
Rumah Sakit Tokyo University
Detektif Sanada, Joey dan Mako pun mendatangi Genta Yamada sembari membawa selembar foto print dari CCTV. Detektif Sanada berharap Joey salah karena dia haru membelikan dua kotak bento. Pria berwajah kaku khas Jepang itu hanya melirik ke pria jangkung di sebelahnya. Untung taruhannya cuma dua kotak bento, bukan motor atau mobil.
"Pak Yamada" panggil detektif Sanada. "Apakah anda mengenali pria ini?"
Genta Yamada menatap selembar kertas yang diberikan oleh detektif Sanada.
Please bilang itu managernya, biar aku dapat dua kotak bento! Joey berdoa dalam hati.
"Ini... boss saya pak detektif" ucap Genta Yamada.
"Boss... Manager anda?" tanya detektif Sanada.
"Bukan... Boss pemilik perusahaan kami ... Tapi kok bersama Ayu... Oh Astagaaa!" Genta menutup mulutnya. "Ini tidak mungkin." Detektif Sanada, Joey dan Mako melongo.
"Apanya yang tidak mungkin?" tanya detektif Sanada.
"Apakah mereka berdua selingkuh?" Genta Yamada menatap ke ketiga orang yang mengerubungi dirinya.
"Itu yang harus saya selidiki, pak Yamada. Sekarang kita mulai pencarian boss anda dan datangi rumah manajer anda. Bukan tidak mungkin manager anda disuruh oleh boss anda. Ayo kita pergi sekarang!" Detektif Sanada meminta salah seorang petugas polisi membawa Genta Yamada menuju parkiran.
Pria yang melihat bahwa istrinya baik-baik saja tapi tampak bahagia dengan pria lain, membuatnya merasa menjadi pria kalah. Genta menunduk sambil berjalan bersama petugas polisi itu.
"Tebakan mu salah, Bianchi tapi tetap saja Bu Yamada kabur dengan pria lain. Biar aku yang urus dari sini. Terimakasih atas serunya hari Sabtu ini." Detektif Sanada menepuk bahu Joey.
"Anytime, detektif Sanada."
"Dokter Mako." Detektif Sanada mengangguk hormat lalu pergi untuk mengurus kasus Yamada.
***
"Aku tidak menyangka Joey, kalau dia memilih kabur dengan pria lain. Aku melihatnya sebagai wanita yang lemah lembut" gumam Mako.
"Tampaknya anak itu bukan anaknya dengan Genta" balas Joey.
"Kamu kok bisa jadi Hajime Kindaichi sih?" kekeh Mako.
"Aku punya dua Opa yang pensiunan detektif NYPD dan kalau kami kumpul keluarga besar, aku selalu suka mendengarkan cerita mereka berdua."
Mako menoleh. "NYPD? Apakah mereka pernah kena tembak?"
"Well Opaku Ghani, berapa kali nyawanya hampir melayang akibat kasus pembunuhan berantai juga yang mengincar nyawa Oma Alexandra."
"Omamu Alexandra kenapa diincar nyawanya?"
"Karena si pembunuh itu terobsesi dengan omaku. Opa Ghani sudah kena tembak berapa kali tapi tidak ada yang bisa mengalahkan posisi luka tembak Opa Raymond. Mau tahu kena tembak dimana?" Joey menatap Mako sambil nyengir.
"Dimana?"
"Di pantat."
Mako melongo. "Uso ( yang benar )?"
"Serius!" angguk Joey.
"Keluarga kamu besar ya Joey?"
"Besar banget dan kalau pun kumpul, bisa bikin rusuh rumah. Masing-masing generasi tidak ada yang pada ingat umur." Joey pun manyun teringat lebaran lalu seperti biasa Opa Eiji nya membuat gegeran hingga ribut dengan Opa Javier dan Opa Duncan.
***
Mansion Al Jordan
"Kamu tadi bilang apa Em?" tanya Luca yang sudah mematikan keran. Dengan pedenya pria itu berjalan ke arah Emi yang hanya bisa menganga mulutnya melihat pemandangan yang semakin mendekati dirinya.
Bang, tolong deh ... Jangan dekat-dekat. Gak kuat aku bang...
"Err... Eh itu... " Wajah Eni yang biasanya judes dan dingin, tampak panik dan memerah. Emi, emi... Anak buah Otousan kamu kan juga banyak yang body-nya bagus dengan roti sobek tapi kenapa lihat Sono gaki ini bikin jantungmu berantakan bagaikan habis marathon.
