The Bianchis

The Bianchis
Luke Bianchi : Doa Shinichi



Toko Pastry Marissa Bianchi


Rin Ichigo menatap tanaman strawberry yang kemungkinan besar akan terus panen hingga dua Minggu ke depan.


Enak sih tapi beracun rupanya kamu... Rin mengelus buah-buah strawberry yang mulai membesar meskipun belum merah. Rin memajukan bibirnya dan merasa menyesal kemarin mengikuti setan strawberry di dirinya.


"Datang juga kamu!"


Rin terlonjak mendengar sebuah suara bariton di dekat pagar. Tampak di balik pagar Luke Bianchi bersedekap dengan wajah dingin menatapnya.


"Bukankah saya sudah berjanji, Bianchi-san. Jadi saya harus datang" ucap Rin pelan. Dirinya sebenarnya ingin menghajar Luke tapi mengingat ancamannya akan melaporkan ke rumah sakit tempatnya bekerja, ditambah CCTV di sekitar toko pastry, membuat Rin mengurungkan niatnya untuk menghajar pria blasetran itu.


"Bagus!" Luke melirik jam tangan Patek Philippe nya yang menunjukkan hampir pukul setengah sembilan malam.



"Kamu sudah makan?" tanya Luke masih dengan nada dingin. Daripada kepalaku kena keplak Oma gara-gara bikin anak orang pingsan kelaparan, terpaksa tanya deh, padahal aku males banget!


"Be... belum. Tapi apakah ini sudah selesai? Saya lebih baik pulang ke apartemen saya. Lebih nyaman makan di tempat yang menenangkan hati..."


"Ya sudah sana! Aku ijinkan kamu pulang daripada aku repot-repot ajak makan malam. Toh kamu bakalan nolak juga!" Luke berjalan meninggalkan Rin yang menatapnya kesal sambil mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya.


Rin hendak membuka pagar ketika Luke berbalik ke arahnya.


"Besok jam yang sama! Jangan lupa!" Luke menatap tajam ke arah Rin.


"Iya Bianchi-san" balas Rin manis.


"Good!" Luke pun berbalik dan berjalan dengan langkah santai.


Iiiihhh dasar Yakuza brengseeekkk!


***


Apartemen Rin Ichigo


Akhirnya Rin tiba di apartemennya satu jam lebih malam dari biasanya dan dirinya langsung membersihkan diri. Gadis itu memanaskan bento yang dibelinya tadi di stasiun lalu mencuci bersih buah strawberry hasil jarahannya kemarin.


"Sebenarnya buah mu itu enak tapi pemilikmu orangnya ga enak. Ya jelas nggak enak, karena bukan makanan!" omel Rin sambil memasukkan buah strawberry itu ke dalam mulutnya.


Rin membuka MacBook nya dan mulai melihat foto - foto Luke Bianchi. Matanya terkejut ketika melihat sosok wanita yang ditemuinya.


Marissa Bianchi? Neneknya si Yakuza Kulkas itu? Kok beda jauh ya?!


Rin menutup mulutnya. Tunggu... Toko pastry itu ...


"Aaaaaahhhh!" Rin memekik. "Usoooo ( tidak mungkin )!"


***


Markas Yakuza Takara


Luke tersenyum melihat kakak kembarnya akan segera kembali ke Tokyo usai mengobrak abrik Belgia.


"Jadi kapan kalian pulang?" tanya Luke melalui panggilan video ke Leia. Tampak di belakangnya para trio kampret sibuk membereskan semua peralatan dan perlengkapan yang dibongkar saat datang ke Uccle Belgia.


"Kami akan kembali besok siang, Luke. Aku dan trio kampret ke Jakarta dulu taruh duo kampret sekalian isi bahan bakar baru balik ke Tokyo sama anaknya Oom Hideo."


"Bee?"


"Bee sudah dijemput pesawat milik Oom Abi soalnya kebetulan Oom Abi lagi ada di Belanda membantu Opa Fuji mengurus aset Oma Ingrid dan Opa Mamoru."


Luke tampak berpikir. "Ada aset Al Jordan kah disana? Apa De Wijk?"


"Oma Ingrid kan anak tunggal dan tidak ada keluarga lainnya. Semua aset keluarga jatuh ke tangannya dan ternyata ada yang hendak mengklaim."


Luke memegang pelipisnya. "Gini nih kebanyakan aset" ucapnya membuat Leia tertawa.


"Orang tua kita apa ya tidak sama, Luke?"


"Salahkan Opa deh pokoknya!"


Leia terbahak. "Kamu gimana? Katanya ada yang obrak abrik kebun Oma Miki?"


"Kemarin malam ada Yankee main jarah kebun Oma. Padahal baru berbuah dan besar - besar."


