The Bianchis

The Bianchis
Leia Bianchi : Dante Is A Jerk



Turin Italia


Leia langsung membalikkan tubuhnya membelakangi Dante yang datang menghampirinya. Pria itu tanpa malu langsung membungkukkan badannya dan berbisik di sisi telinga gadis itu.


"Ikut aku sekarang atau kamu akan melihat Alexis terkapar?" Dante menatap dingin ke arah Alexis yang terkejut melihat putra Daniel Mancini menodongkan pistol ke arah dirinya.


"Kalau aku tidak mau?" Mata coklat Leia menatap Alexis yang hanya tampak pasrah melihat pistol yang terarah padanya.


"Say goodbye buat asisten sepupumu."


Leia melirik ke arah Dante. "Ikut kamu kemana?"


"Kamu akan tahu nanti."


Leia menghela nafas panjang. "Baiklah. Tapi ijinkan aku untuk memberikan pesan kepada sepupuku melalui Alexis."


Dante menegakkan tubuhnya dan mempersilahkan Leia memberikan pesan kepada Antonio. Gadis itu berdiri dan berjalan ke tempat Alexis duduk dan Leia membungkukkan tubuhnya di sisi pria itu.


"Jam Rolex ku ada chip tracker. Kodenya 'Leia' bisa kamu akses disini" bisik Leia di sisi telinga Alexis sambil memberikan kartu bertuliskan aplikasi tracker khusus keluarga klan Pratomo buatan Bryan Smith. Alexis menyimpan kartu itu. "Jangan khawatir, aku pernah menghajarnya sekali, jadi aku bisa mengatasinya." Leia tersenyum ke Alexis lalu mencium pipi pria itu. "Chiao, Al."


Dante yang melihat adegan itu menatap tidak suka. Brengsek! Beraninya dia mencium asisten itu!


Leia pun berjalan mendekati Dante. "Sudah sembuh hidden gem mu?" seringai gadis itu.


Rahang Dante mengeras. "Sudah! Dan kamu harus membayar mahal!"


"Really? Sebutkan nominalnya!" tantang Leia.


"Tidak disini." Dante lalu menarik tangan Leia dan membawanya pergi dari restauran itu. Gadis itu dengan santainya berjalan mengikuti Dante masuk ke dalam Bugatti Chiron nya.


Leia lalu memencet salah satu tombol Rolex nya yang memberikan sinyal ke aplikasi tracking. Alexis yang langsung mendownload aplikasi khusus itu di iPhone dan iPad nya, langsung bisa melihat titik bertuliskan 'Leia' disana.


Alexis juga bisa melihat nama - nama sepupu Leia lainnya di aplikasi itu. Luke. Nadira. Bayu. Blaze. V. Arka. Shin. Raveena. Radeva. Zee. Gasendra. Garvita. Juliet. Alexis memfokuskan nama Leia di iPhone nya dan iPad di seluruh dunia yang terdapat nama generasi keenam klan Pratomo.


Pria itu segera masuk ke dalam Maserati nya dan memasang iPhone ke layar mobilnya dan mulai mengikuti Leia.


***


Leia menatap pemandangan kota Turin dan Dante melirik ke arah gadis itu yang tampak cuek seolah bukan suatu yang membuatnya harus panik.


"Leia..."


"Hhhmmm."


"Apa kamu tidak merasa takut pergi denganku?" Dante menoleh ke Leia yang dengan santainya menaikkan sebelah kakinya ke atas kursi kulit itu.


"Haruskah?" Leia menoleh ke arah Dante.


Dante tersenyum smirk. "Apa kamu tidak berpikir bahwa aku akan macam-macam dengan mu?"


Leia mendongakkan dagunya. "Macam-macam apa? Kamu mau menciumku lagi?"


"Kalau aku bilang iya?"


"Jangan salahkan aku kalau rahangmu patah."


Dante terbahak. "Kamu itu benar-benar cucu Mafioso dan Yakuza ya Leia. Tidak jauh-jauh dari kekerasan."


"Hidupku keras Dante Inferno. Sejak kecil membanting tulang demi sesuap nasi" jawab Leia dramatis. "Aku harus berjuang di jalanan."


Dante tertawa mendengar gurauan gadis di sebelahnya. "Seriously Leia. Apa kamu hanya tahu kekerasan saja? Aku tahu kamu suka masak, suka binatang tapi kenapa aku hanya tahu kamu suka berkelahi?"


