The Bianchis

The Bianchis
Jangan Ada Perang Baratayudha



Hotel tempat resepsi Dante dan Leia


Luke bergegas menuju lobby hotel meninggalkan Rin yang sedang mengobrol dengan Blaze bingung melihat kelakuan kekasihnya.


"Luke kemana itu Blaze?" tanya Rin saat melihat pria kulkas itu seperti mengejar setan. ( eh?! )


"Paling urusan Yakuza nya. Ngomong-ngomong Rin, bagaimana kamu bisa suka sama sepupuku yang super dingin macam hokkyokuguma ( beruang kutub )?"


Wajah Rin memerah. "Sebenarnya ini karena aku yang salah berucap malah aku yang mengalaminya."


"Memang kamu bilang apa?"


"Aku bilang pada Luke waktu itu kalau ada cewek yang mau dengannya berarti dia harus memiliki stok sabar dan tabah sama cowok dingin macam dia. Malah aku yang akhirnya dengan Luke."


Blaze tertawa. "Sepupuku memang menyebalkan tapi kalau dia sudah memilih bersamamu, aku jamin dia tidak akan berpaling. Luke itu mirip Oom Luca, wanita di kehidupannya hanya tiga, omanya, Tante Emi dan Leia." Blaze menatap gadis khas Jepang itu. "Dan mungkin akan bertambah kamu."


Rin semakin memerah wajahnya.


***


Luke bergegas menuju taman hotel dengan wajah dingin hingga Hidetoshi yang mengikutinya merasa ada hawa dingin di hadapannya.


"Muka Rata!" panggil Luke yang membuat Raffa melengos.


"Really? Sakura? Kakakmu itu memang over protective!" Raffa menatap sebal ke Luke yang berjalan mendekatinya.


"Wajar lah Moretti! Dia adalah kakakku!" sahut Sakura dingin. Garvita dan Gabriel hanya saling berpandangan menunggu kerusuhan yang akan terjadi. Terkadang Luke memang berlebihan menjaga adik-adik perempuannya.


"What are you doing ( apa yang kamu lakukan )?" tanya Luke ke Raffa setelah dirinya di meja taman.


"Aku hanya mengobrol dengan Sakura dan adikmu satu lagi... Garvita?" Raffa menatap ke arah Garvita yang mengangguk.


"Lebih baik kamu masuk!"


"Untuk apa Luke? Obyek yang aku cari ada disini." Raffa menatap lembut ke Sakura yang memilih memalingkan wajahnya dengan muka kesal.


"Seriously?" Luke pun langsung duduk diantara Raffa dan Sakura. "Dan sekarang obyek kamu terhalang olehku!"


Gabriel dan Garvita nyaris tergelak melihat cara Luke yang sedikit kekanakan. Hidetoshi hanya memegang pangkal hidungnya merasa gemas dengan bossnya yang bakalan hilang wibawanya jika berurusan dengan saudara perempuannya.


"Oh come on Luke! Adikmu single! Why not?" protes Raffa.


"No."


"Luke Bianchi!" Raffa menatap tajam ke arah Luke yang lebih tua tanpa ada rasa gentar.


"Apa? Kamu memilih masuk ke ballroom atau tetap seperti ini. Aku sih betah-betah saja" ucap Luke sinis.


Raffa memilih duduk dengan Luke diantara dirinya dan Sakura. Bangku taman itu memang berupa kursi batu panjang.


Garvita yang merasa jengah dengan keributan unfaedah tiga orang di hadapannya akhirnya mengajak Gabriel untuk kembali ke ballroom.


"Gab, kita ke dalam saja. Aku capek lihat mereka bertiga!" Garvita bangun dari duduknya dan menarik tangan pengawalnya yang hanya menurut kemauan nonanya.


***


"Raffa, apa kamu tahu kakakmu juga mengincar Sakura?" Luke menatap pria Italia di hadapannya.


"Tahu dan aku sudah memberikan bogem!" jawab Raffa membuat Luke dan Sakura menaikkan sebelah alisnya.


Sudah dimulai deh perang Baratayudha kecil. Luke menghela nafasnya. "Seriously, dia itu kakak kamu!"


"Tidak ada saudara kalau soal gadis yang disukai! Aku dulu yang suka pada Sakura dan si Alessandro, tidak berhak!"


