The Bianchis

The Bianchis
Penyesalan Emi



Kediaman Takara


Takeshi menatap Emi dengan tatapan menyelidik. Rasanya tadi berangkat tidak pakai baju itu, kok sekarang pakai baju yang bukan stylenya.


"Itu baju siapa Emi?" tanya Takeshi.


"Dari Tante Marissa, mamanya Luca."


"Kamu tadi ngapain saja di rumah mafia reseh itu?"


"Tadi Emi belajar membuat nasi liwet, masak macem-macem serta diajarin membuat teh wasgitel yang kesukaannya keluarga Luca."


"Apa kamu selalu berdua dengan Sono gaki?"


"Eh tidak Otousan, tadi Emi lebih banyak kumpul dengan Oma Miki, Tante Josephine dan Tante Marissa. Malah tidak berduaan dengan Luca. Kalaupun kumpul itu ramai-ramai sambil ngobrol."


"Kamu senang..."


"Sumimasen ( permisi )" sebuah suara membuat Takeshi dan Emi menoleh. Tampak Tadashi, salah seorang tangan kanan Takeshi, anak didik Shiki Matsumoto, berdiri disana.


"Ada apa Tadashi?" tanya Takeshi. Tadashi membungkuk hormat lalu berjalan menuju Takeshi lalu membisikkan sesuatu di sisi telinga bossnya.


Wajah Takeshi berubah menjadi seram usai mendapat bisikan dari Tadashi. "Dimana Shiki?"


"Sudah di markas, Takara-sama." Takeshi mengangguk.


"Emi, Otousan harus pergi, ada masalah di klan. Kamu tidur saja." Takeshi mengambil pistol dan pedang kayunya.


"Hati-hati Otousan." Emi memeluk ayahnya, kebiasaan yang selalu dilakukannya sejak kecil.


"Kamu besok libur. Rencana mau ngapain?" tanya Takeshi sambil memakai jas hitamnya yang juga merangkap anti peluru.


"Ke rumah Al Jordan."


"Ngapain?"


"Mau membuat camilan khas Jawa."


***


Mansion Al Jordan


Luca membolak balikan tubuhnya diatas tempat tidur. Tubuhnya lelah tapi matanya masih nyalang tidak mau terpejam. Otaknya masih memikirkan penolakan Emi tapi mengingat ucapan Omanya kalau mereka masih muda, Luca pun bisa maklum tapi tidak lama-lama maklumnya.


"Aaaaaahhhh! Brengsek!" Luca akhirnya keluar kamar dan menuju ruang gym. Semua orang di mansion berada kamar masing-masing karena jam sudah menunjukkan pukul satu malam.


Luca langsung menyalakan lampu di ruang gym dan memulai acara olahraga nya. Hampir satu jam dia berolahraga, akhirnya moodnya menjadi bagus. Diambilnya ponselnya, dan Luca pun melakukan selfie. Sembari tersenyum smirk, dirinya mengirimkan foto selfienya ke Emi.


Sampai kamu tidak mengiler lihat body aku... Terlalu kamu Em!


***


Kediaman Takara


Emi yang baru saja terlelap merasakan ada getar notifikasi dari ponselnya. Mengira ayahnya yang menghubunginya, Emi mengambil ponsel dari atas nakas.


Alisnya tampak mengerut melihat siapa yang mengirimkan pesan.


"Ngapain Luca malam-malam kirim pesan? Foto lagi." Emi pun mengetikkan password ponselnya dan membuka pesan dari Luca.


"Oh Astagaaa!" Emi menutup mulutnya.



Masih yakin tidak mau menikah denganku, Em?


Emi menggelengkan kepalanya. "Dasar Bianchi sinting!"


Gadis itu lalu mematikan ponselnya dan meletakkan diatas nakas. Dirinya berusaha untuk memejamkan mata tapi bentuk tubuh sempurna Luca terbayang - bayang di benaknya.


"Luca brengseeekkk!" umpatnya kesal.


***


Mansion Al Jordan


"Haaaaahhh? Dibaca doang? Nggak dibalas? Apa-apaan kamu Em! Awas ya!" omel Luca yang sudah mandi berharap ada balasan dari gadis judes itu


Rasanya Luca ingin terbang ke kediaman Takara tapi dirinya yakin, akan tidak selamat mengingat kalau malam begini penjagaan disana lebih ketat. Mending kalau dinikahkan langsung karena kena grebek macam di Indonesia tapi ini Tokyo bukan Solo ...


Luca manyun kembali. Alamat gue minta kepada penguasa semesta ini.


***


Hari ini Joey tidak datang ke rumah sakit karena diberikan libur setelah dirinya tidak pernah mengambil libur sejak menjalani hukuman. Karenanya dirinya santai - santai saja mencuci motornya di teras mansion sampai dirinya melihat sebuah mobil Honda S660 masuk ke dalam mansionnya setelah diijinkan oleh penjaga rumah.


