
Mansion Bianchi Turin Italia
"Raveena!"
Raveena yang sedang auto judes ke Alexis, menoleh saat melihat Luca Bianchi disana.
"Oom Luca!" Putri Pandu Dewanata dan Reana O'Grady itu langsung memeluk Luca.
"Makasih lho kamu mau datang kemari" senyum Luca sambil mencium pipi keponakannya.
"Sama-sama Oom Luca. Mbak Leia mana?"
"Apa cari aku?" Leia pun turun dari tangga dengan tangan masih menggunakan arm sling. "Lha bisa barengan sama Alexis ya?"
"Satu pesawat dan sebelahan duduknya malah Signora Bianchi" senyum Alexis.
"Dan cumi satu ini nggak bilang kalau dia asisten nya Bang Antonio! Nyebelin kan?" sungut Raveena.
"Eh udah nggak usah marah-marah. Kamu tuh macam Oma Kaia saja kalau sudah ngomel" kekeh Luke. "Ayo, kita ke ruang tengah. Kamu lapar nggak Veena?"
"Lapar lah! Ada makanan apa?" Raveena merangkul bahu Luke.
"Lasagna mau?"
"Porsi besar kan?"
"Yup!"
"Mau lah!"
Alexis berbisik ke Leia. "Signora, apakah semua wanita di keluarga anda doyan makan?"
Leia menoleh ke asisten sepupunya. "Ohya, kita semua doyan makan dan doyan berantem juga" jawab Leia sambil berjalan masuk.
***
Raveena menyantap lasagna yang dibuatkan oleh Bibi Lusia dan gadis itu langsung memuji betapa enak masakannya.
"Kalau kurang, masih ada kok di Signora Raveena" ucap kepala pelayan di mansion Bianchi itu.
"Oke bibi, aku kalau sudah ketemu lasagna, suka khilaf" senyum Raveena yang membuat Alexis terkesima melihat wajah cantik tapi judes itu.
Raveena Dewanata
"Veena kalau ketemu lasagna... Udah deh!" kekeh Luca.
"Biarpun aku tidak ada darah Italia, tapi aku penggemar masakan italia" sahut Raveena sambil memakan lasagna nya.
"Signor Luca Bianchi, sebenarnya ada urusan apa Signora Raveena datang ke Turin?" Alexis langsung kepo.
"Dia akan menjadi umpan untuk mendekati Harland. Nanti rencananya Raveena akan menjadi teman kencan Luke, apalagi wajah Raveena adalah tipe Harland, khas California girl. Veena masuk ke kamar Harland lalu mengkloning semua gadget yang dimilikinya."
"Apakah FBI tidak pernah melakukan penyamaran seperti itu? Bukankah membahayakan keselamatan Signora Raveena?" Jujur Alexis tidak ikhlas gadis cantik yang masih asyik makan lasagna disentuh tangan kotor produser film itu.
"FBI dan LAPD pernah melakukan penyamaran itu tapi berakhir dengan kegagalan" jawab Luca.
"Kenapa Signor Luca Bianchi yakin kalau Signora Raveena akan berhasil?" cecar Alexis yang merasa tidak rela melihat cicit Duncan Blair itu akan menempuh tugas berbahaya.
"Karena aku adalah seorang penyihir" seringai Raveena.
"Haaaaahhh?"
"Raveena itu adalah seorang aktris teater di kampusnya jadi soal akting tidak perlu diragukan lagi." Luke menatap Alexis dan dirinya bisa meraba kalau asisten sepupunya ada rasa tidak rela Raveena menjadi umpan.
Alexis hanya menatap keluarga Bianchi itu datar untuk menutupi rasa keberatannya.
"Raveena. Sudah datang?" terdengar suara Antonio yang masuk ke ruang tengah.
"Halo bang." Antonio mencium pipi Raveena. "Pantas mbak Leia betah di Turin, masakan Italia memang enak semua!"
"Kamu pindah sini gimana?" goda Antonio.
"Nggak lah! Aku kan mau masuk Quantico."
"Haaaaahhh?" seru semua orang disana kecuali Alexis yang sudah tahu keinginan gadis itu.
***
"Papamu apa kabar kalau kamu masuk ke Quantico?" Luca menatap keponakannya yang mengambil porsi lasagna ketiga. Mereka semua sedang menikmati makan siang dengan menu beef stew tapi Raveena memilih lasagna.
