
Harvard Medical School
Blaze menatap daddynya dengan manyun karena tidak mendapatkan persetujuan pergi ke Turin untuk membantu Leia.
"No, Bee. Kamu kapan lulusnyaaaa?" pendelik Joey gemas dengan putri semata wayangnya. Niru siapa sih panasan dan bar-bar begini? Niru aku? Nggak ah, wong aku anak baik suka menabung.
"Tapi Daddy..." Blaze mencoba merayu dengan mata birunya.
"Daddy sekali bilang nggak, ya nggak bambaaannggg!"
Blaze mendengus kasar sambil bersedekap dan bibirnya tambah maju lima Senti. "Daddy nggak asyik!"
"Siapa bilang Daddy nggak asyik? Buktinya Daddy memberikan kebebasan kalian gedubrakan di Belgia. Tiga bulan kalian layaknya kucing-kucingan dengan Sean dan Greg. Apa kurang asyik?" kekeh Joey.
"Iiissshhh kali ini ke Turin Daddy. Turin! Keluarga aku juga!"
"Tetap tidak, Bee. Mau nilai bedah kamu, Daddy kasih D?"
Blaze melotot. "Mana ada! Bedahku sama rapi dan delicate nya denganmu Dad! Bebek saja kalah!"
"Bebek itu punya nama Bee. Samuel Prasetyo."
"Suka-suka aku lah!"
Joey menggelengkan kepalanya. "Ohya, Daddy mendapatkan kabar dari Oom Luca kalau Antonio naksir Deya."
Blaze langsung memasang wajah kepo. "Deya? Savrinadeya? Anaknya Oom Rama? Apa jaraknya nggak kejauhan tuh Dad?"
"15 tahun kayaknya. Kan Deya seumuran Juliet. Daddy harus laporan ke Oom Ramamu deh!" seringai licik terbit di wajah dokter bedah itu.
"Dad, Oom Rama bakalan kebakaran jenggot!"
"Lha kan memang piara brewok?" balas Joey cuek.
"Kapan Antonio ketemu dengan Deya?"
"Awal tahun ini kata Alexis. Apa kamu ingat ada pameran wine dan Oom Rama datang dengan Deya karena Tante Astuti harus menemani Devan yang kena radang tenggorokan?" Joey menatap putrinya.
"Aku kan nggak ikut Dad. Ada tindakan di rumah sakit dan aku harus ikut."
"Daddy kan datang disana tapi kita tidak tahu kalau Antonio jatuh cinta dengan Deya."
"Deya masih kecil Dad."
"Namanya orang jatuh cinta. Lihat saja Romeo yang masih semangat jatuh bangun mendapatkan Juliet" kekeh Joey.
"Romeo mah parah!"
***
Samuel baru saja menemani salah satu dokter senior untuk operasi usus buntu. Joey tadi mengatakan ke Samuel untuk belajar dari dokter bedah lainnya karena hari ini dia hendak menjewer Blaze.
Mengingat kekasihnya yang seenaknya sendiri itu, terkadang Samuel merasa pusing. Cantik, cerdas dan hobi berantem. Dulu dokter Georgina ngidam apa sih hamil Bee?
Semalam Samuel dan Blaze ribut karena gadis itu ingin terbang ke Turin saat mendengar Leia kecelakaan. Disinyalir kecelakaannya disengaja apalagi FBI sudah disana sebelumnya.
Flashback Semalam
"Kamu itu mbok dipikir tho Bee! Harvard itu bukan kampus Daddymu meskipun kedua opamu dan daddymu dokter senior terkenal. Kamu kemarin sempat cuti satu semester, sekarang kamu pontang panting kuliahnya. Terus mau ke Turin? Ya ampun Bee, disana kan ada sepupu kamu. Ada FBI. Sudah, banyak orang yang membantu Leia!" omel Samuel saat pria itu berada di balkon penthouse keluarga Bianchi.
"Tapi Sammy... Kan aku tidak terima Leia dicelakakan seperti itu!"
"Bee, kan ada pria yang senang dengan Leia disana dan aku yakin dia akan melindungi Leia sekuat tenaga."
"Dante? Dante Inferno? Hah!" Blaze mendecih sebal. "Dia memang senang sama Leia tapi caranya salah!"
"Bee, mungkin caranya salah tapi aku harap dia sadar akan kesalahannya. Sama seperti mu, sadar bahwa kamu sudah tertinggal banyak. Bukan tidak mungkin Luna lulus duluan."