Joey menunggu siapa yang turun ketika mobil itu parkir di area garasi mansionnya dan wajahnya tersenyum saat melihat sosok itu.


"Ohayo, Bianchi satu" sapa Emi ramah.


"Ohayo Emi. Cari Luca? Ada di belakang lagi berenang" balas Joey.


"Oh nggak, aku cari Tante Marissa. Apa ada?" senyum Emi.


Joey melongo. "Cari Tante Marissa? Ada apa?"


"Kamu nggak mau ketemu Luca?" tanya Joey.


"Nanti kan ketemu" sahut Emi judes tapi Joey bisa melihat pipi gadis itu memerah.


"Ah, masuk saja Em. Tante Marissa ada di ruang tengah kayaknya."


"Oke, thanks Bianchi satu." Emi pun melenggang masuk ke dalam mansion.


Joey tersenyum tipis. Beneran ditolak kemarin si Darth Vader?


***


Marissa langsung menyambut hangat kedatangan Emi yang pagi itu memakai rok rajutan bewarna putih tanpa lengan. Setelah menyapa Joshua, Mario dan Marco, gadis itu langsung menuju dapur dan tanpa ragu mengambil apron untuk mulai membuat camilan bersama dengan Marissa.



"Tadi ketemu Joey di depan?" tanya Marissa sambil menguleni adonan.


"Iya, ketemu dengan Bianchi satu" senyum Emi yang sibuk memasukkan potongan gula merah ke dalam adonan klepon.


"Sorry ya Emi, Tante sudah membuat adonan klepon ya karena Tante kira kamu tidak jadi datang."


"Saya pasti datang Tante cuma maaf agak terlambat karena tadi menunggu Otousan sarapan tapi beliaunya belum pulang dari semalam jadi saya agak telat kemarinya."


Marissa menatap gadis itu. "Si Takeshi memangnya kemana?"


"Semalam ada urusan dan pergi bersama Tadashi asistennya."


"Semoga bukan sesuatu yang berat dan aneh-aneh. Kan kita tahu bagaimana kehidupan Yakuza."


"Iya Tante."


"Lho Emi sudah datang?" sapa Josephine yang baru saja masuk ke dapur.


"Halo Tante Jo. Habis dari mana Tante?" tanya Emi.


"Tadi pergi sama mommy. Katanya pengen Taiyaki yang jualan di pojok stasiun. Ya sudah kesana sekalian beli ekiben atau bento stasiun juga gara-gara bentuknya lucu-lucu" kekeh Josephine.



Ekiben, bento yang dijual di stasiun Jepang



Taiyaki, semacam snack mirip roti berisikan kacang merah yang manis, coklat, kentang manis ataupun keju


Josephine menata Taiyaki itu dan membawanya ke meja makan.


"Padahal kita semua pada bisa bikin si kue ikan itu tapi memang mommy suka jajan kalau Minggu. Katanya hari Minggu adalah hari bebas masak" kekeh Marissa.


"Tapi aku suka semangatnya Oma Miki, masih energik begitu juga Opa Joshua" senyum Emi.


"Kalau kamu jadi menantu Tante, kamu akan mengetahui bagaimana ramai dan Rusuhnya keluarga besar kami, Em" celetuk Marissa yang membuat gadis itu menunduk.


"Saya dan Luca kan tidak berpacaran Tante, hanya berkencan karena taruhan" jawab Emi.


"Nanti kan lama-lama kalian akan pacaran juga, soalnya si Luca itu tidak pernah membawa cewek ke rumah kecuali saat masih SD dan SMP itu pun ramai-ramai belajar kelompok. Tapi bawa khusus kemari dan diperkenalkan sebagai teman dekat, hanya kamu Em."


"Luca bukan playboy, Tante?" tanya Emi penasaran.


"Anak itu kalau sampai mempermainkan anak gadis orang, siap-siap saja Tante sendiri yang kan menyunat nya lagi!" seringai Marissa.


"Emi, panggilkan Luca. Kita makan ekiben dulu" suara Josephine membuat kedua wanita di dalam dapur itu menoleh.


"Luca di belakang lagi berenang. Panggil saja Em." Marissa menatap lembut ke Emi.


"Baik Tante." Emi pun berjalan ke halaman belakang mansion yang mulai dihapalnya.


Dilihatnya kolam renang yang cukup luas terdapat suara kecipak orang berenang. Emi pun mendekati pinggir kolam renang dan melihat sesosok tubuh dengan kulit tan nya berenang mendekati dirinya.


Wajah Luca tampak terkejut melihat siapa yang berdiri di pinggir kolam renang.


"Pagi Amore Mio" sapa Luca dengan wajah berbinar.


"Pagi Luca. Diajak sarapan ekiben sama Tante Josephine."


"Oke, aku keluar dulu." Luca pun keluar kolam renang dan melihat pemandangan dihadapannya, membuat Emi hanya bisa menahan nafasnya.


Sial! Aku menyesal menuruti permintaan Tante Josephine.



Duh Darth Vader satu ini Yaaaaaa...


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️