The Bianchis

The Bianchis
Luke dan Leia Bianchi : Raveena Dewanata



Mansion Bianchi Turin Italia


Mata coklat Leia menatap tidak percaya sosok orang yang paling dia sebal, dengan santainya bersandar di mobil mewahnya. Balkon kamar Leia di lantai dua memang posisinya menghadap pintu gerbang mansion.


Suara ponsel Leia berdering membuat gadis itu menyambar nya dan benar nama 'Inferno' disana.


"Apa Inferno?"


"Kamu lihat aku kan?" ucap Dante di seberang.


"Penjaga juga melihat kamu!"


"Mereka sudah tahu aku, jadi tidak bakalan macam-macam. Kenapa kamu belum tidur?"


"Harusnya itu pertanyaan yang aku tanyakan ke kamu! Ngapain kamu disana?"


"Aku rindu kamu, Leia... Aku tidak bisa tidur jika tidak melihat dan mendengar suara kamu."


Leia melengos. "Seriously? Apakah kamu tahu teknologi yang bernama FaceTime? Zoom? Video call?"


"Tetap tidak sama Leia. Aku lebih suka seperti ini, melihat kamu di balkon dengan kimono seperti itu sambil mengobrol... Rasanya lebih mengena dibandingkan harus saling melihat melalui benda pipih. Tampak tidak real!"


"Astagaaa! Dasar perayu!" umpat Leia.


"Arm sling kamu kemana, Leia? Gipsnya masih terpasang kan?" Dante tetap menatap gadisnya yang masih bersandar di balkon.


"Gips masih terpasang Inferno! Sudah, kamu pulang! Ganggu orang mau tidur!" Leia pun hendak mematikan ponselnya.


"Leia..."


"Apa?"


"Goodnight and sweet dreams."


"Semoga nggak nightmare aku nanti!"


Dante terbahak. Tak lama Leia pun mematikan panggilan Dante dan masuk ke dalam kamarnya. Pemimpin keluarga Mancini itu pun masuk ke dalam mobil mewahnya lalu pergi meninggalkan kediaman keluarga Bianchi.


***


Kamar Luke Bianchi


"Jadi si Yankee sekarang setiap pulang kerja, urus kebun strawberry aku seperti dulu lagi, Shota?" tanya Luke ke pengawalnya yang disuruhnya menjaga Rin.


"Iya Bianchi-san. Ichigo-san tampaknya gemas karena anda tidak berada di Tokyo dan menyempatkan diri untuk merawat kebun anda. Dan setiap merawat, Ichigo-san selalu sambil memaki anda."


"Hah?" Kurang ajar! Dasar Yankee! Beraninya dia memaki aku!


"Eh? Tapi itu kenyataannya Bianchi-san."


Awas kalau aku pulang ke Tokyo! Habis kamu Yankee!


"Ya sudah Shota, kamu awasi dia!" ucap Luke dingin.


"Baik Bianchi-san. Oh anda kapan kembali ke Tokyo?"


"Kenapa?"


"Shinoda-san sudah mengeluh panjang lebar karena banyaknya pekerjaan. Apalagi nyonya besar tampaknya ikut mengerjai Shinoda-san jadi semakin menumpuk pekerjaan."


Luke tertawa. "Biarkan saja! Dia sudah keenakan sering kabur berkencan dengan Yuri! Sudah waktunya bertanggung jawab!"


***


Apartemen Hidetoshi Tokyo Jepang


"Haaaattssyyiinnggg!" Hidetoshi terbangun dari tidurnya dan melirik jam digital diatas nakas sebelah tempat tidurnya. Jam lima pagi.


Kok aku tiba-tiba flu? Hidetoshi mengelap hidungnya dengan tangan dan melirik ke arah Yuri yang terlelap. Setelah percintaan panas keduanya, Yuri memang langsung tertidur begitu juga dengan Hidetoshi. Tapi rasa gatal di hidungnya seperti menggangunya hingga terbangun.


Hidetoshi pun bangkit dari tempat tidurnya tidak memperdulikan tubuhnya yang polos lalu menuju kamar mandi. Brengseeekkk kamu Luke! Minggat ke Turin nggak pulang-pulang! Mana ibumu sama durjananya dengan mu!


"Pulang kamu Yakuza brengseeekkk!" teriak Hidetoshi kesal.


***


Kamar Luke Bianchi, Mansion Bianchi Turin Italia


Ngiiiinnggg!


Luke melepaskan earphone nya ketika merasakan telinganya berdengung macam terkena suara berfrekuensi tinggi.


