
Penthouse Keluarga O'Grady.
"Ya ampun kalian itu kan warga negara... tunggu. Kamu pegang paspor apa Bay?" tanya Nadira.
"Great Britain lah! Eh tapi aku juga pegang pasport Amerika dari mama..." Bayu menatap horor ke Nadira. "Jangan bilang..."
"Wis kadung leysus ( Sudah terlanjur angin topan )!" sahut Blaze. "Tapi kalau pemerintah Mexico berani bertanggung jawab, kamu aman."
"Modyar aku!" Bayu memegang pelipisnya.
"Kan tidak ketahuan bukan microbot nya..."
"Pemerintah Mexico menyatakan bahwa peristiwa meledaknya pabrik milik keluarga Rochester akibat dari kebocoran gas."
"Classic statement!" gelak Blaze saat mereka bertiga menonton televisi yang menyiarkan berita tentang hancurnya pabrik Rochester.
"Berapa orang di keluarga Rochester?" tanya Nadira.
"Banyak tapi mereka kalah start dibandingkan kita yang memang kompak dalam segala sesuatu baik yang lurus maupun belok" senyum Bayu.
"Semoga tidak terjadi apa-apa di keluarga kita." Nadira tampak serius.
***
Mansion Bianchi Turin Italia
"Pasti ulahnya Moon!" tukas Luca di ruang kerjanya sambil menatap wajah Abi di layar monitor nya.
"Well, gimana ya..." kekeh Abi dengan wajah menyebalkan.
"Woi, kalau mau hancur menghancurkan, bilang dong!" protes Hoshi.
"Gue kagak bakalan bilang sama elu, Hosh!" potong Abi.
"Gue curiga, bukannya skripsinya Bayu soal microbot? Mas Abiiiii..." Hoshi menatap tajam ke Abiyasa. "Gue anak MIT, elu anak MIT! Yang benar saja bambaaannggg!"
Abiyasa hanya nyengir.
"Allahuakbar! Astaghfirullah! Benar ini ulah Bayu?" teriak Hoshi heboh.
"Well, penelitian Bayu kan sudah di hak patenkan lalu dibeli perusahaan Moon dan dikembangkan disana. Well, kemarin itu percobaan mereka yang pertama di luar percobaan resmi. Sebab pemerintah Mexico sudah tidak tahu harus bagaimana dan meminta bantuan perusahaan Moon."
Luca dan Hoshi saling berpandangan. Ketiga orang yang sama - sama kuliah di bidang science memang memiliki otak yang sama tentang penelitian yang bisa berguna dan bisa merusak.
"Benji juga sama saja?" tanya Hoshi.
"Benji kan kenal semua orang penting. Dia sama dengan Oom Bryan, bahkan lebih hebat Benji karena Moon punya perusahaan pembuatan alat-alat spinoase yang diakui pemerintah Amerika Serikat..."
"Sampai anakmu membuat microbot" potong Hoshi.
"Dia terinsipirasi film Baymax" kekeh Abiyasa.
"Big Hero kaleee mas" ucap Hoshi gemas.
"Nah ntu!"
"Sudah, sudah. Terus itu dari hulu ledak milik pemerintah Mexico sendiri kan?"
"Yup. Presiden Mexico sendiri yang bertemu dengan Moon dan Benji di tempat yang dirahasiakan untuk meminta bantuan menghancurkan pabrik itu karena menjadi pusat pembuatan narkoba terbesar di Mexico hingga Harland bisa menguasai semua kartel disana."
"Sekarang kalau sudah begini, gimana?" tanya Hoshi.
"Bisa dipastikan sudah goyah satu kaki Harland dan pihak kartel tidak akan tinggal diam karena pemasukan mereka berkurang banyak."
Luca menghela nafas panjang. "Benar-benar kalian itu... Ramai ini Bi!"
"Microbot ciptaan Bayu itu setelah meledak, akan menghilang begitu kena panas."
"Anakmu dan Moon gila otaknya!" umpat Hoshi.
"Kamu muji apa ngumpat?" tanya Abi dengan wajah judes.
