The Bianchis

The Bianchis
Joey Berbuat Ulah...Lagi



Mansion Al Jordan Tokyo Jepang, kamar serbaguna Joey dan Luca.


Luca sudah sebulan ini setiap pulang kantor disibukkan untuk membuat Lego Millennium Falcon pemberian Emi. Pria tampan itu ingin menyelesaikan Lego besar itu sebelum acara pernikahan mereka dua bulan lagi. Luca ingin memberikan sebagai salah satu mas kawin yang hendak dimasukkan ke dalam daftar.


Saat ini dia berada di kamar serba guna miliknya dan Joey yang biasanya dipakai jika ada proyek mengerjakan tugas sekolah.


Wajah pria itu semakin manyun dengan banyaknya pernak pernik Lego yang kecil-kecil.


"Gimana mataku nggak nyureng! 75,000 pieces!" Luca memasangkan bagian per bagian Millenium Falcon dengan sangat hati-hati.



"Lucaaaaa! Makan malam dulu!" teriak Marissa.


"Oke mom!" Luca pun meletakkan beberapa Legonya dan keluar kamar.


***


"Gimana Legonya?" tanya Joshua ketika mereka semua ada di meja makan.


"Sudah hampir 50% Opa" jawab Luca. Demi menyelesaikan Legonya, Luca bahkan mengorbankan kencan dengan Emi tapi untungnya gadisnya paham kalau dia sedang menjalankan misi 'Millenium Falcon'.


"Mukamu sudah kayak Lego" gelak Mario.


"Iya kah Oom? Waduuuhhh, nggak tampan lagi dong aku." Entah kenapa Luca terbayang Lego people dengan wajah kotak.



"Narsisnya ya ampun!" gumam Miki.


"Mario, gimana misi Joey bikin Georgina jatuh cinta?" tanya Marissa.


"Hadddeeehhh anak itu! Georgina tabah saja itu sudah Alhamdulillah." Mario menatap iparnya dengan manyun.


"Lha memang kenapa?" tanya Marco.


"Anakku satu itu kumat darah Italianonya. Merayu elegan ke Georgina."


***


Harvard Medical School


Georgina menghela nafas panjang melihat sekuntum mawar merah berada di lokernya ditambah dengan kertas berisikan kata-kata gombal ala Joey.


'You look so badass today and that's why I love you' - J.B -


Astagaaa pria itu! Georgina membuka pintu lokernya dan menyimpan bunga serta memo bewarna pink itu.


Namun setelahnya Georgina tersenyum membaca pesan-pesan receh ala Joey yang menurutnya anti mainstream.


"Duh yang dikirimin bunga" goda salah satu rekannya yang masuk ke dalam ruang loker.


"Isn't he so gombal?" kekeh Georgina.


"Tapi kamu sangat bersyukur G, sebab yang aku dengar dari divisi bedah, Joey Bianchi itu tidak pernah melirik cewek lain. Dia berteman dengan banyak orang iya, tapi tidak ada tendensi untuk merayu atau flirting begitu. Joey menjaga hatinya untukmu G."


Georgina tertegun. Benarkah?!


***


Joey menatap judes ke konsulennya yang hampir saja membuat seorang pasiennya mengalami Anfal akibat kesalahannya dalam memotong tumor di punggung. Konsulennya malah mengenai aorta yang tentu saja membuat si pasien mengalami shock.


Melihat gejala tidak beres, Joey yang mengambil alih operasi dan berusaha membuat pasien stabil agar tidak meninggal dunia. Setelah berhasil menyelamatkan nyawa si pasien, Joey menutup hasil pembedahan dan berhasil mengambil tumor jinak disana.


Sebenarnya operasi yang dilakukan bukanlah operasi yang delicate tapi Joey bisa mencium bau alkohol dari nafas konsulennya. Usai operasi, Joey langsung menyeret konsulennya tanpa memperdulikan tatapan banyak orang disana.


Di luar ruang operasi, Joey langsung meninju seniornya itu yang membuat semua orang disana heboh.


"Habis berapa botol whiskey?! HABIS BERAPA???" bentak Joey emosi.


"Kamu... anak kemarin sore! Berani melawan senior!" balas konsulennya sambil memegang bibirnya yang berdarah.


"Senior tukang mabok macam kau ngapain harus takut! Hampir saja kamu membuat nyawa pasien hilang, b@ngs@t!" maki Joey. "Hei, Gary! Cium nafas pemabok ini! Bilang bau apa!"


Joey menyuruh rekannya mendekati seniornya dan Gary saja langsung menutup hidungnya. "Shlt! Berapa botol dia minum?"


