
Mansion Al Jordan
Emi harus menekan dadanya dan menetralisir nafasnya yang bagaikan menjalani marathon Boston. Melihat Luca naik dengan santainya dan memperlihatkan bagaimana bentuk tubuhnya yang sempurna, sangat sangat sangat tidak baik bagi kesehatan jantung, mata dan otak.
"Kamu kenapa Em?" tanya Luca sambil melingkarkan handuk di pinggangnya.
"Eh? Be... Betsuni ( tidak apa-apa )" jawab Emi gugup. Duh Kami-sama ( Tuhanku ) kenapa sih dia pakai acara berenang sih tadi! Dan kenapa aku juga mengiyakan permintaan Tante Josephine?
Darth Vader satu ini Yaaaaaa
"Ayo Em, katanya diajak sarapan ekiben" ucap Luca yang sudah berdiri di hadapan Emi.
"Eh iya. Ayo..." Emi pun berjalan mendahului Luca tapi pria itu memegang tangannya.
"Kamu cantik sekali hari ini Em" puji Luca di sisi telinga Emi yang membuat gadis itu memerah wajahnya. "Ti voglio bene."
"Hah?" bisik Emi sambil menatap Luca bingung.
"Ti Amo" senyum Luca.
"Apa itu Luca? Aku tidak paham" ucap Emi yang tampak bingung dan loading lama gara-gara berdekatan secara in*Tim dengan pria tampan di sebelahnya.
"Aishiteru" balas Luca sambil mencium bibir Emi yang hanya terbengong-bengong.
"ASTAGHFIRULLAH! LUCAAAAA!"
***
Luca masih mengusap-usap telinganya yang habis dijewer oleh Marissa setelah sang mommy memergoki putranya mencium anak gadis Takeshi Takara dengan kondisi tidak sopan. Sekarang pria itu sudah mengenakan pakaian yang sopan bukan top*less seperti sebelumnya.
Kini di meja makan, semua orang menatap tajam ke arah pria tampan yang cemberut kecuali Emi yang menunduk malu dan Joey yang tersenyum durjana melihat sepupunya habis dihajar Marissa.
"Kamu tuh! Apa pernah Daddy ajarin kamu tidak sopan sama perempuan? Yang benar saja Luca! Kalau mau cium Emi, pakai baju dulu! Kamu boleh seperti tadi kalau sudah resmi sama Emi!" omel Marco yang terkena keplakan Marissa.
"Kasih tahu yang bener!" hardik Marissa.
"Lho itu sudah benar, sayangku. Kan tidak salah kan kalau sudah halal sama Emi, mau pakai handuk doang atau polosan macam bayi, mau cium kayak gitu tidak ada yang melarang" sahut Marco tanpa bersalah. "Bukannya kita juga seperti itu Rissa?"
"Whoah! Stop!"
"Oh come on you two!"
"Astaghfirullah!"
Miki, Joshua, Mario dan Josephine berteriak heboh di meja makan mendengar ucapan rusuh Marco.
"Emi..." panggil Joey.
"Ya Bianchi satu?" Emi menatap Joey dengan tatapan bertanya.
"Enak dicium Darth Vader? Apa tidak ada anthemnya star wars di sekeliling kamu? Det... det...det .... det... detdetdet..." goda Joey sambil bersenandung lagu khas Darth Vader ( buat fans Star Wars pasti tahu lah... )..
"Haaaaahhh?" Emi mendelik.
"Fik Mom, Dad. Besok kalau Emi dan Luca merit dan punya anak kembar, pasti dikasih nama Luke Skywalker dan Leia Skywalker Bianchi." Joey menatap kedua orangtuanya, opa omanya dan Oom Tantenya.
"Oh Astagaaa. Apa nggak ada nama lain Luc?" tanya Marco.
"Nggak ada!" balas Luca judes.
***
Luca dan Emi sekarang berada di sofa halaman belakang karena Marissa meminta putranya untuk meminta maaf ke gadis judes itu.
"Emi..." Luca menoleh ke arah gadis yang sedang menikmati klepon buatannya dan Marissa.
"Ya Luca?" sahut Emi tanpa menoleh ke arah pria yang duduk di sebelahnya.
Emi menoleh ke arah pria tampan yang menatap dirinya dengan penuh cinta.
"Oh my God, Luca. Stop looking at me like that!" Emi melengos.
"Why ? I'm in love with you so this is how I look at you. Kamu hanya bisa melihat tatapan seperti ini dari aku hanya kepada keluarga ku yang perempuan. Mommy, para Oma, para Tante dan para sepupu perempuan aku tapi tatapan yang lebih hanya padamu seorang Em."
