The Bianchis

The Bianchis
Dua Pria Bianchi



Harvard Medical School


Georgina menatap tidak percaya sebuah post it tertempel di lockernya dengan tulisan 'Will you marry me? - J.B -'. Astagaaa dokter sinting itu! Harusnya dia jadi dokter jiwa bukan dokter bedah!


Calon dokter gigi itu hanya mengambil kertas bewarna pink itu dan memasukkannya ke dalam lockernya dan segera dia mengambil peralatan prakteknya yang disimpannya di dalam.


"Dasar dokter sinting!" sungutnya. Georgina sendiri mengakui bahwa Joey memang pria yang menarik dan tipikal bukan playboy meskipun casing menunjang. Selama pria itu disini, Georgina belum pernah mendengar gosip Joey kencan dengan siapa atau hangout dengan siapa. Pria itu dikenal ramah dengan siapa saja tapi tetap dalam koridornya. Hanya kepad Georgina saja dia yang bersikap seenaknya seperti sekarang ini.


Yang benar saja! Ngajak nikah seperti pergi ke McDonald's pesan ayam dan coke! Suara perut Georgina berbunyi. Duh gara-gara kebayang McD jadi lapar deh! Namun Georgina tidak sempat memikirkan McD dulu karena pasiennya sudah menunggu. Salah siapa bangun telat, G!


***


Georgina baru saja menyelesaikan pasien terakhir nya sebelum jam makan siang. Asistennya sendiri sudah meminta ijin untuk ke kantin dan mengatakan tidak ada pasien lagi membuat Georgina memutuskan untuk ke McDonald's dengan motornya.


"Maaf dokter O'Grady" suara satpam rumah sakit terdengar sambil mengetuk pintu ruang praktek Georgina.


"Ya Louis?" Georgina menoleh dari kursi prakteknya.


"Ada paket untuk anda." Louis pun masuk menyerahkan sebuah kotak kecil dari kayu.


"Dari siapa?" tanya Georgina sambil menerima kotak itu.


"Dari dokter Bianchi." Georgina tertegun.


"Terimakasih Louis." Pria kulit hitam itu mengangguk dan mengundurkan diri dari ruang praktek Georgina.


Gadis itu langsung membuka kotak itu dan betapa terkejutnya melihat sebuah notes lagi disana.



"Astagaaa! Dasar pria Italia sinting satu itu !" geramnya. Georgina langsung mengambil tasnya dan keluar dari ruang prakteknya. Setelah menguncinya, gadis itu langsung menuju ruang para dokter beristirahat.


Sesampainya di sana, mata hijaunya tidak menemukan sosok Joey Bianchi disana.


"Eh, kamu kan stase bedah. Lihat Bianchi nggak?" tanya Georgina saat bertemu dengan salah satu rekan Joey.


"Kayaknya dia di kamar mandi, soalnya tadi habis operasi banyak akibat kasus kecelakaan" jawab rekannya itu.


"Thanks!" Georgina segera menuju kamar mandi khusus pria yang modelnya mirip kamar mandi atlet dengan banyak bilik disana. Melihat Georgina masuk kamar mandi pria membuat para rekannya bersiul menggodanya namun gadis itu mengacuhkannya.


Dilihatnya Joey berjalan menuju lockernya setelah mandi dan Georgina pun mendekati pria itu. Namun pemandangan di hadapannya membuat lidahnya kelu.


"Lho? Sepupu nemuku" cengir Joey.



Bang, pakai baju dulu kenapa?


Wajah Georgina memerah melihat pemandangan yang dibuang sayang tapi tidak dilihat kok ya eman-eman.


"Ada apa sepupuku?" tanya Joey santai sambil memakai kaos hitamnya.


"Aku...mau ajak makan siang." Seketika wajah Georgina cemberut. G bodoh! Kok bisa - bisanya bilang begitu?


"Ayo! Aku kira kamu tidak akan mengajak." Joey menutup pintu lockernya setelah mengambil tas selempang dan duffle bagnya. Pria itu pun langsung menggandeng tangan Georgina meninggalkan keriuhan di ruang para pria itu.


***


"Kita mau kemana?" tanya Joey setelah sampai di Range Rover miliknya.


"Aku ingin ke McDonald's." Georgina pun masuk ke dalam mobil itu setelah dibukakan oleh Joey.


