
Apartemen Blaze dan Samuel di Soho New York
Bayu mengomel sepanjang perjalanan ke apartemen sepupunya yang berada di dekat jantung kota New York. Pria bertubuh besar itu memang dimintai tolong oleh iparnya untuk menggendong Blaze yang tidur dengan nyenyak nya.
"Ya Allah ini cewek! Kayaknya ceking tapi kok berat banget sih?" omel Bayu sambil menggendong sepupunya dengan model bridal style. "Mana suaminya lenggang kangkung pulak! Benarnya yang nikah siapa sih? Kagak jelas banget!"
"Maaf ya Bay. Nanti gue ganti traktiran deh" cengir Samuel dengan wajah tanpa dosa.
"Benar lho ya!" ucap Bayu sambil menatap Samuel.
"Iya!"
Lift pun berhenti di lantai tempat apartemen Samuel dan Blaze berada lalu dokter bedah anak didik Joey Bianchi itu pun memencet kode pintu rumahnya dan tampak apartemen yang indah penataannya membuat Bayu bersiul.
"Whoah! Ini bagus sekali Sammy" puji Bayu. "Tidak heran kalau kamu menghabiskan tabungan mu demi pemandangan seperti itu!"
"Exactly. Inilah alasannya aku bokek sekarang" kekeh Samuel. "Bee dibawa kesini saja, Bay." Samuel membukakan pintu kamar utama apartemen dan Bayu meletakkan tubuh Blaze diatas kasur ukuran king size itu.
"Beneran deh bini lu kebo!" umpat Bayu sambil memijat lengannya.
"Thanks Bay." Kedua pria itu pun keluar kamar.
"Berapa kamarnya disini Sam?" tanya Bayu sambil berjalan ke jendela besar yang berada di sudut ruang tengah.
"Ada tiga, dua buat kamar tidur kami dan tamu, ruang satunya untuk ruang kerja kami" jawab Samuel sambil melepaskan jasnya sedangkan dasinya sudah entah kemana.
"Kamu pintar mencari lokasi Sam. Aku tidak akan sayang jika uangku habis untuk apartemen dengan pemandangan seperti ini." Bayu duduk di kursi sudut sembari menikmati kota New York di waktu malam.
"Kopi Bay?" tawar Samuel yang sudah menggulung lengan kemejanya.
"Sure." Bayu menatap Samuel. "Sam, apa tidak masalah kalau aku menginap sini? Jujur aku merasa ngantuk dan takut nanti ada apa-apa di jalan."
"Silahkan saja. Kamar tamu sudah siap kok dan kamu lah yang akan menjadi tamu pertama kami" jawab Samuel sambil menyiapkan kopi.
"Thanks."
"Oh, baju tidur juga ada. Entah kebiasaan kalian atau gimana, Bee sudah menyiapkan banyak baju baru baik untuk pria dan wanita. Kata Bee, itu sudah aturan di keluarganya."
"Iya memang. Itu aturan sejak turun temurun jadi kami kalau datang ke rumah siapa, kadang tidak bawa baju tidur."
Samuel menghampiri Bayu sambil membawa dua cangkir kopi.
"Thanks Sammy" ucap Bayu saat menerima cangkir kopi. Sama dengan Samuel, pria bermata biru itu pun sudah melepaskan jas merk Reiss miliknya dan meninggalkan kemeja bewarna biru tua yang senada dengan warna matanya.
"So, bagaimana bekerja di dua perusahaan, Bay?"
"It's fun. Satu sisi boss aku bokap sendiri, satu sisi boss aku Tante aku. Masing-masing punya style tersendiri tapi yang jelas, aku senang bekerja di dua perusahaan itu."
"You're really workaholic, Bay. Jangan terlalu diforsir sebab ada kalanya kamu harus berjalan santai sejenak."
"Justru dengan acara keluarga seperti ini aku malah mendapat healing tersendiri." Bayu menyesap kopinya. "Apalagi melihat para sepupu perempuan aku menikah dengan pria yang memang jodohnya meskipun aku masih meragukan Sean bisa berubah."
"Sejujurnya Bay, aku kasihan dengan Sean dan Zee. Bagaimana pun, Sean tidak tahu jika dia memiliki seorang pewaris yang akan menjadi putra mahkota. Apalagi Arsya lahir saat mereka belum berpisah, masih resmi menikah."