"Itu apa Emi?" tanya Luca yang semakin mengikis jarak antara keduanya.
"Itu ... Eh anoo... Tante... makan siang" ucap Emi terbata-bata dan gadis itu menyesal menatap mata coklat Luca. Wajahnya semakin memerah.
Astagaaa! Ini jantung aku kenapa? Emi merasa detak jantungnya sampai terdengar keluar tubuhnya.
"Aku suka kalau bisa membuatmu gugup seperti ini, Em..." Luca hendak mencium bibir Emi ketika...
"Lucaaaaa! Emiiii! Ayo makan!" lengkingan suara Marissa membuat keduanya tersentak.
Haaaiissshhh mommy merusak suasana! Luca mengumpat semua bahasa sedangkan Emi berusaha menetralisir degup jantungnya.
"A...Aku masuk dulu..." Emi pun bergegas masuk ke dalam rumah sedangkan Luca mengacak rambutnya kasar.
"Mommy nyebeliiiinn !"
***
Luca sudah bergabung di meja makan setelah tadi dirinya mandi secepat kilat dan sudah memakai baju yang sopan.
Ketika tadi masuk ke dalam rumah, lagi-lagi kupingnya kena jewer sang mommy, Marissa.
"Kamu tuh! Anak gadis kamu goda pakai tubuh kamu! Mau jadi penari strip#tis apa ya? Mbok yang sopan gitu tho Lucaaaaa! Apa pernah mommy ajarin kamu untuk tidak sopan sama wanita?" omel Marissa gemas.
"Kan gerah mom, makanya aku memilih buka kaosku" bela Luca.
"Sudah! Mandi sana! Bau!" Marissa melepaskan jewerannya. "Pantas Emi kabur, kamu seperti ini!"
"Aku tidak bau, mom!" bantah Luca karena memang dirinya bukan tipe pria bau. Harum parfum mahalnya masih tercium dari tubuhnya.
"Tetap harus mandi, Luca Alano Akandra Bianchi! Cepat! Semua sudah pada menunggu di ruang makan!" bentak Marissa. Luca pun langsung melesat masuk kamarnya.
Marissa memegang pelipisnya. Apa punya anak laki-laki itu lebih membuat pusing dibandingkan dengan anak perempuan ya?
Dan kini Luca sudah duduk bersebalahan dengan Emi yang kembali memasang wajah datar dan judes seperti biasanya.
"Enak Mi-chan nasi liwet nya. Ini yang buat kamu sama Emi ya?" tanya Joshua ke Miki.
"Iya tadi aku ngajarin Emi, bang" jawab Miki.
"So, bagaimana kabar ayahmu Em? Apa masih absurd?" tanya Mario ke Emi.
"Kalau Otousan tidak absurd, bukan Otousan namanya" senyum Emi.
"Memang Takeshi tuh benar - benar deh..."
BREAKING NEWS
*Seorang pria diduga mengalami guncangan jiwa akibat mengetahui istrinya yang sedang hamil, kabur bersama dengan pria selingkuhan nya yang tidak lain adalah boss dari suami si istri, melakukan penusukan kepada istri dan pria selingkuhan itu di hadapan beberapa orang polisi yang mengawalnya untuk mencari keberadaan istrinya yang hilang dari rumah sakit Tokyo University.
Pria selingkuhan itu mengalami luka serius di bagian dada, sedangkan si wanita mengalami luka-luka di bahu dan perut. Diperkirakan janinnya tidak selamat. Sekarang keduanya dibawa ke rumah sakit Tokyo University*.
Begitu berita dari televisi yang memang dinyalakan di ruang makan.
Kedelapan orang di meja makan melongo melihat Joey dan beberapa tim dokter sibuk mengurus korban yang dibawa ke rumah sakitnya.
"Ya ampun Joey! Kenapa sih ada kejadian di weekend seperti ini?" Josephine memegang pelipisnya.
Detektif Sanada mengakui dirinya kecolongan dalam mengawal suami korban karena tidak mengetahui bahwa pria berinisial GY membawa sebuah pisau lipat di balik jaketnya.
"Kok aku merasa Joey terlibat di peristiwa ini deh!" gumam Mario.
"Ya terlibat lah mas. Kan dia yang urus korban" sahut Josephine.
"Kayaknya dari sebelumnya deh Jo" ucap Mario.
"Fix ! Besok lagi Joey nggak boleh kumpul sam Ghani dan Raymond! Bahaya!" putus Joshua.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️