
New York University
Nadira akhirnya bisa kembali ke kampus setelah selama dua Minggu dirumah dan oleh Rajendra, putrinya dia kirim ke London untuk memenangkan hati. Eagle yang menjemput kakaknya, tampak senang melihat Nadira selamat.
Selama di London, Nadira banyak menghabiskan waktu bersama opa dan omanya, Arjuna dan Sekar yang banyak mengucapkan Alhamdulillah cucu mereka masih diberikan umur.
Nadira memblokir nomor Pedro karena perintah sang ayah yang masih marah kepada agen FBI itu gara-gara nyaris membuat nyawanya melayang. Nadira pun tidak menyalahkan Rajendra dan Arjuna yang marah kepadanya dan Pedro meskipun Nadira sudah menjelaskan kenapa dia bisa terlibat.
Kemarahan Rajendra pun merembet ke Benji yang tidak memberitahukan bahwa putrinya bersedia menjadi mata-mata FBI karena pelakunya satu kelas dengan Nadira. Benji pun menerima kemarahan Rajendra dengan lapang dada karena tahu bagaimana perasaan seorang ayah.
Usai berlibur di London tanpa bisa bertemu dengan Zinnia yang sudah terbang ke Jakarta, Nadira pun kembali ke New York untuk melanjutkan pendidikannya.
Masuk ke dalam kampusnya, ada rasa trauma tersendiri jika dia mengingat kejadian lalu. Apalagi jika melewati area menuju ruang janitor, tanpa sadar tubuh Nadira gemetaran. Ditambah Pedro sudah tidak ada di kampus, gadis itu merasa gamang karena kehilangan pegangan.
Nadira pun masuk ke ruang kelas untuk menjadi asisten dosen dengan perasaan hampa. Tidak ada pria Italia Perancis bermata hijau yang selalu menatap intens ke dirinya dan semua mahasiswa menatapnya penuh pengertian bahwa asisten dosen cantik ini sempat mengalami hal yang traumatis hingga mereka tidak mempertanyakan macam-macam.
Usai memberikan kuliah, Nadira pun menuju kafetaria untuk mengisi amunisi perutnya. Tak lama para sahabatnya pun datang menghampiri Nadira dan mereka pun saling support satu sama lain setelah mengalami peristiwa mengerikan. Nadira tersenyum ke semua sahabatnya memberikan dukungan padanya membuat moodnya membaik.
Nadira menghabiskan waktunya di kampus hingga sore hari dan setelahnya dia menuju mobil BMW nya.
"Nadira..." Tubuh Nadira membeku mendengar suara yang sudah lama tidak didengar nya selama dua Minggu lebih.
Gadis itu berbalik dan tampak Pedro duduk di sebuah mobil entah milik siapa.
"Pedro? What are you doing in here?" Nadira menatap pria itu. Entah kenapa dia merasa Pedro tampak agak kurus. "Kamu nggak papa?" Nadira menghampiri Pedro dan pria itu memegang tangannya.
"Kamu baik-baik saja kan? Masih trauma? Kamu kemana saja Amore Mio? Aku hubungi kamu tidak bisa." Pedro menatap lembut ke Nadira.
"Aku ke London dan maaf aku harus memblokir nomormu... Daddy masih marah padamu." Nadira menatap mata hijau yang memandangnya mesra.
"Aku antar pulang." Pedro berdiri tanpa melepaskan genggamannya pada tangan Nadira.
"Jangan Pedro, Daddy masih tidak mau bertemu dengan mu."
"Look Nadira. Aku ini laki-laki! Aku harus berani menghadapi semuanya termasuk keluarga mu! Jadi, kamu aku antar pulang." Pedro mengulurkan tangan satunya untuk meminta kunci mobil Nadira.
"Pedro..." Nadira menyerahkan kunci mobilnya. "Ada Opa dan Omaku di rumah. Aku tidak yakin mereka akan bisa menerima kamu datang."
"Arjuna dan Sekar McCloud kan? Tidak apa, Dira, tetap aku hadapi." Pedro memberikan senyum menenangkan.
***
Kediaman Keluarga McCloud Manhattan New York
Wajah Rajendra dan Arjuna tampak judes ketika melihat Pedro Pascal dengan beraninya datang mengantarkan dan menemui mereka semua.
Nadira sudah bisa menebak pasti akan terjadi huru hara antara Daddy dan Opanya yang memang panasan.
"Nadira! Kenapa anak ini berani datang kemari?" bentak Rajendra yang membuat Nadira mengerenyitkan dahinya.
