The Bianchis

The Bianchis
Nadira McCloud : Rajendra Ngamuk



Kediaman Keluarga McCloud


Rajendra membuka pintu rumahnya dan melihat wajah putrinya yang tampak berantakan bersama dengan Pedro Pascal yang masih menggenggam tangannya erat.


"Lepaskan tanganmu dari tangan putriku, Pascal!" Rajendra menatap tajam ke arah pria bermata hijau itu.


Pedro melepaskan perlahan dan tampak Nadira menoleh ke arah Pedro. Mata coklat itu masih terlihat panik namun Pedro hanya mengangguk pelan.


"Kamu tidak apa-apa Sayang?" tanya Rajendra sambil memeluk putrinya.


"I'm fine Dad..." bisik Nadira.


"Ayo masuk ke rumah." Rajendra menghela putrinya lalu menoleh ke arah Pedro. "Dan kamu ikut masuk! Kamu hutang penjelasan pada saya!"


Pedro menelan salivanya susah payah mendapatkan tatapan super judes dan menusuk dari seorang Rajendra McCloud.


***


Aruna memeluk Nadira di sofa sedangkan Rajendra menatap tajam ke pria yang hanya mampu menatap dengan perasaan bersalah.


"Jelaskan padaku, Pedro! Bagaimana bisa kamu membuat Nadira nyaris tewas! Apa yang kamu pikirkan!" bentak Rajendra.


"I'm so sorry Mr McCloud, Mrs McCloud jika saya tidak jujur dari awal..."


"Tentu saja Pascal!" hardik Rajendra kesal. Masih untung ayahnya, Arjuna tidak sampai terbang dari London ke New York. Eagle, bungsunya pun hampir kemari, khawatir memikirkan kakaknya.


"Nama saya Pedro Angel Pascal dan saya adalah agen FBI spesialis Ter**ris serta penjinak b*m. Dan saya minta maaf karena saya membuat Nadira dalam bahaya."


"YOU SHOULD!" bentak Rajendra. "Apa kamu akan bertanggungjawab jika putri saya tewas? Apa kamu akan membayar dengan nyawamu?"


"Jika perlu Sir!" jawab Pedro tegas dan menatap Rajendra dengan berani. "Anda tidak tahu bagaimana perasaan saya ketika melihat Nadira dibawa Janitor dalam todongan pistol..."


"Todongan pistol?" pekik Aruna.


"Mom..." Nadira menepuk paha Aruna agar tenang.


"Tapi jangan khawatir Mrs McCloud, saya sudah menghabisi orang yang menodongkan pistol itu dan membuat Nadira masuk ke dalam ruang janitor yang berisikan..." Pedro menghentikan ucapannya.


"Bagus sekali pekerjaan kamu Pedro! Kenapa kamu tidak langsung menangkap orang - orang itu agar putriku tidak harus seperti mengantarkan nyawa!" Rajendra benar-benar marah dengan sikap dan pekerjaan FBI.


"Kami harus mengumpulkan bukti dan informasi, Sir" ucap Pedro pelan dan dia tahu dirinya salah apalagi yang dia hadapi adalah kedua orang tua Nadira, pemilik hak atas putrinya.


"BullshLt! Kalian itu benar - benar..." Rajendra mengusap wajahnya kasar.


"Dad... sudah. Ingat tensi..." ucap Nadira pelan.


"Saya harap kami tidak bertemu kamu lagi, Pedro!"


"Tapi Sir... Saya harus membuat laporan karena Nadira adalah saksi..."


"Bilang sama Isobel, keterangan Nadira akan didampingi dengan pengacara. Travis Blair dan Steven Hamilton akan menjadi pengacara putri kami!" potong Aruna dingin.


Pedro hanya bisa terdiam. Jika keluarga McCloud sudah memakai pengacara, besar kemungkinannya mereka akan menuntut biro.


"Sekarang kamu pergi. Kami butuh istirahat, Nadira butuh istirahat untuk menenangkan hatinya dan traumanya." Rajendra berdiri yang membuat Pedro ikut berdiri.


"Saya permisi dulu Mr McCloud, Mrs McCloud." Pedro menatap sendu ke Nadira. "Aku pulang dulu Nadira."


Nadira hanya mengangguk. Pria itu pun keluar dari rumah mewah Rajendra dengan diantarkan seorang butler.


