
Columbia Maryland
Setelah menempuh perjalanan hampir empat jam, Nadira dan Pedro akhirnya tiba di rumah mereka di daerah Columbia. Rumah yang dibeli oleh Pedro untuknya dan termasuk sebagai mas kawinnya, tampak cerah seperti menyambut pasangan suami istri itu.
"Siapa yang membersihkan, mas?" tanya Nadira ketika Pedro membuka pintu rumah.
"Aku mengirimkan petugas cleaning untuk membersihkan karena aku tidak sempat bersih-bersih apalagi seminggu ini aku mengurus persiapan kita menikah" jawab Pedro. "Welcome to our house, my beautiful wife."
Nadira tersenyum sambil menyeret kopernya lalu menghampiri Pedro. "Love the house."
"Besok aku sudah mulai masuk kerja. Kamu juga kan?" Pedro menoleh ke arah istrinya.
"Iya. Besok sudah mulai kerja... Padahal masih ingin di rumah."
"Apa tambah cuti lagi?" kerling Pedro.
"Ish mas Pedro tuh! Oshigoto... oshigoto ( kerja )!" sungut Nadira.
"Iya deh sayang. Kita masukan barang-barang yuk." Pedro memasukkan koper istrinya ke kamar utama yang ada di lantai dua. Setelahnya pasangan suami istri itu membawa masuk beberapa kardus yang tersisa belum sempat mereka bawa sebelum menikah.
"Wah, Pedro Pascal!" sapa seorang pria yang seumuran dengan Pedro.
"Tucker James? Whoah ternyata kita bertetangga?" kekeh Pedro ke rekan satu law enforcement yang bekerja di NCIS ( Naval Crime Investigate Service ) atau agen federal yang bertugas di angkatan laut.
Pria berambut pirang itu berjalan menuju rumah Pedro. "Aku tidak tahu kalau kamu yang akan tinggal disini."
"Memangnya kamu kemana sebelumnya?" tanya Pedro yang melihat istrinya keluar. "Sayang, perkenalkan ini Tucker James, anggota NCIS. Tuck, ini istriku Nadira."
"Halo" sapa Nadira sambil tersenyum.
"Halo Mrs Pascal. Wah, Pedro akhirnya kamu menikah juga" kekeh Tucker sambil bersalaman dengan Nadira. "Apakah istrimu agen juga?"
"No, istriku adalah dosen di University of Maryland" senyum Pedro bangga dengan Nadira.
"Selamat datang di Maryland. Kalau kalian butuh sesuatu, kabari saja" senyum Tucker.
"Hei, Tuck. Kamu belum bilang kamu kemana saja?"
"Aku menyelidiki kasus pembunuhan di kapal USS Franklin hampir sebulan ini, sebelumnya di USS Washington. Sekarang aku sudah bekerja di darat."
"Syukurlah kamu sekarang bekerja di darat."
"Iya. Aku sudah bosan dengan laut dan kapal." Tucker tersenyum ke arah suami istri itu. "Aku balik ke rumahku dulu!"
"Okay."
"Nice to see you Pedro, Mrs Pascal."
"Panggil saja Nadira" ucap Pedro.
"Okay... " Tucker pun kembali ke dalam rumah nya yang bersebelahan dengan rumah Pedro.
***
"Mas Pedro memangnya tidak tahu kalau Tucker tetangga kita?" tanya Nadira setelah keduanya menyelesaikan semua pekerjaan. Sekarang Nadira sedang menyiapkan makan siang yang mereka pesan online karena Pedro tidak mau istrinya kelelahan harus memasak.
"Aku tidak tahu Nad. Aku saja baru tahu ini. Eh, nanti habis makan siang, kita belanja buat isi kulkas ya. Masa isinya cuma juice dan keju."
Nadira menatap judes ke suaminya. "Ketahuan kan mas Pedro beli makanan melulu."
"Eh nggak sayang tapi kamu pikir dong. Kita semingguan di New York, bisa tidak segar nanti bahan makanannya meskipun dimasukkan ke dalam wadah."
"Ah hah" balas Nadira sinis yang membuat Pedro gemas.
