The Bianchis

The Bianchis
Leia Bianchi : Bersama Alexis



La Taverna De Mercanti Restaurant


"Kamu apain?" seru Antonio ke Leia yang asyik memakan lasagna nya. Keduanya sengaja duduk terpisah karena saat tadi dirinya dijemput oleh Alexis, asistennya mengatakan bahwa sepupunya itu sempat mengalami insiden dengan Dante Mancini.


"Tendang dengan lutut hidden gem nya" jawab Leia cuek.


Antonio melongo. "Are you f***ing kidding me?" suara Antonio nyaris seperti berteriak.



Sabar bang... Sabar


"Eh mie keriting..."


"Lele! Rambut gue ikal bukan keriting!" protes Antonio.


"Sama saja lah tuh!" balas Leia tanpa beban.


"Leia! Yang benar saja! Kalau batang dia patah, gimana? Habis riwayatnya, tidak bakalan ada keturunan Mancini."


"Lha, kan masih ada sepupunya yang lain?"


Antonio menepuk jidatnya. "Lele! Dengar ya, Dante itu keturunan Mancini jadi dia harus memiliki keturunan! Bagaimana gegernya jika dia tidak mampu memiliki anak?"


"Salah siapa main cium seenaknya! Ya aku hajar lah! Lagipula, Tomat, dia itu dengan entengnya menyanggupi permintaan aku di harga lima kali lipattapi begitu aku melihat lokasinya dan bergaul bersama para Nonno serta Nonna, aku semakin tidak ingin menjual tanah keluarga kita." Leia menatap tajam ke arah sepupunya.


Antonio tersenyum smirk. "Ooohhh ya pantas kalau dia kamu hajar, Leia. Salah sendiri main cium dirimu!"


"Nah kan! Bukan salah ku menendang anunya tapi salah dia sendiri yang nekad membuat aku menghajarnya" cengir Leia.


"Aku yakin Le, kalau berita ini tersebar, nama Dante Mancini akan jatuh wibawanya karena dihajar oleh Leia Bianchi yang notabene musuhnya sekarang karena perebutan wilayah" kekeh Antonio.


"Jika pun ada yang menyebarkan berita, bukan dari aku" ucap Leia sambil mengambil potongan besar pizza.


Antonio melongo. "Kamu itu habis makan satu porsi lasagna, masih ambil pizza? Dan badan kamu langsing begitu? Jangan-jangan kamu beneran cacingan... Addduuuhhh!" Leia memukul bahu kekar sepupunya.


"Badan aku seperti ini karena ikut okāsan yang memang susah gemuk! Bahkan sudah punya aku dan Luke, okāsan masih awet langsing." Leia mengunyah pizzanya. "Lagipula, menghajar orang itu menghabiskan energi."


Antonio hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


***


Mansion Keluarga Mancini


Dante membaca laporan Sergio tentang Leia Bianchi. Leia Skywalker Takara Bianchi. Dante tersenyum smirk mengingat nama gadis itu karena sang Daddy adalah penggemar berat Star Wars jadi dua anak kembarnya diberi nama sesuai karakter film itu. Untung namaku bukan Han Solo. Bisa kacau dunia.


Dante membaca lagi laporan asistennya. Lulusan Arsitektur Tokyo University, salah satu arsitek AJ Corp - Takara group, salah satu pewaris PRC group. Mata biru Dante melotot ketika melihat silsilah keluarga Leia dari pihak ayahnya.


Kakek buyutnya Hiroshi Al Jordan dan nenek buyutnya Shanum Pratomo? Dante mencari tahu siapa keluarga Al Jordan dan Pratomo di internet dan terkejut melihat sepak terjang keluarga besar Leia.


Astagaaa, kamu juga masih berkerabat dengan keluarga Blair, McCloud, Reeves, Giandra, Hamilton dan O'Grady? Dante mengusap wajahnya dengan kasar. Pantas dia dengan seenaknya bilang kalau keluarga Bianchi butuh uang, tidak perlu jual aset. Dante berjalan menuju mini bar di kamar kerjanya dan mengambil gelas yang diisinya dengan gin lalu menenggaknya sekaligus.


Sialan! Keluarga mu sangat-sangat mengerikan! Pria itu kembali ke meja kerjanya dan membuka akun Instagram milik Leia yang tidak di private karena memang tidak ada apa-apanya disana, hanya berisi foto-foto dia liburan, wisuda dan sedang asyik menggambar.


Mata biru Dante menatap foto Leia yang tiduran di sofa tanpa makeup.



Jari pria itu mengelus layar iMac nya di wajah Leia. Kamu itu wanita menyebalkan, Leia. Bagaimana bisa kamu dengan seenaknya menendang milikku? Dan kamu harus membayar mahal!


