The Bianchis

The Bianchis
The Bianchis : Mafia Turin v Kartel



Mobil Pengamat FBI


Alexis tampak ingin menghajar Harland yang berani - beraninya main cium rahang gadis itu. Meskipun dia tahu itu hanya akting, tapi itu beneran nempel tangan sama bibir! Baru kali ini Alexis merasakan cemburu dan marah luar biasa ke seorang gadis yang bukan apa-apanya tapi ada rasa tidak rela melihatnya.


"Tahan emosimu, Accardi" ucap Omar dingin. "Resiko sebagai umpan seperti itu."


"Tapi tidak dipegang dan dicium juga!" sungut Alexis kesal.


"Kamu naksir Raveena, ya Al?" goda Billy yang tahu dua sepupu itu tidak memiliki perasaan lebih padanya.


Alexis menoleh ke arah Billy. "Siapa yang naksir?"


"Hehehehe" kekeh Billy yang terdengar menyebalkan.


"Para anak buah kartel sudah mulai masuk ke dalam hotel. Kalian semua berhati-hati. Aku rasa Harland sudah gelap mata karena sumber uangnya yang paling besar sudah hilang. Dikira keluarga kalian akan diam saja jika terjadi sesuatu" ucap Omar di microphone nya.


"Berapa totalnya Omar?" tanya Luke.


"50ish kira-kira."


"Veena?"


"Sedang melaksanakan plan A dan sejujurnya, aku tidak mau dicium sepupumu dengan kondisi seperti itu." Omar dan Billy bergidik sedangkan Luke tertawa tertahan.


***


Kamar Harland Rochester


Bibir Harland mulai menciumi ceruk leher Raveena yang harus menahan rasa jijik demi plan A yang dibuatnya bersama keluarganya sebelumnya.


"Harland..." panggilnya lembut.


"Ya baby?" Harland sedikit terusik karena terganggu konsentrasinya menciumi gadis milik Luca Bianchi itu.


"Aku butuh kacamu..." Raveena berjalan menuju kaca besar dan membuka tas clutch nya.


"Untuk apa?" Harland mengikuti gadis itu dan memegang pan*tatnya yang semok.


"Memakai lipstikku." Raveena memoleskan bibirnya dengan lipstik bewarna merah menyala itu lalu berbalik ke arah Harland dengan gaya menggoda dengan menurunkan satu tali gaunnya dari bahunya.


Harland tampak melepaskan kemejanya yang menunjukkan bulu-bulu di dadanya dan tanpa ba-bi-bu, bibirnya langsung ******* bibir seksih Raveena. Gadis itu menaikkan sebelah kakinya untuk mengunci paha Harland sambil tetap memberikan ciuman.


Tiba-tiba tak lama kemudian tubuh Harland melemas dan langsung ambruk diatas lantai dengan kondisi tidak sadarkan diri.


"Huweeeekkk!" umpat Raveena sambil mengambil tissue lalu melepaskan lapisan yang menutupi bibirnya. "Huweeeekkk! That's so groooossss!"


"Are you okay princess?" tanya Alexis.


"NO I'M NOT!" Raveena menggoyangkan tubuhnya seolah ingin menghilangkan rasa Harland disana. "Gila Tante Moon! Dia kasih bisa apa sih? Black Mamba?"


"Dia pingsan Veena?" tanya Luke di earpiece.


"Yup. Dan aku rasa dia tidak akan bangun sampai dua hari." Raveena lalu mengambil sebuah suntikan bius dosis tinggi. "Buat jaga-jaga" ucapnya sambil menyuntikkan obat itu di balik telinga Harland.


"Dia bisa overdosis lho Veena" ucap Omar.


"Bomat!" balas Raveena judes. "Duh, rasanya aku ingin berendam, sikat gigi sepuluh kali dan berkumur lima kali!"


Suara tawa Omar dan Billy terdengar di earpiece Raveena.


"Kami akan segera kesana Princess" ucap Alexis.


***


Turin Royal Palace Hotel Italia


Para pasukan kartel dan Triad yang merasa dirugikan akibat barang yang akan mereka jual hancur lebur di pabrik milik Rochester, menunggu di depan ballroom yang menjadi ajang nonton film promo MGM.


Luca Bianchi yang keluar bersama dengan si kembar, Dante dan Maggie, hanya menatap kerumunan orang - orang di sana dengan tenang.


"Kalian mau apa?" tanya Luca dengan bahasa Spanyol.


"Kamu dan keluargamu!" ucap salah satu pemimpin kartel.


"Alasannya?"


"Kalian sudah menghancurkan pabrik kami di Mexico."


Luca berjalan diikuti oleh keluarganya menuju halaman depan hotel yang luas dan disana sudah berkumpul anak buah keluarga Bianchi dan Mancini.