"Kamu kok gemesin sih kalau judes" rayu Pedro sambil memeluk Nadira dari belakang. "Eh sudah selesai kan periode mu? Kan sudah sholat bareng tadi."
"Sudah lah mas. Ayo kita makan dulu baru ke supermarket."
***
Pedro hanya menggelengkan dengan banyaknya bahan makanan yang dibeli oleh istrinya. Setelahnya mobil BMW milik Nadira itu pun kembali ke rumah dan Pedro memasukkan ke dalam garasi yang sudah ada mobil miliknya sendiri.
"Kamu memang mau masak apa malam ini, sayang?" tanya Pedro sambil membawa barang belanjaannya.
"Mau masakan apa? Turki? Jepang? Korea? Indonesia?" Nadira menatap Pedro sambil membawa tas belanja.
"Terserah istriku deh!" kekeh Pedro.
***
Pedro membantu Nadira menyusun semua bahan makanan secara organisir. Tadi istrinya membeli banyak kotak untuk menyimpan banyak bahan makanan yang dibelinya. Dan malam ini usai mandi, Nadira bersiap untuk membuat chicken pilaf makanan khas middle east, Rusia dan Eropa timur lainnya.
Suaminya sendiri langsung bekerja di depan MacBook nya untuk mengusut kasus yang sedang di selidiki bersama dengan rekannya di New York. Kasus pembunuhan yang sudah menjadi cold case itu ternyata saling berhubungan dengan kota New York, philadephia dan Washington.
Perhatian Pedro teralihkan ketika harum masakan Nadira membuat perutnya berbunyi. Dirinya penasaran dengan apa menu makan malam ini. Pria berwajah tampan itu mengehentikan pekerjaannya dan berjalan menuju dapur.
"Masak apa sayang?" tanya Pedro yang melihat menu di meja yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
"Chicken Pilaf. Resep dari Oma dan Mommy. Semoga kamu suka" senyum Nadira sambil menyiapkan piring dan gelas serta teko air yang berisikan air dingin.
"Baunya sedap..." gumam Pedro. "Bikin aku lapar."
"Ayo makan. Semoga cocok di lidah kamu."
Keduanya pun duduk di kursi dan Nadira melayani Pedro dengan mengambilkan makanannya serta menuang air putih di gelas suaminya.
Pedro menyuap makanan yang bernama chicken pilaf dimasak dengan beras basmati. Pantas tadi Nadira membeli berbagai macam jenis beras.
"Ya ampun Nadira, ini enak sekali!" puji Pedro.
"Benarkah?" tanya Nadira senang suaminya suka dengan masakan nya. "Pakai acarnya ini mas" ucapnya sambil menyerahkan mangkuk berisikan acar tomat.
Pedro pun mencobanya dan langsung sensasi yang berbeda terasa di mulutnya. "Ya ampun Nad, kalau setiap hari kamu masak enak seperti ini, bisa-bisa six pack aku hilang!"
Nadira terbahak. "Ya tetap nge-gym dong mas. Kan sebagai agen FBI, harus fit dong. Oh besok mau dibawakan bekal apa?"
"Apa saja asalkan kamu yang buat. Beneran deh, anaknya chef terkenal itu memang berbeda, jago masak" kekeh Pedro.
"Aku sudah suka masuk dapur dari kecil dan Daddy, mommy dan Oma selalu mengajarkan aku memasak macam-macam. Tapi aku tidak mau menjadi chef karena pekerjaan itu menguras tenaga dan aku tidak mau capek-capek."
"Adikmu Eagle yang akan mengambil alih bisnisnya Daddy?"
"Iya. Meskipun Eagle kuliah di IT, tapi dia sangat senang culinary. Dia jauh lebih berbakat dari pada aku."
Pedro memegang tangan Nadira. "Kamu cukup menjadi chef khusus diriku saja, sayang. Dan tampaknya kita akan jarang jajan jika kamu masaknya enak terus..."
"Sekali-kali kita makan diluar mas. Kan ada kalanya aku juga lagi tidak ingin memasak" senyum Nadira.
"You're right. Kita harus ada quality time berdua karena pekerjaan kita sudah membuat kita stress dan harus ada healing." Pedro mencium bibir Nadira.
"Pedro, bibirmu rasa tomat."
Pedro terbahak.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️