
Penthouse Keluarga Bianchi New York
Samuel Prasetyo menatap ke arah Joey Bianchi dan Georgina O'Grady Bianchi dengan tatapan gugup. Tapi mau sampai kapan dirinya tidak berani? Samuel membasahi bibirnya pertanda dirinya sangat panik. Blaze menatap kekasihnya dengan perasaan gemas.
"Mr dan Mrs Bianchi... Saya memberanikan diri untuk menghadap anda berdua... Un..untuk melamar putri anda yang bernama Blaze Fianna O'Grady Bianchi untuk menjadi... ehem... menjadi pendamping hidup saya..." Samuel mengusap keningnya yang berkeringat. "Maafkan kelancangan anak yatim-piatu macam saya ini yang... berani menyukai, mencintai, dan menginginkan.. putri dari dua dokter terkenal untuk menjadi istri saya."
Joey dan Georgina masih menunggu ucapan Samuel selanjutnya.
"Mr dan Mrs Bianchi, saya memang tidak sekaya Bee eh... Blaze tapi saya akan berusaha memberikan yang terbaik seperti apa yang Blaze dapatkan selama ini..."
"Eh Bebek! Kan aku sudah bilang, aku tidak perlu barang mewah karena sudah punya!" potong Blaze gemas dengan pacar lempengnya.
"Blaaazzzeee..." desis Georgina ke putri tunggalnya.
Blaze pun terdiam dan memajukan bibirnya.
"Saya lanjutkan Mr dan Mrs Bianchi. Jadi maksud saya kemari adalah hendak mengutarakan niat baik saya untuk meminang Blaze. Apakah... keinginan saya diterima?" Samuel menatap kedua orang tua yang sangat dihormatinya itu. Jantungnya terasa berdebar kencang, mengalahkan ujian praktek.
"Samuel..." Suara Bariton Joey terdengar di telinga Samuel.
"Ya Mr Bianchi."
"Apa kamu yakin bisa menghadapi putri saya selama hidup kamu? Kamu tahu sendiri kan Blaze kayak apa brutalnya?"
Samuel tersenyum tipis. "Insyaallah yakin, Mr Bianchi."
Joey menatap putrinya. "Bee, apa kamu sudah siap menerima Samuel jadi pendamping kamu?"
"Siap Daddy. Kan dia paling tabah ngadepin aku."
Georgina hanya memegang pelipisnya mendengar jawaban putri nya yang mirip asalnya dengan Daddynya.
"Kalau begitu, kapan kalian mau menikah? Apa menunggu Daddy mencari tanggal baik?" Joey menatap dua orang di hadapannya.
"Ikut Daddy saja tapi yang jelas nggak pakai lama" jawab Blaze.
"Okelah kalau begitu. Nggak usah acara tunangan ya! Repot! Langsung nikah saja."
Blaze dan Georgina tertawa. "Bilang saja malas dua kali ngumpulin keluarga."
Samuel menghembuskan nafas lega. Alhamdulillah.
***
Mesjid Manhattan, Manhattan New York
Rajendra dan Rama McCloud menjadi saksi saat Pedro Pascal mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai ikrar untuk masuk memeluk Islam. Setelah selama beberapa lama Pedro mempelajari Islam baik dari Rajendra maupun Pippa dan kakak iparnya yang di Kuala Lumpur Malaysia, agen FBI itu memantapkan hati untuk mengikuti agama milik Nadira, gadis yang sangat dicintainya.
Pedro sendiri sebelumnya sempat disidang oleh dua kakak beradik McCloud agar mengetahui tujuannya pindah apakah karena memang dari hati atau hanya karena ingin bersama Nadira.
Rajendra tidak mau jika Pedro memeluk agamanya karena terpaksa dan ingin menikahi putrinya. Namun Pedro menyatakan bahwa dirinya memang sudah tertarik sejak melihat kakaknya mualaf namun kedekatannya dengan Nadira membuatnya yakin.
"Alhamdulillah..." ucap semua orang yang datang di acara pengucapan syahadat Pedro. Beberapa rekannya di FBI pun hadir seperti Ross, Lucas, Scott dan Kevin disana. Rajendra dan Rama memeluk Pedro bergantian yang tampak terharu dengan sambutan ayah dan Oom Nadira itu.
"Kita makan - makan di RR's Meal Hell's Kitchen. Bawa semua rekan di ruanganmu Pedro malam ini." Rajendra menatap rekan-rekan agen FBI itu.