Joey melihat seorang officer polisi dan memanggilnya. "Officer! Apa kamu ada alat test alkohol?"


"Ada. Memang kenapa dok?" jawab officer itu saat menghampirinya.


"Test kadar alkohol bajing@n ini! Dan secara resmi, aku Jeoffree Bianchi menuntut dokter Richard Chamberlain melakukan kelalaian dalam tindakan medis terhadap pasien yang nyaris membahayakan nyawanya!"


Konsulen Joey hanya melotot tidak percaya juniornya berani melakukan hal itu.


***


Dan kini James, Joey dan Rhett O'Grady berada di kantor polisi mengurus semua tuntutan pria berdarah Italia itu ditambah Joey membawakan bukti CCTV di ruang operasi, kesaksian para rekan kerja saat oeprasi berlangsung, Gary yang mencium bau alkohol di nafas Richard serta hasil test kadar alkohol dari officer polisi yang sedang berada disana.


"Kamu tuh bisa nggak sih nggak panasan?" omel James. "Kasus ini bisa ramai ke pengadilan lho, Joey."


"Habis dia Brengsek! Sudah tahu mabok, masih sok-sokan main oeprasi!" sungut Joey.


"Untung James sedang ada di New York jadi bisa cepat mengurusnya. Coba kalau James lagi di luar negeri" timpal Rhett.


"Kan Blair and Blair masih banyak pengacara bagus. Kirim saja salah satu, beres!" jawab Joey santai. "Toh disini aku tidak salah! Saksi banyak, bukti ada dan bogem sudah! Maju ke pengadilan, hayo ajah!"


James hanya memegang pelipisnya. "Rhett, aku tahu dia punya darah Mafia Italia tapi kalau bar-bar begini kenapa aku jadi ingat Oma Shanum ya?"


"Ya wajarlah, Joey kan cicitnya" kekeh Rhett.


***


Berita Joey Bianchi menghajar salah satu dokter senior langsung ramai seantero Harvard Medical School dan membuat Georgina hanya bisa menepuk jidat.


Ternyata sama saja, aku dan Joey, panasan!


"Georginaaaa!" panggil temannya.


"Hai Skylar. Ada apa?"


"Apa kamu sudah dengar?" tanya Skylar.


"Dengar apa?" tanya Georgina yang sedang menyiapkan peralatan untuk pemeriksaan gigi hari ini.


"Joey Bianchi resmi menuntut dokter Richard Chamberlain."


Georgina melongo. Punya nyali juga tuh bocah!


"Rupanya sudah lama para perawat dan junior tahu kebiasaan si dokter R.C tapi mereka tidak berani karena diancam untuk dikeluarkan dari sekolah" ucap Skylar.


"Lho? Terus gimana?" tanya Georgina.


"Karena tahu Joey berani nuntut, banyak orang yang bersedia bersaksi ke dokter R.C dan kamu tahu, ternyata tidak hanya tukang mabok! Rupanya kalau sudah mulai minum, dia suka melakukan pelecehan ke para perawat dan dokter muda perempuan."


Georgina menatap Skylar. "Jadi sekarang Joey bisa mengajukan tuntutan berlapis dong!"


"Iya. Apalagi Joey bawa pengacara terkenal!"


"Siapa?" Masa Opa Neil Blair turun gunung?


"James Blair."


Makin durjana saja tuh anak kalau dibela Oom James.


***


Mansion Al Jordan, Tokyo Jepang


Joshua, Mario dan Marco hanya tersenyum mendengar ulah Joey di Harvard sedangkan para kaum wanita pada heboh gemas dengan ulah putra Josephine itu.


"Astagaaa! Anak itu! Nggak di Todai, nggak di Harvard! Kalau nggak bikin gegeran kok kayaknya nggak afdol ya?" omel Josephine sambil mondar mandir kesal.


"Mi amor, jangan mondar-mandir seperti itu dong. Pusing aku melihatnya" goda Mario.


"Tapi sayang..." Josephine menatap Mario cemas.


"Sudah tidak apa-apa. Ada Rhett, James dan Oom Duncan disana" ucap Marissa berusaha menenangkan kembarannya.


"Si Joey bikin ulah lagi?" tanya Luca yang baru saja keluar dari kamar Legonya.


"Iya Luc. Dia menuntut konsulennya" jawab Miki.


"Sudah dikasih bogem belum?" tanya Luca cuek sambil mengambil minuman dari kulkas.


"Kata James sih sudah" jawab Joshua.


Luca tersenyum smirk. "Yang penting sudah dikasih bogem."


Keenam orang disana melotot ke arah Luca.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️