
Mansion Bianchi Turin Italia
"Sekarang kita buka-bukaan, Omar. Ceritakan dari awal! Apakah kamu naik pesawat denganku itu juga bukan kebetulan?" Leia menatap dingin ke agen FBI berdarah Mesir itu.
"Kalau aku naik pesawat dengan mu itu benar kebetulan, Leia, karena aku tidak tahu kita akan bersebelahan hingga memudahkan aku untuk mendekati mu."
"Apa alasanmu?" tanya Dante judes.
"Karena Isobel tidak tahu lagi harus meminta tolong pada siapa" jawab Maggie. "Kami tahu, kami ingin menangkap Harland, kami ingin menghancurkan bisnisnya tapi setiap kami, FBI, DEA dan LAPD mengajukan kasus kami, selalu ditolak atau pada saat penggrebekan tidak ada bukti apapun! Di masing-masing law enforcement kami termasuk DA ( District Attorney / Jaksa Wilayah ) dan Hakim Agung pun ada mata-matanya."
"Isobel mengumpulkan kami, empat orang yang gigih mengejar Harland Rochester lalu meminta kami mendekati Anda, keluarga Mancini dan Bianchi di Turin karena Isobel mendapatkan informasi bahwa lahan anggur kalian hendak diambil oleh Harland. Dia menunggu dua keluarga saling berseteru dan membunuh satu sama lain karena cara mereka menyusupkan anggota bayaran mulai gagal setelah Rowan Jesper akhirnya mereka bunuh" papar Billy Boyd.
"Harland benar-benar penjudi. Dia berani menyusup ke dalam beberapa klan mafia, Diozo, Esposito, Ferrara, Mancini dan Bianchi karena keluarga kalian itu memiliki kekuatan solid. Bukan tidak mungkin dia sudah menjarah ke Yakuza Jepang dan mafia Asia Timur" sambung Omar.
"Kenapa kalian mendekati keluarga kami?" tanya Luke. Dirinya tidak masalah ikut gegeran tapi harusnya jujur dari awal cumii!!!
"Karena kalian keluarga netral, keluarga lurus meskipun aku tahu Yakuza Takara sudah melempar banyak orang ke kolam piranha" seringai Omar yang membuat Luke mengedikkan bahunya.
"Aku hanya mengurangi populasi orang-orang unfaedah" ujar Luke cuek.
"Dan aku... kami tidak ikut campur soal Belgia" sambung Omar.
Keempat anggota keluarga keturunan klan Pratomo hanya memasang wajah datar. Dante melirik ke arah Leia yang tanpa ekspresi. Aku sudah tahu apa yang kalian lakukan di Belgia.
"Jadi, kalian membutuhkan kami untuk membongkar semua kejahatan busuk Harland Rochester? Dengar Omar, sejak sepupu ku Rajendra bersetru dengan keluarga Rochester beberapa tahun lalu, kami keluarga klan Pratomo memilih untuk tidak ada yang berhubungan dengan keluarga Rochester karena kami menghormati keluarga Hamilton!" Luca menatap tajam ke Omar.
"Justru karena itu, kami diutus oleh Isobel untuk bekerjasama dengan anda sekeluarga."
"Apakah sepupuku Nadira juga bagian dari rencana kalian? Maksud aku, sekarang Nadira berpacaran dengan Pedro Pascal, anak buah Isobel. Dia jatuh cinta pada sepupuku atau hanya sekedar scam?" Luke menatap keempat agen FBI disana.
"Soal Pedro, dia tidak berhubungan dengan misi kami karena divisi kami berbeda. Isobel mengirim kami karena di divisi kami, sudah penuh dengan mata-mata Harland terutama boss kami. Dan yah, Pedro benar-benar mencintai sepupu anda. Jangan khawatir, Pedro orangnya lurus." Omar menjelaskan pada keluarga klan Pratomo.
"Omar, apa kamu paham, jika ini terbuka semua, kalian semua akan melawan banyak petinggi law enforcement" ucap Antonio.
"We know. Kami dan Isobel sudah siap dengan apapun yang terjadi begitu juga dengan partner kami di LAPD dan DEA."
Suara ponsel Omar berbunyi dan pria itu bergegas menerimanya. "Excuse me." Pria bertinggi 196 cm itu pun menuju ruang tamu.