"Raffa, Sakura tidak akan suka dirinya menjadi tropi yang harus diperebutkan oleh kalian berdua. Saranku, kalian berdua menjauhlah dari adikku karena dia bisa menghilang demi mencegah perang saudara. Oh, aku sudah memperingatkan kakakmu! Jangan sampai ada pertumpahan darah!" bisik Luke dingin di sisi telinga Raffa.


Raffa menatap Luke. "Apa maksudmu Sakura bisa menghilang?"


"Aku tidak mau paman Benigno dan bibi Marjorie harus mengubur salah satu dari kalian hanya gara-gara seorang gadis! That's so ridiculous ( itu sangat konyol )! Ini bukan jaman Shakespeare in love yang penuh tragedi, Raffa! Think about it!" Luke menepuk bahu Raffa lalu menyusul adiknya yang sudah berjalan bersama Hidetoshi meninggalkan Raffa yang masih termenung.


***


"Really, Sakura! Kamu pakai ajian apa sih membuat dua pria Moretti itu tergila-gila padamu?" ucap Luke setelah berjalan menjejeri Sakura.


Gadis itu berhenti lalu memukul bahu Luke keras. "Bang Lukie!" pekiknya kesal. "Kemarin mas Shin bilang aku pakai susuk apa! Sekarang bang Lukie! Astaghfirullah! Kalian tuh ya!" Sakura pun berjalan lebar-lebar dengan sedikit menghentak tanda dia marah meninggalkan Luke dan Hidetoshi yang melongo.


"Ouch! Dia makin kuat saja!" ucap Luke sambil mengusap bahunya yang dipukul adiknya.


"Really Luke? Kamu kira adikmu pakai ajian pemikat pria? Macam potion gitu? Aku sudah bilang, matanya Sakura itu yang menjadi daya tarik tersendiri Luke!" ucao Hidetoshi.


"You've got be kidding!"


"Nope Luke. Dan itu faktanya. Pria manapun kecuali keluarganya sendiri dan pria yang sudah memiliki pasangan, pasti akan tertarik dengan adikmu."


Luke hanya memandangi adiknya yang sudah masuk ke dalam lift. "Masa sih?"


***


Dante dan Leia menemui banyak tamu undangan yang sangat menikmati acara resepsi pernikahan mereka. Pasangan itu tampak bahagia terutama Dante yang tidak menyembunyikan posesif nya ke Leia saat bertemu dengan Omar Zidane membuat istrinya jengah.


"Dante, aku sudah bersedia menikah denganmu, dan kamu sudah mengucapkan ijab qobul di depan Daddy. Kenapa sih kamu masih tidak percaya?" hardik Leia kesal yang malam itu mengenakan gaun pengantin simpel bewarna putih gading.


"Aku hanya tidak mau ini sekedar mimpi indah dan tiba-tiba aku terbangun. Menikah denganmu, hidup bersamamu, memiliki anak bersamamu, menikmati kehidupan berkeluarga bersama-sama dengan kekacauan anak-anak kita nanti hingga mereka dewasa dan kita menua bersama, adalah keinginan ku dengan wanita yang kucintai... Adduuuhhh!" Dante merasakan pinggangnya dicubit oleh Leia.


"Kamu tidak mimpi Dante, karena jika kamu dicubit merasa sakit, itu adalah kenyataan." Leia mencium bibir Dante lembut. "Kamu merasakan ciuman ku kan?"


"Tentu saja Signora Mancini..." Dante gantian mencium bibir istrinya sedikit panas dan untungnya dia masih waras mengingat dirinya berada dimana. "Apakah kamu mau memakai nama belakangku atau..."


"Tetap Bianchi!" Leia menatap serius ke Dante.


"What?"


"Meskipun aku menikah dengan seorang Mancini, aku tetap memakai Bianchi sebagai nama belakangku. Sekali Bianchi tetaplah seorang Bianchi!" jawab Leia tegas.


"Terserah anda saja Signora tapi yang jelas kamu adalah milikku dan aku adalah milikmu..." Dante mencium bibir Leia lagi.


"Sabar dikit kenapa sih! Bikin sebal saja!"


Dante dan Leia menoleh ke arah suara itu.


***



Bonus Neng Sakura


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️