Blaze menatap Samuel judes. "Akan aku kejar! Lihat saja, sebelum usiaku 27, aku sudah menjadi dokter spesialis penyakit dalam!"
"Kalau nggak hamil dan punya anak sih..." gumam Samuel.
"Siapa yang hamil dan punya anak?" pendelik Blaze.
"Kamu lah!"
"Sama siapa?"
"Sama aku lah!"
"Ayo! Kapan? Sekarang?" Samuel berlutut dengan satu kaki. "Will you marry me Bee?"
"Sammy! Nggak sekarang jugaaaaa!" teriak Blaze kesal.
"Lha kamu minta dinikahi?"
Blaze berteriak frustasi sambil menghentakkan kakinya. "Dasar kanebo!" Gadis itu lalu meninggalkan Samuel yang terbengong-bengong.
"Lho bukannya di film-film kalau dilamar on bended knee, ceweknya bakalan klepek-klepek dan bilang 'Yes I Will' tapi kok Bee malah marah-marah sih?" gumam Samuel bingung.
Flashback End
Samuel masih terpekur dengan kejadian semalam. Apa Bee tidak mau menikah denganku ya?
Pria itu duduk bersandar bangku taman dengan wajah bingung.
"Melamun!" tepuk Luna ke Samuel.
"Eh Luna. Tidak ada tindakan?" tanya Samuel ke sahabat Blaze itu.
"Nanti, Sam. Kamu kenapa? Operasi nya sulit ya?"
Samuel hanya menghela nafas panjang berulang kali.
"Bee kenapa ya Luna. Semalam dia minta dinikahi tapi setelah aku berlutut melamar nya, dia malah marah-marah. Apa aku salah ya Lun? Atau Bee tidak mau dinikahi aku?"
Luna melongo. "Tunggu, tunggu. Ini awalnya bagaimana? Harusnya Blaze bahagia dong dilamar kamu."
"Tapi tadi malam Bee bilang aku kanebo."
Luna berusaha meraba ada kekacauan antara Blaze dan Samuel. Ya kamu memang rada kanebo sih Sam.
"Ceritakan dari awal Sam, agar aku tahu duduk permasalahannya. Blaze tidak mungkin marah kalau tidak ada pasal."
Samuel pun menceritakan soal mereka semalam dan wajah gadis berdarah Mexico itu hanya melengos gemas.
"Ya jelas Blaze ngamuk! Kamu melamar nya juga ngaco! Aku kasih tahu ya Sam, meskipun Blaze itu boleh dibilang diragukan kewanitaannya karena hobinya yang anti mainstream, tapi dia tetap wanita yang mau dilamar itu romantis. Candle light dinner berdua, diberikan cincin yang indah meskipun tidak harus mahal tapi maknanya itu Sam. Bukan macam kalian debat tidak jelas dan kamu main on bended knee tanpa tendeng aling-aling. Cewek mana yang tidak ngamuk? Aku pun bakal ngamuk kalau prianya tidak jelas antara melamar serius atau cuma spontan karena emosi" papar Luna panjang lebar.
"Tapi Bee itu bukan tipe cewek yang girly, Luna."
"Biarpun begitu, yang namanya cewek pasti klepek - klepek kalau cara melamar itu yang benar dan romantis." Luna merasa gemas dengan pria kaku di depannya. Tapi memang cocok buat Blaze sih yang panasan dan sering heboh sendiri.
"Harus begitu ya Lun?"
"Dios mío ( Ya Tuhan ). Sammy! Kamu tuh cerdas tapi kok bloon soal romantis sih!" Luna tidak tahan langsung mencekik leher Samuel gemas.
"Lun...aku...bisa mati..."
"Habis kamu benar-benar menyebalkan!"
"Lunaaaa!"
Luna melepaskan cekikikan nya yang membuat Samuel terbatuk-batuk.
"Kenapa Sammy kamu cekik, Lun?" teriak Blaze.
"Habis! Pacarmu ini benar-benar kanebo kering Blaze!" bela Luna. "Aku kan gemas!"
"Memang kok! Dia nggak peka!" cebik Blaze sambil manyun.
"Bee, maaf ya semalam. Nanti aku akan lakukan dengan benar kok!" rayu Samuel.
"Bilang dulu sama Daddy sana!" Blaze menatap Samuel sambil menyeringai.
"Nah benar tuh, Blaze. Harus berani menghadapi dokter Bianchi, dua-duanya!" kompor Luna.
Samuel merasa keringat dingin mulai terbit di dahinya.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift comment
Tararengkyu ❤️🙂❤️