"Oke!" Joey pun meletakkan tas nya di kursi belakang. Dan mobil mewah itu pergi meninggalkan parkiran menuju McDonald's.


***



Joey dan Georgina tiba di McDonald's dekat kampus mereka dan setelah pria itu memarkirkan mobilnya, keduanya pun turun. Georgina hanya melirik tajam melihat tangannya digenggam oleh Joey.


"Biar kamu tidak hilang" sahut Joey cuek.


Astagaaa!


Harum ayam goreng dan berbagai masakan di dalam restoran itu membuat perut Georgina makin demo cacingnya. Akhirnya mereka memesan burger, ayam, kentang goreng dan fried onion.


"Pelan-pelan G, aku tidak minta. Kamu lapar berat ya?" kekeh Joey.


"Banget!" jawab Georgina sambil mengunyah burger nya.


Joey mengambil kentang goreng dan mulai memakannya. Setelah kenyang, Georgina menatap tajam ke Joey sambil menyerahkan kotak yang diberikan oleh satpam Louis.



"Maksudnya ini apa?" tanya Georgina dingin.


"Lho maksudnya aku melamar kamu, Georgina. Aku ingin kamu menjadi istri aku. Masa seperti itu saja aku harus menjelaskan?" cengir Joey.


"Ya Tuhan, Jeoffree! Bukan seperti ini cara melamar dan ngajak nikah! Yang benar saja!" omel Georgina.


"Oh, salah ya? Ya sudah, gimana kalau kita pacaran saja dulu sambil setiap hari kamu aku ajak nikah?"


Georgina memegang kepalanya yang tiba-tiba pusing.


"Ya Tuhan... kok ada ya pria sintingnya seperti ini?" keluh gadis cantik itu.


"Buktinya ada tuh G." Joey menunjukkan dirinya sendiri. "Aku!" ucapnya dengan nada bangga.


"Tidak usah diperjelas! God!" hardik Georgina gemas.


Joey terbahak.


***


Kediaman Takara, Tokyo Jepang


Luca tiba di kediaman calon istrinya tepat jam tujuh malam setelah dirinya menyelesaikan pekerjaannya di kantor. Emi sendiri tidak mau pulang bersama dengan Luca karena dirinya hendak mempersiapkan diri.


Pria itu sudah membawa kendogi dan hakama miliknya serta pedang Kendo terbaik miliknya termasuk dua buah Glock dan SIG di dalam tasnya.


Luca pun diantarkan menuju ruang tengah keluarga Takara dan tampak Takeshi, Emi dan Shiki Matsumoto sudah berada disana.


"Sudah siap kamu Bianchi?" tanya Takeshi.


"Insyaallah siap Mr Takara." Mau tidak mau kudu siap cumiii, bakalan panjang ceritanya kalau bilang kagak siap.


"Ganti bajumu Bianchi! Seperti biasa di paviliun belakang!" perintah Takeshi.


"Baik Mr Takara." Luca pun membungkuk hormat sebelum pergi meninggalkan ruang tengah.


Dengan diantar oleh seorang pelayan, pria itu berjalan menuju paviliun yang biasa dia pakai sebagai tempat berganti pakaian usai bertanding Kendo bersama dengan camernya.


Luca pun membuka jaket dan kaosnya meninggalkan tubuhnya yang liat kotak-kotak hasil berolahraga sejak kecil. Ketika hendak membuka celana jeans-nya, sebuah suara terpekik membuatnya menoleh.



Tampak Emi berdiri didekat pintu sambil menutup wajahnya. Meskipun gadis itu bar-bar tapi melihat calon suaminya hampir naked pun membuatnya malu.


"Astaghfirullah Emi!" seru Luca yang buru-buru mengancingkan celana jeans-nya. "Kenapa tidak ketuk pintu dulu?"


"Aku sudah ketuk pintu tapi kamunya seperti tidak mendengar." Nafas Emi sedikit tidak beraturan melihat tubuh Luca yang sebenarnya sudah sering dilihatnya tapi tetap saja membuat dirinya panas dingin.


"Kamu kenapa Em?" tanya Luca pura - pura tidak tahu kalau gadisnya terkesima dengan bentuk tubuhnya.


"Betsuni ( tidak apa-apa )" ucap Emi cepat.


"Mau sentuh?" goda Luca yang kini berdiri di hadapan Emi.


Haaaaahhh?


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa gaeesss


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️