The Bianchis

The Bianchis
Leia Bianchi : Tidur Bersama... Harafiah



Ketiga wanita cantik itu menatap tajam ke Leia yang hanya memandangi sepupunya dengan kikuk.


"Leia Skywalker Takara Bianchi! Apa yang kamu lakukan dengan Inferno!" bentak Blaze ke sepupunya.


"Aku..." Leia membeku ketika Dante terbangun dan langsung memeluk pinggang gadis itu dan mencium pipinya dari belakang.


"Morning darling. Oh hai ladies..." sapa Dante sambil meletakkan dagunya di bahu Leia.


"Hai ladies gundulmu peyang! Infernooo!!!" Mata biru Blaze menatap tajam begitu juga dengan Zinnia sedangkan Nadira hanya menutup mulutnya.


"Kami hanya tidur, Blaze. Lagipula, aku kan juga tidak bisa ngapa-ngapain karena baru sunat!" balas Dante cuek.


"Sunat?" beo ketiganya.


"Yup. Bukankah ketiga pasangan kalian juga melakukan sunat setelah dewasa?"


"Not my Sammy! Sammy sudah sunat waktu kecil!" jawab Blaze judes. "Kalau Sean dan Pedro memang sunat setelah dewasa. Ini kok malah bahas sunat! Leia, kamu ngapain tidur dengan Inferno! Dan itu... kamu di rumah Inferno?"


"Bee, jangan marah-marah..." tegur Nadira.


"Siapa yang nggak marah! Aku tahu kalian mau menikah bulan depan tapi kan..."


"Mereka sudah dewasa, Blaze. Sudah tahu konsekuensinya" timpal Zinnia.


"Ya ampun! Kalian bertiga mikirnya kejauhan! Kami tidak ngapa-ngapain dan lagipula, aku memilih menunggu sudah halal! Semalam aku dan Leia mengobrol sampai malam untuk membahas pernikahan. Daripada dia pulang malam-malam, lebih baik dia tidur disini."


"Iya! Tapi tidak tidur berdua sama kamu Infernooo!" bentak Blaze.


"Lha tidur sama siapa? Sergio! Aku bunuh Sergio kalau berani menyentuh Leia!" balas Dante.


"Sudah sudah, kok malah berantem. Dengar ya semua, kami hanya tidur, tidak ngapa-ngapain. Lagian punya dia kan sedang tidak berfungsi..."


"Heeeiiii!" protes Dante ke Leia.


"Aku juga tidak segila itu main DP duluan! Bisa auto lempar ke Empang sama Daddy!" sambung Leia. "Tenang semuanya, tidak ada yang terjadi diantara kami. Zee, kamu kan juga pernah mengalami hal seperti ini dengan Sean kan?"


"Iya sih..." gumam Zinnia teringat saat kejadian di apartemennya dulu saat masih tinggal di Geneva Swiss.


"Tapi bukan pembenaran jugaaaa" sungut Blaze kesal.


"Eh sudah, sudah. Ini tadi membahas Pedro kok malah jadi kemana-mana" tegur Nadira.


"So, kalian akan menikah dimana?" tanya Zinnia ke Leia dan Dante.


"Tokyo!" jawab Leia dan Dante bersamaan.


"Alasannya?"


"Opa Takeshi sudah sepuh, Zee begitu juga dengan Opa Marco, Opa Mario, Oma Jo dan Oma Marissa. Dante sudah tidak ada orang tua dan hanya beberapa sepupunya yang ada di Turin dan New York. Mungkin perwakilan yang datang ke acara kami."


"Pakai adat Jepang kah?" tanya Nadira mengingat Leia adalah cucu Takeshi Takara, pemimpin klan Yakuza Takara.


Leia menggelengkan kepalanya. "Nggak, kami maunya simpel saja lagipula aku paling malas pakai kimono pengantin. Berat!"


"Padahal kamu cantik lho pakai kimono" bisik Dante.


"Ih males banget!"


"Kamu pakai kimono saja, Leia. Biar seru!" kompor Nadira.


Leia hanya melengos.


Suara tangis bayi membuat semua orang menatap Zinnia.


"Eh maaf, Arsya bangun. Aku pamit dulu ya, kabar-kabari lagi nanti. Oke? Assalamualaikum." Zinnia mematikan zoomnya.


"Wa'alaikum salam."


"Leia! Pulang kamu! Keenakan si Inferno main peluk-peluk!" Blaze menatap judes ke Dante yang masih tetap memeluk Leia dari belakang.