"Lucaaaaa..."
"Apa? Kamu tidak jatuh cinta padaku? Tapi kamu terpesona dengan fisik aku kan?" seringai Luca usil.
"Damn it Luca! Kamu benar-benar menyebalkan!" umpat Emi kesal.
"Oh come on Em. Kamu pacaran sampai nanti menikah denganku itu suatu yang seru dan penuh dengan roller coaster. Kamu tidak akan menemukan keluarga yang ancurnya seperti keluarga aku."
"Kenapa kamu yakin sekali bisa membuat aku jatuh cinta padamu?" Emi menatap Luca tajam.
"Karena kamu tidak membanting aku saat aku mencuri ciuman padamu" bisik Luca yang mencondongkan tubuhnya mendekati gadis itu. "Duh, Emi kamu pakai parfum Jo Malone ya? English Pear and Freesia?"
"Kenapa memangnya?" Emi harus menahan nafasnya karena betapa dekatnya wajah Luca dengan wajahnya.
"Aku suka..." Luca mencium bibir Emi lagi dan kali ini gadis itu membalasnya dengan melingkarkan tangannya di leher Luca.
***
"Aku rasa dugaan Daisuke itu benar, Bianchi" ucap kapten Hideaki Yamamoto saat melakukan panggilan video bersama Joey, dokter Daisuke dan Detektif Sanada.
"Apa yang ditemukan oleh dokter forensik kepolisian?" tanya dokter Daisuke.
Joey sendiri sedang berada di kamarnya dan berdiskusi bersama dengan para pihak yang berhubungan langsung dengan kasus Waka-waka.
"Heh polisi brengsek! Mau sampai berapa korban baru lagi baru kamu bisa nangkap? Jepang kan punya resource yang canggih, kenapa tidak bisa menangkap orang busuk itu?" umpat dokter Daisuke yang gemas dengan rivalnya berkesan berlama-lama dalam proses pencarian Kawaguchi.
"Orang itu licin bagaikan belut sekarang Dai. Aku sudah mengerahkan semua polisi Tokyo bahkan seluruh Jepang!" balas Kapten Hideaki Yamamoto.
"Tapi ini sudah dua korban, Kapten. Saya dan dokter Daisuke tidak tahu apakah kami bisa bertahan mengautopsi korban seperti itu. Jujur kapten, saya bukanlah dokter forensik karena fokus saya adalah menjadi dokter bedah. Asal anda semua tahu, tahun depan setelah saya menyelesaikan kuliah saya disini, saya akan pindah ke Harvard University mengambil spesialis bedah. So, please saya minta sebelum saya menyelesaikan hari ke 60 dihukum, kita sudah menangkap semua pelakunya." Joey menatap ke ketiga orang yang lebih tua darinya. "Dokter Daisuke benar. Harusnya kalian lebih mudah menangkap si Waka-waka karena kalian memiliki alat canggih. Atau kalian menyembunyikan sesuatu dari kami?" ucapnya tajam.
"Bianchi benar! Ada yang tidak beres kenapa sampai korban kedua muncul. Padahal kalian semua tahu bahwa pelakunya adalah Kawaguchi dan semua modus operandi sudah terlihat semua. Harusnya kalian lebih mudah menangkapnya daripada saat Megumi menjadi korban!" Dokter Daisuke menatap tajam ke Kapten Hideaki Yamamoto dan Detektif Sanada.
"Oh come on Kapten. Apa perlu saya hubungi Oom saya yang bekerja sebagai konsultan FBI, NSA dan interpol? Apa anda mau jajaran dipermalukan orang luar? Tentu anda pernah mendengar nama Bryan Smith bukan?" senyum Joey.
Kapten Hideaki Yamamoto dan Detektif Sanada terkejut mendengar nama yang disebut oleh Joey.
"Come on! Spill it out!" hardik dokter Daisuke gemas.
"Sebenarnya... Kawaguchi ditemukan meninggal hari Kamis lalu." Detektif Sanada menatap dua dokter itu.
"Whaaaattt?" seru Joey. Berarti dua hari sebelum mayat itu dikirim hari Sabtu
"Dan mayatnya ditemukan membusuk di apartemen milik anaknya."
"Dia punya anak?" kali ini Joey dan dokter Daisuke benar-benar terkejut.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
Karya Baru author yang belum lolos dari semalam... Hiks ! 😭 Mengsedih