The Bianchis

The Bianchis
Buat Aku Jatuh Cinta Padamu



Kediaman Takara


Luca berdiri di hadapan Emi yang hanya bisa menatap pria itu dengan gugup dan menggigit bibir bawahnya.


"Mau sentuh, Em? Toh sebentar lagi juga kita halal. Anggap saja kenalan dulu sama roti manju aku" cengir Luca.


"Ro...roti manju?" Perasaan manju itu bundar mirip bakpau bukan kotak-kotak begini. Ini sih roti sobek!


Luca meraih tangan Emi yang langsung diletakkan diatas perut kotak-kotaknya dan gadis itu terkesiap bagaimana perut itu sangat keras dan berotot. Otak Emi langsung bertraveling yang membuat wajah gadis itu memerah.


"Gimana roti manjunya?" goda Luca yang sebenarnya tidak tahan ketika tangan feminin berjemari lentik itu memegang perutnya. Belum pernah ada wanita lain memegang perutnya selain sang mommy dan omanya untuk menggosokkan minyak kayu putih waktu kecil.


"Luca..." bisik Emi.


"Ya Em?"


"Kamu nyebelin!" Emi menarik tangannya dan bergegas keluar tapi tak lama kembali lagi. "Kamu ditunggu di halaman belakang lima belas menit lagi!"


Luca hanya tersenyum. "Oke Emi."


Buyar kan konsentrasi mu Em... Luca menyeringai licik. Jangan panggil aku Luca Bianchi, cicit Akira Al Jordan, Hiroshi Al Jordan dan putra Marco Bianchi yang super slengean kalau tidak bisa berpikir licik.


***


Boston Massachusetts


Georgina masih menatap Joey yang hanya tersenyum memandangi dirinya. Pria Italia satu ini memang menyebalkan dan membuat pusing kepalanya.


"Joey..."


"Yes baby?"


Georgina melongo. "Kamu waras?"


"100% waras! Yang benar saja aku tidak waras! Kan setiap tiga bulan sekali kita diberikan psikotes untuk melihat kadar kewarasan seseorang" sungut Joey sambil manyun.


"Kalau kamu waras, kenapa..."


"Aku ingin sesuatu yang beda, George. Aku belum pernah tertarik dengan perempuan seperti aku tertarik dengan mu."


"Apa yang membuatmu tertarik padaku?" tanya Georgina.


"Satu, aku tahu keluargamu jadi tidak perlu screening. Kedua, kamu itu bar-bar, seenaknya sendiri tapi juga cerdas dan menggemaskan. Ketiga, aku bosan melihat cewek rambut panjang."


Georgina melongo. Kukira Joey akan mengatakan bagaimana perasaannya seperti halnya para pria Italia kalau sedang merayu gombal tapi kenapa alasannya absurd begini sih?


"Joey..."


"Yes, mo grá ( sayang - Irish )."


"Hah? Kukira kamu akan memakai bahasa Italia tapi kenapa..."


"Kamu kan Irish jadi kenapa tidak memakai bahasamu untuk memanggil sayang tapi nanti bisa macam-macam sih tergantung mood mulut dan otakku keluar bahasa apa" senyum Joey.


"Memang kamu bisa berapa bahasa?" tanya Georgina.


"Inggris, Jepang, Italia, Indonesia, sedikit Korea, sedikit Jawa tapi kalau ini orang ngomong Jawa aku paham tapi kalau balas menjawab bakalan kacau lalu Jerman dan sedikit Belanda."


"Wow hebat!" puji Georgina.


"Tidak hebat tapi terpaksa karena harus bisa. Asal kamu tahu, di lingkungan keluarga aku, minimal harus bisa tiga bahasa asing tapi aku kebablasan, belajar semua jadinya yaaa begini lah."


Georgina menatap Joey. "Joey, aku tahu kamu tipe grusah grusuh tapi apa kita tidak bisa slow motion?"


"Slow motion? Macam film kartun yang saat hendak..."


"Iya Joey. Geez... Jadi begini. Aku belum memiliki perasaan apapun padamu dan hanya sekedar perasaan saudara karena kita sebenarnya sepupu. So, jika kamu memang ingin menikahi aku, buatlah aku jatuh cinta padamu apalagi kamu belum tahu sifat - sifat aku lainnya begitu juga aku. Bagaimana?"


Joey menatap Georgina. "Kamu sedang negosiasi menolak menikah denganku?"