"Berapa petinggi FBI yang diduga dan dicurigai tersangkut dengan Harland?" tanya Luca.
"The truth Sir, 20 orang yang kami curigai dan duga" jawab Billy.
Omar pun kembali setelah menerima telpon. "Mansion milik Harland yang berisi gudang narkoba, hancur berantakan."
Luke segera menyalakan tv dan melihat berita live dimana mansion milik Harland sudah hancur berantakan namun semua orang disana memakai baju hazmat dan masker khusus karena narkoba membuat orang merasakan efek sampingnya seperti menggunakan narkoba.
"Untung mansionnya jauh dari pusat kota Miami" gumam Raveena. "Bisa bahaya yang menghirup banyaknya narkoba disana."
"Dia punya mansion di Star Island di Miami, punya dermaga dan hanggar sendiri. Jadi dia bisa kemana saja tanpa ada yang curiga karena itu area para billionaire dan selebriti tinggal" ucap Tiffany.
"Satu sudah jatuh..." gumam Omar.
"Dalam operasi narkoba ini yang menyeret prosedur film Harland Rochester, kepala DEA Los Angeles dan Chief Miami Dade PD tewas dalam pengerebekan tersebut."
Semua orang di sana melongo. "Apakah mereka terlibat?" Luca menoleh ke arah keempat agen FBI .
"Siapa yang menembak mereka?" gumam Leia.
"Diketahui upaya penggrebekan berdasarkan informasi dari masyarakat dan setelah dilakukan pengawasan, terbukti rumah milik Harland digunakan oleh bandar narkoba. Pengacara Harland Rochester menyatakan bahwa kliennya tidak mengetahui jika rumahnya dipakai untuk bandar narkoba."
Tak lama pengacara Harland Rochester tampil di layar televisi.
"Mr Rochester sudah tiga bulan ini tidak berada di Miami dan dia tidak tahu penyewanya karena semua diurus oleh asistennya."
"Bullsh1t!" umpat Billy.
"Siapa tim kamu yang di DEA dan Miami Dade PD yang masuk ke tim Isobel?" tanya Luca ke Omar.
"Horatio Jones dan Eddie Cibbriani."
"Aku rasa dua orang itu yang membunuh kepala DEA dan Chief Miami Dade PD. Kalau aku jadi kamu dan teman mu, tidak perlu basa basi sidang lama yang penuh drama, habisi saja pasti akan membuat Piramida mereka goyah. Dua kepala naga sudah dihabisi meskipun nanti ada lagi tapi aku harap sebelum itu terjadi, kingpinnya, si Harland, aku habisi dulu!" ucap Dante dingin.
Sabar bang...
"Dude!" Antonio menoleh ke arah Dante.
"Hei, dia menyuruh orang mau buat kita bunuh-bunuhan, kenapa tidak aku bunuh dia lebih dulu? Lagipula, Leia hampir tewas gara-gara dua anteknya!" balas Dante.
"Aku sudah mengabari Bruce Diazo, untuk berhati-hati dengan kedatangan Harland ke Barcelona" ucap Luke.
"Memang Diazo punya apa disana?" tanya Omar.
"Hotel yang dibooking oleh tim publisitas MGM, milik keluarga Diazo. Dan keluarga kerajaan Spanyol, berteman baik dengan Harland."
"Benar-benar sudah menggurita bisnis narkobanya dan kita harus waspada di perusahaan milik keluarga kita, Leia." Luca menatap putrinya. "Karena tidak mungkin pegawai kita juga berteman dengan orang-orang itu."
"Dad, kita kan selalu melakukan test narkoba dadakan setiap saat dan tidak ada yang bisa berkelit. Lagipula, semua perusahaan kita tidak menolerir pecandu at all!"
"Bang Lukie, ini jauh lebih menyeramkan saat kalian ke Belgia" bisik Raveena.
"Karena yang kita hadapi bukan sembarangan Veena. Apa kamu takut?" tanya Luke ke sepupunya.
"Nope. Aku harap setelah si Inferno atau kamu atau siapa saja bisa menghabisi si Harland, tidak ada yang mengusik keluarga kita !"
"Enaknya dibunuhnya gimana?" seringai Luke.
"Buang ke Empang!"
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️