
Honeymoon Suite
Leia mengerjap-ngerjapkan matanya ketika sinar matahari musim dingin muncul dengan santuynua menimpa wajahnya dari jendela lebarnya. Tampak menara Tokyo bewarna merah berdiri dengan gagahnya dari jendela kamarnya. Dilihatnya jam digital yang berada di sisi nakas tempat dirinya berbaring.
Pukul 9 pagi. Leia mengerenyitkan dahinya. Dirinya tidak pernah bangun sesiang ini. Tunggu, kemarin aku ngapain?!
Leia merasakan sebuah tangan kanan kekar dengan tattoo disana memeluk perutnya yang rata sedangkan tangan kirinya menjadi bantal kepala Leia.
Gini kira-kira gambarannya
Apa nggak kesemutan tuh tangan? Leia memperhatikan tangan Dante yang bertattoo. Sebenarnya Leia tidak terlalu suka pria bertattoo tapi kembaran dan Opanya bertattoo, dan sekarang punya suami bertattoo, mau gimana?
Diam-diam jari lentik Leia menyusuri tattoo di sisi dalam tangan Dante. Wajahnya tersenyum melihat betapa otot tangan suaminya sedikit bergerak pertanda si pemilik tangan mulai bangun.
"Leia... dimana-mana itu sepasang kekasih kasih morning kiss, bukan mainan tattoo..." ucap Dante di ceruk leher istrinya dengan nada serak.
"I'm not that kind of lover ( aku bukan model kekasih macam itu )." Leia membalikan tubuhnya dan berhadapan dengan suaminya yang masih tampak ngantuk tapi kedua tangan kekarnya langsung merengkuh tubuh langsing istrinya. "So, aku mau kamu peluk sampai jam berapa?"
"Forever..." jawab Dante sambil mencium satu persatu indera di wajah Leia. "Betapa aku membayangkan melakukan ini padamu setiap pagi hari. Terserah kamu bilang apa, tapi aku benar-benar jatuh cinta padamu. Apa kalian bilang? Bucin?"
"Iya bucin. Why Dante?"
"Aku sendiri tidak tahu tapi saat pertama melihat mu, aku hanya ingin menghabiskan hidupku berdua denganmu... Dan itu belum pernah aku rasakan dengan wanita manapun."
"Jangan pernah merasakan itu pada wanita lain karena aku tidak akan segan menghajarmu!" ancam Leia.
Dante tertawa. "Sayang, mendapatkan cintamu itu sulit sekali, penuh dengan drama dan kekerasan..." Pria itu mencium bibir Leia lembut. "Kita mandi bersama pagi ini?"
"Setengah siang, Dante."
"Whatever. So, mandi bersama?" senyum Dante dengan menggoda Leia yang dimata cucu Yakuza itu sangatlah meshum.
"Aku menolak pun percuma kan?"
"Tidak baik menolak hal yang enak-enak."
***
Leia sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk ketika mendengar ucapan suaminya dengan Sergio di meja kerja melalui layar MacBook. Wanita itu hanya menghela nafas panjang gemas melihat suaminya masih belum memakai baju meskipun sudah memakai jeans nya.
Untung video call dengan Sergio.
Leia pun menuju kamar mandi untuk mengenakan bajunya setelah tadi dia hanya memakai kimono handuknya.
***
Nyureng amat bang
"Jadi si Alessandro datang ke mansion Mancini ?"
"Sì Signor. Dia mencari anda tapi Filipe sudah bilang anda menikah di Tokyo." Sergio memang meng-handle semua urusan di Turin selama Dante disibukkan dengan acara pernikahan.
"Ada apa dia datang ke mansion?"
"Katanya menyelesaikan urusan yang tertunda."
"Bilang ke Moretti Uno, jika memang mau menyelesaikan urusan yang tertunda, datang ke mansion Mancini dua Minggu lagi! Seminggu lagi aku dan Leia pulang ke Turin."
"Baik Signor." Sergio lalu mematikan panggilannya. Dante pun mengambil kemeja hitam yang sudah disiapkan Leia sedangkan istrinya sudah siap untuk pergi kediaman Keluarga Takara.
Manten anyar
"Ada apa Dante?" tanya Leia sambil membantu mengancingkan kemeja suaminya.
"Alessandro Moretti datang ke mansion Mancini."