***


Dua Minggu ini dihabiskan Leia untuk mempelajari bisnis anggur keluarga Bianchi dari Alexis Accardi selain mendatangi panti jompo sesuai dengan janjinya kepada para Nonna dan Nonno.


"Jadi pemasukan keluarga Bianchi terbesar adalah dari anggur?" tanya Leia saat makan siang bersama Alexis.


"Sì, Signora. Kami memiliki kebun anggur 500 hektar dan produksi anggur kami termasuk terbaik sejak satu abad yang lalu karena keluarga Bianchi sangat menjaga kwalitas."



Bang Alexis


Alexis tertawa. "Lebih baik anda tidak tahu Signora Leia."


Leia terbahak. "Tidak perlu kamu jelaskan Alexis. Aku sudah tahu."


"Syukurlah kalau anda sudah tahu" senyum Alexis.


Dua Minggu ini memang Antonio meminta Alexis menjaga Leia kemana sepupunya pergi karena gadis itu meminta untuk mempelajari semua tentang keluarga Bianchi di Turin.


"Aku suka Turin" ucap Leia sambil menatap pemandangan luar jendela restaurannya. "Kotanya berbeda dengan Tokyo karena disini tidak tergesa-gesa. Di Tokyo hanya ada fokus bekerja, selalu sibuk dan selalu memakai kacamata kuda. Individual."


"Kalau disini?"


Leia tersenyum. "Sangat Italia. Orang - orang yang menikmati hidup, ramah kepada siapa saja. Dan cuacanya, oh aku sangat suka."


"Berarti keputusan Signore Luca Bianchi mengirimkan anda kemari sangatlah tepat" senyum Alexis sambil menatap intens gadis cantik di hadapannya.


"Oh my God! Alexis! Ternyata matamu itu biru?" celetuk Leia yang menatap serius ke mata tangan kanan Antonio.


"Hah?" Alexis melongo. "Mata saya memang biru, Signora."


"Aku kira abu-abu ternyata biru." Leia mendekati wajah Alexis dan mata coklatnya memperhatikan dengan lekat mata pria itu.


Alexis tampak salah tingkah dengan sikap nonanya.



"Tapi tergantung bagaimana kalau kena cahaya sih..." gumam Leia yang dengan cueknya memegang dagu Alexis. "Kalau wajahmu melawan cahaya, birunya menjadi abu-abu tapi kalau kena cahaya, baru tampak terang birunya." Leia masih saja asyik melihat mata biru Alexis.


"Signora..." suara Alexis terdengar serak. Sialan! Signora Leia memakai parfum apa sih? Harum tubuhnya benar-benar membuat aku Tremor.


Leia melepaskan tangannya dari dagu Alexis. "Aku selalu suka dengan warna mata yang berbeda dariku. Kamu lihat sendiri kan kalau mataku coklat, karena kedua orang tuaku dua-duanya bermata coklat. Tapi sepupuku, Blaze Bianchi, dia memiliki warna mata biru terang yang merupakan gen dari keluarga O'Grady padahal mata Oom Joey coklat terang dan Tante Georgina hijau. Blaze sangat beruntung." Leia menyesap juice jeruknya.


Alexis hanya diam saja menatap Leia yang seolah tidak ada beban. Signora Leia Bianchi, kamu itu benar-benar penyihir! Apa kamu tidak sadar bahwa sikapmu itu membuat jantung saya berantakan?


"Ehem... Kenapa anda tidak memakai lensa kontak saja agar bisa merasakan memiliki warna mata biru?" Alexis tersenyum.


"Aku paling malas pakai lensa kontak, ribet dan membuat mataku sakit.".


"Signora Leia... Apakah anda selalu seperti ini?" tanya Alexis.


"Maksudnya?" Leia menatap pria tampan itu.


"Cuek, seenaknya sendiri dan mandiri?"


Leia memajukan tubuhnya dan memandang wajah Alexis. "Aku rasa kamu sudah tahu siapa aku Alexis. Bukankah kamu sudah memeriksa data pribadi aku?"


"Jago Kendo, jago tembak, menguasai krav maga, menguasai banyak bahasa, suka memasak, penyayang binatang dan... penggemar gelato."


Leia tertawa. "Nah tuh tahu."


Mata biru Alexis menatap lembut Leia namun sedetik kemudian mata itu menatap tajam ke arah belakang Leia yang membuat gadis itu menengok ke belakang.


Tampak Dante Mancini berjalan mendatangi mereka.


Mau apa lagi si Dante Inferno itu! Wajah Leia pun berubah dingin.



Ganggu aja lu bang!


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa Gaeesss


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift ok


Tararengkyu ❤️🙂❤️