Dad, Pedro sudah 30 tahun, bukan anak deh!
"Kamu ketemuan dimana?" sambung Arjuna. Opa jangkung itu bersyukur Daddynya Elang sudah tidak ada, bisa habis si Pedro!
"Saya menemui Nadira di kampus Mr Arjuna McCloud" jawab Pedro tenang.
"Ngapain kamu menemui putri saya? Bukankah saya sudah bilang kalau kami tidak mau bertemu dengan mu!"
"Tapi saya ingin bertemu dengan Nadira, Mr Rajendra."
"Saya... jatuh cinta dengan putri dan cucu anda, Mr McCloud" jawab Pedro tenang tapi tegas membuat Nadira melongo. "Saya sudah jatuh cinta dengan Nadira sejak pertama kali melihatnya di ruang kelas. Dan sejujurnya ini baru saya alami, jatuh cinta pada pandangan pertama. Saya tahu saya bukan siapa-siapa tapi saya yakin dengan perasaan saya ke Nadira itu serius."
"Pedro..." Nadira menatap tidak percaya bahwa pria satu ini berani menghadapi Daddy dan Opanya tanpa tendeng aling-aling langsung pada intinya.
"Saya tidak merestui kamu, Pedro!" ucap Rajendra dingin membuat Arjuna hanya bisa memegang pelipisnya.
Ini anak kalau sudah keluar stubborn nya.
"Saya tahu itu Mr Rajendra tapi saya tetap memilih Nadira. Saya tahu Nadira masih belum yakin tapi saya sudah memutuskan untuk menyatakan perasaan saya ke putri dan cucu anda berdua karena saya tidak mau menyimpan sendiri. Dengan restu atau tidak, saya tetap akan bersama Nadira."
Arjuna tersenyum smirk. Punya nyali juga nih bocah. Setidaknya dia gentleman berani menghadapi aku dan Rajendra.
Rajendra menoleh ke arah Nadira. "Kamu yakik mau pacaran sama anak ini?" tunjuknya ke Pedro.
"Belum pacaran Daddy, tapi jalan bareng dulu. Ohya Pedro sudah 30 tahun, bukan bocah." Nadira tersenyum ke arah Rajendra. Meskipun dirinya belum yakin dengan perasaannya, tapi Nadira salut dengan keberanian Pedro. Tidak semua pria berani melakukan hal itu kecuali para Oom-oomnya dari cerita yang disampaikan oleh Mommy dan Tantenya.
"Bagi Daddy dia tetap bocah!" ucap Rajendra.
Nadira hanya menepuk bahu Pedro pelan.
"Mas Jendra, sudah marah-marahnya. Ayo makan malam dulu" suara Aruna membuat keempat orang disana menoleh ke wanita berhijab itu.
"Jendra, kamu bawa Dira ke dalam. Daddy mau bicara dengan Pedro." Arjuna memberikan kode kepada putranya. Rajendra biasanya paling tenang diantara generasi kelima tapi kejadian putrinya kemarin, membuat ayah dua anak itu meradang dan menjadi panasan.
"Yuk sayang, biar Opa dengan Pedro." Rajendra memeluk bahu Nadira yang sudah berjalan menuju dirinya.
"Opa, jangan ditodong Glock lho ya." Nadira tersenyum ke arah Arjuna yang hanya tersenyum smirk.
Setelah ayah dan anak itu masuk ke dalam, Arjuna memindai Pedro dari ujung rambut hingga kaki.
"Apakah kamu serius dengan cucu aku?" tanya Arjuna dingin.
"Sangat serius Mr McCloud."
"Apa kamu sudah siap jika kami meminta agar kamu mengikuti aturan keluarga kami?"
Pedro paham kemana arah pembicaraan Arjuna karena dia sudah mempelajari keluarga besar Nadira.
"Saya siap Mr McCloud tapi berikan saya waktu untuk mempelajarinya."
"Semoga kamu mendapatkan petunjuk."
Pedro menatap pria paruh baya yang masih tampak tampan itu. "Apa Mr McCloud merestui saya?"
"Belum tapi saya fair sama kamu, Pascal. Saya respek dengan cara kamu menyatakan perasaan kamu ke Nadira dengan jujur dan gamblang karena tidak semua pria berani melakukan itu. Jika memang kalian berjodoh, saya tidak ragu menyerahkan cucu saya ke kamu karena kamu bisa diandalkan."
Pedro mengangguk hormat ke tetua klan McCloud itu.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa gaeesss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️