The Bianchis

The Bianchis
The Bianchis : Mulai Menerima



Café Al Bicerin Turin


"Leia, beneran harus sunat?" Dante menatap horor ke gadis di hadapannya dengan posisi masih berlutut.


"Dante, dengar. Pindah itu bukan hanya kamu membaca dua kalimat syahadat saja. Pertama, kamu pindah karena Allah SWT dan sudah memantapkan diri untuk mualaf. Kedua, kamu mengucapkan syahadat di mesjid depan imam mesjid dengan banyak saksi jadi semua orang tahu bahwa kamu benar-benar menjadi mualaf. Ketiga, kamu melakukan khitan atau sunat. Di agamaku memang wajib apalagi itu untuk kesehatan juga.


Rasulullah SAW bersabda bagi orang yang baru memeluk agama Islam (mualaf),”Singkirkanlah olehmu perilaku kekufuran dan berkhitanlah.” Hadist riwayat Harb Ibn Isma'il dari al-Zuhri dari Rasulullah SAW, “Barang siapa yang masuk Islam hendaklah dia dikhitan, walau sudah usia dewasa.”


Leia menatap Dante serius. "Setelah itu melakukan mandi besar lalu memahami rukun Islam. Apakah kamu ada bukti bahwa kamu sudah mualaf?"


"Ada semua Leia. Hanya sunat yang belum..."


"Sunat dulu Inferno!"


Dante menoleh ke belakangnya dan tampak Luke dan Luca Bianchi menatap judes ke pria tinggi itu sambil bersedekap.


"Signor Bianchi, Luke..." senyum Dante sambil berdiri.


"Ikut ke mansion Bianchi!" perintah Luca sambil membalikkan tubuhnya meninggalkan semua orang disana.


***


Ruang Kerja Antonio Bianchi di Mansion Bianchi Turin Italia


BUGH!


Dante terhuyung ke belakang setelah mendapatkan bogem dari Luca yang kesal ke kepala keluarga klan Mancini itu.


"Apa sih yang ada di benak kamu, Inferno! Main lamar anak gadis saya!" bentak Luca kesal. Luke dan Leia berada di dalam bersama dengan Dante. Semua orang di sana membiarkan keluarga Bianchi dan Mancini untuk menyelesaikan persoalan mereka.


Luke melihat bagaimana pengawal Dante dan pengawal keluarganya yang berada di halaman depan mansion, dalam mode waspada karena kedua keluarga kembali gegeran.


Dasar Inferno dodol! Mikir nggak sih kalau bokap masih belum terima dia? Luke hanya menghela nafas panjang dan melihat saudara kembarnya kembali dalam mode kulkas seperti biasanya.


"Saya sudah bilang pada anda, kalau saya mau menikah dengan Leia. Sudah berapa kali saya meminta Leia untuk saya tapi anda dan Luke tetap menolaknya."


"Jelas kami menolak kamu, Inferno! Urusan si kecoa saja belum selesai, kamu sudah buat perkara!" bentak Luca.


"Kecoa?" tanya Dante sambil mengusap bibirnya yang untuk keduakalinya berdarah karena pukulan keluarga Bianchi. "Harland Rochester maksudnya?"


"Siapa lagi cumi!" balas Luke judes.


"Leia! Apa kamu mau menikah dengan pria brengsek ini?" Luca menoleh ke arah putrinya yang hanya mengambilkan tissue dari meja kerja Antonio dan memberikan kepada Dante.


"Aku sudah dilamar dan dia sudah menyatakan akan setia dan rela menyerahkan nyawanya padaku. Setidaknya Dad, kalau Dante macam-macam, aku tinggal mencincangnya dan lempar ke Empang" jawab Leia santai sambil mengelap bibirnya Dante yang berdarah dengan lembut.


Luke terbahak. "Good sis! Cincang saja buat piranha hitamku yang sudah lapar!"


Dante menatap judes ke Luke yang hanya membalas dengan seringai menyebalkan.


"Aku ambilkan es batu untuk mengompres bibirmu" ucap Leia yang sedikit kasihan melihat pria jangkung itu yang beberapa kali kena hajar darinya maupun Daddynya tapi tetap tabah.


Dante mencekal tangan Leia yang hendak pergi keluar. "Tidak usah, sayang."


Luca dan Luke tampak tidak suka mendengar panggilan 'sayang' Dante ke Leia. "Dengar Inferno, apa benar kamu sudah pindah?" Luca menatap Dante serius.


