The Bianchis

The Bianchis
Hari Sabtu Yang Begitulah



Tokyo University Hospital


Joey membantu tim dokter bedah senior di ruang operasi pria selingkuhan Ayumi sedangkan Mako membantu tim bedah lainnya di ruang operasi sebelah karena gadis itu memang salah seorang koas yang masuk stase obgyn.


Joey dan tim berusaha keras menyelematkan pria itu tapi karena ujung pisau itu mengenai aorta jantung, nyawa pria itu tidak selamat. Joey melepaskan cap dan maskernya dengan wajah sendu.


"Kita sudah bekerja keras, Bianchi tapi memang lukanya parah" ucap dokter seniornya sambil menepuk pria tinggi itu.


"Entah saya harus bersyukur atau prihatin, senpai." Joey menatap seniornya.


"Namanya hidup, Bianchi. Mereka sudah memilih seperti halnya kamu kan?" senyum seniornya. "Aku harus menemui detektif Sanada untuk memberitahukan berita menyedihkan ini." Dokter bedah itu pun keluar dari ruang operasi sedangkan Joey bersama dengan rekan lainnya membereskan jenazah pria itu.


***


Joey memutuskan untuk makan siang dulu karena dia belum sempat akibat banyaknya kejadian dari pagi hingga hampir sore ini. Dokter Daisuke hanya mengomel panjang lebar ketika dirinya menelpon adanya dua jenazah yang harus diautopsi.


"Aku makan dulu dok, nanti aku pingsan" ucap Joey sebelum dokter Daisuke membuka mulutnya saat putra Josephine itu menemuinya.


Dan kini Joey berada di kantin untuk makan siang yang terlambat dan dirinya melihat Mako pun datang ke kantin.


"Mako!" panggilnya.


Mako pun menghampiri dengan membawa nampan berisi makan siangnya.



"Tidak selamat ya?" tanya Joey.


"Iya. Ayumi tidak selamat, Joey. Pria itu juga kan?" tanya Mako.


"What a day Mako. Dua nyawa langsung hilang dalam waktu beberapa jam saja." Joey menatap lembar foto hasil print yang dimintanya saat berhasil menemukan Ayumi di layar CCTV.


"Apakah itu setimpal dengan hukuman yang akan diberikan ke Genta Yamada, Joey?"


Joey menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu, Mako. Dalam hatinya aku yakin Genta menyesal membuat nyawa istrinya melayang tapi dia tidak menyesal telah membunuh pria itu."


"Apakah itu yang kamu lakukan jika pasanganmu selingkuh?"


Joey tersenyum. "Kalau pasanganku selingkuh, wajar aku ingin membunuhnya sebab kurang ajar sekali perasaanku dibuat mainan tapi aku tidak akan membunuhnya. Aku akan menceraikannya tapi sebelumnya aku akan melakukan perjanjian pra nikah bahwa jika pasanganku selingkuh, dia tidak akan mendapatkan satu sen pun harta milikku!"


"Jika kamu yang selingkuh?" Mako menatap Joey.


"Berarti aku yang brengsek dan baji##ngan! Pasanganku akan mendapatkan separuh hartaku jika memang aku selingkuh tapi dia setia padaku dan meminta cerai padaku. Kenapa aku yakin pasanganku akan meminta berpisah? Karena seorang wanita itu memiliki ingatan yang long term. They are forgiving but not forgotten dan siapa yang bisa kuat melihat suaminya sempat berselingkuh? Pasti setiap hari, istri aku akan dilanda kecemasan. Apa suamiku bertemu dengan wanita lain? Apa suamiku sudah tobat? Apa suamiku tidak berselingkuh lagi? Karena sekalinya kamu bisa selingkuh, bukan hal yang tidak mungkin kalau mereka bisa melakukan lagi." Joey menatap Mako serius. "Anxiety yang berlebihan akan mengakibatkan stress dan menjadi depresi meskipun si suami sudah tobat, tapi bayangan itu tidak akan hilang."


"Sepertinya kamu sangat berpengalaman akan hal itu Joey? Apakah terjadi di keluarga mu?" tanya Mako.


"Alhamdulillah tidak terjadi di keluarga aku karena kami semua sangat menghormati dan mencintai pasangan masing-masing. Pria-pria di keluarga aku rata-rata punya jiwa bucin yang maksimal dan yang wanita adalah tipe wanita-wanita hormat serta menghargai pasangannya. Aku berbicara ini karena ada salah seorang pelayan di mansion yang mengalami peristiwa seperti itu."


