
Kediaman Keluarga Takara
Leia dan Dante tiba di rumah keluarga Takara yang disambut oleh Fumiko hangat. Takeshi Takara yang berjalan menggunakan tongkat langsung bahagia melihat cucu kesayangannya datang meskipun masih suasana bulan madu.
"Oh cucuku paling cantik karena memang satu-satunya..."
"Ojisan! Masih ada Sakura" tegur Leia mengingatkan cucu dari Fumiko.
"Ah anak itu ... Sakura cucu brutal" cebik Takeshi yang membuat Fumiko mendelik.
"Obasan, jangan dengarkan ojisan. Dia memang sering aneh-aneh" senyum Leia sambil memeluk ibu Hideo Kojima Park itu.
"Obasan sudah biasa. Bagaimana bulan madunya?" goda Fumiko.
"It's awesome. Leia memang awe... Adduuuhhh!" Dante memegang bahunya yang kena pukul Takeshi dengan tongkatnya.
"Mancini-san, Takara-sama tidak suka jika anda terlalu vulgar menceritakan soal Leia-san" ucap Shiki, asisten Takeshi dengan dingin.
"Kamu! Kamu saya ijinkan menikah dengan Leia tapi tidak diceritakan soal urusan ranjang disini!" hardik Takeshi kesal.
"Saya tidak bicara soal urusan ranjang, saya hanya bilang Leia wanita luar biasa!" jawab Dante sambil cemberut.
Leia dan Fumiko hanya melengos malas melihat kejulidan Takeshi yang tidak juga menghilang meskipun sudah berumur.
"Yuk kita makan siang dulu. Biarkan suamimu dan suami obasan ribut sendiri" kekeh Fumiko. "Setidaknya ojisan kamu punya semangat, Leia. Obasan sedih melihat terkadang opamu itu seperti tidak ada semangat."
"Ojisan galau, karena aku sudah menikah. Kan obasan tahu, ojisan merasa cucu perempuannya diambil orang" senyum Leia.
"Iya, mana Sakura kalau disini isinya gelut dengan Takeshi. Apalagi Shinichi, ribut tidak jelas deh mereka" kekeh Fumiko. "Sedangkan kalau sama kamu, Takeshi sedikit kalem."
"Karena aku pasti akan mengancam ojisan tidak akan membuatkan bubur kalau usil" gelak Leia.
"Obasan memang tidak bisa membuat bubur seperti kamu meskipun sudah memakai caramu. Kata Takeshi, ada yang kurang. Ah, sudahlah, memang akal-akalan Takeshi saja supaya dekat dengan kamu."
"Obasan tidak apa-apa? Leia takut jika obasan merasa tersaingi..."
"Oh Leia sayang, Obasan tahu kalian sangat dekat jadi bukan suatu hal yang membuat tidak nyaman." Fumiko merangkul Leia hangat. "Obasan tidak tahu usia kita sampai kapan jadi buat apa berpikiran negatif malah menjadi toxic dan sumber penyakit saja."
"Obasan sangat bijaksana" senyum Leia.
"Kehidupan yang membentuk kita harus berpikir mana yang harus dipikir mana yang tidak."
Keduanya terdiam ketika mendengar keributan antara Takeshi dan Dante, entah soal apa.
"Ya ampun, dari tadi belum selesai?" keluh Fumiko kesal.
Leia hanya tertawa.
***
Keempat orang berbeda usia itu sekarang duduk di meja makan dan tampak Takeshi menatap tajam ke Dante, begitu juga sebaliknya. Leia dan Fumiko hanya menggelengkan kepalanya melihat dua pria yang sama-sama kepala batu.
"Kamu nanti nginap sini tidak Leia?" tanya Takeshi ke cucunya.
Leia menatap ke Dante yang seolah memberikan kode 'Jangan menginap!'. "Nggak ojisan, Leia dan Dante kembali ke hotel. Kan sayang kalau tidak dipakai."
Takeshi pun cemberut.
"Misi membuat cicit, Signor Takara" sambung Dante membuat Takeshi semakin judes.
"Kamu itu! Dapat enaknya saja! Cucu cantik aku, kamu ambil terus nanti kamu bawa ke Turin!"
"Ya ampun, Signor Takara, Opa, wajar dong kalau Leia pergi ke Turin dengan saya karena saya suaminya dan Leia juga memiliki bisnis disana."
"Kamu tuh! Leia, kok bisa sih kamu menikah dengan pria egois macam dia?" Takeshi menunjuk ke Dante dengan sumpit.
"Oh astagaaa! Ojisan!" tegur Leia gemas karena opanya makin tua makin gaje aka gak jelas.
