The Bianchis

The Bianchis
Nadira McCloud : Ke Gedung FBI



Kediaman Keluarga Rajendra McCloud New York



Rajendra menatap pria di hadapannya dengan tatapan menyelidik. Perasannya mengatakan pria di hadapannya bukan sekedar mahasiswa biasa. Gemblengan sejak kecil apalagi dirinya pernah diculik oleh saudara Thara Blair, membuat dirinya jauh lebih bisa menilai aura seseorang.


"Saya memang agak terlambat kuliah, Mr McCloud" jawab Pedro.


"Siapa namamu tadi?"


"Pedro Pascal."


"Oke. Sudah kamu pulang sana. Sudah malam." Rajendra mengusir pria itu.


"Baik Sir."


"Terimakasih sudah mengantarkan Nadira."


"Sama-sama Sir."


Rajendra menutup pintu rumahnya dan Pedro pun meninggalkan bangunan apartemen yang dikenal area mahal Manhattan.


Wajah tampannya mendongak melihat Nadira berdiri didepan jendela kamarnya. Pedro memberikan kiss bye yang membuat Nadira menutup gorden kamarnya. Pedro tersenyum sendiri merasa bahagia malam ini, meskipun menegangkan tapi dia berhasil mendapatkan bibir ranum Nadira.


Fix! Aku akan melindungi Nadira dengan nyawaku.


***


Pagi harinya ...


"Siapa yang mengantarkanmu semalam, Nadira?" tanya Rajendra tanpa basa basi.


"Pedro Pascal, Dad. Salah seorang mahasiswa ku."


"Kok bisa mahasiswa mu mengantar kamu?" tanya Aruna. Pagi itu keluarga McCloud memang hanya sarapan bertiga karena si bontot Eagle, memilih kuliah di Oxford sembari menemani Opa dan Omanya, Arjuna dan Sekar.


"Aku kuliah sampai malam, dia juga ada belajar kelompok. Lihat aku pulang sendirian, diantar lah sama dia." Nadira tidak mau kedua orangtuanya panik mendengar bahwa ada ancaman b*m di kampus nya.


"Sepertinya dia mahasiswa yang telat kuliah" komentar Rajendra.


"Bisa jadi dia tidak ada biaya mas. Jadi baru bisa kuliah sekarang" balas Aruna lembut.


"Iya, Dad. Tidak semua seperti keluarga kita yang kekayaannya tidak habis" sahut Nadira. Dia tidak mau ayahnya semakin mendesak lagi.


"Ohya mas, kabarnya Zee sudah keluar dari Belgia. Gasendra dan Jasmine yang mengawal" ucap Aruna mengganti topik pembicaraan.


"Baguslah! Sean bagaimana?" Rajendra menatap istrinya yang masih cantik dengan hijabnya yang bewarna hijau zamrud. Pagi ini dirinya dan Aruna memang hendak memeriksa semua RR's Meal di New York.


"Remuk redam lah mas. Ditinggal istri."


"Biar Sean tahu rasa bahwa dirinya harus berpikir lebih rasional lagi. Masa Zee seperti itu!" Rajendra tampak geram. Dirinya adalah satu dari sekian Oom Zinnia yang kecewa dengan Sean. Beruntung Benji tidak langsung terbang ke Belgia buat bejek-bejek suami keponakan kesayangannya.


"Namanya orang kaget jadinya kan tidak bisa berpikir jernih, mas." Aruna mengusap bahu suaminya yang sudah dikenalnya sejak TK.


"Aku nanti ke rumah Oom Benji ya. Kangen Tante Moon dan Gio" ijin Nadira.


"Kamu nggak ada kuliah hari ini?" tanya Aruna.


"Nggak ada mommy."


"Ya sudah hati-hati."


***


Apartemen Benjiro Smith Central Park


Geun-moon mempersilahkan keponakannya masuk sambil menggandeng putranya, Giordano yang berusia lima tahun. Bocah tampan yang mirip dengan sang Daddy itu langsung meminta gendong Nadira Noona nya.


"Noona, gendong" pinta Giordano.


"Ih Gio udah Gedhe masih minta gendong!" tegur Geun-moon sambil tertawa.


"Sini Noona gendong" Nadira menggendong Gio yang wajahnya bule tapi berambut hitam seperti Geun-moon.


"Nadira! Tumben main, biasanya berkumpul dengan Aristoteles" ledek Benji yang membuat Nadira manyun.


"Oom Benji gitu ih!"


Geun-moon hanya tertawa melihat keduanya. "Kalian tuh lho."


"Ada apa Nadira. Kamu butuh aib dosenmu?" tanya Benji setelah semua nya duduk di ruang tengah. Hari ini Benji dan Geun-moon memang ingin di rumah saja menikmati libur sehari.


