The Bianchis

The Bianchis
Emi, Putri Yakuza



Tokyo Jepang...


Luca dan Emi hanya memperhatikan mobil Tadashi yang mengikuti mobil mereka. Perasaan Luca dan Emi terasa tidak enak melihat bagaimana asisten Takeshi itu tampak nekad.


"Waktu papamu memanggil Tadashi, bilang apa saja Em?" tanya Luca yang merasa bahwa setelah diajak ngomong waktu terakhir dia tanding Kendo dengan Takeshi, harusnya bisa menerima lah. Apalagi sudah setahun lebih setelah kejadian itu.


"Dia bilang jika aku sudah memilih, maka dia mendukung pilihan aku. Apalagi kamu dan Otousan makin mesra saja biarpun suka ribut ga jelas kalau main Shogi atau Go.


Luca tertawa. "Otousanmu tuh orangnya licik ! Curang tahu nggak!"


Emi terbahak. "Ya itulah Otousan."


"Em, apa kamu siap jika ada sesuatu hal yang membuat kita harus berantem?" Luca menatap serius ke Emi.


"Maksudmu?" Emi kemudian melihat mobil Range Rover milik Luca dihadang dua buah mobil dan di belakang ada mobil Tadashi. Luca memang sengaja membawa mobilnya ke area sepi pinggiran kota Tokyo dan sesuai dengan prediksinya, pasti Tadashi akan melakukan sesuatu.


"Kamu ambil tongkat kendo yang ada dibelakang mu" Emi pun mengambil tongkat itu. "Kalau memang kita mau berantem, kamu ganti sepatu dulu." Luca mengedikkan dagunya ke arah kaki jenjang Emi yang memakai sepatu hak tinggi Manolo Blahnik. Luca tahu gadisnya adalah shoes maniac terutama high heels branded karena melihat koleksinya di rumah Takara.



"Kamu beliin aku sneaker?" tanya Emi.


"Iyalah! Eman-eman Manolo Blahnik mu dipakai berantem!" Luca memasang ear piece nya. "Gin? Vodka? Sudah siap?"


Emi mendelik. Gin? Vodka? Pengawalnya dipanggil juga?


"Oke lah, kalau gitu aku turun. Aku pengen tahu si tadah hujan mau apa." Luca pun membuka pintu mobilnya sambil memberikan kode agar Emi di dalam mobil saja.


"Hati-hati Luca." Emi menatap cemas ke pria tampan itu.


"Daijōbu. Don't worry." Luca pun turun menghadapi delapan orang preman di hadapannya dan empat di belakangnya bersama Tadashi.


"Ada apa ini?" tanya Luca yang melihat mereka semua membawa katana kayu.


"Menghajar mu, Bianchi!" ucap Tadashi.


"Menghajar ku? Apa urusanmu? Apa aku menyinggung kamu?" tanya Luca berbalik ke arah Tadashi yang membawa katana asli.


"Kamu sudah merebut nona Emi!" teriak Tadashi dengan wajah memerah karena marah.


HAAAAHH? Gusti nun agung! Bukannya sudah gue bilang ya?


"Eh tadah hujan! Dengar ya! Kamu sudah aku bilang dari setahun lalu kalau Emi dan aku itu saling mencintai dan semua itu kesalahan kamu sendiri yang jadi cowok pengecut! Macam inilah! Beraninya keroyokan! Memangnya kalau kamu sudah menghajar aku, Emi bakalan suka sama elu? Kagak bambaaannggg! Yang ada malah makin benci sama elu! Elu tuh ya kalau obsesi yang cerdas dong! Masa harus menunggu sampai setahun baru mau hajar aku? Harusnya setelah aku jadian sama Emi kamu cari aku, bukan sekarang!" omel Luca panjang lebar.


Tadashi menatap Luca kesal. Bagaimana bisa menghajarmu Sono Gaki kalau aku dikirim ke Okinawa!


"Serang!" perintah Tadashi.


Luca langsung mengeluarkan baton sticknya dan bersiap-siap untuk melawan mereka semua. Hingga ...


DOR!


Semua orang berhenti ketika mendengar suara tembakan pistol.


Emi turun dari mobil dengan membawa dua buah pistol jenis Glock di kedua tangannya dan menodongkan ke arah para preman - preman itu lalu berjalan menuju Luca yang berdiri. Gadis itu tampak marah dan tangannya terentang untuk menodongkan ke masing-masing sisi kiri dan kanannya.


Luca mengenali dua Glock miliknya yang disimpan di dalam dashboard depan dan kotak penyimpan di tengah. Alamak! Aku lupa kalau Emi tahu aku menyimpan Glock disana!