"Ngumpat!"
***
Keesokan paginya, Luca memberitahukan bahwa Harland tampak shock dengan hancurnya pabrik milik keluarganya di Mexico.
"Boleh dibilang separuh kekayaan keluarga Rochester selama ini ditopang dari pabrik itu. Bahkan nilai saham mereka pun menukik bebas. Kalau Harland cerdas, dia akan membuat di Colombia dan China. Tapi disana pun dia harus mendapatkan tempat di Triad dan Kartel Colombia."
Semua orang menatap pria berdarah Italia - Indonesia - Jepang - Arab dan Korea Selatan itu.
"Dad, berapa kerugian Harland?" tanya Luke.
"Mr Bianchi, kami sudah tahu" senyum Omar.
"Apa maksudmu, Zidane?"
"Microbot hasil ciptaan Bayu O'Grady adalah bom itu. Dan pemerintah Mexico sendiri yang menghancurkan pabrik itu."
Luke dan Leia saling berpandangan lalu tersenyum smirk.
"Kalian tahu dari mana?"
"Isobel, Mr Bianchi" senyum Maggie. "Dan sejujurnya, kantor kami di New York sedang gegeran apalagi pemimpinnya yang seperti kebakaran jenggot karena dimarahi oleh Harland."
"Dan Isobel tahu dari..." Luca menatap keempat agen FBI itu.
"Presiden Amerika Serikat sendiri."
***
Semua orang di mansion Bianchi tampak antusias melihat Harland Rochester datang ke Roma untuk promosi film laga terbarunya bersama dengan para aktor dan aktris utamanya tapi mereka semua tahu wajah pria itu tampak menahan amarah yang tidak bisa disembunyikan meskipun sudah berusaha.
"Dia kehilangan hampir $10 billion." ( sekitar Rp 156 triliun ).
Semua orang menoleh ke Dante yang baru datang.
"How did you know?" tanya Omar.
"Salah satu anak buah kartel yang membelot cerita ke salah satu anak buah ku dan nilai narkoba di pabrik itu sekitar itu. Karena mereka baru saja memanennya istilahnya."
Billy Boyd dan Luke bersiul.
"Wow! Pantas dia manyun" kekeh Tiffany.
"Jadi lebih mudah untuk aku mendekatinya" ucap Raveena. "Dia butuh dana segar kan?"
"Apa rencana mu Veena?" tanya Luke. Alexis pun ikutan kepo mendengar rencana gadis itu.
"Hi-mi-tsu ( rahasia )" kedip Raveena.
"Hah?" Semua orang disana yang tidak bisa bahasa Jepang hanya melongo.
"Artinya Rahasia" ujar Leia.
Raveena hanya tersenyum culas.
***
Hotel Turin Royal Palace
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh semua pihak untuk menangkap Harland Rochester. Sempat terjadi keributan antara Luke, Dante dan Omar yang berbeda persepsi apa yang harus dilakukan.
Omar meminta agar mereka menangkap Harland untuk dihukum tapi Dante dan Luke tidak mau, bahkan saling sikut untuk siapa yang menang mencincang Harland.
Kedua orang berdarah mafia itu akhirnya dipisah oleh Luca dan Leia. Akhirnya Luca membisikkan sesuatu ke Luke yang membuat pria dingin itu tersenyum smirk.
"Aku paham Daddy" seringai Luke yang membuat Dante menatap sebal.
"Perasaan aku tidak enak" ucap Omar.
"Kami tidak akan berbuat sejauh ini jika mereka tidak menyenggol tanah Bianchi dan membuat Leia celaka" senyum Luca yang entah membuat orang-orang disana merinding kecuali si kembar dan Antonio yang sudah terbiasa.
"Kita berangkat sekarang?" ajak Antonio.
"Aku sudah tidak sabar!"
Semua orang melihat Raveena yang keluar dari kamar dengan dandanan yang sangat berbeda. Alexis sendiri sampai melongo melihat sepupu jauh bossnya itu.
Signora Raveena memang benar-benar seorang penyihir.
Raveena O'Grady
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️