Setelah Pedro pergi, Rajendra menghampiri Nadira dan memeluknya erat.


"I'm so glad you're safe, sayang" bisik Rajendra sambil menangis. Sore itu ketiga anggota keluarga McCloud saling bertangisan, bersyukur bahwa putri mereka pulang ke rumah dengan selamat.


***


Usai kejadian kemarin, New York University memutuskan untuk meliburkan kegiatan perkuliahan hingga dua Minggu sampai semua area disisir aman. FBI dan NYPD tidak mau kecolongan dengan sedikit C4 yang tersisa. Pedro pun selama penyisiran mengikuti progress itu termasuk di beberapa kampus di New York.


Kejadian di NYU membuat semua pihak menjadi waspada dan setelahnya semua menangkap para pendukung Aryan di seluruh Amerika.


***


Dua Minggu Kemudian ...


Pedro tampak melamun di kafetaria FBI setelah menyelesaikan tugasnya sebagai agen lapangan. Dirinya merasa lelah fisik dan mental apalagi Rajendra McCloud membuktikan ucapannya bahwa Nadira tidak hadir dan diwakili oleh pengacaranya yang juga Oomnya, Travis Blair dan Steven Hamilton.


Harapan Pedro untuk bisa bertemu dengan Nadira pun tidak mendapatkan akses dari Rajendra bahkan gadis itu sudah memblokir nomor nya.


Pedro menghela nafas panjang. Dia tidak menyalahkan sikap Rajendra dan Aruna McCloud karena saat itu nyawa putrinya memang dalam bahaya.


"Hei!"


Pedro mendongakkan wajahnya dan tampak Kevin dan Scott, rekannya datang menghampiri sambil membawa nampan makanan.


"Tampaknya kamu butuh teman makan bersama" cengir Scott.


"Kenapa wajahmu?" Kevin tersenyum. "Nadira McCloud."


"Kamu suka dengan gadis itu ya?" timpal Scott. "Jalanmu berat, bro. Ayahnya chef terkenal, pemilik bisnis restauran RR's Meal seluruh dunia, pamannya kapten NYPD precinct Manhattan yang kemungkinan besar bisa menjadi komisaris suatu saat nanti. Belum keluarga besarnya, Reeves, O'Grady, Giandra, Neville, Al Jordan, Hamilton, Blair, Ramadhan, Bianchi, Takara dan Park."


Pedro menghela nafas panjang. "Memangnya aku tidak mengetahui siapa-siapa saja nama belakang yang merupakan keluarga besar Nadira."


"Apalagi kamu membahayakan nyawa Nadira saat membuatnya menjadi mata-mata dan untungnya nyawa Nadira masih menempel di raganya." Kevin menatap serius.


"Kamu kira aku tidak akan melindungi dirinya dengan nyawaku?" Pedro menatap tajam ke arah dua rekannya.


"We know tapi Dimata ayahnya, kamu membahayakan putrinya. Itu hal yang wajar karena aku memiliki anak perempuan juga. Jika aku di posisi Rajendra, aku akan melakukan sama seperti dia" ucap Scott yang sudah menikah dan memiliki seorang putri berusia empat tahun.


Pedro menenggak minumannya. "Kalian kan tahu aku tidak pernah dekat dengan wanita manapun tapi Nadira membuat detak jantung ku berantakan. Dan istilah butterfly in my stomach itu terjadi padaku saat pertama kali melihatnya."


Kevin dan Scott tertawa melihat rekan mereka tampak sedang merasakan jatuh cinta.


"Apakah kamu berani menghadapi semua keluarga besar Nadira? Jika kamu berani, majulah Pedro. Hadapi ayahnya. Sekarang kita sudah tidak sesibuk dua Minggu ini, kamu ada waktu untuk bisa ke Manhattan menemui ayah Nadira." Kevin memberikan semangat kepada Pedro.


Pedro mengambil rokoknya dan mulai menyalakannya.


"You're right bro" ucap Pedro sambil menghembuskan asapnya dari mulut dan hidungnya. "Malam ini aku akan ke rumah keluarga McCloud."


"Gitu dong bro. Be brave."


Pedro hanya mengangguk.



Ya ampun bang, biasa aja gayanya kalau ngerokok...


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote gift and comment


Tararengkyu ❤️🙂❤️


***



Bonus visual Next project Gemini dan Gemintang Lexington, putri kembar Haris dan Freya Lexington