
Ruang Latihan McGregor - Blair
Nadira memarkirkan mobil BMW nya karena tadi Pedro datang menggunakan motor Triumph miliknya. Meskipun Pedro menawarkan untuk menyetir mobilnya, tapi Nadira tetap bersikeras yang membawanya.
"Ayo turun" ajak Nadira setelah mereka masuk ke halaman dan tampak seorang pria tampan bersedekap di sebelah mobil Audinya.
"Apa hal kamu nyuruh aku datang kemari di hari Minggu saat waktunya aku melakukan hibernasi layaknya seekor beruang! Apa kamu tidak tahu sebagai mahasiswa MIT itu bisa tidur seharian merupakan laksana memenangkan lotere?" omel pria itu yang membuat Nadira tertawa.
"Oh come on Bay, aku kan tidak setiap Minggu minta kamu kemari" kekeh Nadira sambil memeluk pria yang dipanggil 'Bay' itu.
"Ini orang FBI nya?" Pria berambut hitam dan bermata biru tua itu mengedikkan dagunya.
Introducing Bayu Blair O'Grady
"Yup. Pedro, perkenalkan ini Bayu Blair O'Grady. Bay, ini Pedro Pascal, agen FBI itu."
Pedro dan Bayu saling bersalaman.
"Not bad, sister. Not bad" goda Bayu ke sepupunya.
"Shut up, Bay!" hardik Nadira dengan wajah memerah.
"So, apa yang hendak kalian lakukan disini?" tanya Bayu sambil membuka pintu Dojo dengan sidik jarinya. Semua anggota keluarga klan Pratomo memilik password dan sidik jari tersendiri di pintu Dojo tersebut.
Pedro melongo melihat betapa luasnya ruang latihan disana bahkan terdapat arena Dojo beladiri, ring tinju, semua peralatan gym bahkan area anggar pun ada.
"Ke sayap kanan, Bay" senyum Nadira.
Bayu terbahak. "Macam-macam saja kau Sista."
"Memang ada apa di sayap kanan?" tanya Pedro.
"Kamu akan lihat sendiri" cengir Bayu.
Ketiganya pun masuk ke dalam bangunan yang lagi-lagi harus memakai password dan sidik jari. Pedro terperangah melihat luasnya arena latihan menembak milik keluarga Pratomo.
"Holy crap! This is much better daripada di akademi!" gumam Pedro.
"Kamu belum lihat yang terbaiknya" seringai Bayu yang membuka sebuah bilik dan lagi-lagi Pedro dibuat menganga. Semua senjata api berbagai model, jenis, seri bahkan yang langka pun ada semua disana termasuk busur panah berbagai macam bentuk dan model termasui crossbow pun ada.
"Oh my God..." Pedro menatap semua senjata disana yang tersusun rapi.
"Welcome to our lair" cengir Bayu.
"Kalian semua punya senjata api?" tanya Pedro bodoh.
"Nad, dia itu agen FBI bukan sih? Masa tidak tahu kita semua selalu menyimpan senjata di mobil maupun di tas." Bayu menggelengkan kepalanya.
"Tapi saat aku ditodong, aku memang tidak membawa Glock aku, Bay. Kan ada sensor senjata setiap masuk kampus dan Fred waktu itu memakai pistol plastik yang tidak bisa terdeteksi. Makanya Tante Moon membuat alat sensor senjata api meskipun berupa bahan plastik sekarang. Belajar dari pengalaman aku kemarin" ucap Nadira.
"So, Pedro. Kamu mau coba yang mana?" Bayu menatap pria berdarah Italia dan Perancis itu.
Pedro hanya tersenyum smirk.
***
Acara menembak di arena latihan tembak milik keluarga McGregor - Blair yang akhirnya menjadi milik keluarga Pratomo itu membuat Pedro semakin kagum dengan Nadira.
"Wow Nadira..." Pedro menatap hasil tembakan Nadira yang tepat di tengah-tengah kertas target. "Ingatkan aku untuk tidak macam - macam padamu saat kamu memegang Glock."
Bayu terbahak. "Kamu berani macam-macam dengan Nadira, bye bye world."
Pedro hanya mengusap tengkuknya.
***
Usai acara menembak, kini ketiganya berada di sebuah cafe Italia yang menjual pizza favorit Nadira. Bayu menatap Pedro lebih intens sekarang karena tadi dia memilih konsentrasi melihat kemampuan menembak agen FBI itu.
"Kenapa kamu melihat aku seperti itu Bayu?" tanya Pedro ke putra Abiyasa O'Grady dan Gandari itu.
"Well, hanya menscreening kamu. Meskipun Oom Benji sudah memberikan hasil screening, tapi sudah kebiasaan kami menilai secara langsung" jawab Bayu sambil menggigit pizzanya.
"Bagaimana dengan Belgia?" tembak Pedro.
Nadira melirik ke arah Bayu ingin tahu apa jawaban sepupunya.
"Apa yang kamu tahu tentang Belgia?" Bayu balik bertanya.
Pedro tertawa kecil. "I better don't ask."
"Sudah tahu kan jawabannya. It's our family business, bukan masalah yang lain" senyum Bayu manis.
Pedro hanya menatap Bayu dan Nadira bergantian. "Your family is so scary."
"Hold up, Pedro. Halloween masih bulan depan" gelak Bayu.
Nadira hanya tersenyum mendengar ucapan sepupunya yang suka seenaknya ngomong macam Luke Bianchi ataupun Shinichi Park.
"Habis ini kalian mau kemana lagi?" tanya Bayu sambil melirik arlojinya.
"Pulanglah! Kamu mau hibernasi kan? Besok kembali ke MIT?" Nadira menyesap juice anggurnya.
"Untung besok libur jadi aku bisa tidur dulu sebelum kembali ke kerusuhan data dan research."
"Ambil jurusan apa di MIT?" tanya Pedro ke pria yang sebaya dengan Arka dan Eagle.
"Well, entah turunan atau memang terlalu suka, aku ambil matematika dan komputer. Dan aku sudah menyelesaikan magang di perusahaan Tante Moon untuk membuat program spionase terbaru yang nantinya akan diluncurkan ke semua biro intelijen Amerika secara bertahap baru nanti ke seluruh dunia."
"Wow! That's so awesome!" puji Pedro.
"Thanks."
Ketiganya lalu menghabiskan pizza, pasta dan minuman yang mereka pesan lalu berpisah setelahnya menuju Kediaman masing-masing.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️