Brengseeekkk! Siapa yang ngumpat aku? Luke menatap layar MacBook nya sambil mengumpat. Dirinya masih mencari tahu lokasi promosi film Hollywood besutan Harland Rochester.


Dirinya berencana akan datang bersama dengan Leia dan Antonio sebagai salah satu keluarga terkenal di Turin. Luke memakai earphone nya lagi dan mencari informasi untuk bisa masuk.


"Signor Bianchi..." Suara Alexis Accardi terdengar di earphone Luke. Sejak dua hari lalu, Alexis memang dikirim Antonio dan Luke ke Los Angeles guna mencari informasi.


"Bagaimana Lex?"


"Saya sudah mendapatkan informasi. Mereka akan melakukan promosi besar-besaran di Roma pada tanggal 22 dan Turin pada tanggal 24 bulan ini."


"Sudah saya susupkan nama anda, Signora Bianchi dan Signor Bianchi."


"Dimana mereka akan melaksanakan promosi?"


"Turin Royal Palace Hotel."


Luke mencari informasi hotel itu dan tersenyum smirk melihat bangunan hotel yang menurutnya cocok untuk terjadi transaksi.



"Sudah oke semua kan yang di Turin?" tanya Luke.


"Sudah tapi..."


"Tapi apa?"


"Ternyata Signor Mancini juga mengirimkan Sergio untuk bisa mendapatkan undangan di Turin."


Luke melongo. Dasar Inferno!


***


Los Angeles International Airport California Amerika Serikat ( LAX )


Alexis Accardi memutuskan pulang ke Turin setelah dirinya menyelesaikan misi menyusupkan nama ketiga pemimpin klan Bianchi ke dalam acara promosi film dari perusahaan MGM yang dipimpin Harland Rochester.


Asisten Antonio itu sebenarnya bisa saja mengajukan permintaan melalui email tapi dirinya sendiri juga harus memasang penyadap di ruang Harland. Alexis harus menyamar menjadi cleaning service di malam setelah dia landing di LA.


Anggota keluarga Bianchi di Los Angeles membantu penyamaran itu dengan menyusupkan Alexis ke gedung milik MGM. Benjiro Smith yang diminta tolong oleh Luca pun membantu dari jauh untuk memanipulasi semua CCTV selama Alexis memasang beberapa alat penyadap disana.


Dan kini Alexis pun harus pulang karena tugasnya sudah selesai. Sergio, asisten Dante Mancini, masih tinggal di Los Angeles untuk membantu mencari informasi pergerakan jalur narkoba dari Hollywood menuju Cannes dan Roma.


Mau tidak mau kedua keluarga yang sempat berseteru harus bekerja sama untuk menyelamatkan aset mereka dari perdagangan narkoba ditambah nyawa Leia nyaris melayang akibat ulah anak buah Harland.


Alexis masih menunggu antrian untuk masuk ke ruang keberangkatan ketika dirinya bertabrakan dengan seorang gadis yang terpeleset.


"Eh maaf..." ucap Alexis yang memegang bahu gadis itu yang hampir terjatuh.


"Maap Sir, saya terpeleset. Sepertinya saya salah pakai sepatu" ucap gadis itu sambil melirik sepatu bootnya.


"Apa pergelangan kaki anda baik-baik saja?" tanya Alexis.


"Fine tapi malunya yang parah" tawa gadis itu yang membuat Alexis terkesima.


"Bisa terjadi pada siapa saja. Oh, Alexis Accardi" ucap pria itu sambil mengulurkan tangannya.


"Italian huh?"


"Half Italian, my mom was British."


"Was? Maksudmu ibumu sudah tidak ada?" Gadis itu menatap prihatin ke Alexis. "I'm so sorry."


"Yup. Orangtuaku sudah meninggal. Namamu siapa?"


"Raveena Dewanata."


Alexis merasakan jantungnya berdebar menatap gadis cantik di hadapannya.


"Anda mau kemana Miss Dewanata?" tanya Alexis.


"Aku mau ke Turin. Sepupuku meminta bantuan padaku dan aku harus membantunya." Raveena berdiri di sebelah Alexis dan pria itu mengira tinggi gadis ini sekitar 165 cm dan menjadi 170 cm karena bootnya yang lima Senti.


"Sepupumu?"


"Kamu juga mau ke Turin?"


"Iya. Kalau boleh tahu, siapa nama sepupu anda?"


"Luke dan Leia Bianchi."


AAAAPPPAAAA?



Alexis Accardi



Introducing Raveena O'Grady Dewanata


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️