
FBI Building, Federal Plaza, New York
Nadira membungkukkan badannya dan tanpa sadar bahunya menempel dengan bahu Pedro yang berusaha bernafas dengan normal tapi kok sepertinya sulit sekali.
"Kapan kamu akan menangkapnya?" tanya Nadira yang seolah tidak mengetahui pria tampan di sebelahnya itu seperti sesak nafas.
"Hah?" suara Pedro seperti tercekik.
"Kapan mau ditangkap apa itu istilahnya, unsub?" Nadira menatap Pedro serius sedangkan yang ditatap seperti kena freeze.
"Ehem!" Pedro berusaha menetralisir antara otak, hidung, mata dan jantungnya yang sepertinya ngajak gelut akibat ketidaksinkronan yang haqiqi gara-gara seorang bidadari menempel padanya. "Kan aku semalam meminta kamu mencari tahu. Kamu kan yang sekelas dengan mereka berdua."
"Jadi maksud mu, aku menjadi detektif?" Mata coklat Nadira menatap mata hijau Pedro.
"Aku nanti memasang penyadap dan body cam di tubuh... eh di bajumu. Jadi kan tidak kentara apalagi sekarang perangkat seperti itu kecil dan tidak tampak dengan mata telanjang" ucap Pedro.
"Ooohhh macam peralatan yang dibuat Tante Moon..."
"Honey, peralatan itu yang mendesain adalah Tante mu" cengir Pedro.
"Honey? Memangnya aku Winnie the Pooh yang suka madu?" pendelik Nadira judes.
Pedro menepuk jidatnya. Ampun deh gadis satu ini!
"Tidak Nadira, kamu tidak eh... bukan Winnie the Pooh. Tapi maksud aku ..."
"Aku hari ini tidak ada kuliah. Besok Minggu jadi kita mulai Senin?" potong Nadira.
"Nadira! Pascal!" suara Isobel membuat keduanya menoleh. "Masuk!"
Nadira pun berjalan menuju ruangan Isobel diikuti oleh Pedro. Rekan-rekan Pedro menatap ingin tahu ke pria tinggi itu tapi Pedro hanya memasang wajah datar.
Keduanya pun masuk ke dalam ruang kerja Isobel dan duduk di kursi depan meja wanita berambut hitam itu.
"Nadira, aku sudah berbicara dengan Oom Benjimu. Dan seperti yang Pedro bilang, kami meminta kamu menjadi mata-mata Harry Burt dan Fred Wilcox. Jangan khawatir, Pedro akan melindungi kamu. Pedro, apa kamu sudah bilang kalau Nadira nanti dipasang body cam dan penyadap?"
"Sudah Isobel. Apalagi alatnya kan buatan Mrs Smith."
"Kamu tidak apa-apa menjadi mata-mata?" Benji menatap keponakannya.
"Asal Oom Benji tidak bilang Daddy saja karena Oom tahu sendiri kan Daddy dan Opa gimana. Panasan!"
Benji mengangguk. "Karena ini rahasia jadi biarkan tetap menjadi rahasia."
"Thanks Oom."
Isobel, Pedro, Benji dan Nadira mulai menyusun rencana hari Senin mengingat waktu yang sangat mepet membuat mereka harus gerak cepat.
***
New York University Manhattan
Nadira sudah mempersiapkan diri memakai body cam dan alat penyadap yang dipasang di tas nya dan bajunya. Pagi-pagi gadis itu sudah berangkat menuju ke sebuah mobil Van penyamaran FBI untuk memasang peralatan itu dengan ditemani oleh Pedro.
Benji sendiri bersama Geun-moon memilih memantau dari gedung IT perusahaan milik keluarga Pratomo yang dulunya dibangun oleh Joshua Akandra. Bryan Smith sudah mulai mengurangi kesibukannya sebagai konsultan dan mulai menyerahkan kepada Benji serta orang-orang kepercayaannya.
"Sudah siap?" tanya Pedro ke Nadira.
Gadis itu mengangguk.
"Yuk ke kampus."
***
Nadira mengikuti kuliah dengan sedikit tegang karena mengingat ucapan Fred bahwa melihat seorang gadis berambut coklat. Sementara dirinya memilih membuat Cepol diatas kepalanya agar tidak terlalu tampak dari belakang karena kedua unsub itu duduk di belakangnya.
Gadis itu mengenakan kaus bewarna biru dan jeans, mulai mendengarkan pembicaraan kedua orang di belakangnya. Konsentrasi kuliahnya sedikit buyar tapi demi nyawa banyak orang, Nadira bersedia mengorbankan kuliahnya.