"Yankee?" Leia menaikkan sebelah alisnya.


"Yankee. Namanya Rin Ichigo."


Leia terkejut. "Sesuai dengan namanya. Ichigo yang maniak buah strawberry" kekehnya.


"Itu juga yang okāsan bilang."


"Tunggu! Aku cari tahu dulu soal Rin Ichigo." Leia mulai mencari informasi dengan mengetik di MacBook milik Blaze.


"Kamu cari apa?" tanya Blaze Bianchi, sepupunya.


Blaze menatap Luke. "Kebun Oma Miki dirusak? Sama siapa?"


"Sama dia!" Leia berhasil menemukan data Rin Ichigo.


"Yankee?" Blaze membaca datanya. "Ini kan data yang terkunci, Leleeee."


"Hei! Aku kan bisa bongkar!" sahut Leia tidak terima.


"Siapa cewek itu?" tanya Valentino yang menghampiri para kakak perempuannya.


"Yang ngerusak kebun strawberry Oma Miki" jawab Leia.


"Manis kok!" timpal Shinichi yang ikutan nimbrung.


"Apanya yang manis?" Arkananta pun turut bergabung.


"Itu penjarah buah strawberry di kebun Oma Miki" sahut Blaze.


"Bang Lukie udah nangkap orangnya?" tanya Shinichi.


"Sudah lah!" jawab Luke judes.


"Kamu apain? Jangan bilang lempar ke Empang!" Shinichi menatap kakaknya horor.


"Nggak lah! Kan cuma ambil strawberry bukan mau mau bunuh orang."


"Kirain. Soalnya elu kan dikit-dikit lempar ke Empang. Bahkan adik sendiri juga mau dilempar" seringai Arkananta.


"Kalau kalian emang patut dilempar!" sahut Luke judes.


"Oh Tuhan ku yang maha kuasa pembolak balik hati manusia, berikanlah hidayah pada kakakku yang cakep tapi judesnya mengalahkan puncak gunung Jayawijaya yang bersalju, agar tidak selalu memikirkan untuk melemparkan kami para trio kampret yang imut, bersahaja dan rajin menabung serta menolong orang, ke Empang piranha yang merupakan hobby nyeleneh dua opa kembar..." Shinichi menangkupkan kedua kedua tangannya dengan gaya berdoa.


Kelima orang yang melihat si imut putra Hideo Kojima Park dan Fayza Sky Park hanya melongo dan setelahnya melengos malas.


"Sumpah Shinchan! Abang lempar ke hutan Amazon biar kumpul sama kungkang!" umpat Luke kesal.


***


Rumah Sakit Saisekai Tokyo Jepang


Keesokan harinya, Rin kembali bekerja ke rumah sakit Saisekai Tokyo. Hatinya sudah mulai membaik setelah semalam bisa tidur nyenyak meskipun haru minum dua kaleng bir.


Rin bukan peminum tapi dia kuat minum apalagi jaman saat dia masih menjadi Yankee, dia sering minum-minum dengan anggotanya. Setelah mendapatkan pekerjaan, Rin mulai mengurangi kegiatan minumnya karena dia tidak mau datang ke rumah sakit dalam kondisi masih Hangover.


Hari ini seperti hari-hari sebelumnya, Rin melakukan rutinitas memeriksa semua menu sesuai dengan penyakit yang diderita para lansia.


Menjelang sore jam lima, gadis itu sudah bersiap-siap untuk pulang. Semua plan dan jadwal menu untuk besok sudah dia siapkan seperti biasanya.


"Ichigo."


Rin mendongak. "Ada apa?"


"Kakek Kitano mencari kamu" ucap seorang suster.


Rin tertegun. "Oke. Aku kesana sekarang." Gadis itu membereskan MacBook, tasnya dan semua perlengkapannya. Setelah mengunci ruangannya, Rin mengikuti suster itu.


Sesampainya di ruang rawat inap para lansia, Rin melihat kakek Kitano tampak tersenyum.


"Ichigo... Ahli gizi kesayangan."


"Ada apa kakek Kitano?" Rin menatap pria paruh baya itu dengan lembut.


"Temani kakek. Karena sepertinya hidup kakek tidak akan lama lagi. Itu, istri kakek sudah menjemput..." ucap kakek Kitano sambil menunjuk ke pojok lemari.


Rin tersenyum lalu memegang tangan kakek Kitano. "Rin akan menemani kakek sampai nenek menjemput." Gadis itu menarik kursi dan duduk di sebelahnya.


***


Toko Pastry Marissa Bianchi Shibuya


Luke menunggu kedatangan Rin Ichigo dari lantai dua toko pastry tapi hingga jam sebelas malam, gadis itu tidak muncul batang hidungnya.


Brengseeekkk!


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️