"Ya ampun Tuhanku! Buat aku jatuh cinta padamu, Jeoffree! Baru setelah itu kita memikirkan soal pernikahan."


Joey tersenyum lebar. "Kamu akan jatuh cinta padaku G karena aku adalah pria limited edition yang diciptakan untukmu."


Georgina ternganga. Keluar juga gombalan ala Italianya.


***


Kediaman Takara


Luca hanya tersenyum manis melihat gadisnya tampak hilang konsentrasinya gara-gara tadi sempat menyentuh roti manjunya. Kata Daddy, cara mengacaukan pikiran wanita adalah pamerkan tubuhmu dan pasti mereka akan saling, seperti halnya kaum pria jika melihat tubuh wanita.


"Emi, precious Otousan. Are you okay?" tanya Takeshi ke putrinya yang sedang membuka topeng kendonya.


"I'm fine Otousan" jawab Emi. Yang tidak fine otak aku! Brengsek Luca!


"Apa habis ini kita akan bertanding menembak? Seriously Mr Takara. Ini sudah malam, bagaimana kita lanjutkan besok? Apalagi Emi tampak lelah habis bertanding dengan saya tadi" ucap Luca yang sebenarnya dirinya juga lelah setelah tadi seharian sibuk dengan Marco di AJ Corp.


"Aku rasa kita pending besok saja. Kau benar, Bianchi. Putriku tampak lelah dan besok Sabtu jadi kamu pagi jam sembilan besok, sudah harus tiba disini!" Takeshi menatap tajam ke arah Luca.


"Absolutely, Mr Takara." Luca pun membungkuk hormat. "Saya berganti pakaian dulu. Permisi."


***


Staten Island New York, Mansion Blair


Georgina memilih untuk menginap di mansion Blair setelah Reana mengajaknya kesana. Tentu saja kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Georgina yang memang dekat dengan sepupunya itu. Sama-sama menyandang nama O'Grady membuat mereka dekat dan Georgina juga selalu disambut hangat oleh Rhea dan Duncan Blair.


Mobil milik Georgina masuk ke dalam halaman mansion itu setelah penjaga rumah mengijinkan masuk karena mengenali gadis itu adalah keponakannya Rhett O'Grady.


Georgina pun masuk ke dalam mansion sambil membawa duffle bag berisikan baju ganti.


"Assalamualaikum" sapa Georgina.


"Wa'alaikum salam" balas Rhea. "Eh anak tomboy datang."


Georgina langsung mencium pipi Oma cantik itu yang memberikan pelukan hangat. "Apa kabarnya Omaku sayang?"


"Alhamdulillah baik. Reana belum sampai, katanya mau jemput Abi dulu."


"Georgina" sapa Duncan melihat cucu keponakannya datang.


"Opa Duncan" senyum Georgina sambil memeluk Opa tinggi besar itu. "Abi tuh lama-lama mirip Opa deh!"


"Ya jelas, kan Abi cucu Opa. Gimana sih kamu" kekeh Duncan.


"Kamu sudah bikin orang geblak kena bius berapa G?" tanya Rhea yang tahu cerita soal Georgina dari Kaia yang dilapori Kieran, ayah gadis Irlandia itu.


"So far baru tiga sih Oma" cengir Georgina sambil duduk di sofa bersama dengan Rhea dan Duncan.


"Astaghfirullah! Kamu tuh nakal banget!" kekeh Rhea. "Kalau ada apa-apa gimana?"


"Insyaallah nggak lah Oma. Kan aku sudah perhitungkan."


"G, katanya kamu diganggu Joey ya selama di Harvard?" tanya Duncan.


"Iya Opa. Joey malah ngajak nikah macam ngajak pergi ke McDonald's!" sungut Georgina.


"Haaaaahhh?" Duncan dan Rhea melongo. "Bang, apa sih yang terlintas di otak anak itu?" Rhea menoleh ke arah suaminya.


"Dasar Joey sinting! Heran aku, bisa-bisanya Joshua punya menantu dan cucu sinting begitu? Sudah menantunya hobi piara piranha, eh cucunya sama saja sedengnya!" omel Duncan.


"Memang kenapa Opa? Apa Bianchi yang lain juga berbuat ulah?" tanya Georgina yang tahu Joey punya sepupu di Tokyo bernama Luca.


"Luca pun sama saja! Ini malah bertanding Kendo dengan calon istrinya!" jawab Duncan.


Georgina hanya bisa melongo. Benar-benar deh klan Bianchi itu sinting semua !


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️