"Sudah." Dante mengambil ponselnya dan memperlihatkan video dirinya berada di sebuah mesjid di Turin bersama dengan seorang imam dan beberapa pengurus mesjid serta anak buahnya. Dante pun dengan tegas mengucapkan dua kalimat syahadat tanpa kesalahan.


"Sudah hapal bacaannya?" goda Luke.


"Masih tahap belajar, Darth Vader."


"Oke. Alhamdulillah kamu sudah mualaf tapi sekarang, kamu harus sunat!" Luca menatap tajam.


"Boleh kah diundur setelah aku menghabisi Harland Rochester?" balas Dante.


"Antri!" sahut Luke.


"Setelah urusan sama si kecoa, kamu wajib sunat!" putus Luca final.


***


Omar tampak terkejut melihat Dante berada di jejeran saf yang hendak melaksanakan ibadah berjamaah.


"Alhamdulillah, brother. Selamat datang saudara seiman" ucap Omar tulus.


"Terimakasih Omar."


"Semoga Istiqomah ya."


Dante menatap bingung. "Istiqomah?"


"Maksudnya kamu tetap memegang teguh apa yang kamu yakini sekarang dan bukan seenaknya saja" papar Luke.


"Oh... Aku belum hapal istilah-istilah di agama kalian."


"Sambil belajar, Dante, sambil belajar" ucap Omar seraya menepuk bahu Dante.


"You're right."


"Sudah siap semuanya?" Luca menatap para makmumnya. "Kita mulai ya."


Dante melirik ke arah Leia dan Raveena yang sudah mengenakan mukena. Ya ampun cantiknya calon istri aku.


"Woi! Mata dikondisikan!" desis Luke kesal.


Dante hanya tersenyum tipis.


***


Setelahnya selain Leia dan Raveena, semua orang mulai mengulas strategi dan untuk acara besok. Bahkan Luke dan Alexis sudah mempersiapkan semua peralatan canggih yang dikirim oleh Geun-moon.


Leia dan Raveena sendiri memutuskan belanja ke sebuah pasar tradisional dan Asia untuk membuat banyak kudapan karena tadi Luca mengatakan rindu masakan Jepang dan Asia sebagai teman ngemil.


"Jadi Dante sudah melamar kamu? Dan cincinnya tidak bisa dilepas? Kok bisa?"


"Nggak bisa coba. Ini lihat! Kayaknya modelnya kalau sudah dipasang, untuk melepasnya pakai kode khusus. Cincinnya si Inferno juga sama. Aku tidak bisa melepaskannya."


"Benar kan? Kamu lebih berdebar - debar sama Dante dibandingkan Omar. Apa yang membuat kamu mau menerima cincin itu? Terlepas dari tukang maksa dan melamarnya tanpa embel-embel 'Will You marry me' malah sok resmi sudah bertunangan."


Leia tampak melamun. "Dia bilang, jika nyawanya taruhannya demi menyelamatkan aku, dia akan melakukannya. Dan bagi aku yang terbiasa hidup dengan asuhan Yakuza kental dan darah mafia mengalir di tubuhku, mendengar orang lain di luar keluarga aku mengatakan demikian, itu sangat romantis dan berpengaruh di aku. Kamu tahu Veena, keluarga kita tidak pernah ragu untuk menyelamatkan anggota keluarga bukan?"


"Ya benar, mbak, seperti kasus mbak Zee kan?"


"Ucapan Dante memang sudah terbukti saat menyelematkan aku dari ledakan mobil meskipun pada saat itu hanya ada rasa terima kasih padanya."


"Mbak, kamu mau menerima Dante bukan karena kamu hutang nyawa sama dia kan?"


Leia menoleh ke Raveena. "No, Veena. Ada beberapa peristiwa yang membuat mbak mau menerima Dante tapi mbak tidak bisa menceritakan padamu."


"Mbak, terkadang jodoh itu datang dengan bentuk tidak terduga. Coba lihat mbak Dira, dapat jodoh pas hampir dibunuh. Kamu ketemu Dante berawal dari seteru keluarga. Mbak Bee malah dari witing tresno jalaran Soko kulino. Mbak Zee meskipun harus berpisah, bertemu lagi setelah sekian lama dan akhirnya menikah kan?"


"Kalau kamu?" goda Leia.


"Aku? Aku tidak mau berandai-andai jodohku bakalan ketemu dimana, gimana dan seperti apa. Tapi jika sudah dikasih lihat, ya akan aku terima sebab mau kamu kabur ketemu penguin dan beruang kutub ataupun bersembunyi di dalam lemari, kalau sudah jodoh pasti akan bertemu."


Leia mengangguk membenarkan ucapan Raveena.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️