"Yess!" seru para rekan pejinak b*m Pedro.
***
RR's Meal Hell's Kitchen New York
Acara makan malam syukuran Pedro Pascal tampak ramai. Rajendra sengaja menutup restaurannya yang ini untuk lebih dekat dengan calon menantunya dan para rekan kerjanya di FBI.
Isobel tampak datang bersama suaminya dan langsung akrab dengan Rajendra dan Aruna. Nadira tersenyum melihat Pedro tampak bahagia setelah melewati ujian yang paling utama.
"Sumringah sekali senyumnya" goda Nadira.
"Alhamdulillah sayang, sudah terlewati ujian paling berat." Pedro merangkul bahu gadisnya.
"Sudah, tiga Minggu lalu. Dan kamu tahu, adikmu usilnya minta ampun! Aku dikasih pantangan macam-macam" adu Pedro.
"Eagle sudah sunnat sebelum masuk elementary jadi berbeda dengan kamu yang sudah dewasa baru sunat." Nadira tertawa kecil.
Tak lama keluarga Rama McCloud dan istrinya Astuti bersama dengan kedua anaknya, Savrinadeya dan Devan. Nadira yang melihat sepupunya langsung sumringah dan menghampiri Savrinadeya.
Introducing Savrinadeya Aisyahzaara McCloud
Nadira menggunakan bahasa isyarat ke sepupu cantiknya yang mengalami tuna rungu sama dengan sang mama, sedangkan adiknya Devan, normal.
Deya tampak senang melihat kakaknya bahagia bersama dengan pria yang mencintainya.
Selamat ya bang Pedro. Savrinadeya mengucapkan dengan bahasa isyarat.
"Terimakasih Deya" ucap Pedro setelah Nadira menerjemahkan. Gadisnya memang belajar bahasa isyarat demi bisa berkomunikasi dengan sepupunya. Selain Nadira, Raveena pun bisa meskipun tidak sefasih putri Rajendra McCloud itu.
"Kamu libur dari Gallaudet?" tanya Nadira. Savrinadeya memang sudah kuliah di Gallaudet University khusus para kaum tuna rungu mengambil psikologi.
Meliburkan diri. Aku kan sudah tidak ada ujian jadi mumpung weekend, aku pakai pulang saja sebentar. Lagian kangen keluarga New York.
"Iya, Daddymu lagi banyak pekerjaan disini. Jadi agak lama ya di New York" ucap Nadira.
Bang Pedro kapan meresmikan dengan mbak Dira?
"Masih mencari hari baik, Deya" jawab Pedro.
"Aku dengar Blaze mau nikah juga dengan Samuel tapi masih belum tahu kapan." Nadira menatap keduanya.
Mbak Bee jadi sama mas Bebek?!
"Bebek?" Pedro menatap Nadira dan Deya bingung. Dirinya memang belum sempat bertemu dengan banyak saudara Nadira karena kesibukannya.
"Soalnya dulu Samuel selalu mengikutinya seperti bebek. Jadi dipanggil Blaze, Bebek" terang Nadira.
Tak lama keluarga Bianchi pun datang dan Joey memberikan ucapan selamat kepada Pedro. Dan akhirnya Pedro bisa bertemu dengan sepupu Nadira lainnya setelah Abi dan Gandari datang bersama Bayu, Pandu dan Reana juga datang bersama si kembar Radeva dan Raveena.
Chris Bradford pun tidak ketinggalan datang bersama Alea Hamilton dan putra mereka Mamoru Jordan Hamilton Bradford. Bayu langsung heboh menggoda Pedro yang harus istirahat seminggu usai sunat.
"Darimana kamu tahu? Nadira tidak cerita apa-apa kok" cebik Pedro sebal ke cicit Duncan Blair itu.
"Nadira tidak mungkin lah cerita-cerita." Pedro menatap tajam ke Bayu yang nyengir usil.
"Ya jelas Nadira nggak cerita. Eagle lah yang cerita."
Radeva dan Devan tertawa terbahak mendengar ucapan Bayu.
"Welcome to our family, bang Pedro. Kami baru sedikit ini, belum yang lain-lain. Lebih durjana." Devan nyengir.
"Oh boy..." Pedro memegang pelipisnya.
"Untung aku ada temannya" senyum Samuel.
"Aku padamu bro!" Pedro menjabat tangan Samuel.
***
Yuhuuuu Up Sore Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️