"Menurut mu apakah McCloud gadis yang kita lihat sekilas?"
"Tapi di kampus ini banyak yang memiliki warna rambut seperti McCloud."
Nadira sedikit menghembuskan nafas lega.
"Tapi kemarin mobilnya dia masih ada di parkiran."
Tubuh Nadira menegang lagi. Aduh mati aku! Nadira berusaha untuk tidak gemetar saking tegangnya. Dibandingkan Leia, Blaze dan Zinnia, Nadira paling lemah untuk urusan gedubrakan macam ini.
"Dia paling di perpustakaan. Anak sok rajin gitu pasti tidak jauh-jauh dari situ."
"*Sudah siap?"
"Aku sudah memasangnya di dekat bak sampah cafetaria. Jika itu kabooommm, langsung ke dapur dan akan merembet kompor. Bisa dibayangkan*?"
Nadira bergidik mendengarnya apalagi di cafetaria banyak orang disana.
"Dua orang di belakang! Mr Burt! Mr Wilcox! Jika anda tidak menghormati Aristoteles, silahkan keluar!" bentak dosen Nadira pagi ini.
"Kami sedang membahas Aristoteles, Professor" balas Fred Wilcox.
"Diam atau keluar!"
Harry Burt dan Fred Wilcox memilih keluar dan Nadira menoleh sekilas lalu mengirimkan pesan kepada Pedro melalui MacBook nya.
***
Pedro bergegas menuju tempat sampah besar yang berada dekat dapur cafetaria kampus. Apalagi jam segini banyak mahasiswa yang menongkrong disana sembari membuat tugas ataupun menunggu kuliah berikutnya.
📩 Pedro Pascal : Nadira, apa mereka mengatakan bak sampah yang mana?
Pria itu mengirimkan pesan karena melihat ada beberapa bak sampah besar disana dan dirinya tidak tahu b*m itu dipasang dimana.
📩 Nadira McCloud : yang dekat dapur. Kamu bisa cari saluran gas dapur untuk memasak.
Pedro mulai menelusuri posisi dapur masak dan melihat pipa gas disana. Pria itu mengambil senter dan mulai menyoroti belakang bak sampah itu dan wajahnya memucat melihat empat C4 tertempel disana dan waktunya tinggal dua puluh menit lagi.
Sial! Mereka memasang di jam makan siang !
Pedro langsung memanggil para tim nya untuk datang tanpa menarik perhatian para mahasiswa disana agar tidak ada kepanikan massal. Para agen FBI itu memilih memakai baju preman dan tidak ada atribut FBI disana.
Dua anggotanya pun langsung beraksi untuk menjinakkan b*m itu dan beruntung pelaku baru coba-coba jadi bisa dijinakkan dengan mudah bahkan tanpa ada keributan berarti hanya tampak seperti segerombolan mahasiswa sedang membahas sesuatu.
Tanpa mencolok, mereka mengamankan C4 itu dan dibawa keluar kampus bahkan tampak seperti tidak ada kejadian apa-apa.
Pedro mengirimkan pesan kepada Nadira.
📩 Pedro Pascal : Sudah aman Nadira.
📩 Nadira McCloud : Alhamdulillah.
Pedro menatap layar ponselnya. Dia muslim? Pedro mengusap wajahnya. Damn it! Aku lupa kalau dia muslim.
***
Nadira keluar dari kelasnya dan mencari-cari Pedro karena dia ingin tahu bagaimana proses penjinakan b*m itu.
Wajah gadis itu tampak tegang dan bergegas menuju cafetaria. Tampak Pedro duduk disana sambil menyesap es kopinya.
"Bagaimana?" bisik Nadira yang duduk di hadapan Pedro.
"Sudah aman, Nadira."
Wajah gadis itu tampak lega.
"Tapi ini sepertinya masih taraf coba-coba karena tadi kami bisa menjinakkan dengan mudah. Aku rasa yang sebenarnya sedang dalam proses hanya saja aku perlu tahu posisi tepatnya."
Nadira mengangguk. "Mengingat yang banyak mahasiswa campuran itu di gedung teknik, aku rasa disana adalah tempat yang paling tepat untuk dipasang."
"Tampaknya kamu harus lebih dekat lagi ke kedua unsub itu."
Nadira mengangguk.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote gift and comment
Tararengkyu ❤️🙂❤️