
Instalasi Jenazah Tokyo University Hospital
Joey meminta kepada kedua orangtua yang penasaran tentang kematian anaknya untuk pulang karena proses autopsi sendiri membutuhkan waktu lama apalagi jika korban diketahui tidak punya riwayat sakit apapun.
Setelah keduanya pulang, Joey langsung mempersiapkan autopsi jenazah wanita muda yang sudah masuk ke dalam lemari khusus mayat.
"Kamu kali ini sinting kwadrat, Bianchi! Kenapa kamu menyanggupinya?" omel Dokter Daisuke.
"Aku penasaran. Mana mungkin wanita berusia 21 tahun meninggal mendadak. Alternatif adalah bunuh diri, jantung atau dibunuh."
Dokter Daisuke memegang pangkal hidungnya. "Astagaaa Bianchi! Kamu itu benar-benar deh!"
Joey hanya tersenyum smirk.
***
Kediaman Takara
"Ada apa Tadashi?" tanya Luca sambil berdiri berhadapan dengan pria Jepang yang lebih pendek dari dirinya.
"Jauhkan mulut mu dari nona Emi!" Tadashi menatap tajam ke arah pria berdarah Italia yang hanya menanggapi santai.
"Kalau aku tidak mau? Lagian aku dan Emi berpacaran. So, apa salahnya aku mencium Emi, gadisku. Kamu sebenarnya ada masalah apa?"
"Dia bukan gadismu!"
Luca tertawa kecil. "Ah iya aku lupa, dia masih anak gadisnya Mr Takara. Tapi sebentar lagi bakalan aku halalkan. Ada masalah?"
Tadashi mengepalkan tangannya dan wajahnya tampak menahan amarah.
"Look pal, kamu sebenarnya naksir Emi kan? Tapi kamu kalah start denganku! Jika kamu memang memiliki perasaan pada seorang gadis, ungkapkan bukan pendamkan, mana si gadis itu tahu! Lagipula, Emi dan aku saling mencintai dan salah kamu sendiri tidak berani maju ke Mr Takara. Wanita itu lebih menyukai pria yang berani maju menghadapi ayahnya karena bagi seorang anak perempuan, ayah adalah cinta pertamanya. Berani menghadapi cinta pertamanya, itu adalah langkah besar. Prinsip aku adalah aku suka dengan anak gadisnya, aku harus berani menghadapi ayahnya. Masalah nantinya aku bakalan berantem atau tidak, itu urusan belakangan, yang penting aku sudah datang mengungkapkan perasaan aku."
Emi melongo mendengar ucapan Luca dan memang dirinya sangat menghargai bagaimana pria itu berani menerima tantangan Otousan nya tidak hanya sekali tapi dua kali tanpa ragu.
"Kamu..." Tadashi hendak meninju Luca tapi suara Takeshi membuatnya mengurungkan niatnya.
"Tadashi!" hardik Takeshi dari belakang Luca.
Dan lagi-lagi Luca harus mengelus dada karena terkejut. Lama-lama gue bisa jantungan punya camer model Jelangkung begini.
"Takara-sama" bisik Tadashi sambil menunduk.
"Ikut saya!" Takeshi pun berbalik dan Tadashi pun berjalan mengikuti bossnya.
"Kenapa diam saja kalau mau dipukul?" suara Shiki terdengar di belakang Luca yang membuat pria tinggi besar itu terlonjak.
"Astaghfirullah Al Adzim! Shiki!" Luca berbalik sedangkan Emi tertawa cekikikan. "Lama-lama gue ruqyah biar kagak jadi Jelangkung!" Nggak camer, nggak asisten ... Pada nggak ada akhlak jadi penampakannya. Untung siang sekarang.
"Biasa saja, tuan Bianchi. Saya saja biasa-biasa, tidak ada masalah" jawab Shiki datar tanpa emosi dan ekspresi.
Biasa saja gundulmu peyang! Lu mau bikin gue mati muda apa ya gara-gara jantung!
"Shiki, sudah pergi sana! Mengganggu saja!" usir Emi judes.
Shiki membungkuk hormat. "Permisi nona Emi, tuan Bianchi."
Setelah Shiki pergi, Luca kembali duduk di sebelah Emi. "Lama-lama jantungku amburadul gara - gara ayahmu dan asistennya yang mirip Jelangkung, datang nggak diundang tahu - tahu nongol!"
"Bukannya lebih mirip ninja ya daripada Jelangkung?" gumam Emi.