"So, apa yang kalian inginkan? Ganti rugi? Mintalah pada pemerintah Mexico karena mereka yang menyatakan pabrik itu meledak akibat kebocoran gas." Luca menatap satu persatu orang-orang disana.


"Ingat, kalian tidak punya kekuasaan disini karena Turin adalah tanah milik keluarga Bianchi dan Mancini. Pemerintah Italia pun tidak akan tinggal diam." Dante menatap dingin kesemua orang disana. "Dan orang yang bertanggung jawab adalah Harland Rochester. Dia yang seharusnya kalian bawa, bukan kami!"


"Dimana Harland sekarang?"


Luca mengedikkan dagunya ke arah pintu lobby hotel. "Ditahan oleh FBI." Tampak Harland duduk di kursi roda dengan tangan terborgol dengan dikawal Omar Zidane dan Billy Boyd yang memakai jaket FBI.



Omar Zidane


Para kartel dan triad disana tertawa terbahak-bahak. "Kalian bawa-bawa FBI? Bahkan FBI pun kami kuasai!"


"Yang kalian kuasai hanya kepalanya tapi di badannya masih banyak yang bermutasi. Dan tenang saja, kepala-kepala mereka sudah kami putus!" sahut Omar dingin.


"Bawa saja Harland! Kalian mau hancurkan keluarga Rochester terserah karena resiko dia berhubungan dengan kalian! Tapi aku peringatkan, jangan sekali-kali kalian menginjak Turin! Karena kami tidak segan-segan menghabisi kalian jika macam-macam disini!" ancam Antonio.


Para kartel itu tampak gamang. "Kalian tidak akan berani..."


Syuunggg !


"Aaaaaahhhh!" suara teriakan terdengar di gerombolan kartel dan tampak tiga orang berdarah di bagian bahu.


"Aku tertembak! Aku tertembak!" teriaknya.


Reflek para kartel mengeluarkan senjata mereka.


"Kalian tidak akan menang. Kami sudah memindai kalian. Light them up!" ucap Luca. Dan tampak diatas mereka ratusan drone tanpa suara sudah berada disana lengkap dengan senjata yang terarah kearah orang-orang kartel itu.



"Kalau kalian mau pembantaian disini, silahkan tapi tetap saja kalian mati konyol tanpa bisa mendapatkan penggantian kerugian. Kalian habis dengan sendirinya tanpa mendapatkan apapun." Luca menyeringai.


Sergio memanggil dua orang dokter yang sudah disiapkan untuk mengobati orang-orang yang ditembak drone tadi.


"Kalian gila!" umpat salah satu pemimpin kartel emosi.


"Kalau kami tidak gila, kami tidak bisa memimpin klan Bianchi dan Mancini sekian abad!" balas Luca judes.


"Bawa saja Harland. Hancurkan keluarganya karena kami tidak ada urusannya dengan kalian! Apakah keluarga kami menyenggol anda sebelumnya? Tidak kan?" sambung Dante.


"Mancini, dia harus dibawa ke FBI!" teriak Omar.


"No Omar. Disana sedang ada pembersihan besar-besaran, kalian dibutuhkan di New York!" jawab Luca. "Biar Harland diurus oleh para kartel!"


"Apa maksudmu Bianchi?" ucap salah satu anggota kartel itu.


"Buka ponsel kalian masing-masing!"


Semua orang membuka ponsel mereka dan muncul berita bahwa pemerintah Amerika Serikat melakukan pembersihan massal ke semua Law enforcement termasuk FBI, CIA, DEA, LAPD, NYPD hingga ke akar-akarnya. Tampak para petinggi ditangkap di masing-masing negara bagian bahkan beberapa diantara mereka ditembak mati karena melakukan perlawanan saat hendak ditangkap.


"Masih mengira kalian bisa lepas dari law enforcement Amerika? Aku kasih tahu ya, pada saat kalian mengikuti perintah Harland kemari untuk menghabisi kami, pemerintah Amerika Serikat melaksanakan operasi cleansing besar-besaran. Jadi, kalian kemari untuk bisa merebut tanah milik kami itu adalah sia-sia" kekeh Luca. "Yang ada kalian menyerahkan nyawa ke kami."


Para kartel terkejut ketika melihat banyaknya polisi dan tentara Italia yang sudah mengepung disana.


"Pilihan kalian ada dua. Satu, bawa pergi Harland dan kami tidak mau tahu kalian gimana atau yang kedua, kalian semua ditahan di Turin dan tidak bisa dideportasi hingga membusuk di penjara karena kalian berencana melakukan aksi pembunuh massal disini. Pilih mana?" Luca menatap tajam.


"Kami akan bawa Harland."


"Bagus! Dan jika kalian membutuhkan piranha hitam, bisa hubungi aku" tukas Luke.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


Maaf nggak jadi baku hantam.