Leia melirik ke Dante. "Karena ada pemicu yang membuat aku harus berkelahi." Gadis itu memposisikan tubuhnya duduk miring menghadap Dante. "So, berapa yang harus aku bayar akibat memar hidden gem mu?"


Dante tidak menjawab hanya tersenyum smirk namun tetap melajukan Bugatti nya menuju ke sebuah rumah diatas bukit. Leia sangat menyukai pemandangan yang terletak di Piedmont Susa Valley.


Rumah itu sangat khas Italia berupa mix antara batu dan kayu. Leia yang memang seorang arsitek, langsung menyukai gaya bangunan itu.



"Rumah siapa ini, Dante?" tanya Leia setelah Dante memarkirkan mobilnya di halaman yang luas.


Leia memandangi, menyentuh dan meneliti bangunan itu. Wajanya tampak berbinar - binar seolah menemukan desain yang berbeda. Gadis itu mengambil foto dengan ponselnya lalu mengambil iPad nya dan dengan santainya dia menggambar desain rumah itu sembari duduk di bawah pohon besar.


Dante mendekati Leia yang asyik menggambar dan mengakui gadis itu memang memiliki jiwa seni yang tinggi.


"Gambar mu bagus" puji Dante.


"Terimakasih. Aku seorang arsitek jadi jika ada bangunan yang menarik hati, aku langsung menggambarnya karena bisa menjadi inspirasi aku nanti" ucap Leia tanpa menoleh ke arah Dante karena matanya fokus ke rumah itu.


Dante pun ikut duduk bersebalahan dengan Leia dan memperhatikan bagaimana gadis itu dengan cekatan menggambar diatas layar iPad.


Pria itu dengan santainya mengambil rambut Leia dan menyelipkan di telinganya membuat gadis itu melirik namun mengacuhkan lagi.


"Yak, sudah jadi sketsa kasarnya, tinggal nanti malam finishing di rumah!" Leia men save gambarnya dan memasukkan dua gadgetnya ke tas selempang Pradanya.


"Yuk masuk!" ajak Dante sambil berdiri dan mengulurkan tangannya.


"Aku bisa sendiri Dante" sahut Leia yang berdiri sendiri mengacuhkan tangan pria. itu.


Tangan Dante menggenggam tangan Leia meskipun gadis itu mencoba melepaskan. "Jangan berpikir kamu akan membanting ku, Leia, karena aku sudah siap kali ini."


Leia hanya menatap sengit ke arah pria yang tersenyum culas di hadapannya.


"Bakayaro ( dasar bodoh )!" umpat Leia.


"Bibir indah kamu itu tidak pantas untuk dipakai mengumpat, Leia" cengir Dante.


"Suka-suka aku lah! Bibir bibir aku juga!" balas Leia malas.


Dante tidak menanggapi sahutan Leia lalu membuka pintu rumahnya. Leia melongo melihat dalamnya yang sangat diluar ekspektasi nya.


Interior dan furniture yang di dalam bukanlah yang high end atau modern sophisticated melainkan very old style khas pedesaan Italia dan Eropa.




"Oh my God... Ini sangat-sangat indah dan sangat hommie" ucap Leia dengan wajah tampak antusias. Gadis itu memegang furniture yang tampak tua tapi masih kokoh.


"Kamu suka?" tanya Dante.


"Ini di luar ekspektasi aku yang bakalan so high end tapi ini sangat tradisional." Leia berjalan mengelilingi isi rumah dan bibirnya tak henti-hentinya tersenyum saat menemukan sesuatu yang menarik hatinya.


"Ini semua bisa menjadi milikmu Leia."


Leia menoleh ke arah Dante dan wajahnya berubah dingin. "Sepertinya ada tahu dibalik kupat deh!"


"Hah? Apa itu tahu di balik kupat?"


Leia memicingkan matanya. "Pria macam kamu itu pasti tidak pernah tulus memberikan sesuatu kepada seorang wanita jika tidak ada maksud meshum di balik itu!"


Dante terbahak. "Kamu memang wanita yang tidak pernah basa basi." Pria itu lalu mendekati Leia yang sedang berdiri dekat meja dapur. "You're right Leia. Aku memang ada maksud meshum denganmu."


Leia melengos. "Benar-benar pria Italia. Otaknya hanya selang*kangan saja!"


"Kamu benar Leia. Otak ku hanya itu dan hanya denganmu. Tidurlah bersamaku semalam dan aku tidak akan mengganggu tanahmu."


Leia menatap datar ke arah Dante dengan matanya berkilat marah. "In your dream, jerk!"


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa gaeesss


Maaf semalam ketiduran


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️