The Bianchis

The Bianchis
Blaze Bianchi : Samuel Muak



Mansion Keluarga Reeves


Blaze menatap pria yang seumuran dengan adiknya Valentino dengan tatapan judes. Samuel yang baru saja menurunkan koper Blaze dan membayar ojek online nya hanya menatap bingung ke arah gadisnya.


"Halo?" Samuel menyapa semua orang disana dan membuat Juliet menoleh lalu menatap Blaze.


"Sammy Bebek?" tanya Juliet.


"Iya."


"Kok kalian pada diluar sih? Ayo masuk!"


Keempatnya menoleh ke arah pintu rumah dan tampak wanita cantik berdarah Arab berdiri disana.


***


"Jules, jangan suka berantem sama Romeo. Kasihan kamu marahin terus padahal sudah bantu buatin tugas kamu!" Rina memarahi putri bungsunya yang selalu tidak pernah akur dengan sahabat putra sulungnya.


Romeo menatap Juliet penuh kemenangan yang membuat gadis yang hendak menginjak 17 tahun itu cemberut. "Jangan cemberut dong Jules, hilang cantiknya" goda Romeo.



Juliet Kareem Reeves



Romeo Akihiro


Blaze dan Samuel hanya tersenyum melihat bagaimana keduanya mirip dengan mereka sendiri.


"Kalian berdua ini gimana ceritanya di Jakarta?" Rina menatap Blaze dan Samuel.


Samuel pun bercerita tentang keadaan dirinya dan siapa dirinya. Termasuk dia diminta menjadi martir untuk adik pantinya.


"Enak saja!" teriak Blaze dan Juliet bersamaan.


"Mas Bebek! Eh mas Samuel, Jules tidak ikhlas ya kalau itu cewek bawa-bawa drama supaya mas Sam nutupin aibnya! Sini, biar Jules hajar!" Juliet menatap judes ke arah kekasih kakak sepupunya.


"Julieeettt... jangan bar-bar" ucap Romeo lembut.


"Shut up Romeo! Ini nggak bener! Enak saja! Mas Sam sudah kasih uang buat biaya hidup terus disuruh jadi martir? Who the f*** is she hah!"


Rina memberikan kode agar Juliet diam yang membuat gadis itu langsung kicep.


"Maaf mas Samuel, Jules kalap" ucap Juliet sambil menunduk. Romeo mengelus kepala Juliet yang langsung ditepis oleh gadis itu. "Gak usah pegang-pegang!"


"Rom, apa sih yang bikin kamu betah sama adikku yang gualaknya nggak ketulungan itu?" kekeh Blaze seolah lupa kalau dirinya sama saja.


"Really, Bee? Apa kamu lupa kalau kamu juga judes sama aku?" goda Samuel.


"Tapi nggak segalak Juliet sih" elak Blaze.


"Juliet itu unik dan hanya untuk Romeo" jawab Romeo yakin.


"Idiihhh! Siapa yang mau sama kamu!" cebik Juliet.


"Tante rasa, semua itu kesalahan ibu panti dan Tiwi sendiri. Bisa jadi terlalu dibebaskan jadi mbedal dan lupa akan norma - norma agama dan masyarakat. Pacaran sekedar pegangan tangan, ciuman itu wajar karena Tante dan Oom Hoshi juga sama dulu. Tapi kami juga tahu ada batasannya. Apalagi di keluarga kami, klan Pratomo umumnya, baik pria maupun wanita harus menjaga diri sendiri dan hanya menyerahkan tubuhmu kalau sudah menikah resmi." Rina menatap ke semua keponakannya meskipun yang dua belum.


"Kalian yang wanita, ingat. Harta berharga kalian hanya satu dan itu hanya diberikan pada suamimu kelak. Dan kalian yang laki-laki, janganlah egois. Kalian ingin mendapatkan wanita yang baik-baik jadi kalian juga harus menjaga diri kalian sendiri."


Keempatnya hanya terdiam mendengarkan wejangan Rina. "Kalian memang memiliki kebebasan untuk melakukan apa saja, kami sebagai orangtua tidak akan tahu tapi jika sudah kejadian macam Tiwi, siapa yang susah? Tidak hanya kalian sendiri tapi juga keluarga kalian."


Suara mobil masuk ke dalam halaman rumah membuat kelima orang di ruang tamu menoleh ke arah suara. Tak lama datanglah seorang remaja usia akhir yang sebaya dengan Romeo membawa seekor anjing Pomeranian.


"Lha? Pada disini?"



Valentino and Bibi


***


Samuel berkenalan dengan kakak Juliet, Valentino yang biasa dipanggil Val atau V. Dan kini mereka semua makan siang di ruang makan kediaman keluarga Reeves.


"Opa Levi dan Oma Yanti kemana, Tante?" tanya Blaze ke Rina.


"Ke rumah Opa Bara. Pada kumpul disana, ada Opa Arya, Opa Iwan juga."