"Papa sih nggak komentar, mama cuma tepok jidat."
"Kamu kapan lulus?" tanya Luke.
"Tahun depan udah lulus. Rencana sih mau ambil Magister tapi nanti aku nggak bisa daftar Quantico."
"Deya ambil perkembangan anak, sama dengan mbak Zee. Deya fokus buat anak-anak berkebutuhan khusus seperti dirinya agar tetap percaya diri." Raveena menoleh ke arah Antonio. "Deya titip salam buat bang Antonio."
"Ciiieeeeee!" goda Luke dan Leia yang membuat wajah Antonio memerah.
"Ya ampun, Antonio! Deya masih bayi!" gelak Luca yang geli melihat keponakannya malu.
"Jalanmu berat Tomat! Soalnya aku nggak yakin Oom Rama dan Tante Astuti mau menerima kamu!" kekeh Luke.
"Apaan sih! Eh apa benar Deya titip salam sama aku?"
Sontak semua orang di meja makan tertawa terbahak-bahak.
"Oom-oom pedofil!" gelak Luke.
"Brengsek kau Luke!" umpat Antonio.
"Apa nggak ada cewek lain, Antonio?" tanya Luca.
"Nggak ada Oom Luca. Aku...beneran jatuh cinta dengan Deya."
"Kamu tahu kan syarat nya?" Luca menatap Antonio serius.
"I know. Dan saya sedang mencarinya."
"Good."
***
Kamar Leia Bianchi
"Gimana hubungan mbak Leia sama Dante Inferno?" tanya Raveena sambil meminum juice jeruk nya.
"Nggak gimana-gimana. Kenapa?"
"Kayaknya tuh orang beneran serius ngejar elu mbak. Biarpun udah kena tendang hidden gem nya tapi masih pengen elu dan datang ke Tokyo ketemu sama kalian berempat... Wow! Punya nyali benar!"
Leia hanya diam mendengarkan ocehan sepupunya. Dirinya menyibukkan diri dengan membuka dark web yang membuat Raveena kepo.
"Hah? Mbak Leia kontak-kontakan sama Opa Bryan? Katanya Opa sudah pengen istirahat, kok malah masih kepo sih?"
"Opa katanya bosan Veena jadi pas aku mau masuk dark web, ketahuan sama Opa Bryan jadinya kita kerjasama deh. Kata Oma Briana, biar opa semangat lagi."
"Iya sih kalau sudah pensiun, kadang suka bingung mau ngapain. Untung Opa Rhett sama Oma Kaia hobinya jalan-jalan jadi setiap weekend pasti pergi pondok yang dulu dibangun Oma Yuna."
"Oma Kaia dan Opa Rhett berdua saja?" tanya Leia yang tahu pondok itu harus memakai telepon satelit kalau berkomunikasi.
"Nggak lah! Papa dan mama sama Oom Abi, kasih pengawal buat mereka. Lagipula bawa si Ombre, anjing corgi peliharaan mereka."
Ombre the Corgi
"Veena, corgi bisa apa? Bokongnya saja yang seksoi" gelak Leia mengingat anjing kesayangan ratu Elizabeth dari Inggris itu.
"Jangan salah, Ombre galak lho! Apalagi kalau sama orang asing, beeeuuu berisik gonggongannya. Bisa jadi anjing penjaga dia meskipun kakinya pendek."
"Leia, ini denah hotel nya" ucap Bryan Smith yang berada di layar MacBook Leia yang satu lagi. "Lho Raveena? Kapan datang kamu?"
"Halo Opa. Tadi jam sepuluh aku sampai sini. Opa sehat?" sapa Raveena manis.
"Puji Tuhan sehat apalagi sekarang cari aib orang lagi. Ternyata Opa memang ogah pensiun" gelak Bryan, bontot generasi keempat.
"Kan bisa main sama Gio" ucap Raveena.
"Ah Gio kan nggak setiap hari ketemu. Ohya, hati-hati kamu besok misinya. Harland Rochester itu orang berbahaya."
"Njih Opa" jawab Raveena.
"Ini kamar yang bakalan dipakai Harland kah Opa?" tanya Leia.
"Iya. Paket dari Geun-moon sudah sampai belum?" tanya Bryan.
"Besok katanya sampai."
"Bagus! Ada waktu untuk memasang semua penyadap disana! Ternyata punya menantu sama jeniusnya dengan aku menyenangkan ya?" kekeh Bryan.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️