itu harus berangkat lebih pagi. Perjalanan dari rumahnya ke kantornya di Quantico memakan waktu satu setengah jam dan suaminya harus berangkat dari rumah jam setengah tujuh pagi.


Bagi Nadira, bangun pagi bukan masalah baginya dan wanita itu menikmati waktunya menjadi istri Pedro apalagi suaminya sangat senang dengan masakannya.


Jumat ini Pedro mengatakan akan pulang lebih cepat membuat jantung Nadira berdebar - debar. Meskipun mereka sudah menikah dua Minggu tapi Pedro tetap memikirkan kondisi dirinya yang bisa tidak nyaman jika melakukan hubungan suami istri pertama kali dengan besoknya dia hari pertama bekerja.


Berbeda dengan kantor Pedro yang lebih jauh dari sebelumnya, kampus tempat Nadira mengajar hanya membutuhkan waktu setengah jam saja dari komplek rumahnya. Dan tadi saat Nadira tiba di rumah, Pedro mengatakan akan sampai setengah jam lagi, putri Rajendra itu langsung bersiap-siap. Kamar mereka sudah dibereskan dan diberikan aroma harum, bahkan Nadira menyiapkan masakan yang enak untuk suaminya.


"Assalamualaikum" sapa Pedro yang baru saja masuk rumah.


"Wa'alaikum salam."


"Sayang, kamu dimana?" Pedro melepaskan sepatunya dan meletakkan di rak sepatu yang terletak pintu masuk.


"Dapur, mas."


Pedro mengambil sandal rumah dan berjalan menuju dapur. Jas dan dasinya sudah diletakkan di sofa ruang tengah. "Lho kok masak?"


Nadira melongo. "Lho? Kita hendak makan diluar?"


"Tadinya tapi melihat kamu sudah memasak, ya sudah kita makan di rumah." Pedro melihat istrinya sedang memanggang steak. "Enak sayang baunya. Pakai saus jamur?"


"Iya. Sudah mas mandi dulu sana. Selesai mandi, kita makan" pinta Nadira.


"Oke sayang." Pedro mencium pipi istrinya.


***


Pedro dan Nadira menikmati acara makan malam bersama dengan menu steak with mushroom sauce. Pria itu bersyukur tidak jadi makan di luar karena masakan istrinya tidak kalah dari restoran bintang lima.



"Memang putri chef itu beda" senyum Pedro. "Semuanya serba enak Nad."


"Terimakasih."


"Apakah dia pembunuh berantai?" tanya Nadira.


"Tidak. Mereka korbannya itu adalah orang - orang yang dulu membully nya dan karena beda negara bagian jadi tidak ada yang bisa mengkaitkan dengan si unsub."


"Astaghfirullah. Memang kalau sudah namanya sakit hati itu susah."


Pedro tersenyum. "Kita beres-beres dulu?"


Nadira mengangguk.


***


Nadira memutuskan untuk mandi sebelum tidur sedangkan Pedro memilih untuk menonton televisi di kamar mereka.


"Sayang, ngapain mandi lagi?" panggil Pedro.


Nadira keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan lingerie satin bewarna maroon. Pedro melongo melihat istrinya tampak seksih malam ini karena sebelumnya Nadira lebih memilih memakai tank top dan celana piyama.


"Tadi kan aku habis masak jadi bau masakan lah..." Nadira naik ke atas tempat tidur.


"Padahal istri bau masakan itu seksih" bisik Pedro sambil mencium bibir Nadira lembut yang kemudian makin memanas. Pedro meloloskan tali lingerie Nadira hingga istrinya half na*ked.


Pedro mulai memberikan pemanasan untuk Nadira dan terkejut saat hendak melepaskan penghalang di bawah, ternyata Nadira tidak mengenakan apa-apa.


"Kok kamu nggak pakai thong?" tanya Pedro yang sekarang tinggal memakai boxer Calvin Klein nya.


"Biar gampang" senyum Nadira penuh arti.


"Duh, istriku penuh pengertian" goda Pedro sambil melepaskan lingerie Nadira dan boxer miliknya.


Nadira cekikikan mendengar ucapan absurd suaminya. Keduanya pun melanjutkan acara foreplay dan Pedro bisa merasakan istrinya sudah sangat siap.


"Sayang, kalau kamu besok masih belum nyaman, nggak usah maksa untuk masak" bisik Pedro di ceruk leher Nadira.


"What?" protes Nadira di sela - sela nafasnya yang naik turun. "Sempat ya mas mikir gitu!"


Pedro hanya tersenyum lalu mencium bibir Nadira sembari memasukkan miliknya ke dalam inti istrinya. Nadira terkesiap saat merasakan sesuatu masuk ke dalam miliknya dan Pedro pun masih berusaha menembus pertahanan milik istrinya.


Setelah berhasil menembus, Pedro diam dulu sejenak agar Nadira terbiasa dengan miliknya. "Sakit?"


"Dikit... Masih sakit kena pisau..." jawab Nadira asal membuat Pedro tertawa kecil.


"Aku bergerak perlahan ya?"


Nadira mengangguk.


Dan malam itu pasangan suami istri yang menunda malam pertama hampir dua Minggu, akhirnya bisa melaksanakan unboxing tanpa ada gangguan dan Nadira menyebut nama suaminya saat mencapai puncaknya membuat Pedro semakin jatuh cinta dengan istrinya yang merupakan wanita idamannya selama ini.


Usai acara pembukaan yang panas, Pedro memeluk tubuh Nadira yang basah akibat peluh begitu juga dirinya.


"Kayaknya aku mau mandi lagi deh mas... Lengket rasanya ini badanku..." gumam Nadira.


"Mandi saja nggak usah keramas, soalnya ada kemungkinan kita akan melakukannya lagi" seringai Pedro usil.


Nadira tersenyum. "Pelan-pelan tapi ya nanti, masih perih..."


"Iya sayang.."


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️