Leia tampak terkejut. "Ada apa?"
"Mencariku untuk menyelesaikan urusan yang tertunda."
"Apa dia tidak tahu kamu menikah disini?"
Leia hanya mengangguk. Apa mulai mencari sekutu untuk Sakura?
***
Kediaman Keluarga Park
Luke sudah tiba siang ini di kediaman Hideo dan Fayza. Sengaja dia membawa Rin, agar adiknya yang cantik itu tidak pundungan lagi.
Rin sendiri sebenarnya merasa keberatan karena akibat mulut lemas kekasihnya membuat adiknya ngambek.
"Sakura dimana Shin?" tanya Luke ke Shinichi yang baru saja keluar dari kamar.
"Ada di kamarnya, bang. Elu bawa sogokan apa?" ledek Shinichi.
"Cuma jam tangan Seiko..."
Shinichi terbahak. "Sakura tidak suka jam Seiko. Dia sama dengan Jules dan Garvita pecinta Rolex atau Patek."
"Dih anak kecil pakai Patek macam aku!" cebik Luke kesal. "Daripada Hublot! Eh itu mah aku..." cengir Shinichi.
"Sudah, sudah. Mau jam tangan harga berapapun, fungsinya tetap sama. Biar aku yang masuk!" Rin pun naik tangga menuju kamar Sakura dan mengetuk pintunya. "Sakura-chan? Ini Rin-niichan ( kak Rin )."
Suara pintu dibuka membuat Rin tersenyum lega dan tampak disana wajah imut Sakura dari balik pintu bewarna ungu muda.
"Masuk mbak Rin" ajak Sakura. Rin pun masuk ke dalam kamar Sakura yang bernuansa ungu muda.
"Bang Lukie mau nyogok apa?" tanya Sakura tanpa basa basi.
"Jam Seiko dan mbak Rin."
Sakura pun manyun. "Jam tangan...kenapa nggak sepeda Porsche?"
Rin cekikikan. "Kamu tuh. Ayo jangan ngambek lah..."
"Habis bang Lukie tuh mbak!" Sakura pun mengadu pada kekasih kakaknya. Rin mendengarkan curhatan Sakura hanya tersenyum.
"Sakura, kalau mbak lihat, memang kamu punya daya tarik tersendiri bagi kaum Adam tapi yang berani mendekati kamu ya cuma dua kakak beradik itu."
"Tapi mbak Rin, Sakura tidak tertarik pada mereka berdua! Apalagi si manusia spidol!"
"Manusia spidol?" tanya Rin bingung.
"Tattooan macam bang Lukie. Tattoonya dia kan juga banyak!"
"Astagaaa! Kamu tuh kalau cari istilah. Sakura, mbak Rin memang baru masuk di keluarga kalian tapi mbak sudah anggap kalian semua kakak dan adik mbak kecuali Yakuza freezer."
"Mbak Rin, kalau sampai Yakuza freezer itu mendengar mbak cuma anggap kakak, bakalan digantung di pohon strawberry!" gelak Sakura.
"Ya tidak mungkin lah Sakura..." senyum Rin dengan wajah merona.
"Mbak suka sama bang Lukie kan? Kaku banget nggak? Kulkas banget nggak selama ini?"
"Nggak tuh. Luke baik dan hangat kok..."
"Oh kulkasnya sudah rusak... Makanya es nya mencair" gumam Sakura yang membuat Rin tertawa.
"Sakura, mbak tidak bisa melihat masa depan tapi jika salah satu dari dua Moretti itu memang jodoh kamu, mbak harap tidak terjadi pertumpahan darah seperti yang Luke pernah khawatirkan."
"Aku juga tahu mbak. Aku sih berharap jodoh aku bukan keduanya karena pasti salah satu akan terluka dan membuat suasana tidak nyaman selama masih memiliki perasaan ingin memiliki. Tapi kalau memang salah satu adalaj jodoh aku, berharap yang lain bisa menerima dengan lapang dada. Tapi aku masih berharap bukan salah satu dari mereka."
Rin menatap gadis cantik itu. "Kamu dewasa sekali, Sakura."
"Aku harus merubah pola pikir aku kalau soal duo morotin itu mbak. Sebab, aku sendiri tidak mau mereka saling bunuh."
***
Yuhuuuu Up Sore Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️