"Pedro Angel Pascal."


Benji dan Geun-moon melongo. "Siapa lagi itu Nad?" tanya Geun-moon, wanita cantik berdarah Korea Selatan.


"Mahasiswa ku yang menyamar. Aslinya dia agen FBI."


Mata biru Benji semakin membulat sempurna. "Tunggu, Oom ambil Mac dulu." Benji mengambil laptopnya dan segera jari si bontot generasi kelima itu bermain dengan lincah disana.


"Iya! Benar dia agen FBI?" Nadira menatap tidak percaya dan Gio pun ikut-ikutan Noona nya.


"Dia agen FBI bagian kekerasan domestik dan salah satu ahli penjinak b*m." Benji menatap tajam ke Nadira. "Ngapain dia di NYU? Apakah akan ada sesuatu disana, Nadira?"


Nadira hanya terdiam.


***


FBI Building , Federal Plaza, New York


Benji dan Nadira mendatangi gedung FBI bersama. Tanpa kesulitan mereka pun masuk ke dalam gedung yang dikenal ketat keamanannya namun karena Benji adalah salah satu konsultan law enforcement di Amerika, maka mereka mendapatkan ijin.


"Mr Smith. Benji!" Isobel De Garza datang menghampiri Benjiro Smith.


"Isobel. Kamu hutang penjelasan." Benji menatap wanita cantik khas Spanyol itu sambil manyun.


"Ah come on Benji. Kamu sama seperti Aruna kalau penasaran" kekeh Isobel. "Ayo masuk. Nadira, apa kabar?"


Nadira yang sedang mengagumi ruang kerja para agen FBI tergagap. "Baik Tante Isobel."


"Kamu baru pertama kali masuk sini ya?" Isobel dan Nadira saling berpelukan. "Pedro ada di sudut sana, sedang mempelajari CCTV."


Nadira menatap sebuah punggung lebar mengenakan kemeja putih yang membelakanginya.


"Come on Benji, aku jelaskan semuanya di kantorku." Isobel mengajak Benji masuk. "Kamu bersama Pedro ya, Nadira. Diskusi kan hasil semalam."


Nadira mengangguk dan melihat Oomnya berjalan mengikuti Isobel. Gadis itu mengacuhkan tatapan bertanya para agen yang disana dan berjalan menuju meja Pedro yang berada di sudut dekat jendela.



Nadira menatap wajah serius Pedro dari samping dan tiba-tiba wajahnya memerah mengingat semalam pria itu menciumnya lembut.


Sadar Nadira! Cuma emosi sesaat doang!


Gadis itu berdehem dan Pedro menoleh melihat sosok Nadira berdiri di hadapannya.



"Hai" sapa Nadira.


Pedro melongo tidak percaya. "Na... Nadira? What are you doing in here?"


"Ikut Oom Benji."


"Dimana Benjiro Smith sekarang?"


"Bersama Tante Isobel."


Pedro melongok ke arah ruang Isobel yang tampak sedang berdiskusi dengan seorang pria berambut cokelat.


"Apakah Mr Smith tahu?" Pedro menatap gadis cantik itu.


"Tahu apa?" Nadira memasang wajahnya polos.


"Tahu aku mencium kamu semalam?" Nadira langsung memukul bahu kekar Pedro keras-keras. "Astagaaa! Nadira!"


Semua rekan Pedro melongo melihat interaksi putri chef terkenal itu dengan salah satu agen yang dikenal dingin dengan wanita tapi bisa ribut tidak jelas dengan seorang gadis.


"Tentu saja tidak, Pedro!" Wajah Nadira tampak memerah. "Oom Benji berhasil tahu siapa kamu dan bisa menyimpulkan."


"Menyimpulkan apa Nadira?" Mata hijau Pedro tampak melembut saat menatap mata coklat gadis itu.


"Bahwa akan ada kejadian di NYU karena tahu kamu adalah salah satu agen yang masuk dalam penjinak b*m. Aku tidak bisa menyembunyikan hal itu dari Oom Benji karena dia akan mencari tahu bagaimana pun caranya."


Pedro tersenyum smirk. "Keluarga mu memang selalu heboh dari dulu!"


"Bagaimana hasil penyelidikan kamu?" Nadira mendekati layar monitor Pedro yang menunjukkan dua unsub disana.


Nafas Pedro langsung berantakan ketika hidung mancungnya mencium aroma parfum milik Nadira yang mulai dihapalnya.


Dios mío! Cobaan apa lagi ini ya Tuhan!


***



Bonus empat generasi McCloud


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote gift and comment


Tararengkyu ❤️🙂❤️