"Lho Oma Danisha juga ikut ke Jakarta?" Blaze bertanya lagi.


"Kan Oma Danisha dan Opa Iwan jadinya pindah ke Jakarta, tinggal bareng di mansion Giandra. Soalnya di Solo kan tinggal mereka berdua, AJ Corp sudah dihandle dari Tokyo dan manajer nya juga dari Jepang. Jadi Oma Danisha ingin kumpul lagi dengan Opa Bara."


"Mbak Bee, nginap sini kan? Nggak sama mas Bebek tho?" tanya Valentino cuek.


"Nginap sini lah! Yang benar saja serumah sama Sammy. Bisa dilempar ke Empang aku sama Daddy. Mana dekat kan Tokyo - Jakarta" sungut Blaze.


"Anjingmu sakit apa Val?" tanya Samuel.


"Pernafasan, mas. Agak kegendutan, jadi harus aku diet kan biar nggak gendut" jawab Valentino.


"Memang sih, sama seperti manusia, kalau kegemukan bisa kemana-mana sakitnya" gumam Samuel.


"Tugasmu sudah selesai dik?" Valentino menoleh ke arah Juliet.


"Udah. Dibantu Romeo."


"Udah bilang makasih?"


"Besok ajah!" jawab Juliet cuek.


"Jules, nggak boleh gitu" tegur Rina.


Juliet hanya manyun. Wong aku nggak minta dibantuin juga! Romeo ajah yang berlagak sok iyeee!


"Juliet Anastasia Kareem Reeves..." Rina menatap menegur putrinya.


"Terimakasih Rom..." jawab Juliet ogah-ogahan.


"Mas..." ucap Romeo.


Juliet melongo. "Hah?"


"Terimakasih mas Romeo. Gitu J" cengir Romeo.


"Ogaaahh!" cebik Juliet kesal.


***


RS Pelni Petamburan Jakarta Barat Indonesia


Sore ini disaat jam besuk, Samuel dan Blaze mendatangi rumah sakit tempat Bu Mirna dirawat. Meskipun Blaze gondok tapi dia tetap membawa buah-buahan dan makanan sebagai syarat menengok orang sakit.


Samuel sendiri menggandeng tangan Blaze sejak awal turun dari mobil yang dipinjamkan Hoshi ke keponakannya sedangkan tangan satunya membawa keranjang buah begitu juga dengan Blaze yang membawa paper bag berisikan makanan.


Keduanya berdiri di depan pintu ruang rawat inap yang tidak tertutup rapat hingga mereka mendengar percakapan Bu Mirna dan Tiwi. Meskipun memakai bahasa Indonesia, Blaze sangat fasih dengan bahasa Oma buyutnya jadi paham apa isi pembicaraan.


"Jadi gimana ini bu? Mas Sam tidak mau." Suara yang disinyalir suara Tiwi.


"Kan ibu sudah bilang, kamu itu jangan nemplok sana nemplok sini jadi tidak tahu siapa ayah janin kamu" ucap Bu Mirna yang terdengar lemah. "Samuel jelas tidak mau karena kelakuan kamu. Kalau saja kamu tidak nakal, Wi, ibu senang jika kamu sama Samuel jadi dana panti tidak berhenti. Tapi kamu nya malah tidak paham maksud ibu."


"Jadi itu maksud ibu? Membuat aku tetap menjadi mesin ATM? Tanpa ibu minta, aku tidak melupakan jasa ibu tapi sikap ibu seperti ini membuat aku kecewa berat!"


Bu Mirna dan Tiwi menoleh ke arah pintu dan tampak Samuel bersama dengan seorang gadis bule cantik menahan amarah di wajahnya.


"Sam..." Bu Mirna menatap mantan anak asuhnya.


"Dengar ya Tiwi, sampai kapanpun saya tidak akan menikah dengan kamu karena ini adalah calon istri saya!" Samuel menunjuk jarinya ke arah Blaze yang hanya memberikan senyuman tipis.


"Aku kira wanita Indonesia lebih bisa menjaga kehormatannya dibandingkan wanita bule macam aku. Tapi ternyata, justru akulah yang lebih bisa menjaga kehormatan aku sendiri. Aku kasihan pada janin yang tidak jelas siapa ayahnya" ucap Blaze dingin dengan bahasa Indonesia yang fasih.


"Kamu... mendengar nya...?" bisik Bu Mirna.


"Cukup Bu! Aku muak dengan drama ini!" Samuel meletakkan keranjang buah dan paper bag dari tangan Blaze. "Aku tetap mengirimkan uang untuk panti tapi aku tidak akan kembali lagi ke Jakarta!"


Samuel mencium punggung tangan Bu Mirna. "Sam, kembali ke Harvard Bu, bersama Blaze. Assalamualaikum."


Blaze yang sedang menyalami Bu Mirna, kebingungan ketika tangannya ditarik oleh Samuel.


"Sammy!"


"Kita pulang Blaze! Aku sudah cukup muak disini!"


***


Yuhuuuu Up Sore Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️