"Berani maju, kepala kalian bolong oleh peluru!" ucap dingin Emi tajam. "Dan jika kalian kira..."


Seorang preman berani maju dan langsung ditembak Emi tepat di kepalanya membuat semua orang disana terpaku. Emi tidak main-main dengan ucapannya.


"Siapa lagi yang berani mengantarkan nyawa?" Emi menatap satu persatu orang-orang disana. "Dan kamu Tadashi, bersiap lah mendapatkan hukuman berat dari Otousan ku!"


"BERANINYA KAMU TADASHI!" suara menggelegar dari Takeshi Takara membuat semua orang disana terkejut.


Camer sialan! Hobinya kok ya nongol ala jelangkung!


"Shiki! Bereskan mayat orang itu !" perintah Takeshi yang datang bersama Marco Bianchi.


"Tuan Bianchi, piranha anda belum makan kan?" tanya Shiki tenang.


"Bagus!" Shiki pun tersenyum mengerikan.


Luca hanya bisa melongo. Daddy brengseeekkk! Jadi yang aku lihat itu beneran orang! Fuuuucccceeeekkk!


***


Staten Island New York USA


Joey sengaja menginap di mansion Blair karena dia mendapatkan libur dua hari setelah gila-gilaan melakukan operasi bedah hampir seminggu non stop. Istirahat semalam, paginya berkutat di arena hingga malam. Begitu seterusnya hingga seniornya memberikan libur untuk recharge fisik dan mentalnya.


Rupanya sepupunya Abi dan Reana ada disana. Si kembar yang sepantaran dengannya itu sudah bekerja di MB Enterprise dan Giandra Otomotif Co setelah masing-masing lulus dari MIT dan Columbia University.


"Lha si mafia reseh datang! Sebenarnya elu itu mafia berkedok dokter kan J?" ledek Abi.


"Gue dokter beneran cumiii!" ucap Joey sambil memeluk sepupunya yang memilik badan sama besarnya dengan dirinya.


"Joey!" seru Reana sambil tersenyum. Joey langsung memeluk sepupu cantiknya yang berambut pirang dan bermata biru lalu mencium pipinya.


"Apa kabar Pandu? Masih dihukum Tante Kaia di Surabaya?" goda Joey yang tahu Reana pacaran dengan Pandu Dewanata, putra Shailendra pegawai Duncan Blair.


"Masih lah! Mami kan memang gitu" sungut Reana.


"Masuk J" ajak Abi.


"Joeeeyyy!" seru Rhea yang senang melihat cucunya yang tampan. "Kamu kok makin Mafioso tampang nya?"


"Ya Allah Oma Rheaku tersayang, salahkan Daddy kalau itu" gelak Joey sambil mencium punggung tangan Rhea dan memeluknya erat.


"Joey, bisa libur kamu?" kekeh Duncan.


"Dikasih libur Opa" jawab Joey sambil memeluk Opanya. "Otakku capek lihat darah."


"Salah siapa nekad jadi dokter bedah?" ledek Abi durjana.


"Eh Bi, tahu nggak gara-gara gue dihukum bersih-bersih kamar mayat, gue jadi lihat penampakan."


Rhea bergidik yang membuat Duncan memeluk istrinya sambil tersenyum geli. Mereka semua sedang berada di ruang tengah menunggu makan malam tiba.


"Kamu jangan cerita horor ke Opa Gozali ya Joey" pinta Duncan.


"Kenapa Opa?"


"Opamu satu itu jirihan!" ucap Duncan sambil tertawa.


"Wah ya wassalam" gelak Joey.


"Ceritain dong yang kasus mutilasi itu. Gue penasaran" pinta Abi.


"Abiiii" rengek Rhea yang miris membayangkan tubuh manusia dipotong - potong.


"Penasaran Oma. Soalnya kan Joey ga bisa datang lebaran gara-gara kudu nyelesain kuliah nya." Abi nyengir lebar.


"Tenang saja Rey, kan ada Abang yang nemenin kamu" ucap Duncan lembut.


"Kenapa aku jadi kebayang film pengabdi setan ya?" gumam Rhea yang ingat saat nonton bersama Kaia yang akhirnya dirinya digendong Duncan supaya tidak nonton lagi dan membuat Kaia ngomel - ngomel besoknya.


"Oma, film itu tidak ada apa-apanya dibanding ini" ucap Joey dengan nada sok seram.


"JOOOEEEYYY!" Rhea pun makin beringsut mendekati Duncan.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️