"Va bene Leila. Posso gestire tuo nonno ( tidak apa-apa Leia. Aku masih bisa menghadapi opamu )" senyum Dante sambil menggenggam tangan Leia lembut.
"Oh please, jangan gunakan bahasa spaghetti, pizza, carbonara, fettuccine atau ravioli disini!" sungut Takeshi kesal.
"Ojisan. Aku dan Dante akan di Tokyo selama seminggu lalu kami kembali ke Turin. So, aku minta selama seminggu ini, Ojisan jangan julid deh!" Leia menatap tajam ke Takeshi.
Takeshi langsung kicep melihat cucunya judes.
***
"Dante, bisa bicara sebentar?" ajak Marco dan Mario Bianchi sebagai tetua keluarga Bianchi.
"Baik Opa." Dante menoleh ke arah Leia. "Aku menemui opa-opa mu dulu sayang" pamitnya sambil mencium pipi istrinya.
"Oke sayang." Leia pun tersenyum seraya melihat suaminya berjalan bersama kedua Opanya yang sudah sepuh itu. "Jangan berantem lho ya."
Marco melirik judes ke cucunya yang hanya nyengir.
"So, bagaimana malam pertamanya?" goda Marissa ke cucunya.
"Ish, Oma..." Wajah Leia langsung memerah.
"Mar, Leia baru tahu kalau pria Italia itu memang pecinta sejati deh" kekeh Josephine. "Macam kita dulu."
Marissa tertawa. "Eh tapi apa benar Sakura dikejar-kejar pria Italia juga?"
"Iya Oma. Luke dan Shinichi berusaha melindungi Sakura."
"Memang deh kalian itu" senyum Marissa. "So, rencana kamu gimana? Jadi Minggu depan kembali ke Turin?"
"Jadi Oma dan Leia akan tinggal di mansion milik Dante."
"Apa nama belakangmu akan berganti Mancini?"
"No, Oma Jo. Leia tetap memakai nama Binachi, tidak memakai nama Mancini. Karena sekali Bianchi tetap Bianchi."
"Lagipula urusan perkebunan anggur keluarga Bianchi jadi rempong karena Leia pakai nama Mancini. Nanti malah dikira merger dan Antonio bisa kebakaran jenggot!" ujar Marissa.
"Tapi anak itu serius mengejar Deya? Kemarin Rama bilang apa?" Josephine bertanya pada kembarannya.
"Rama tidak cerita apa-apa sama Astuti tapi tampaknya Antonio masih ditolak sih" gumam Josephine.
"Lagian Antonio juga aneh-aneh, jatuh cinta kok sama Deya." Marissa menggelengkan kepalanya.
"Mungkin si Tomat melihat ada kriteria cewek yang dicarinya ada di Deya" celetuk Leia.
"Deya itu gambarannya Oma Rain, boleh dibilang perpaduan antara Oma Rain dan Astuti. Oma Rain itu orangnya lembut, selalu melihat orang lain baik tapi keras kepala. Mirip kan sama Deya?"
"Iya sih..." gumam Leia. "Deya malah lebih dewasa daripada trio cewek nggak jelas itu!"
"Siapa maksudmu?"
"Jules, Garvita dan Sakura. Mereka kan suka seenaknya sendiri. Aku tidak memasukkan Arabella karena dia sudah klaim bahwa Arka adalah jodohnya. Deya itu pola pikirnya nggak macam trio bahlul yang sering Membagongkan!" sungut Leia.
"Leia, apa kamu lupa? Kamu, Zee, Blaze dan Nadira juga sama lho! Kalian malah kwartet gak jelas!" gelak Marissa.
"Eh?" Leia menepuk jidatnya. "Ya Allah, aku dan mereka bertiga sama berantakannya ya?"
"Ngaca makanya Leia" gelak Josephine.
***
Ruang Kerja Luca Bianchi
Marco dan Mario Bianchi menatap cucu menantu mereka dengan tatapan serius.
"Dante..."
"Ya Opa."
"Apa Leia akan memakai nama Mancini di belakang namanya?" tanya Mario.
"Tidak Opa. Leia tetap bersikukuh memakai Bianchi karena katanya sekali Bianchi tetaplah seorang Bianchi. Lagipula, saya juga setuju terutama di bidang bisnis anggur. Saya dan Leia tidak mau nanti kami dikira kami merger karena menikah, padahal saya dan Leia tidak mau mencampur adukkan bisnis keluarga kami."
Mario dan Marco tersenyum. "Good! Itu yang ingin kami dengar."
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️