"Kita semua, Sammy tapi kamu tahu sendiri kan sifatnya Oom Ayrton dan Opa Karl. Wong tadi saja Garvita kena bentak!" kekeh Bayu. "Anaknya sendiri itu!"
"Kata Bee, Garvita memang manja ya?"
"Parah tuh Garvita! Kalila yang satu rumah sama dia saja nggak separah itu manjanya. Hebat Gabriel bisa tabah menjadi bodyguard nya dua tahun ini."
Samuel menatap Bayu serius. "Tampaknya Gabriel naksir Garvita deh!"
Bayu melongo. "Hah? Yang benar bebek?!"
"Perasaan ku begitu sih."
Samuel mengangguk.
***
Kamar Samuel dan Blaze
Samuel tersenyum melihat posisi tidur Blaze yang amburadul dengan masih mengenakan gaun pengantin yang indah itu. Samuel lalu menuju walk in closet untuk mengambil baju ganti yang nyaman.
Sejak seminggu lalu, Blaze dan Samuel sudah memindahkan banyak barang pribadi mereka ke apartemen baru mereka. Dan kini, Samuel masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelahnya, Samuel mengambil gaun tidur Blaze dan dengan perlahan pria itu melepaskan gaun pengantinnya yang beruntung tidak terlalu ribet.
"Ya ampun Bee, kamu tuh benar-benar kebluk ya?" kekeh Samuel yang gemas melihat bibir Blaze tampak terbuka dan terdengar sedikit mendengkur.
Samuel pun dengan telaten memakaikan gaun tidur ke Blaze yang terbalut br@ tanpa tali warna putih dan celana dengan warna sama.
"Sebenarnya ingin sih meminta hak aku tapi kan tidak mungkin pada saat kamu ngorok begini, Bee. Kurang syahdu..." kekeh Samuel yang kemudian mengambil face cleanser milik Blaze yang terdapat di meja riasnya beserta dengan kapas. Lagi-lagi dengan telaten, Samuel membersihkan make up tebal yang diaplikasikan di wajah cantik Blaze.
"Kayaknya baru aku deh malam pertama, ditinggal ngorok, terus bagian bersih-bersih make up, gantiin baju pengantin..." gumam Samuel sambil tersenyum. "Benar-benar malam pertama anti mainstream. Kamu tahu Bee, waktu ijab, aku seperti mimpi kalau akhirnya mengucap 'saya terima nikah dan kawinnya Blaze Fianna O'Grady Bianchi dengan mas kawin tersebut, tunai'. Benar-benar kalimat yang menggetarkan hati."
Samuel selesai membersihkan wajah Blaze hingga tampak segar tanpa make up.
"Kamu tuh gak pakai make up sudah cantik lho Bee..." Samuel pun menguap dan melirik jam digital di sisi nakas tempat tidurnya. "Eh buset! Jam satu malam? Dah ah tidur!"
Samuel pun meletakkan tubuhnya di sisi kanan istrinya lalu mencium kening Blaze. "Good night Bee. Have a nice dream." Dokter bedah itu pun mulai memejamkan matanya namun tak lama mata coklatnya terbuka ketika merasakan sebuah tangan ramping memeluk dirinya dan kepala Blaze bersandar di bahu Samuel.
"Semoga besok kamu bangun, nggak ada KDRT ya Bee" senyum Samuel sambil mencium pucuk kepala Blaze dan tangannya merengkuh tubuh langsing istrinya.
***
Keesokan Harinya
Bayu terbangun akibat keributan yang terjadi dan bergegas keluar kamar. Pria berbadan besar macam Opanya Duncan Blair dan sang papa Abiyasa O'Grady itu mengetuk pintu kamar Blaze dan Samuel.
"Bee! Sammy! Ada apa?" teriak Bayu dari luar kamar mereka.
Pintu kamar pun terbuka dan tampak Blaze dengan wajah marah. "Astagaaa! Kamu pakai baju dulu kenapa!" hardik Blaze melihat sepupu nya hanya memakai celana piyama.
"Lho aku kan biasa tidur tanpa baju. Ada apa kalian berdua?" tanya Bayu sambil melihat Samuel memegang rahangnya.
Ehem, Bay...
"Dia berani tidur sama aku!" bentak Blaze.
Bayu melongo lalu memegang kening Blaze dengan punggung tangannya. "Kamu sehat, Bee?"
"Memang kenapa?"
"Samuel itu suami elu cumiiii!" hardik Bayu gemas.
Blaze menatap Bayu bingung. "Iya kah?"
Bayu menepuk jidatnya.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️