"Aku lebih suka bilang mirip Jelangkung, lebih horor!"
Emi mengeplak bahu Luca.
***
Instalasi Jenazah Tokyo University Hospital
Setelah melakukan serangkaian test, akhirnya Joey dan Dokter Daisuke memutuskan bahwa gadis itu meninggal akibat serangan jantung. Kedua orangtuanya yang diberikan informasi itu bisa menerima setelah Joey menunjukkan bukti-bukti tidak ada yang abnormal dalam pemeriksaannya.
"Sepertinya putri anda berdua memiliki tingkat stress yang tinggi hingga memicu tekanan pada jantungnya agar berdetak lebih kencang. Dan seperti listrik jika kelebihan beban daya, dia akan padam dan seperti itulah kejadian yang menimpa putri anda."
Kedua orangtua itu tampak lega karena putri mereka tidak bunuh diri, diracun atau bunuh diri.
"Kami tahu dia hendak ujian negara tapi tidak menyangka bahwa tekanan itu yang membuatnya meninggal" ucap sang ibu sedih.
"Sekarang jenazah anak ibu bisa dibawa pulang dan tolong didoakan agar arwahnya tenang."
Joey memberikan berkas pelepasan jenazah dari kamar mayat.
"Terimakasih Dokter Bianchi. Kami sekarang jauh lebih lega dan ikhlas mengetahui penyebab kematian putri kami." Sang ayah membungkuk hormat kepada Joey yang dibalas hal yang sama.
Setelah menyelesaikan semua administrasi, akhirnya jenazah gadis itu pun dibawa pulang keluarganya.
Joey pun segera membersihkan semua peralatan dan meja baja tempat autopsi namun wajah pria itu tampak manyun.
"Kamu kenapa, Bianchi?" tanya Dokter Daisuke.
"Aku kira kita mendapatkan kasus yang tidak terpecahkan lagi... Eh ternyata kasusnya alami. Misterinya kurang..." keluh Joey.
Dokter Daisuke menatap tajam asisten slengeannya. "Kamu itu! Sudah cukup aku tidak mau bertemu dengan mayat aneh-aneh! Mending seperti tadi, masih utuh!"
"Kan jiwa kepopers aku berkobar - kobar Dok" sahut Joey.
"Shut up Bianchi!" dokter Daisuke pun meninggalkan Joey karena merasa pusing dengan rengekan pria tinggi besar itu.
Joey tersenyum lalu melanjutkan acara bersih-bersih nya dan tiba-tiba ponselnya berbunyi. Bergegas pria itu melepaskan sarung tangan plastiknya, mencuci tangan dan mengambil ponselnya yang berada di meja.
"Oom Bryan. Ada kabar?" tanya Joey semangat.
"J, suruh si kapten Hideaki brengsek itu ke Hokkaido sekarang! Oom berhasil melacak namanya sedang naik feri kesana dan sudah dibuktikan dengan CCTV serta pengenalan wajah!"
"Siap Oom. Memang polisi Brengsek itu tidak berguna! Oomku yang nun jauh di New York saja bisa dapat! Thanks Oom."
"Anytime Joey. Hati-hati kamu disana ya!"
Joey langsung menelpon kapten Hideaki yang awalnya skpetis dengan penemuan Bryan Smith hingga membuat Joey naik pitam.
"Dasar Kapten Brengsek! Anda itu meragukan kredibilitas Oom saya? Semua data valid sudah diberikan! Jika memang anda mampu, kenapa tidak secepatnya anda tangkap di Waka-waka Kawe itu? Kalau memang anda tidak mau menangkap, jangan salahkan saya jika Shengoku Kawaguchi itu berakhir di kolam piranha Daddy saya! Dan anda akan saya teror dengan foto - foto korban sampai anda stress sendiri karena tidak bisa membantu korban mendapatkan keadilan yang mereka minta! Ingat! Dia anak pembunuh Megumi istri kamu yang sedang hamil delapan Minggu! Apa kamu lupa itu, heh kapten Hideaki Yamamoto yang brengsek nya minta ampun! Tangkap dia sekarang atau..."
"Baik Bianchi! Dan jangan sekali-kali kamu memanggil aku kapten Brengsek!" umpat Kapten Hideaki Yamamoto dengan nada tinggi.
"Lalu apa? Baka Danchou ( kapten bodoh )? Masih beruntung aku tidak menyebutkan kapten dan****!" balas Joey judes keluar aksen Surabayanya.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️