"Jangan iri lah, Blaze. Memang Samuel dimana?" kekeh Dante. Keluarga Leia memang rusuh!


"Nggak ada hubungannya dengan Sam..."


"Eh. Maaf tapi ini Pedro menelpon aku. Pamit dulu. Assalamualaikum!" Nadira pun mematikan zoomnya.


"Wa'alaikum salam" balas Leia dan Blaze.


"Wa'alaikum salam." Leia menoleh ke arah Dante. "Lepas nggak? Aku mau pulang."


Dante hanya tersenyum dan mencium bibir itu lembut. "Aku mandi dulu. Kamu aku antar pulang."


"Memang sudah bisa nyetir?" tanya Leia ketika Dante melepaskan pelukannya lalu turun dari tempat tidur dan berjalan menuju walk in closet.


"Sergio lah yang menyetir" jawab Dante cuek sambil mengambil baju bersih dan menuju kamar mandi.


Leia hanya tersenyum.


***


Flashback Semalam


Semalam keduanya memang membahas rencana pernikahan bersama dengan Luca dan Emi hingga tengah malam waktu Turin karena berbeda 8 jam dengan Tokyo.


Leia sendiri hendak pulang namun Dante menahannya dan meminta untuk tidur di mansion Mancini. Leia pun menurut permintaan Dante karena dirinya merasa lelah setelah seharian berkeliling di kebun anggur milik keluarganya.


Ketika Leia hendak keluar kamar Dante, pria itu memintanya untuk tidur di kamarnya. Sebelumnya Leia menolak mentah-mentah tapi mengingat pria itu dengan wajah memelas mengatakan bahwa dirinya tidak bisa ngapa-ngapain karena masih proses penyembuhan, akhirnya Leia mengalah. Apalagi tubuhnya sudah ingin beristirahat.


Leia membuka jaketnya dan menyisakan kaus hitam dan celana jeans untuk tidur tapi Dante meminta agar gadisnya mengganti pakaian yang lebih nyaman. Setelah mencari-cari di walk in closet, Leia menemukan baju gamis pria disana dan memilih memakainya seperti memakai daster lengan panjang.


"Aku tidak pernah melihat seorang wanita mengenakan gamis sebelumnya dan entah kenapa meskipun kamu tertutup, kamu tampak seksih" ucap Dante yang sudah siap di tempat tidur dengan hanya mengenakan celana panjang longgar.


"Otakmu saja yang ngeres!" balas Leia sambil merebahkan tubuhnya dan sedikit terkejut ketika dua tangan kokoh langsung memeluknya.


"Betapa aku setiap saat membayangkan akan seperti ini Leia. Tidur sembari memelukmu..." ucap Dante parau di atas kepala Leia yang membuat wajah gadis itu berhadapan dengan dada bidang mulus milik pria itu.


Harum parfum maskulin yang mulai dihapalnya membuat Leia merasa nyaman dan tak berapa lama, dirinya tertidur.


Dante menatap wajah cantik yang sudah terlelap itu dengan penuh cinta. "Terimakasih sudah mau menerima aku, Leia. Aku sangat sangat mencintaimu." Dante mencium kening gadis itu dan ikut terlelap.


Flashback End


***


Leia memilih mandi di kamar mandi kamar tamu setelah seorang pelayan membawakan baju baru untuk ganti atas perintah Dante. Dirinya tidak mau terlihat oleh Dante karena sudah cukup semalam mereka tidur berdua secara harfiah.


Setelahnya, Leia kembali ke kamar Dante dan terkejut melihat pria itu bersandar di depan kamar mandi tanpa pakaian hanya dengan celana hitam, menatapnya sebal.



Pakai baju dulu, bang. Enter wind lho nanti



Yang diamuk pagi-pagi


"Kenapa kamu tidak mandi disini?"


"Aku cari praktisnya saja Inferno."


"Tapi kan..."


Leia mendekati Dante. "Yang penting aku sudah mandi. Kenapa sih jadi masalah?"


"Ngomong-ngomong, gaunnya cocok untukmu, Leia." Dante langsung memeluk Leia yang harus mendongak karena pria itu sangat tinggi.


"Iya tapi langsung kusut kalau kamu peluk begini."


"Andaikan kita sudah halal, bajumu itu hanya menempel di tubuhmu lima menit setelahnya entah kemana" ucap Dante sen*sual.


"Sembuhkan juniormu dulu Dante! Lagipula, setelah menikah, kamu punya hak penuh padaku" balas Leia.


"I can't wait when that moment comes..." Dante mencium bibir Leia lembut.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️