"Akhirnya mereka berpisah?"


Joey mengangguk. "Karena si pelayan itu sempat mengalami depresi memikirkan apakah suaminya setia sesuai janjinya setelah ketahuan selingkuh atau kembali bejat."


"Terkadang perpisahan jauh lebih baik daripada pembunuhan" gumam Mako.


"Sayangnya, mereka tidak mampu berpikir panjang." Joey pun menghabiskan makan siangnya.


***


Instalasi Jenazah Tokyo University Hospital


Joey berjalan menuju ruang kerjanya sambil bersiul-siul santai. Perut kenyang, otak terang dan semangat hadir, membuatnya tampak ready steady go ( bukan judul lagunya L'Arc-en-Ciel ).


"Waka-waka beraksi lagi Bianchi" ucap Detektif Sanada.


"Waka-waka?" Kapten Hideaki dan dokter Daisuke melongo.


"Code name Kawaguchi, kapten" senyum Joey. "Damn! Dua orang itu saja belum selesai kasusnya, sudah datang Waka-waka."


***


Mansion Al Jordan


Luca dan Emi menikmati acara di rumah keluarga Al Jordan. Emi mendapatkan banyak resep makanan dari Miki, Josephine dan Marissa. Saat jam minum teh sore, Emi diajari oleh Marissa cara membuat teh wasgitel.


"Ayahnya Luca dan ayahnya Joey itu dulu nggak doyan teh macam ini padahal kita serumah paling suka karena Oma Miki dan Opa Joshua itu dulu tinggalnya di Solo jadi sudah biasa minum teh seperti ini." Marissa memberikan perbandingan dari enam bungkus teh yang berbeda. "Ini yang bikin sedap dan biasanya masing-masing orang di Solo atau warung wedhangan punya resep dan style masing-masing."


"Warung wedhangan itu apa Tante?"


"Warung wedhangan itu warung yang menjual berbagai macam minuman tradisional seperti teh wasgitel, jahe dan jahe merah, jeruk panas ditambah banyaknya makanan tradisional khas Jawa. Kapan-kapan deh kamu kita ajak ke Solo" senyum Marissa. "Pasti kamu akan ketagihan."


"Tampaknya menarik Tante, aku belum pernah jalan-jalan ke Indonesia."


"Selesaikan skripsi mu dan setelah pengumuman, kita refreshing sesama kaum wanita. Tidak usah ajak para pria karena mereka akan lebih rewel!" bisik Marissa licik. "Dan Tante yakin, Luca dan Oom Marco akan kelimpungan. Dan kalau ayahmu tidak mengijinkan, maka dia harus menghadapi Marissa Al Jordan Bianchi!"


Emi tertawa.


***


Luca tampak manyun saat Daddy,Oom dan Opanya menatap tajam kearahnya. Mereka bertiga tidak menyangka bahwa Luca benar-benar serius dengan putri Yakuza Takeshi Takara. Mereka berempat berada di gazebo dekat kolam piranha dan menikmati suasana sore.


"Yakin kamu Luc?" tanya Marco.


"Yakin Dad. Emi adalah gadis pilihanku." Luca menatap serius ke ketiga orang di hadapannya.


"Tapi dia putri Yakuza kampret!" sungut Mario.


"Setidaknya, kalau aku jadi dengan Emi, klan Bianchi punya sekutu klan Yakuza Takara jadi kalian pun sama-sama saling menguntungkan dan diuntungkan Oom."


"Apa kamu benar-benar mencintai Emi?" tanya Joshua.


"Ya Allah Opa, aku tuh sudah jatuh cinta sama Emi sejak aku bertemu di gym hampir sebulan lalu. Dad, kan Daddy juga mengalami love at first sight? Nah itu yang terjadi padaku!" ucap Luca.


"Apa benar?" tanya Marco.


"Benar Dad! I fall in love with her at first sight."


"Daddy, kayaknya kalau gini aku tidak bisa debat soalnya aku juga mengalami hal yang sama dengan Marissa" cengir Marco ke Joshua.


Pria berdarah Indonesia - Korea Selatan itu hanya memegang pelipisnya.


"Hadddeeehhh!"


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️